Dr. Faust dan Dr. Fulan: Gremengan tentang Intelektual

Untuk Mas Heru Nugroho





“Blog

Intelektual dan kaum intelektual sudah menjadi subjek ribuan diskusi. Lisan dan tulisan. Dikunyah dan dimamah biak. Terus-menerus. Berbilang masa. Tapi tetap saja ada satu dua hal yang terasa tertinggal, dan sedikit mengganjal. Seperti remah makanan menyisip di sela-sela gigi. Tidak terkunyah. Bukan bongkah besar. Hanya cuil kecil saja. Tapi menghadirkan rasa tidak nyaman di mulut kalau tidak lekas dicungkil. Slilit kata orang Jawa. Ceuhil dalam bahasa Sunda. Seperti geremengan saya berikut:

Read More…

Minoritas, Multikulturalisme, Modernitas



“Blog

Tendensi-tendensi pembangunan ekonomi ke arah perampingan multiplisitas program-program kultural masyarakat sudah banyak digugat di banyak tempat. Demi kepentingan ekonomi, beberapa aspek kebudayaan masyarakat sering terpaksa harus dikorbankan atau, pada level yang lebih rendah, mengalami komodifikasi menjadi objek yang bisa dijual agar bisa mendatangkan keuntungan ekonomi seperti dalam proyek-proyek turisme. Turunan dari komodifikasi adalah komoditisasi ketika budaya khas suatu daerah, misalnya, dikemas sedemikian rupa sehingga sebagai sebuah paket wisata pada dasarnya sulit dibedakan dengan paket wisata kultural dari wilayah lain. Kultur yang mengalami komoditisasi mengalami standarisasi sehingga menjadi seragam. Keragaman dan beda dianggap potensial mendatangkan ketidakteraturan, khaotik, dan bisa merugikan. Tema-tema seperti ini pernah menjadi pokok diskusi akademik yang cukup menarik dalam membicarakan proyek-proyek modernisasi melalui pembangunan ekonomi di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, paling tidak sejak pertengahan dekade 1990an, tanpa sebab yang jelas debat-debat teori pembangunan berangsur-angsur meredup.


Read More…

Hidayat Nur Wahid: PKS dan Konsumerisme Baru



Tentang Tokoh



“Blog

Penolakan Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat), atas fasilitas mobil dinas mewah tentu saja telah membetot perhatian dan kesadaran banyak orang. Sebelum itu, sebuah perubahan kecil tapi besar maknanya dalam etika politik dimulai ketika ia mengundurkan diri dari jabatan ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) segera setelah ia terpilih sebagai ketua MPR. Belakangan ia juga mempelopori penolakan fasilitas penginapan mewah untuk sidang pelantikan presiden baru. Memperhatikan rekam jejaknya, saya percaya Wahid tidak sedang bermain-main dengan apa yang sering disebut politik pencitraan diri. Citranya sebagai politisi bersih sejauh ini lebih sebagai sebuah akibat daripada sebuah tujuan di dalam dirinya sendiri.


Read More…

Pemilu dan Nasib Bangsa



Catatan Tahun 2004



“Blog


Tidak bisa dimungkiri bahwa Pemilu merupakan peristiwa politik paling krusial sepanjang tahun 2004 ini. Seluruh jaringan media massa setiap hari pasti memuat berita tentang isu-isu di seputar penyelenggaran pesta demokrasi tersebut. Di tengah kepanikan masyarakat menghadapi wabah flu burung dan demam berdarah, berita dan wacana tentang pemilu tidak pernah kekurangan peminat.

Read More…

LSM Vs. Partai Politik






“Blog

Sejak kekuasaan formal Seoharto gempa, banyak hal berubah. Ketika partai-partai politik di Indonesia bisa dibiakkan seperti bebek, berjumlah banyak, lantas apa yang bisa dilakukan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)? Dalam demokrasi, partai politik adalah saluran paling handal untuk mengerahkan dan mengartikulasikan kepentingan rakyat dari seluruh lapisan. Jika ini terjadi, lembaga-lembaga sosial yang bergerak pada bidang-bidang yang secara khusus memediasi relasi antara masyarakat dengan negera, seperti banyak terjadi dalam kasus LSM Indonesia sejauh ini, kemungkinan akan kehilangan relevansinya. Konsekwensinya, lembaga-lembaga donor internasional juga boleh jadi tidak akan lagi menjadikan bantuan finansial untuk proyek-proyek demokrasi di negara berkembang sebagai prioritas strategi pendanaan mereka.

Read More…

Meretas Batas: tentang kepompong dan kupu-kupu

Prolog untuk Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project for Peace, Yayasan Interseksi 2010



“Blog

Sebagian terbesar individu manusia pernah hidup di dalam kepompong kulturalnya sendiri. Di dalam lingkungan budaya, etnis, puak, nilai, dan agama yang dikenal sejak kecil orang menemukan rasa aman, kenyamanan, lingkungan yang akrab, dan kepastian bahwa segala hal senantiasa berada dalam tatanan yang dapat dipahami. Ibu kultural kita itu memastikan kita semua hidup serba kecukupan dalam hal nutrisi yang akan memberi kita asupan nilai-nilai dan norma yang harus diikuti, ladang pengetahuan yang subur, serta pandangan dan pedoman hidup yang membimbing kita hidup secara teratur sesuai dengan tradisi yang sudah berlangsung lama.

Read More…

Vote & Voices: kewarganegaraan, demokrasi dan multikulturalisme di Indonesia pasca Suharto






Share


“Blog


Pengantar

Salah satu pemandangan yang paling mudah ditemui di banyak kota di Indonesia selama periode demokrasi belakangan ini adalah spanduk, poster, dan baliho berukuran raksasa yang menampangkan sosok-sosok para kontestan perebutan supremasi politik di masing-masing daerah melalui pemilihan umum (Pemilu) daerah. Muka-muka yang sebelumnya boleh jadi tidak banyak dikenal sebagai para penampang (selebritis) itu tiba-tiba menyerbu dan memenuhi kota, berebut ruang dan perhatian warga dengan reklame layanan sedot WC, guru menggambar, les musik, tawaran pinjaman dana, dan iklan-iklan komersial lain. Divisi dan hierarki sosial hadir secara kasat mata dalam bentuk distingsi antara penampang dan warga biasa yang (diharapkan) memirsa tampangan tersebut. Tentu saja ada banyak hal yang bisa dipersoalkan dengan ekstravagansa publisitas semacam itu, namun bagaimana pun itu semua adalah bagian dari praktik demokratisasi yang baru tumbuh. Pemilu adalah dasar di atas apa mekanisme utama demokrasi, yakni representasi politik formal, didirikan (Saward, 2006: 403).

Read More…

Digital, Ruang, Rupa, dan Kuasa: Cerita-cerita Ringan tentang Kamera

Sosiologi



Share


Blog Picture

Mereka yang terlampau antusias cenderung hanya tertarik pada aspek-aspek yang paling bombastis dari perkembangan teknologi digital, dan dari sana berkembang sejumlah mitos yang sebagiannya bermula dari riuh rendah pemasaran (marketing hype) belaka: bahwa internet telah membuka ruang bagi demokratisasi pengetahuan karena informasi semakin mudah diakses dan setiap orang bisa menjadi penerbit gagasannya sendiri, seolah informasi saja cukup untuk membangun pengetahuan, dan kalau sudah bisa menerbitkannya sendiri gagasan itu otomatis akan dibaca dan dianggap penting oleh khalayak luas; ekonomi digital akan menghapuskan kesenjangan, seolah-olah dunia digital tidak pernah memproduksi hierarki sosial dan ekonomisnya sendiri; buku-buku digital dalam iPad atau Kindle akan menyelematkan jutaan hektar hutan tropis, seolah-olah hutan di dunia akan habis hanya dipakai untuk mencetak buku, dan dengan menghilangkan keharusan mencetak buku pada kertas selamatlah hutan-hutan itu, dst. Ketika keajaiban semakin sering diambil oleh sain dan teknik, sebagian dari kita memang memiliki kecenderungan malang untuk melihat teknologi dari kacamata mesianisme seperti itu.

Read More…

Pesakitan Sejarah

Artikel MiniKata, Koran Cepat Detik




“Blog


Gus Dur mundur mungkin hanya tinggal soal waktu. DPR dan MPR sekarang memang berisi gerombolan orang patah arang. Lembaga-lembaga negara akhirnya hanya menjadi upaya sistemik institusionalisasi keserakahan politik. Dalam situasi seperti ini, posisi paling aman adalah semacam sikap agnostik secara politis karena:


Read More…

Membuka (Lagi) Jendela Rusak, Melihat Indonesia Kita Kini

Dongeng Kecil Kriminologi untuk Nalar Gramsia Budiman




“Blog

Sebuah Pagi dari Jendela

Saya ingin mulai dari dongeng kecil tentang bangun pagi dan jendela.

Kalau bisa bangun pagi sekali, atau justru ketika tidak bisa tidur malam sepicing pun, satu hal yang paling saya nikmati adalah ketika membuka jendela kamar pertama kali. Mata langsung terpapar langit terbuka di timur, waktu cahaya matahari baru pecah dan masih berupa bias yang menebar dari ufuk karena mengalami refraksi ketika menembus atmosfer di kaki langit. Sinarnya belum menjadi bilah-bilah lembing cahaya menyilaukan yang menancap jatuh tepat di ujung teratak belakang. Angin subuh seperti berebut masuk, memenuhi ruangan dengan udara segar pagi. Di dalam kamar. Di dalam paru-paru. Saya menambahkan frasa langitpagi pada nama anak bungsu saya antara lain karena itu. Pada momen seperti itu saya sering terkagum-kagum dengan penemuan jendela. Tidak seperti pintu yang terbuka sampai ke lantai, jendela mengambang antara membuka dan menyembunyikan sebagian. Pintu dibuat untuk ditutup dan sesekali dibuka, sedangkan jendela mulanya dibuat untuk hanya ditutup pada malam hari. Yang satu menutup celah besar yang dipakai untuk lalu lalang agar tidak sembarang orang bisa masuk sesukanya, yang lain membuka celah cukup lebar di dinding agar ruang di dalam tidak terlampau tertutup dan menyesakkan. Pintu untuk keamanan, sedangkan jendela untuk kenyamanan tinggal di dalam rumah.

Read More…

Pers (Bukan) Cermin Realitas!?

Artikel MiniKata, Koran Cepat Detik



“Blog

Analogi pers semata cermin realitas tampaknya sudah harus mulai ditinggalkan. Bukan saja karena ia sudah ketinggalan zaman, melainkan juga karena pada dasarnya ia didasarkan pada asumsi yang kini sulit dipertahankan. Analogi di atas mengandaikan adanya garis pemisah yang tegas antara realitas kehidupan sehari-hari dengan media yang hanya memantulkannya kembali kepada wilayah kognisi khalayak luas. Soalnya adalah apakah batas seperti itu benar-benar ada?

Read More…

Renungan kecil Ikhwal puasa, lebaran dan kita

Semacam Sebuah Tafsir Sekular atas Sebuah Ritus Keagamaan



“Blog

Puasa, seperti yang telah “diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu”, memperlihatkan kepada kita bahwa lapar dan haus yang dikelola dengan satu keyakinan teguh, artinya dengan kesadaran penuh, bukanlah sekadar sebuah fakad dari derita dan sengsara belaka. Bagi yang berpikir sangat metodis, puasa adalah bagian dari pengelolaan antara pengekangan dan pelepasan, agar keduanya tidak diumbar tanpa takaran. Hidup adalah soal kapan melepas dan bilamana harus mengekang. Bersahaja. Samadya. Tahu batas cukup.

Read More…

Mudik: Konsumsi dan Nostalgia

Mengenang Mudik yang Kini Dilarang




Share

“Blog

Tidak ada yang membantah bahwa puasa memiliki dimensi etis dan sosial yang sangat relevan bagi kehidupan modern. Selama ramadhan orang diajak untuk bisa mengendalikan diri, mengasah asketisme menghadapi problem sistemik yang makin berat. Pada sisi sosial, puasa melatih toleransi, menajamkan kepekaan sosial dan empati pada penderitaan sesama. Kalau empati sosial produk renungan filosofis muncul dari sebuah jarak antara subjek yang merenung dan objek yang mengalami penderitaan, kepedulian sosial kita selama ramadhan muncul dari pelibatan diri dalam perih luka menanggungkan lapar dan dahaga yang sehari-hari kerap dialami kaum papa.

Read More…

Setelah tgl. 9 April 2009 Berlalu

Setelah Pileg 2009 Berakhir



“Blog

Saya merasa sangat senang karena tanggal 9 April 2009 telah berlalu. Setelah beberapa lama merasa muak dengan lintang-pukangnya visual kota, akhirnya saya bisa sedikit bernafas lega.

Read More…

Kisah Dua Forum

Mengenang 20 Tahun Forum Interseksi



“Blog


Tahun 2000 yang lalu, ketika saya pertama kali merencanakan serial diskusi dua bulanan di kantor the Japan Foundation (JF), Jakarta, yang di kemudian hari menjadi Forum Interseksi itu, saya tidak pernah membayangkan bahwa forum tersebut akan bertahan cukup lama. Sampai tahun 2007 ini. Seri diskusinya sendiri baru dimulai menjelang akhir tahun 2001, karena selama tahun 2000 ada beberapa aktivitas lain yang lebih mendesak, dan saya masih harus beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru saja saya masuki waktu itu.

Read More…

Bill Gates dan Burung Hantu dalam Lingkungan Informasi Baru


“Blog

Bermacam-macam perubahan radikal yang kita saksikan belakangan ini bukan hanya hadir sebagai sesuatu yang mengejutkan, tapi juga menghasilkan teror di setiap kepala, yang berpikir atau yang tidak. Bagaimana, misalnya, menjelaskan tentang ringgit, dolar Singapura dan rupiah yang nyaris lumpuh oleh sebab-sebab yang sebagian besarnya hanya berlangsung di layar monitor komputer? Lantas mengapa seluruh dunia begitu murung mendengar kabar kematian Lady Diana Minggu, 31 Agustus 1997 lalu? Rasa kehilangan atas seorang aktivis-selebritis seperti Diana nyatanya jauh lebih suram daripada rasa kehilangan kita saat wafatnya seorang aktivis-spiritual sekelas Bunda Theresia seminggu kemudian. Dunia yang begitu kukuh ditopang oleh sain dan teknik tinggi ini telah membawa kita pada sebuah jeram, penuh guncangan, soal-soal yang tak selalu mudah dipahami.

Read More…

Pembohong Publik

Mini-Kata, Koran Cepat Detik


“Blog

Bagi Gus Dur tuduhan berbohong kepada publik yang dilontarkan oleh musuh-musuh politiknya jelas akan membuat hidupnya kurang nyaman sepanjang umur. Puluhan tahun ia membangun citra sebagai seorang humanis, demokrat, dan salah satu tokoh muslim paling toleran di dunia. Tiba-tiba ia harus melewatkan sisa hidupnya dengan beban dosa politik begitu besar. Itu pun kalau dia peduli. Kalau dia hanya menyambutnya dengan “gitu saja kok repot!”, maka musprolah sudah semua tuduhan itu.

Read More…

Something is Rotten in the State of Denmark

Belajar lagi membaca sastra sambil mengenang Pak Kayam*



“Blog


Saya selalu tergoda membayangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Horatio, ketika tubuh-tubuh para bangsawan ksatria Kerajaan Denmark yang terhormat itu, satu per satu membujur disungkurkan oleh kematian? Kejahatan, culas, benci, dendam, pembalasan, justa, serakah, berahi, dan cinta yang karam beraduk tuntas, dan kerajaan seperti terbenam dalam lumpur maut, tanpa peluang bisa keluar selamat. Horatio menjadi saksi tumpasnya sebuah kuasa yang dibangun di atas berbagai khianat, kebohongan, kebodohan, ancaman, dendam kesumat, manipulasi, dan semata nafsu atas tahta. Ia dipilih Shakespeare untuk melihat sampai tamat ketika manusia bertumbuh menjadi makhluk-makhluk buas yang saling menerkam, baku bunuh. Jiwa-jiwanya seperti asap hitam mengotori angkasa. Di istana angkara melela, dan lolong anjing hutan tak putus-putus meningkahi malam.

Read More…

Sumberdaya Alam dan Kemiskinan Warga

Gerundelan Usang tentang Kemiskinan Warga di Negeri yang Kaya



“Blog


Kekayaan dan/atau kelangkaan sumber daya alam dalam relasinya dengan kemakmuran dan/atau kemiskinan masyarakat sebuah negara, paling tidak, bisa dilihat dari dua jurusan yang berbeda bahkan bertolak belakang satu dengan lainnya. Jurusan yang pertama adalah anggapan umum bahwa sumber daya alam merupakan berkah bagi masyarakatnya. Karena lebih merupakan anggapan umum, asumsinya pun sederhana, yakni bahwa sumber kekayaan alam merupakan modal utama untuk menciptakan kemakmuran. Dengan kalimat lain, kekayaan dan/atau kelangkaan sumber daya alam dianggap sebagai determinan utama makmur tidaknya masyarakat sebuah negara. Tumbuhnya negeri-negeri petro-dolar di kawasan Timur Tengah, misalnya, menjadi bukti tak terbantah tentang berkah sumber daya alam bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya.

Read More…

Politik Bimantoro

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik



“Blog

Tepatkah sikap Kapolri Bimantoro menolak putusan Presiden baru-baru ini? Dalam situasi sekarang, jawaban apa pun pasti tidak lepas dari prasangka dan kepentingan politik. Yang mendukung, sebagian besar anggota DPR, jelas berkepentingan karena sejauh ini sikap kepolisian memang cenderung menguntungkan mereka. Apalagi jika ini dikaitkan dengan kemungkinan presiden mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen.

Read More…

Tarik Tolak Kesatuan dan Perbedaan: Tentang Minoritas dan Peran Negara*

Sosiologi | Politik



“Blog

Under the doctrine of state multiculturalism, we have encouraged different cultures to live separate lives, apart from each other and the mainstream. We have failed to provide a vision of society to which they feel they want to belong. (David William Donald Cameron, Perdana Menteri Inggris)[1]



Pengantar

Multikulturalisme tentu saja mencakup banyak persoalan, tapi untuk kebutuhan diskusi ini, dan karena keterbatasan pemahaman saya sendiri, makalah ini hanya akan dibatasi pada beberapa pokok soal: Pertama, tentang problematik hak minoritas dalam konteks diversitas Indonesia; kedua, tentang bagaimana seharusnya negara berperan dalam banyak soal yang menyangkut nasib hidup kelompok-kelompok minoritas. Apakah negara seharusnya netral terhadap perbedaan (different blind) ataukah ia harus berani memihak dan memfavoritkan salah satu kelompok (etnis/agama). Dua pokok soal ini sekaligus akan dipakai untuk melihat bagaimana problematik multikulturalisme sebagai sebuah gagasan konseptual maupun sebagai sebuah kebijakan politik.

Read More…

Kerusuhan Yang Hanya Ada di Kepala

Sosiologi | Politik


“Blog

Jakarta seperti sebuah kota yang hampir tumpas oleh amarah. Seluruh media massa jauh-jauh hari menghimbau orang berhati-hati ke luar rumah. AM Fatwa merengek meminta sidang DPR dipindah ke kompleks tentara, dan sebagian anggota dewan yang lain minta dipersenjatai. Seluruh kota ditikam ketakutan, dan bagian terbesar warganya terkurung dalam rasa cemas dan gelisah yang menyakitkan. Mereka yang ribut ngomong potensi kerusuhan, mereka juga yang paling cepat merasa ketakutan oleh bayangannya sendiri. Jantung ekonomi seperti hendak berhenti berdetak. Kekerasan seperti monster yang mengintai di setiap jendela. Orang-orang kaya tak lagi punya nyali pamer kemewahan di jalan-jalan yang kumuh: dan saya bisa menikmati Jakarta yang jauh lebih manusiawi, zonder kemacetan. Sangat dramatis!


Read More…

Seeing is Believing, dan Drama Politik Akbar Tandjung

Sosiologi dan Politik


“Blog

Apa yang tertinggal bagi kita setelah Mahkamah Agung memutus bebas Akbar Tanjung adalah sebuah drama. Penuh suspensi, haru, dan sebuah akhir yang terlalu mudah ditebak. Memahaminya tidak lebih sulit dari menebak alur drama televisi. Mereka yang merasa dirinya memiliki keprihatinan pada nasib bangsa, dan berkepentingan dengan tegaknya pemerintahan yang relatif bebas korupsi, pasti melihat itu sebagai malapetaka hukum nasional. Mahkamah Agung bagi mereka bukan lagi benteng pelindung keadilan, tapi justru sebuah bungker tempat para perompak bisa berlindung dengan aman.

Read More…

Beberapa Pertemuan Saya dan Daniel Dhakidae

In Memoriam


“Blog

Daniel Dhakidae dan Thung Ju Lan dalam acara diksusi membahas buku Seri Hak Minoritas terbitan Yayasan Interseksi tahun 2007 di Hotel Santika, Jakarta Barat, 4 September 2007.



Tadi pagi, Selasa, 6 April 2021, puluhan pesan WA mengantarkan kabar duka lagi. Daniel Dhakidae, salah seorang intelektual publik dengan reputasi besar telah pergi menghadap illahi akibat serangan jantung pada pukul 3 dini hari. Seperti ribuan orang lainnya, saya tentu saja ikut merasakan sebuah kehilangan besar oleh kepergiannya itu. Sosok Daniel Dhakidae sudah menjulang tinggi di mata saya bahkan sejak saya masih kuliah S1 di akhir 1980an sampai awal 1990an. Meskipun saya tidak pernah benar-benar kenal dekat secara personal, tapi ada beberapa momen dalam hidup kami yang sempat bersisian dan membuat respect saya kepadanya semakin bertambah besar.

Read More…

(Liber Amicorum untuk) Muridan dan Rekognisi untuk Papua

Liber Amicorum


“Blog

Sebuah pagi di tahun 2000 (atau 2001 saya tidak ingat persis). Untuk pergi ke kantor saya di Gedung Summitmas, Jl. Jendral Sudirman, Jakarta, seperti hari-hari sebelum itu, saya naik bis Patas AC jurusan Depok-Tanah Abang dari rumah kontrakan saya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Biasanya saya berhenti di halte bus di depan kantor Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI), atau yang biasa juga disebut Komdak, di Jalan Gatot Subroto, sebelum saya melanjutkan kilometer terakhir menuju kantor di Gedung Summitmas I dengan naik bis Metromini ke arah Blok M. Tapi seperti sering terjadi sebelumya, karena tidak tahan dengan sesakan penumpang di dalam bis, pagi itu saya memutuskan untuk turun di perempatan Kuningan (waktu itu Underpass yang menghubungkan kawasan Mampang dan Jl. H.R. Rasuna Said belum dibangun). Yang masih saya ingat adalah, setelah turun dari bus saya lantas menunggu taksi kosong yang lewat. Kebetulan lokasi saya turun tidak begitu jauh dari kantor pusat perusahaan Taxi Blue Bird.

Read More…

Jihad

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.


“Blog

Apakah terorisme tidak beragama? Ketika bom bunuh diri diledakkan dengan sepenuh-penuhnya semangat dan keyakinan pelakunya bahwa ia sedang berjihad, seperti yang telah diajarkan kepadanya oleh pimpinan atau mungkin gurunya, mengapa setelah itu hampir semua pihak menolak tindakan tersebut dikaitakan dengan agama mana pun?

Read More…

Marx tentang Manusia, Kerja dan Alienasi

Belajar Sosiologi


“Blog

Dalam pandangan Marxian, basis material masyarakat menentukan bentuk kebudayaannya, bukan sebaliknya. Prognosis Marx tentang masyarakat komunis berangkat dari pemahamannya tentang sejarah yang, berbeda dari Hegel atau Feuerbach, kemudian lebih dikenal sebagai the materialist conception of history (Mises, 1951: 352-53). Telaah Marx difokuskan pada basis-basis material masyarakat manusia, terutama tentang mode produksi (mode of production), yakni pelbagai proses melalui apa masyarakat-masyarakat manusia memenuhi kebutuhan materialnya. Bagi Marx, sejarah bisa dikategorikan menjadi beberapa zaman yang masing-masing dicirikan oleh satu mode produksi utama. Mode-mode produksi inilah yang menentukan bentuk-bentuk institusi, kebudayaan, hukum, agama, dan ideologi pada masing-masing masyarakat pada masing-masing zamannya.

Read More…

iPod, therefore I am

Sosiologi

“Blog

Orang yang paling berpengaruh di wilayah kultural tahun 2003 yang lalu adalah Jonatahn Ive. Paling tidak itulah hasil pilihan pemirsa stasiun radio BBC, Inggris, baru-baru ini. Lahir di kawasan utara London, Ive mengalahkan jutawan baru, penulis serial Harry Potter, serial buku terlaris di planet bumi dalam tiga tahun terakhir ini, J.K. Rowling, dan beberapa tokoh berpengaruh lainnya. Ive bukanlah pengarang penerima penghargaan Nobel, atau ilmuwan humaniora kelas puncak, melainkan hanya seorang perancang desain peralatan teknologi mutakhir yang sekarang paling banyak dipakai di dunia: pemutar lagu portable berbasis teknologi komputer, MP3 player yang diberi nama iPod.

Read More…

Ekonomi Tsunami dan Lenonisme

Sosiologi


Share

“Blog

Museum Tsunami, Kota Banda Aceh. Foto oleh: Julianto Saputra (https://unsplash.com/photos/8Z0Q_K8I7Tc)


Hamburan informasi (visual, tekstual, dan audio) tentang bencana tsunami belakangan ini memberi impresi seolah sejarah Aceh sedang hendak ditulis ulang. Pekabaran media massa tentang tragedi ini benar-benar melahirkan horor di setiap kepala. Aceh kini mengalami sebuah disrupsi besar-besaran dalam seluruh dimensi. Begitu banyak korban, demikian banyak soal rumit yang harus diselesaikan. Puluhan ribu orang meninggal dalam hitungan hari, dan kemungkinan ribuan lain menyusul akibat komplikasi penyakit yang menyertai bencana tesebut.

Read More…

Distorsi Realitas

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Dalam hidup sehari-hari, sebuah perumpamaan sering dipakai untuk menjelaskan hal rumit agar lebih mudah dimengerti. Semacam pintu darurat yang mau tidak mau harus dipakai ketika kita kehilangan kesanggupan untuk memberi informasi yang lebih terang. Banyak orang mengira bahwa untuk setiap soal rumit selalu ada perumpamaan yang bisa dipakai sesuka hati. Kita kadang lupa bahwa setiap perumpamaan pada dasarnya adalah simplifikasi. Dan setiap simplifikasi bukan lain adalah distorsi realitas. Orde Baru adalah contoh kekuasaan yang dihidupkan oleh politik distorsi realitas ini.

Read More…

Menimbang buku Global Transformation and the Third World

Review Artikel


“Blog


Judul Buku: Global Transformation and the Third World
Editor: Robert O. Slater, Barry M. Schutz, dan Steven R. Dorr
Penerbit: Lynne Rienner Publisher, Boulder, Adamantine Press, London
Tahun Terbit: 1993
Esay yang dibahas: “Global Economic Transformation and Less Developed Countries”



Sampai empat belas tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, kata jadian “globalisasi” sama sekali belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen P dan K dan Balai Pustaka. Ini paling tidak bisa berarti dua kemungkinan: globalisasi belumlah menjadi terminologi yang dikenal luas atau, kalau tidak, hal tersebut justru memperlihatkan bagaimana perkembangan khasanah bahasa Indonesia cenderung kurang responsif terhadap perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat.

Read More…

Lokalitas | Komunitas dan diskusi kecil tentang Indonesia

Rough-draft.


“Blog

Konteks: Segalanya Berantakan

Indonesia pasca Orde Baru Suharto antara lain ditandai oleh terjadinya rentetan konflik sosial yang sumber-sumbernya dipercaya bisa dilacak dari diversitas nilai, identitas, etnik dan agama. Dimulai dengan apa yang lebih dikenal sebagai konflik etno-religius di Ambon tahun 1997-2000 yang lalu, kemudian disusul konflik Poso di Sulawesi, dan konflik Dayak-Madura di Kalimantan, konflik-konflik lain terus terjadi silih berganti. Meskipun beberapa kalangan akademisi cenderung menyatakan bahwa yang terjadi pada dasarnya bukanlah konflik antaragama, tapi tetap tidak bisa dimungkiri bahwa konflik-konflik tersebut menempatkan para pelaku yang berbeda agama atau berbeda etnis (atau kedua-keduanya) berhadap-hadapan sebagai musuh satu sama lain.


Read More…

Ginandjar-Gate

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Dalam kasus Ginanjar Kartasasmita, yang harus dipersoalkan bukan saja keseriusan pemerintah, melainkan juga kesungguhan kita memerangi korupsi. Mengapa orang ribut membela Ginanjar dengan pelbagai alasan?

Read More…

Pendekatan Modern pada Kritik Ideologi

Ringkasan Buku



Share


“Blog

Ada banyak pendekatan kajian ideologi telah dikembangkan dalam ilmu sosial kontemporer. Dua di antaranya adalah pendekatan aliran Marxist strukturalis Prancis yang terutama dikembangkan oleh Louis Althuser, dan pendekatan yang dikembangkan oleh pewaris terjauh tradisi Marxist dari Jerman, yakni Aliran Frankfurt terutama pada tokoh terakhirnya, Jurgen Habermas. Meskipun seolah membentuk dua aliran pendekatan yang sama sekali berbeda, tapi keduanya jelas memiliki basis atau akar teori yang sama. Tim Dant (1991), misalnya, melihat bahwa baik strukturalis Althuserian maupun teori kritik masyarakat Aliran Frankfurt sama-sama masih berpijak pada analisa Marx tentang relasi-relasi materialis, tapi dua pendekatan ini juga mencoba mengatasi Marx dalam konteks pengakuannya pada aspek-aspek lain di luar determinan ekonomi dari kehidupan sosial manusia.

Tulisan ini berisi rangkuman dari sebagian isi buku yang ditulis Tim Dant, Knowledge, Ideology and Discourse, A Sociological Perspective. London: Routledge, 1991. Read More…

Kondolasi Politik untuk (Pendukung) Gus Dur

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.



“Blog

Memakai cara apa pun, tahta Abdurrahman Wahid sudah sulit dipertahankan. Agustus 2001 mungkin saatnya kita memberikan salam perpisahan pada orang yang semula begitu menjanjikan, tapi yang kemudian terbukti baru bisa berjanji. Namun jika Agustus nanti ia bisa bertahan, kemungkinan besar ia akan tetap di tahtanya sampai 2004. Sebab orang-orang partai politik akan mulai sibuk mempersiapkan pemilu, membikin janji-janji baru, membuncahkan lagi omong kosong, dan melupakan Wahid.

Read More…

Keistimewaan dan Problem Politik Pengakuan

Beberapa Catatan dari Perjalanan Singkat di Aceh tahun 2008#



“Blog

Beberapa Pertanyaan Awal

Bagi sebagian orang dari luar Aceh, ungkapan “formalisasi syariat (atau lebih sering ditulis syariah) Islam” untuk merujuk pada pemberlakuan syariat Islam sebagai landasan pengaturan tertib sosial dalam bentuk regulasi pemerintah daerah di provinsi Aceh (belakangan berganti nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam, NAD), mungkin merupakan nasib sosiologis masyarakat Aceh yang tidak terlalu perlu dipersoalkan. Sebutan “Serambi Mekah” yang pada dasarnya sedikit, kalau bukan tidak ada sama sekali, hubunganya dengan kondisi kehidupan dan ketaatan masyarakat Aceh pada ajaran Islam, misalnya, oleh orang non-Aceh seringkali dilihat sebagai indikasi tentang senyawa antara Aceh dan Islam. Julukan yang semula hanya merujuk pada gagasan tentang jarak spasial dalam rute jamaah haji Indonesia menuju tanah suci di Mekah Saudi Arabia, belakangan telah berubah menjadi ekpresi atau bahkan testimoni sosial tentang kehidupan religius masyarakat Aceh dalam naungan nila-nilai dan ajaran Islam: Aceh adalah Islam (meskipun mungkin tidak berlaku sebaliknya). Dipahami dalam konteks seperti itu, klaim kota Manokwari di Papua Barat sebagai “Serambi Yerusalem” atau “kota Injil”, semacam usaha untuk meraih status distingtif dalam versi Nasrani, yang merujuk pada Aceh sebagai preseden historisnya, misalnya, memperlihatkan berlangsungnya (kekeliruan) konotasi konseptual yang terlanjur terbentuk di tengah masyarakat non-Aceh tentang senyawa tadi.

Read More…

Menimbang Amien Rais

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Katakanlah Gus Dur dijatuhkan tahun ini. Setelah itu apa? Siapa menyusul? Selain Mega jadi presiden, satu jawaban lain yang mungkin adalah: menurunkan Amien Rais! Mengapa tidak? Bukankah soal turun menurunkan adalah hal biasa dalam demokrasi, seolah demokrasi melulu soal kebebasan gonta-ganti pejabat!

Beberapa alasan masuk akal dengan mudah bisa diajukan: Read More…

Minoritas, Konformitas, dan Jumlah yang Tidak Selalu Jelas

Sebuah Prakata untuk Isu Hak Minoritas


Share


“Blog

Konformitas adalah naluri yang sangat kuat. Ada rasa aman yang disediakan di dalam jumlah, dan di luar jumlah itu orang membutuhkan lebih dari naluri untuk bisa berbeda dari kebanyakan orang lain. Maka orang cenderung mengatur hidupnya di atas landasan yang disepakati secara bersama-sama oleh sejumlah orang tertentu. Menjadi mayoritas dalam jumlah memberi orang sebuah rasa aman karena ia menyediakan kesamaan-kesamaan atribut dengan sejumlah sangat besar khalayak. Sebaliknya, berbeda dengan mayoritas sering mendatangkan perasaan tidak aman atau, paling tidak, beresiko dianggap minor, aneh, menyimpang, tertinggal, terasing dengan segala konsekwensinya. Individu atau sekelompok individu menjalani cara hidup yang berbeda dari mayoritas bisa karena pilihan bisa pula karena sebab-sebab historis tertentu, seperti pengabaian oleh negara dalam kebijakan-kebijakan modernisasi, atau oleh representasi dalam wacana. Sebagai pilihan atau karena secara historis dan politis diciptakan, kelompok-kelompok minoritas adalah fakta yang selalu ada dalam setiap negara. Salah satunya adalah kelompok minoritas berbasis etnis/agama.

Read More…

Demokrasi Komikal

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Revolusi memakan anaknya sendiri. Tapi dalam kasus yang tengah menimpa Gus Dur, sebagian orang mungkin akan mengatakan “demokrasi tengah memangsa pendekarnya sendiri”. Sebutan “pendekar demokrasi” tentu saja didasarkan pada track-record aktivitas Wahid sebelum ia jadi presiden: Orang tahu bahwa dibanding tokoh-tokoh lain, Wahid adalah sosok yang lebih berakar pada gerakan-gerakan pro demokrasi vis a vis otoriterianisme Orde Baru waktu itu.

Read More…

Normalisme Jakarta

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Bagi sebagian orang, ada satu hal yang disyukuri setiap kali Jakarta disergap kecemasan: banyak ruas jalan akan sepi, lalu lintas akan sangat lancar, dan Jakarta jadi terasa lebih manusiawi. Karena itu, meskipun terkesan kurangajar, sebagian orang justru mengharapkan Jakarta lebih sering dicekam isu kerusuhan. Mereka tentu saja bukan para penjahat atau politisi yang senang memancing di air keruh. Mereka hanya orang-orang biasa yang ingin hidup dalam kondisi “normal”.

Read More…

Tauladan SBY

Tentang Tokoh | Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Kita tahu, orang sama sekali tidak butuh keberanian untuk menentang kekuasaan saat ini. Apa yang ditakutkan dari sebuah kuasa yang tangannya satu persatu telah dibuntungi: melalui undang-undang atau tap MPR. Artinya, relasi antara keberanian dan perlawanan dalam konteks kekuasaan kini sudah lenyap. Karena itu, pada diri para penentang yang bawel itu, kita juga tidak pernah bisa menemukan satu hal pun yang punya harga. Semuanya seragam, membebek, sampah politik.

Read More…

Cogito Orgasmus, Coito Ergo Sum. Dari Mimpi Descartes sampai Para Pemburu Bidadari Surga

Esai Plesetan tentang Mimpi dan Descartes. Dimuat majalah Matra, Desember 1996


Share


“Blog

Apa yang berharga dari sebuah mimpi? Martin Luther King Jr. disanjung orang antara lain juga karena ia bisa mengukuhkan sebuah mimpi menjadi itikad yang begitu keras, dan gelombang pengikut yang bergelora. Ia bermimpi tentang tumbuhnya Amerika Serikat yang lebih toleran, yang tidak melihat dosa manusia melulu dari warna kulit. Walaupun King mati sambil mendekap mimpinya yang berantakan,--karena AS sampai kini tetap menjadi salah satu negeri rasialis terbesar--toh penghormatan orang tidak lantas berkurang karenanya. Meskipun dalam pidatonya ia mengatakan bahwa “semalam ia bermimpi”, tapi mimpi King kemungkinan bukanlah apa yang sering disebut “kembang tidur”, melainkan sebuah kiasan untuk tekad atau harapan tentang masa depan yang letaknya tidak musti selalu jauh. Kita, di sini, sampai ini hari, biasa menyebut mimpi-mimpi yang langsung terkait atau tidak--artinya sengaja dikait-kaitkan--dengan sebuah realitas di luar tidur itu sebagai cita-cita. Tapi ia juga bisa berarti wangsit atau ilham.

Read More…

Diaphtheirein

Artikel Mini-Kata


Dewan Pembina Yayasan Interseksi, Jakarta

“Blog

Sumber gambar: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/426600.



Sebuah masa, ketika pecah pagi berlalu di langit Athena. Seorang lelaki tambun, sekarang kita mengenalnya dengan nama besar, Socrates, biasa keliling kota menebarkan kesangsian. Suaranya berat sedikit parau, kata-katanya deras seperti hujan di bulan November. Lidahnya tajam, bilah pedang pernyataan perang pada segala yang mapan. A round peg in a square hole. Read More…

Imlek dan Gandrung Kita pada Timur

Menyambut Imlek 17 tahun silam


Share


“Blog

Pada mulanya adalah warna kulit. Batas antara “yang sama” dan “yang lain” ditarik begitu tegas: aku “pribumi”, Indonesia asli, muslim, dan kau orang-orang keturunan, bukan asli, nonmuslim, nonpri. Kemudian kita ramai-ramai mendefinisikan dosa-dosa orang lain. Melalui KTP, atau surat keterangan lain. Dalam bisnis atau perhelatan-perhelatan politik, dan birokrasi yang gendut. Setelah itu proses-proses sejarah memunculkan pembedaan lain: aku miskin, kau kaya raya, aku papa sedangkan kau begitu berlimpah. Tanpa harus membaca Proudhon, aku tahu milikmu adalah hasil curian, hasil persekutuan sesat dengan kekuasaan yang menindasku. Dan karena itu, satu saat aku harus mencurinya kembali.

Read More…

Videologi Politik

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.


“Blog

Banyak hal yang bisa berubah dalam 5 sampai 10 detik. Apa yang berharga dari kilas watku sesingkat itu? Bagi perokok berat seperti saya, itu adalah waktu untuk setiap hisapan penuh nikotin yang cukup berbahaya bagi kesehatan. Cerita jadi lain bagi para produsen, pemburu dan pewarta berita sekarang. Bagi mereka 5 detik cukup untuk mengubah dunia. Kita sekarang berada di zaman ketika ideologi makin banyak ditertawakan, dan orang lebih percaya pada videologi.

Read More…

Virus Media! Agenda Terselubung dalam Budaya Popular

Rangkuman Buku


“Blog

Di samping merupakan momen cukup penting dalam sejarah negara Orde Baru, peristiwa wafatnya Nyonya Tien Soeharto tgl 28 April 1996 yang lalu di sisi lain juga berhasil mengungkapkan sebuah indikasi tentang kekuatan media dalam menciptakan sebuah realitas ( a socially constructed reality). Ketika praktis selama lebih dari dua puluh jam seluruh media massa (televisi, radio, dan media cetak) yang ada hanya menyiarkan acara-acara yang masih berkait langsung dengan peristiwa kematian istri presdien tersebut, maka paling tidak ada dua persoalan menarik yang bisa diperhatikan. Pertama, teknologi media massa telah memungkinkan penyebaran berita (duka) ke seluruh pelosok negeri dalam skala waktu yang sangat kecil: cucu Obahorok yang men-tuning radionya di lembah Baliem akan mengetahui kabar kematian tersebut sama cepatnya dengan warga Jakarta yang tinggal di Jakarta--tidak jauh dari kediaman almarhum--atau Nyonya Siti Hardijanti Rukmana yang konon tengah berada di London.

Read More…

Mengenang Bisri Effendi: Tentang VW Tua dan Rekonsialiasi Kultural

In Memoriam


Share

“Blog

Dua mobil VW (Volkswagon) tua mungkin bisa sedikit bercerita tentang komitmen Bisri Effendi (BE) dalam upaya panjangnya untuk rekonsiliasi kultural di banyak tempat di Indonesia.

BE adalah pencinta mobil VW tua. Seingat saya ia memiliki dua VW tua di rumahnya, tapi saya tidak persis tahu keluaran tahun berapa masing-masing mobil itu. Yang satu sebuah VW Kodok (VW Beetle), dan satu lagi sebuah VW Kombi (Combi). Dua-duanya adalah model VW yang saya kira paling ikonik, yang bukan hanya digemari di Indonesia tapi juga di tempat-tempat lain di dunia. Ketika butuh modal untuk mendirikan perusahaan yang sekarang menjadi perusahaan terkaya di bumi, Apple Computer, yang belakangan berubah nama menjadi Apple Inc, Steve Jobs menjual barang miliknya yang dia anggap paling berharga waktu itu, sebuah VW Kombi. Read More…

Mengapa Keadilan Musti Dicari?

Untuk 50 Tahun Indonesia Merdeka, 1995.


“Blog

Di mana bisa kita temukan keadilan? Di penjara. Kemana kita mencari kebebasan? Ke penjara. Menjelang perayaan ulang tahun proklamasi kemerdekaan politik Indonesia kelima puluh tahun lalu, orang ramai-ramai malah pergi ke penjara. Mencari kemerdekaan, memburu keadilan, sebab konon Tyson dan Subandrio pun bisa bertemu Tuhan di sana. Padahal, konon, kebebasan paling puncak adalah pengikatan diri dengan Tuhan; keadilan paling akhir adalah yang datang dari ujung jari-Nya. Tapi mengapa Subandrio, Oemar Dhani, Arswendo dan Tyson malah memilih ke luar dari rumah yang mendekatkan mereka dengan kebebasan paling puncak, dengan keadilan paling tinggi? “Mengapa mereka menginginkan dunia luar yang bebas tapi semu?” kata sebagian penghujat. Mereka memburu keadilan yang lebih jelata, sedangkan Pak Flintstone pun tetap berusaha memelihara hubungan mitisnya dengan penjara goa purbawi: merapatkan diri pada keheningan, melautkan keinginan menjadi sunyi.

Read More…

Inflasi Doktor

Kolom Intermezo di Majalah Matra, Januari 1998


Share

“Blog

“Here is the test of wisdom, Wisdom is not finally tested in schoolds, Wisdom cannot be pass’d from one having it to another not having it, Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, Is its own proof” (Walt Whitman, "Song of the Open Road", diambil dari Leaves of Grass, edisi 1954).


Tidak begitu jelas berapa orang di negeri ini yang telah menyandang gelar doktor sebagai puncak prestasi akademisnya. Karena menyandang gelar tertinggi, tampaknya, mereka cenderung tidak suka diikat dalam satu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia untuk para dokter medis, atau Persatuan Insinyur Indonesia untuk para alumna keteknikan. Sementara itu, konon, ada rektor sebuah universitas ternama yang bahkan tengah berupaya keras agar pada tahun 2000 nanti universitasnya, paling tidak, akan memiliki 1.000 orang doktor pelbagai jurusan.

Read More…

Bangsa yang Takut

Artikel Mini-Kata


“Blog

Kalau sebuah karya intelektual dibakar, yang dilalap api tentu bukan hanya kerja keras penulisnya, melainkan juga kehormatan seluruh kepala manusia yang punya otak waras. Ketika belakangan beberapa orang membakar buku-buku kiri, buruk rupa peradaban kita pun semakin memalukan.

Read More…

Destarastra

Artikel Mini-Kata

sumber: https://www.indictoday.com/quick-reads/tales-mahabharata-vidura-niti-part-iv-viduras-exhortation-dhritarashtra/

“Blog

Malam itu apa yang dirasakan Destarastra ketika Perang Kurukshetra, atau yang di Jawa disebut Bharatayudha, berakhir, dan seluruh amarah mengendap jadi debu, lalu bisu, dan angsana yang luruh? Dari cerita Sanjaya ia menyaksikan robohnya kehormatan jadi sederet panjang pekuburan. Seratus anak-anaknya bertumbangan, tumpas seperti batang-batang rumput disabit para pembuka lahan. Read More…

Minoritas, Multikultural(isme), Demokrasi: Beberapa Observasi

Rough-Draft. Catatan tahun 2010

“Blog

Pengantar

Belum lama ini, menteri Suryadharma Ali (SA) mengeluarkan pernyataan tentang kelompok Ahmadiyah sebagai kelompok keyakinan yang harus dibubarkan karena dianggap menyimpang dari dan menodai ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas muslim Indonesia. Ia merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung yang telah dikeluarkan tahun 2008 yang lalu yang, antara lain, juga merujuk kepada PNPS (Penetapan Presiden) tahun 1965 tentang pencegahan penodaan agama. Tidak lama berselang, dalam suasana Lebaran Idul Fitri 2010, terjadi kekerasan terhadap kelompok HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Ciketing, Bekasi, yang diduga dilakukan oleh anggota-anggota kelompok Front Pembela Islam (FPI). Dugaan ini sudah dibantah oleh pimpinan FPI (Kompas, 13/9/2010). Isu krusial di balik aksi brutal terhadap kelompok HKBP di Bekasi adalah soal pendirian rumah ibadah. Salah satu rujukan yang banyak diperdebatkan dalam kasus pendirian rumah ibadah juga SKB, yakni SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2006.

Read More…

Kekalahan Tradisi Lisan: Merenungkan Bojongpari

Rough-Draft

“Blog

Kebudayaan akhirnya kerap menjadi pembicaraan yang semena-mena. Betapa tidak, karena ia adalah rimba New York bahkan belantara Bojongpari atau ketenteraman Ngrimpak. Bara padang pasir yang mematangkan keperkasaan piramid sampai beku kutub bumi yang memadatkan kultur Kwakiutl suku Eskimo--yang mengundang decak kagum Franz Boas; mode body language yang memusingkan birahi lelaki, sampai kombinasi jilbab-cadar yang serba enggan atau lilitan jarik yang membius, misterius. Semua punya jatah ruang dan waktu hidupnya sendiri. Raung hirukpikuk sampai kesunyian yang demikian tandas.

Read More…

Dataveillance: SIN dan Kebebasan Individu

Sosiologi, Politik


“Blog

Almarhum filsuf utilitarian Inggris abad ke-18, Jeremy Bentham, tiba-tiba saja jadi penasihat presiden Susiolo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menghadapi korupsi di Indonesia. Kita semua tahu bahwa perang melawan korupsi kini mulai memasuki babak baru. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sekarang tampak begitu perkasa. Ia diberi otoritas bahkan untuk menyadap percakapan telepon. Akibat sertamertanya terkesan lucu bahkan moronik, ketika konon banyak anggota dewan legislatif yang ramai-ramai mengganti nomor telepon selulernya, seolah dengan cara itu mereka akan bisa lepas dari pengawasan.

Read More…

Spektrum Toleransi/Intoleransi: Dari Demokrasi Sampai Tribalisme Media Sosial

Kontribusi untuk Buku Intoleransi dan Politik Identitas Kontemporer di Indonesia, LIPI, 2021


Share

“Blog

Paling tidak sejak satu dekade belakangan ini, meskipun puncak-puncaknya berlangsung mulai tahun 2014, isu intoleransi mulai banyak dibicarakan dalam berbagai lingkar perbincangan, dari mulai para akademisi, kalangan aktivis pluralisme dan Hak Asasi Manusia (HAM), aparat keamanan, organisasi-organisasi masa (ormas) berbasis agama sampai para politisi. Bukan hanya dibicarakan tapi intoleransi bahkan dianggap sebagai salah satu ancaman besar bagi masyarakat Indonesia saat ini. Yang lebih mengkhawatirkan adalah karena tindakan-tindakan intoleran itu bukan hanya muncul dalam bentuk ujaran-ujaran kebencian tapi bahkan mulai banyak yang berbentuk aksi-aksi kekerasan.

Read More…

Senarai Singkat Kisah-kisah dari Sulawesi

Lampiran untuk buku Kota-kota di Sulawesi

“Blog

Pengantar

Dalam periode 15 tahun terakhir Sulawesi telah makin berkembang menjadi salah satu kawasan terpenting di wilayah timur Indonesia. Beberapa kalangan secara tidak resmi bahkan sering merujuk Makassar, salah satu kota terpenting di Sulawesi, sebagai ibu kota Indonesia (Bagian) Timur. Selain karena perkembangan fisik kota Makassar belakangan ini, dalam konteks yang lebih luas sebutan seperti itu tentu saja tidak terlalu mengejutkan mengingat kawasan Sulawesi memang telah mengalami perkembangan politis sangat dinamis sejak dimulainya era demokrasi lokal dan otonomi daerah belakangan ini. Cukup aman untuk mengatakan bahwa dari sisi terbentuknya wilayah-wilayah urban baru dan desentralisasi politik, setelah Sumatra, Sulawesi merupakan wilayah yang mengalami perkembangan paling dinamik di Indonesia. Pada tingkat provinsi, misalnya, sejak berakhirnya era Orde Baru terdapat dua provinsi baru dibentuk (Gorontalo dan Sulawesi Barat). Read More…

Membuka Kembali Wacana Civil Rights di Indonesia

Catatan Tahun 2002

“Blog

Keterangan Foto: “[Civil Rights March on Washington, D.C. [Dr. Martin Luther King, Jr. and Mathew Ahmann in a crowd.], 8/28/1963" Original black and white negative by Rowland Scherman. Taken August 28th, 1963, Washington D.C, United States (The National Archives and Records Administration). Colorized by Jordan J. Lloyd. U.S. Information Agency. Press and Publications Service. ca. 1953-ca. 1978. https://catalog.archives.gov/id/542015.



Dalam ranah kepustakaan politik liberal terminologi “civil rights” lebih kurang mengacu pada seperangkat kebijakan publik yang dirancang untuk memberikan jaminan bahwa setiap orang akan diperlakukan secara adil oleh masyarakatnya. Ini dimaksudkan untuk mencegah dan/atau menanggulangi pelbagai bentuk diskriminasi. Cukup jelas bahwa gagasan tersebut berkembang di atas landasan klasik bahwa “all (wo)men are created equal”--sebuah gagasan yang terang-terangan ditolak oleh dua orang peletak dasar-dasar filsafat Barat sendiri, Socrates dan Aristoteles. Bersama dengan isu Perang Dingin antara Barat dan Komunisme serta dekolonisasi, isu-isu tentang “civil rights” pernah menjadi wacana dominan di Eropa dan Amerika. Untuk konteks Amerika Serikat, misalnya, perkembangan konsep “civil rights” boleh jadi mengacu pada praktik-praktik diskriminasi rasial kulit putih atas kulit hitam.

Read More…

Empat Huruf yang Menyakitkan

Catatan tahun 1992



Share

“Blog

Pernahkah Sang Budha atau orang suci lainnya terbahak? Atau adakah mereka orang yang senantiasa tampil tegar, sedikit senyum, serius melulu menyuntuki nasib dunia—seperti dokter memeriksa preparat melalui mikroskop? Kita tak persis tahu jawabannya. Karena pekabaran yang kita tangkap tentu tak demikian lengkap. Kita hanya sanggup mencegat kesan, yang itu pun kadang seperti bunglon. Semakin ngotot kita meyakini salah satu warnanya, semakain kelirulah kesimpulan kita. Yang pasti, dalam hidup ini ada banyak wilayah yang seakan enggan bersinggungan dengan gelak tawa. Kaku, sepi dan dingin seperti tembok rumah bekas Belanda. Ia cenderung menghindar dari ketawa yang lepas. Sebab hanya dalam sunyi ada keheningan untuk merapatkan rasa, sedangkan ketawa sering diidentikkan dengan nafsu. Dan nafsu itu dari syetan, perusuh setiap itikad baik yang serius.

Read More…

Mengenang Radjimo

In Memoriam


Share

“Blog

Sepokok pohon sawo di halaman depan rumah saya, yang roboh oleh hujan deras kamis sore menjelang maghrib, sebenarnya mungkin tidak memberi tanda apa pun. Tapi Jum’at pagi puluhan pesan WA saya terima mengabarkan hal yang tidak pernah saya harapkan: seorang sahabat yang demikian baik hatinya, Radjimo Sastro Wiyono, telah pergi untuk selamanya. Orang percaya bahwa meninggal di hari Juma’at adalah pertanda baik, dan saya percaya itu untuk Radjimo. Tapi tetap saja ada bolong besar dalam hati saya hari itu.

Read More…

Kritisisme Kaum Tengah-Atas

Politik dan Hiburan


“Blog

Kita telah kehilangan seluruh hak kita dimulai dengan hilangnya hak kita untuk bicara. Dalam The Republic of Silence Sartre menuliskan kalimat tersebut dengan timbre suara mengerang dan menerjang di dekade 1940-an. Persisnya pada bulan september 1944, ketika Prancis sedang berada di bawah dan mencoba melawan pendudukan Jerman, dan ia sendiri menjadi bagian dari gerakan yang dikenal dengan France Resistance itu. Sebagian menduga ia merupakan salah satu pemimpinnya, tapi sebagian yang lain kemudian menyadari bahwa peran Sartre di sana telah terlampau dilebih-lebihkan.

Read More…

Harimau Minahasa: tentang kembara dan rasa aman warga

Pengantar Video Dokumenter

“Blog

Ad loca aromatum. November 2013, Andang Kelana, salah satu pembuat video Harimau Minahasa, datang memenuhi undangan saya untuk bergabung ke dalam tim penelitian kota-kota di Sulawesi yang diorganisir Yayasan Interseksi. Ada tujuh kota yang akan menjadi tujuan kami di keenam provinsi di Sulawesi. November itu para peneliti sedang melakukan proses pendalaman bacaan tentang Sulawesi, dan setiap minggu rutin bertemu di kantor kami untuk mendiskusikan hasil bacaan dan cicilan rencana penelitian. Tema umum program Interseksi di Sulawesi (2013-2015) adalah tentang demokrasi, politik lokal, dan kewargaan. Di samping tema umum itu, saya juga memberi pilihan kepada para peneliti untuk mengerjakan topik yang diminatinya sendiri di lokasinya masing-masing. Peneliti yang akan berangkat ke Kota Baubau di pulau Buton, Sulawesi Tenggara, misalnya, berencana menulis tentang konflik dalam lingkaran kaum bangsawan Keraton Buton. Sementara yang berangkat ke Minahasa Utara berencana meneliti rantai komoditi manusia dalam industri kopra di sana, dan lain-lain.

Read More…

Membaca Lagi Teori Pembangunan, Mengenang Dances With Wolves

Sosiologi Pembangunan


“Blog

Debat Pembangunan: Sebuah Retrospeksi

Ketika pertama kali membaca beberapa teori pembangunan pada akhir dekade 1980an sampai tahun-tahun awal dekade 1990an, di lingkungan universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, waktu itu saya langsung dihadapkan pada dua kutub pendekatan yang bukan hanya berbeda melainkan bahkan bertolakbelakang satu dengan yang lain: pendekatan kultural dan pendekatan struktural. Dalam kaitannya dengan problem pembangunan di Indonesia, misalnya, kalau yang pertama lebih kurang berurusan dengan wilayah mental world yang dianggap tidak atau belum sesuai dengan tuntutan modernisasi, yang kedua lebih kurang berurusan dengan wilayah di luar mental, structural constrainst, yang membuat potensi masyarakat untuk berkembang selalu terhambat.

Read More…

Politik dan Kegilaan

Politik

“Blog

Banyak peristiwa konyol yang lewat begitu saja di wilayah panca indera kita belakangan ini. Orang ramai mengumpat kemacetan jalan-jalan raya di Jakarta, tapi ketika gubernur DKI memberi sebuah solusi dengan introduksi Busway, yang dilakukan banyak orang hanya memaki. Tapi di situlah letak soalnya, kalau kepentingan orang kaya terganggu, dan politik sudah terlalu lama identik dengan manipulasi.

Read More…

Wacana Kekerasan, Teror Politik

Politik



Share


“Blog

Negara didaulat memiliki wewenang mutlak penguasaan atas mesin-mesin kekerasan yang paling menghancurkan, konkretnya militer, karena ia didirikan justru untuk memenuhi rasa aman warganya. Konkretnya, di tangan negara secara ideal orang membayangkan bahwa kekerasan tidak akan melela tanpa kendali. Penggunaan mesin kekerasan dalam perspektif semacam ini terutama ditujukan untuk kepentingan keselamatan warga dari kemungkinan ancaman kekerasan pihak lain.

Read More…

Presiden Baru: Antara Ilusi dan Disilusi Politik

Politik



Share

“Blog

Almarhum Nietzche menuding demokrasi tidak lebih dari “a mania of counting nose”. Nietzche mungkin terlampau berlebihan, tapi bukan berarti aforismanya itu sama sekali tidak relevan untuk konteks politik kita sekarang. Setelah tgl. 20 September 2004, eksistensi kita dalam demokrasi akan dikonversikan menjadi angka-angka. Ketika sudah menjadi barisan angka, rakyat pada dasarnya menjadi sebuah entitas yang sangat (trans)portable, bisa dibawa ke mana-mana, sangat mudah dimanipulasi menjadi tampilan grafik visual di layar TV atau pagina media cetak. Angka-angka statistik hasil sebuah Pemilu adalah bukti dukungan politik yang paling dipercaya dalam demokrasi.

Read More…

Dua Skenario Pasca 20 September 2004

Politik


Share


“Blog

Dalam Pemilu presiden putaran kedua, peluang pasangan Megawati/Muzadi dan Yudhoyono/Kalla bisa diasumsikan lebih kurang sama. Lantas apa yang harus dilakukan setelah kartu suara dicoblos, dan angka-angka kemenangan ditetapkan. Salah satu kelemahan kita sejauh ini adalah karena sebagian terbesar energi kita habiskan untuk mengurusi pemilu, seolah demokrasi melulu identik dengan itu. Sekarang, ketika pilihan yang tersisa hanya tinggal dua kandidat dan Golput, sudah saatnya fokus perhatian kita digeser pada proses demokrasi pasca Pemilu.

Read More…

Calon Presiden, Obsesi Kesempurnaan Ragawi

Politik



Share

“Blog

Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan calon presiden dan wakil presiden secara definitif tgl 22 Mei 2004, pemeo Latin mens sana in corpore sano sudah harus dibaca secara kritis. Ungkapan “jiwa sehat dalam tubuh sehat” tersebut tampaknya telah mengimposisi nalar kita dengan sebuah commonsense bahwa, dalam konteks Pemilu presiden kali ini, hanya mereka yang fisiknya sempurnalah yang bisa jadi (calon) presiden. Artinya, commonsense seperti ini telah melahirkan cara berpikir yang potensial menjadi praktek diskriminasi seperti sinyalemen Komnas HAM tentang kasus Abdurahman Wahid.

Read More…

Kekuatan Lama dan Baru dalam Pemilu 2004

Politik



Share

“Blog

Tahun 2004 ini, sebagian besar rakyat pemilih akan disergap kebingungan menghadapi Pemilu beberapa bulan ke depan. Bukan hanya karena Pemilu sekarang berlangsung dalam cara baru yang jauh lebih rumit, tapi terutama karena untuk pertamakalinya dalam periode enam tahun belakangan ini, kompetisi antara kekuatan lama dan baru akan muncul lebih terbuka dalam kontestasi politik formal.

Read More…

Biarkan Rakyat Memilih?: Dua Cerita Romantik dari Morowali dan DKI

Sosiologi dan Politik




Share


“Blog

Kalau segalanya berjalan sesuai rencana, dua peristiwa besar akan mendominasi politik di Indonesia pada tahun 2014, yakni pemilihan umum (pemilu) legislatif pada tgl. 9 April 2014, dan pemilu presiden/wakil presiden pada bulan Juli 2014. Daftar pemilih tetap (DPT) nasional yang dikeluarkan komisi pemilihan umum (KPU) mencatat ada 186.172.508 jumlah penduduk dengan hak pilih (Kompas. Com, 20/2/2014), yang akan diperebutkan oleh para kandidat dan, ini yang paling mencemaskan sebagian orang tapi menyenangkan sebagian yang lain, triliunan rupiah dana yang akan beredar dan dihabiskan oleh seluruh pihak baik individu maupun institusi untuk membiayai seluruh kebutuhan dan tahapan penyelenggaraan dua pemilu raya tersebut. Di luar itu, paling tidak sampai tahun 2019 yang akan datang, dalam rentang lima tahun di Indonesia berlangsung ratusan pemilihan umum daerah pada tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Demokratisasi selama 16 tahun ini telah menjadikan Indonesia salah satu negeri paling sibuk di dunia dengan pemilihan umum.

Read More…

Gambar dan Kata dalam Pemilu

Politik



Share

“Blog

Beberapa hal membuat banyak pihak mulai mencemaskan jalannya Pemilu yang akan datang. Jumlah partai peserta Pemilu kali ini memang lebih kecil dari jumlah kontestan tahun 1999 yang lalu. Tapi itu bukan berarti masalah yang akan kita hadapi menjadi lebih mudah. Problem kotak dan kertas suara, misalnya, bukan hanya menunjukkan tidak profesionalnya kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU), tapi juga dikhawatirkan akan merepotkan masyarakat pemilih. Tapi jauh-jauh hari, anggota KPU malah lebih sibuk dengan program sosialisasi ke luar negeri daripada membenahi banyak masalah ruwet infrastuktur pemilu di dalam negeri.

Read More…

Dua Pohon Orde Baru

Politik




Share

“Blog

Sebuah kekuasaan yang terlampau besar kepala selain akan cepat kehilangan ide-ide cerdas, juga akan mengundang cara matinya sendiri. Bukan saja karena ia dihidupkan oleh sekelompok orang dungu yang, karenanya, serba sok tahu, melainkan juga karena ia telah menjadi sebuah dunia di dalam dirinya sendiri. Satu wilayah yang demikian rapat menolak lalulintas harapan dan suara yang lain. Semacam sebuah rasionalitas yang serba tertutup dan inferior sebenarnya, tapi sekaligus berpotensi menghancurkan segala hal baik. Mereka yang hidup dalam orbit kekuasaan seperti itu, biasanya melulu bertindak atas nama dan untuk purbasangka. Hidup seperti berpusing dalam labirin paranoia. Politiknya sarat dengan pelbagai upacara besar, dan pengulangan kalimat-kalimat norak.

Read More…

Ketika Informasi Menjadi Nonsense

Teknologi



Share

“Blog

Ketika semua orang ditelikung rasa takut oleh ancaman AIDS, Bill Gates-lah yang seharusnya paling bertanggungjawab, bukan para pekerja seks atau kaum homoseksual. Ceritanya bisa dimulai dari mana saja.

Read More…

Tentara dan Anak Kita Nanti

Politik



Share


“Blog

Tidak semua orang setuju Shakespeare soal nama. Bekas aktivis penentang Soeharto di masa lalu, misalnya, konon ada yang memberi anaknya nama “Gempur Soeharto” dan “Tikam Soeharto”. Itu artinya, sebuah nama juga bisa bicara banyak tentang pelbagai peristiwa politik pada satu periode historis tertentu. Sebuah nama, dengan kalimat lain, juga sering merupakan satu usaha untuk menautkan diri seseorang dengan pengalaman tertentu di masa lalu, sambil membebankan harapan untuk hari depan. Nama, singkatnya, adalah juga doa, permintaan yang baik dari makhluk kepada yang Mahasegala.

Read More…

Anak dan Pasar, dan Analogi dalam Politik Kita Itu

Sosiologi, Politik

“Blog

Gibran, penyair romantik dari awal abad ke-20 itu, kita tahu, pernah menulis tentang anak. Bagi saya yang tidak tekun membacanya, kata-kata Gibran sering terasa lebih mirip parabel atau, kalau bukan itu, sebut saja alegori sentimentil. Menyayat sesaat kadang menggugat di lain tempat, tapi tak cukup kuat untuk mengguncang. Mungkin, karena ia hidup dalam lingkungan yang tak banyak dikotori bau ompol, dan rengekan tengah malam yang bikin kesal. Pria kelahiran Bishari, bagian utara Lebanon, ini sebenarnya lebih suka mengaku dirinya seorang pelukis. Karya penulisannya cukup popular dan banyak terjual, termasuk di Indonesia sampai dekade 1990an, tapi tidak pernah benar-benar disambut hangat atau dianggap serius oleh kalangan kritikus sastra. Tapi sampai hari ini, sepotong kalimatnya, “anakmu bukan anakmu, tapi anak sang Mahahidup”, itu tak pernah gagal menghadirkan gema. Orang banyak mengenang itu dengan hati penuh takjub. Di Indonesia kalimat ini cukup sering dikutip menjadi sejenis inspirasi untuk banyak soal. Mungkin hanya karena ia terdengar begitu tak galib di telinga. Waktu itu.

Read More…

Anak dan Internet

Sosiologi, Teknologi



“Blog

Anak dan internet adalah perpaduan yang paling mengagumkan. Keduanya memiliki satu persamaan: peradaban yang baru. Anak-anak dalam sekejap akan menjadi dewasa. Internet sebentar lagi akan bermutasi menjadi bentuk-bentuk yang lebih rumit tapi juga makin lengkap. Seperti anak Anda yang sebentar lagi besar, internet besok lusa pasti tidak hanya akan berhenti dalam persaingan Netscape versus Microsoft. Bedanya, anak tumbuh ke arah sebuah format fisik yang relatif bisa ditebak, sedangkan internet justru belum lagi terduga masa depannya.

Read More…

Dongeng Kecil tentang Shokunin (Extended Version)

Budaya



Share


“Blog


Catatan Personal:
Kawan-kawan di situs Jalankaji meminta seluruh redaksi menulis singkat tentang buku favorit mereka di tahun 2020. Bagi saya ini tidak terlalu mudah, karena lebih dari separuh waktu saya di tahun 2020 habis untuk mengerjakan buku Sudah Senja di Jakarta (SSDJ) bersama teman-teman di Populi Center. Tapi karena diberlakukan Work from Home (WFH) waktu yang tersedia jauh lebih melimpah dari biasanya. Dalam interval waktu itu pula saya menemukan buku Japanese Wordworking Tools. Their Tradition, Spirit, and Use (1984). Di luar dugaan buku ini ternyata berisi banyak hal yang sejak lama ingin saya ketahui tentang seluk beluk tradisi pekerja kayu di Jepang yang mengagumkan itu. Maka inilah buku yang saya pilih untuk diceritakan dalam rubrik "bacaan favorit editor" di situs Jalankaji tadi.

Karena kebetulan ada libur cukup panjang di akhir tahun, dan sebagai selingan dari postingan tulisan-tulisan lama, saya mencoba mengembangkan tulisan singkat untuk Jalankaji tadi berikut ini:



Suatu saat saya ingin bisa menulis tentang kayu, karena sejak kecil saya suka mendengar suara ketika bilah ketam yang tajam mengupas permukaan papan atau balok Jati, menghempaskan lapisan tipis-tipis melalui lubang di punggugnya. Berulang-ulang. Bunyi yang nyaring bening, bersih, menukik tapi tetap terdengar halus di ujung. Musik.

Read More…

Pak Flintstone (dan Rindu Kita pada Rumah)

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog


Sumber Gambar Mr. Flintstone: Fred Flintstone Gallery

Sumber kearifan di zaman kita kini barangkali bukan lagi petuah kaum tua tapi film kartun. Kaum tua terlampau sering merasa benar sendiri, sehingga lebih sanggup mendatangkan rasa bosan yang menentang ketimbang pendengar yang antusias. Selain itu, orang tua kelewat lamban, tak sesuai dengan desakan sumber-sumber informasi lain yang terus-menerus saling menjatuhkan. Dunia kita sekarang, seperti kata Lyotard, terlampau sarat kanal frekwensi informasi bahkan sampai overloaded : Terlampau sering mendengarkan omongan orang tua, dengan demikian, berarti membiarkan diri kita sendiri tertikam kesepian dalam gaduhnya kabar dan peristiwa yang mbludak. Apalagi karena sesungguhnya kita telah menjadi korban dari kelangkaan informasi justru di tengah hirukpikuknya lalulintas kata dan benda, dan warta sejagat.

Read More…

Refleksi Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia: Disilusi Kesatuan Kuasa dan Kemuliaan

Sosiologi, Politik



Share


“Blog

Full Disclosure:

Tulisan ini merupakan pengembangan lebih jauh dari tiga artikel opini saya sebelumnya yang berturut-turut pernah dimuat di situs Detik.com pada 22 Agustus 2001, 24 Agustus 2001, dan 25 Agustus 2001

Pengantar

Meskipun mungkin akan terkesan terlampau mengada-ada bahkan ahistoris untuk mengatakan bahwa riwayat kekuasaan politik pada sebuah masyarakat senantiasa berulang dalam pola yang relatif sama untuk jangka waktu yang sangat lama, tapi untuk konteks politik Indonesia kontemporer, pernyataan seperti itu tampaknya tetap tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ketika Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya tgl 21 Mei 1998 yang lalu, misalnya, ia tidak menggunakan istilah apa pun yang bisa dicari dalam kamus politik modern melainkan satu istilah yang bisa mengantarkan konotasi konseptual kita pada kisah kekuasaan ratusan tahun yang lalu di zaman kerajaan Mataram Hindu, yakni istilah “lengser” atau lengkapnya “lengser keprabon” yang artinya tidak bisa tidak kecuali meninggalkan tahta keprabuan atau kerajaan.

Read More…

Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia (1): Kekuasaan dan Kemuliaan

Sosiologi, Politik



Share

“Blog

Kekuasaan dan kemuliaan pada mulanya bolehjadi merupakan dua wilayah yang berbeda sama sekali. Untuk keperluan tulisan ini cukuplah dikatakan bahwa, kalau yang pertama berasosiasi pada otoritas dan kepatuhan, yang kedua berasosiasi pada keagungan dan penghormatan. Kuasa mengisyaratkan kemampuan mempengaruhi bahkan memaksa pihak lain untuk melakukan sesuatu, kemuliaan mengisyaratkan aura, semacam getar ganjil yang menerbitkan ketakziman pihak lain. Kekuasaan adalah terminologi politik, sedangkan kemuliaan bisa diperlakukan sebagai terminologi kultural.

Read More…

Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia (2): Pelajaran dari Wahid

Sosiologi, Politik



Share


“Blog

Abdurrahman Wahid adalah kontoversi di dalam dirinya sendiri. Bahkan ketika tahta tertinggi telah direnggutkan darinya ia tetaplah sebuah kontroversi. Bagi orang seperti Wimar Witoelar, kegagalan Wahid mengelola kekuasaan lebih karena ia tidak bisa diimbangi secara cerdas oleh masyarakatnya. Untuk orang tipe Amien Rais, kegagalan yang sama justru timbul karena faktor Wahidnya sendiri. Kalau sikap Wimar bolehjadi didorong oleh kekaguman yang sering tidak kritis, Amien lebih mungkin dirangsang oleh rasa geram yang tidak rasional.



Read More…

Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia (3): Menanggalkan Kemuliaan, Menghidupkan Akal Sehat

Sosiologi, Politik



Share


“Blog

Dalam tradisi sosiologi, terbentuknya negara modern merupakan bagian dari proses rasionalisasi. Bagi Max Weber, misalnya, rasionalisasi adalah rangkaian sistematik operasi rasionalitas pada konteks sosial dan kebudayaan. Proses ini berlanjut menjadi modernisasi pada level kemasyarakatan melalui perluasan dan diferensiasi ekonomi kapitalis serta munculnya negara modern. Modernisasi, dengan demikian, mencakup pembentukan perusahaan-perusahaan kapitalis yang bersifat publik dan terpisah dari dunia domestik, serta terbentuknya institusi politik rasional berupa negara modern.

Read More…

Cyberspace, Database dan Surveillance: Pemetaan Teoritis Awal

Sosiologi



Share


“Blog

Narasi tentang Internet dalam Ilmu Sosial

Secara sederhana, internet mungkin bisa dipahami pertama-tama sebagai sebuah cara atau metode untuk mentransmisikan bit-bit data atau informasi dari satu komputer ke komputer lain dari satu lokasi ke lokasi lain di seluruh dunia. Arsitektur internet menyediakan beberapa teknologi pengelolaan data digital sehingga informasi-informasi yang dikirim tersebut bisa dipecah menjadi beberapa paket, lantas dikirim melintasi jaringan antar komputer, dan akhirnya ditata ulang oleh komputer penerima. Semua jenis informasi pada prinsipnya akan diperlakukan sama dalam arti bahwa bit-bit tersebut akan dikirim dengan cara yang sama tidak peduli apakah itu merupakan representasi teks, audio, gambar, atau video.[1] Bolehjadi karena itu pula banyak orang yang menganggap internet sebagai teknologi bersifat netral.

Read More…

Web: Desa Global Kita

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog

Lambat tapi pasti masyarakat mulai bergeser pada satu bentuk yang bersandar pada informasi (information-based society). Dominannya informasi dalam dinamika dan relasi sosial masyarakat telah lama disebut-sebut oleh para teoritisi sosial sebagai salah satu ciri zaman pasca-industri. Kondisi seperti ini bukan tanpa resiko. Sebab zaman informasi berarti guncangnya beberapa batas lama, dan mengendurnya pelbagai tradisi. Pada level politik, misalnya, sebuah pemerintahan musti selalu siap merevisi kebijakan politiknya, kalau perlu dalam setiap 24 jam. Jika tidak, segala kebijakan yang diputuskannya akan menjadi tidak relevan lagi. Dengan demikian, serbuan arus informasi telah memperbarui tradisi politik.


Read More…

Iklan Partai Politik dan Konservatisme

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Antara praktek politik dan praktek bisnis industri pasti bertaut kepentingan. Lebih dari itu, dalam banyak kasus di Indonesia, misalnya, baik pebisnis dalam industri maupun politisi dalam politik, keduanya memiliki tujuan akhir yang sering sama: kemakmuran ekonomis bagi dirinya. Industri mengerahkan modal raksasa untuk teknologi pemasaran dengan tujuan meraih keuntungan yang jauh lebih besar. Teorinya jelas: makin besar modal yang dikeluarkan, makin besar kemungkinan pasar bisa dikuasai, dan makin besar pula keuntungan yang diproyeksikan akan diraih. Metode konvensional yang paling banyak dipakai adalah melalui iklan. Dalam politik, kita juga sering mendengar kabar tentang begitu besarnya kapital yang harus dikerahkan oleh seorang politisi untuk mendapatkan dukungan politik dalam sebuah plebisit. Bedanya, kalau profit dalam industri mengindikasikan bisnis yang sehat, profit ekonomis yang ingin diraih politisi justru mengindikasikan politik yang sakit.


Read More…

Jawa

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Berbahagiakah orang Jawa dengan kehadiran teknologi internet? Tidakah melalui world wide web mereka bisa mendapatkan tafsir paling mutakhir atas Sumpah Palapa Gajah Mada? Sebuah sumpah yang ingin menghimpun rempah-ruah ranah budaya manusia, dari Trowulan sampai Campa, itu di bawah sebuah pusat wubawa kekuasaan. Melalui web bukan hanya Campa tapi seluruh dunia bisa dikendalikan hanya dengan sebuah layar monitor. Tak perlu berperang mengerahkan kekuatan militer, cukup mengklik link-link dan menuliskan alamat http yang, dengan serentak, akan membawa orang Jawa ke alamat mana saja yang diinginkannya. Dunia sudah berada di ujung jarinya.

Read More…

Kuasa dan Kebebasan

Sosiologi, Politik


Share

“Blog

Tiga surat kabar yang memusuhi
jauh harus lebih ditakuti daripada seribu bayonet.”

(Napoleon Bonaparte)



Saya yakin Abdurrahman Wahid pasti membaca George Orwell. Dalam karya distopiannya, 1984, Orwell memperlihatkan bagaimana sebuah kuasa total diterjemahkan secara konkret menjadi pelbagai operasi pengawasan visual (visual surveillance). Kekuasaan jadi tampak bersifat omnipresent, hadir di mana-mana, melotot tajam melalui telescreen raksasa. Kalimat “Big Brother is always watching you” dipakai Orwell sebagai sejenis pemakluman tentang sebuah rezim yang omnipotent sekaligus omniscient, mahakuasa sekaligus mahatahu. Sebuah kuasa yang bersifat omnes et singulatim, mencakup semua dan segalanya, total. Sejarah seperti sedang berkerut menjadi sebuah ruang sempit, dan hidup harus menyerah pada teror. Dan setiap saat adalah langkisan kecemasan.

Read More…

Realitas Virtual dan Makin Luruhnya Bangsa

Sosiologi, Teknologi


Share


“Blog

Masihkah kita bisa yakin dengan penataran, sementara kian hari semakin banyak kaum tua dimakamkan? Tampaknya semua orang harus mulai siap menerima dengan lapang hadirnya sebuah generasi yang dibesarkan dengan kesadaran sejarah yang, dalam pandangan kita, terlihat koyak. Bagaimana mungkin, misalnya, seorang pelajar SD di tahun 2010 masih tertarik dengan dongeng kita tentang PKI? Tak seorang pun bisa mengisi ruang peduli di hati dan pikirannya dengan rentang waktu begitu jauh. Orang seusia saya, yang lahir persis ketika dekade 1960-an akan pungkas dan masih sedikit berbau darah, misalnya, toh hanya bisa mengenang para jenderal yang dikuburkan dalam keprihatinan riuhrendah itu, tanpa dendam dan keharusan untuk hidup dalam suasana hati (dan politik tentu saja) yang sama dengan orang-orang sebelum kami. Padahal kami tak cukup beruntung untuk tumbuh dan besar bersama meledaknya revolusi teknologi informasi sampai melahirkan komunitas-komunitas virtual seperti sekarang. Dan kini, kami adalah generasi baru orang tua yang gembira membagi waktu dengan pelbagai media untuk membesarkan anak-anak. Bukan semata karena kesibukan kerja kami, melainkan lebih karena saat ini kami sadar betapa sejak dalam kandungan anak-anak kami telah demikian akrab dengan media.

Read More…

Menimbang Dua Jalan Lurus: Catatan Kritis atas Pemikiran Mochtar Pabottingi

Sosiologi


Share

“Blog

Kalau politik dan agama begitu dekat dengan bahkan tidak bisa dipisahkan dari hidup kita sehari-hari, di mana sebetulnya batas kapan urusan agama berakhir dan politik dimulai? Pada masanya, agama pernah menjadi sumber legitimasi ultim banyak tahta di dunia ketika penyelenggaraan negara tidak semata didasarkan pada konfigurasi dan relasi-relasi kekuasaan yang profan, melainkan juga disepakati sebagai manifestasi sebuah kuasa absolut di seberang realitas. Karena itu, kekuasaan bersifat omnes et singulatim (of all and of each), total. Ia dianggap bukan hanya bersumber dari kompetisi antar kelompok politik yang ada melainkan lebih sebagai pengejawantahan sebuah kuasa ilahiah.


Sejarah mencatat itu sebagai zaman kegelapan, sebuah zaman ketika altar suci sepenuhnya mengunci nalar sehat kehidupan politik. Para filsuf Pencerahan di Eropa kemudian menjadikan agama objek kritik rasional, dan merekomendasikan pemisahan yang tegas urusan dunia dari campur tangan ilahiah. Mereka menyerang secara kritis doktrin-doktrin teologis tentang kekuasaan, dan menghimbau orang untuk menggunakan akal pikiran. Upaya mengutamakan rasionalitas dalam penyelenggaraan politik kekuasaan negara mencapai puncaknya pada momen historis Revolusi Prancis tahun 1789. Sekularisasi, dengan konteks demikian, adalah proses decoupling antara kerajaan tuhan di syurga dan kekhalifahan manusia di bumi. Sejak itu kekuasaan politik kehilangan daya mitis, mengalami desakralisasi menjadi sekular. Read More…

Reforma(t)si

Sosiologi, Teknologi


Share


“Blog

Sejak Kamis 21 Mei 1998, ada yang harus berubah dalam ingatan kita. Kota lautan api bukan lagi Bandung, tapi Jakarta. Hari itu kita menyaksikan puncak dari segala kemelut.

Macam-macam soal beraduk, kemudian api menghanguskan semuanya. Kehalusan pekerti yang berpuluh tahun dijadikan semacam topeng untuk menutupi kelancungan, berakhir dengan serangkaian prilaku biadab dan memalukan.

Read More…

Di Balik Sebuah Perang Suci

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Empat sistem operasi komputer personal, Mac OS, DOS, OS2/Warp, dan Windows 9x saling berlomba merebut kesetiaan konsumen. Apa sebenarnya fungsi terpenting dari sebuah sistem operasi pada sebuah komputer? Mengapa begitu banyak orang membelanjakan uangnya untuk sekumpulan kode-kode program yang tak sepenuhnya bisa mereka pahami? Mengapa sekian banyak perusahaan mau menanamkan modalnya hanya untuk sebuah produk perangkat lunak? Mengapa Netscape, IBM, Apple, dan Oracle begitu sengit melihat dominasi Windows?



Read More…

Melihat "Buda Keling" dari Wetutelu

Sosiologi


Share


“Blog

Sebelum berangkat ke dusun Benthek, desa Bhoko, kecamatan Gangga, Lombok Utara (dulu Lombok Barat), saya mampir di salah satu isntansi pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat untuk bertemu dengan seorang teman lama yang kebetulan sedang bertugas di instansi tersebut. Tiba di Bandara sekitar jam 2 siang waktu Lombok, saya dijemput oleh Takeshi Ando, teman yang hendak saya sambangi itu, saya langsung diajak ke kantornya, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Setelah berkenalan dengan beberapa orang staf JICA yang lain, kami berdiskusi tentang beberapa program intervensi ekonomi yang sedang dikerjakan JICA di provinsi tersebut. Setiap orang yang bertanya pada saya tentang maksud kedatangan saya ke Lombok, dan saya jawab bahwa saya akan mengunjungi teman yang sedang meneliti komunitas Buda di kecamatan Gangga, asosiasi mereka pasti langsung tertuju pada para pemeluk agama Budha sebagai salah satu agama resmi yang diakui negara di Indonesia.


Read More…

Millenium Bug dalam Politik Kita

Sosiologi, Politik

Share

“Blog

Kondisi politik Indonesia hari ini pantas membuat kita murung menatap masa depan. Menjelang tahun 2000, seperti halnya di dunia komputer, pada dasarnya kita masih belum lepas dari ancaman millenium bug. Dalam wacana komputer, istilah kutu millenium mengacu pada ketidakmampuan komputer mengelola angka tahun kalender lebih dari dua digit. Tahun 2000 akan diperlakukan sama dengan tahun 1900. Akibatnyal seluruh urusan kacau balau. Dalam wacana politik, itu bisa berarti ketidaksiapan kerangka berpikir kita menghadapi realitas hidup yang makin kompleks dan beragam di zaman baru. Akibatnya, seluruh tatanan bisa ambruk.

Read More…

Pohon Bo

Sosiologi, Budaya

Share


“Blog

Keterangan Foto: Buddha head embedded in a Banyan tree, Wat Mahathat, Tha Wasukri, Phra Nakhon Si Ayutthaya District, Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand. Wat Mahathat's Buddha Head is a famous statue that over the decades has been overgrown with the roots of a Banyan Tree. It rests in Thailand's ancient city of Ayutthaya, about an hour and a half from Bangkok. Most people who venture out to this ancient city have a fairly good idea of why they want to go there. I on the other hand, arrived not really sure what to expect. While there, I turned my head and saw this face looking back at me and I realized I have stumbled upon something I have seen many times in photos but never planned to find it for myself. You can say it found me instead. https://unsplash.com/photos/ugm-yDj9Hi4.





Sebatang pohon bukan hanya bisa dijadikan lambang sebuah organisasi politik, melainkan juga jadi sumber dari segala hal yang kita anggap paling baik: kebijaksanaan. Konon, dalam keyakinan para pengikut Budha, ada sepokok kayu yang dianggap pangkal kemuliaan: pohon Bo(dhi).

Persis di bawah pohon Bo yang liar inilah, di abad keenam sebelum Masehi, jauh sebelum orang-orang Eropa mengenal dan membanggakan jargon Pencerahan, seorang pangeran bertafakur demikian keras, sedemikian kerasnya hingga ia membiarkan tubuh rupawannya menjadi rudin.

Read More…

Luther, Huruf, Kertas, dan Datasphere

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog

“Adalah satu misteri bagiku, Tuan!” tulis Dr. Martin Luther dalam suratnya kepada Sri Paus, “bagaimana tesis hamba….tersebar ke seantero tempat. Padahal itu merupakan ciri eksklusif bagi lingkaran akademis kita, di sini. Tesis itu ditulis dalam bahasa yang sulit dipahami oleh orang-orang awam”. Luther benar dalam satu hal, tapi ia melupakan hal lain bahwa di luar gereja orang sudah mulai mengenal buku-buku cetakan. Apa yang dilupakan Luther, seperti ditunjukkan oleh Neil Postman dalam Technopoly, adalah soal portabilitas buku-buku yang dicetak. Maka meskipun tesisnya ditulis dalam bahasa Latin akademis, dengan mudah ia bisa disebarkan ke seluruh Jerman atau negeri lainnya melalui mesin cetak, dan lantas diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti. Kelak, ketika Luther mempimpin gerakan Reformasi Protestantisme terhadap gereja, ia menularkan ide-ide, pidato-pidatonya, juga ke dalam pamflet yang dicetak untuk disebar ke mana-mana agar dibaca banyak orang.


Read More…

Terowongan Waktu dan Ruang Dunia Hyperreal

Sosiologi



Share


“Blog

Masih ingat The Time Tunnel? Sekitar lima belas tahun "yang lain", film ini diputar TVRI setiap jum'at malam dengan rasa bangga. Ini adalah sebuah serial science fiction Amerika dengan segala congkak sekaligus kebaikan hatinya. Gagasannya secara lengkap terpresentasikan dalam judul yang diangkatnya: Terowongan Waktu. Lorong yang bisa mengantarkan manusia untuk menjangkau sejarah secara tak terbatas. Ia bisa mengirim kita ke masa ratusan tahun yang lain, dan melemparkan kita ke dalam pelbagai riwayat pada ruang, tempat dan waktu ketika itu, tapi dengan kesadaran saat ini. Kemarin dan hari ini tidak lagi menjadi kategori-kategori penting dalam pengalaman manusia. Waktu tidak lagi bisa dipahami sebagai satuan linear pada apa kita tak memiliki kesanggupan untuk mencegat lajunya.

Read More…

Horo(r)skop Politik

Sosiologi, Politik



Share

“Blog

Dari mana sebenarnya masa depan bermula? Di masa kanak-kanak kita, masa depan dikurung dalam kerangkeng pemahaman konseptual tentang cita-cita: harapan yang belum (tentu) datang. Tapi masa depan ternyata memang tidak lebih dari sekedar sebuah ide. Bagi peziarah kultural seperti Octavio Paz, misalnya, masa depan pada dasarnya bukanlah periode historis yang membentang dalam horison, sudah ada di sana dan, seperti gadis remaja yang belum disunting, menunggu kita mendatangi dan meminangnya dengan wajah gemilang. Sebaliknya, ia adalah sebuah konsep yang secara partikular diperkenalkan oleh modernitas. Tepatnya, ketika tradisi Judeo-Kristian masyarakat Eropa mengintervensi proses pemetaan sejarah sekular, dan menawarkan sebuah historisitas yang khas miliknya: sejarah sebagai sebuah rangkaian teleologis linear yang diderivasikan dari konsep-konsep biblikal. Ada awal yang bisa dilacak, dan akhir yang bisa dinubuat. Ada awal penciptaan, dan sorga sebagai sebuah akhir.

Read More…

Seniman dan Paradoks Cyberspace

Sosiologi



Blog Picture

Beruntunglah karena dunia kita masih punya seniman. Sebab salah satu kehebatan seniman adalah kesanggupannya untuk menggandakan dunia tanpa penolakan yang berarti dari orang lain. Mereka bisa menciptakan dunia baru untuk berkeluhkesah atau sekedar untuk sebentar bergembira. Itu bisa berupa sebuah dunia tempat kata tak selalu dibebani makna, seperti yang diciptakan oleh Sutardji. Mungkin karena ia tahu betul, sekeras apa pun kita berusaha merekatkan kata pada makna, yang dihasilkannya adalah kalimat-kalimat yang korup, penuh aturan dan, pada dasarnya, juga tak bermakna. Lagi pula, tidakah kebiasaan seperti itu hanya memperlihatkan bakat kita untuk jadi pemaksa yang tak kenal kata "tidak". Sementara kepahitan Sukardal jadi begitu indah dalam puisi Goenawan Muhamad, seperti Affandi yang berhasil meyakinkan mata kita bahwa matahari biru warnanya. Seorang seniman dangdut bahkan sanggup membuat orang yang dihantam alu bencana tetap bergairah bergoyang pinggul.

Read More…

Daniel Bell: Fundamentalisme Kapitalis dan Radikalisme Kultural

Sosiologi



Share



Klik untuk membaca catatan personal saya


“Blog

Bulan November tahun 1996 yang lalu, penerbit Basic Books, New York, membuat edisi spesial ulang tahun ke-20 untuk salah satu buku paling terkenal yang pernah diterbitkannya, The Cultural Contradictions of Capitalism. Penulisnya, Daniel Bell, secara khusus pula menulis 56 halaman pengantar baru untuk edisi istimewa dari karya klasiknya tersebut. Terlepas dari pelbagai kelemahan di dalamnya, selama lebih dari dua puluh tahun sejak diterbitkan tahun 1976, buku ini telah menjadi rujukan demikian banyak ilmuwan sosial di dunia dengan minat yang merentang panjang mulai dari seni sampai sosiologi, dari filsafat sosial sampai kajian-kajian postmodernisme.

Karya di atas memang meneguhkan posisi penulisnya sebagai salah seorang sosiolog terpenting Amerika abad 20. Dalam esaynya "The Prophet Motive", Rick Perlstein, misalnya, menyebut Bell sebagai seorang kritikus kebudayaan terpenting pada era paska perang Dunia II, tapi sekaligus sebagai sebuah anomali dalam tradisi pemikiran liberal Amerika, terutama karena komitmennya yang begitu kukuh pada kesetaraan ekonomi dan konservatisme kultural.[1] Pernyataan Perlstein tentang Bell sebagai anomali bisa dimengerti jika kita melihat tiga pendirian utama yang dipertahankannya sampai saat ini.
Read More…

Komedi, Kritik!

Sosiologi, Budaya



Share

Blog Picture

Mengapa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sering mengadakan konferensi pers hanya untuk menanggapi kritik lawan-lawan politiknya yang sebenarnya tidak begitu penting? Kritiknya sendiri mungkin memang penting, tapi mengalokasikan ruang dan waktu khusus di depan publik untuk menanggapi itu semua, tidak akan menghasilkan apa pun selain impresi bahwa ia adalah seorang tokoh yang memang rawan dipermainkan oleh hal-hal yang remeh temeh. Yang didapat SBY dari itu semua hanya julukan "lebay", terlampau sensistif, sebuah julukan yang sungguh bertolakbelakang dengan keinginannya sendiri membangun citra diri sebagai pemimpin yang agung dan disegani. Tapi mengapa gaya egaliter Jusuf Kala selama kampanye Pemilu pemilihan presiden 2009 yang lalu justru banyak dilihat sebagai penampilan seorang calon pemimpin yang kurang patut dan tidak berwibawa? Ilmuwan politik atau ahli teori sosial mungkin bisa menjelaskannya dari banyak sisi. Tapi saya curiga, jangan-jangan itu semua juga bersangkutpaut dengan komedi dan relasinya dengan tradisi kritik politik dalam (sebagian) masyarakat Indonesia.

Read More…

Berakhirnya Era Macintosh

Mac



Share

Blog Picture

Kalau Steve Jobs bisa menepati janjinya, Januari tahun 2001 nanti para pemakai Macintosh akan mendengar berita yang sangat mengguncangkan: era Macintosh telah berakhir. Setelah Apple berusaha keras mempertahankannya selama 16 tahun, satu-satunya sistem operasi komputer yang sanggup memberikan hubungan personal di hati pemakainya itu pun sebentar lagi harus mati. Zaman terus berubah, dan Mac OS telah terus dipacu untuk menyesuaikan diri pada perubahan itu, dan terbukti ia sanggup tetap bertahan. Tapi apa boleh buat Mac OS tidak pantas dipertahankan untuk masa depan. Ia harus surut ke belakang, dan lima tahun dari sekarang ia mungkin hanya akan tinggal sebagai kenangan.

Read More…

Outline Bahan Diskusi: Riset Visual dalam Ilmu Sosial

Sosiologi



Share


Blog Picture

Naskah ini tidak bisa dilepaskan dari bahan presentasi digital yang disampaikan di dalam kelas, dan sama sekali bukan makalah akademis yang dipersiapkan secara ketat. Secara garis besar, naskah ini berupa rangkuman sebagian kecil dari peta perkembangan riset visual dalam tradisi ilmu sosial sebagai pelengkap dari uraian tentang aspek-aspek formal-prosedural penelitian sosial dalam konteks kebutuhan penelitian visual yang pemaparan lengkapnya disediakan dalam format presentasi digital tadi. Tujuannya agar para peserta di kelas mendapatkan sedikit pemahaman tentang konteks perkembangan metode riset visual di dalam lingkungan ilmu-ilmu sosial sebagai latar belakang bagi berlangsungnya diskusi tentang riset visual pada ranah-ranah di luar ilmu sosial.

Read More…

A(nti) Social Network

Sosiologi



Share

Blog Picture

Sampai hari ini saya masih sering bingung melihat orang yang membawa bukan satu tapi dua bahkan tiga telepon genggam sekaligus. Tapi rupanya jumlah handphone yang dibawa bisa menjadi petunjuk awal tentang kehidupan seseorang dalam jaringan sosialnya. Makin luas dan kompleks jaringan sosialnya, makin besar keharusan memiliki lebih dari satu handphone. Mereka yang membawa handphone lebih dari satu karena punya yang baru dan enggan membuang yang lama juga tetap termasuk ke dalam kategori ini. Kalau tidak, mengapa tidak ditinggal di rumah?

Read More…

Kampanye Massal, Ketidakhadiran (Ruang) Publik

Hikmat Budiman


Sosiologi, Politik


Share


Blog Picture

Menjelang pemilu, wacana tentang ruang publik (public sphere) kembali relevan paling tidak karena beberapa alasan. Pertama, ruang publik terlanjur diidentikkan dengan proses pembentukan opini publik, dan opini publik dianggap penting karena diasumsikan bisa mendesakkan putusan-putusan politik. Dalam pemilu, idealnya program-program politik kontestan dibawa ke lingkar publik, dan dijadikan wacana terbuka untuk dievaluasi di dalam pasar suara pemilih. Pertanyaannya, bisakah publik mendesakkan perubahan politik melalui suara mereka dalam pemilu kali ini.

Read More…

Kisah Lima Kota: Melampaui Masyarakat Plural

Hikmat Budiman

Sosiologi


Share

Blog Picture

Masyarakat Plural

Secara konseptual, semboyan bhinneka tunggal ika (secara literer berarti "beraneka satu itu") tidaklah kompatibel dengan bentuk masyarakat plural, dan tidak pula kompatibel dengan multikulturalisme. Lebih dari itu, konstruksi masyarakat plural secara konseptual juga tidaklah kompatibel dengan multikulturalisme. Kalau bhinneka tunggal ika, yang diambil dari salah satu bait kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, mengandaikan adanya kesamaan bahkan kesatuan (unity) di antara hal yang berbeda, terminologi masyarakat plural yang diperkenalkan oleh J. S. Furnivall mengandaikan adanya dominasi satu kelompok di atas beragam-ragam beda yang lain, dan multikulturalisme adalah terminologi yang justru tidak merekomendasikan pencarian kesamaan dan kesatuan di antara ragam dan perbedaan melainkan bagaimana ragam dan perbedaan tersebut diperlakukan secara sederajat.

Read More…

Laporan Dari Dunia Computer Games

Games

Blog Picture

Neraka Real Time Yang Asyik

Tiba-tiba siang berangsur suram. Gelap menggidikkan. Dunia seperti tenggelam entah di mana. Yang tampak hanya sepucuk BFG 9000—senapan pembunuh paling menghancurkan. Tangan saya besar oleh otot-otot bisep dan trisep serta topangan tendon yang mengukuhkan penyatuan saya dengan BFG 9000. Kaki saya dibungkus sepatu lars dari bahan kulit terbaik, lentur dan nyaris tidak bisa rusak. Solnya terbuat dari thermoplastic polyurethane yang beberapa kali lebih kuat dari yang digunakan sepatu merek Timberland.

Seribu hantu seperti tumpah dari langit, menggerung dahsyat, menjerit, melengking parau ke udara. Angkasa yang pasi.


Read More…