Harimau Minahasa: tentang kembara dan rasa aman warga

Pengantar Video Dokumenter


“Blog

Ad loca aromatum. November 2013, Andang Kelana, salah satu pembuat video Harimau Minahasa, datang memenuhi undangan saya untuk bergabung ke dalam tim penelitian kota-kota di Sulawesi yang diorganisir Yayasan Interseksi. Ada tujuh kota yang akan menjadi tujuan kami di keenam provinsi di Sulawesi. November itu para peneliti sedang melakukan proses pendalaman bacaan tentang Sulawesi, dan setiap minggu rutin bertemu di kantor kami untuk mendiskusikan hasil bacaan dan cicilan rencana penelitian. Tema umum program Interseksi di Sulawesi (2013-2015) adalah tentang demokrasi, politik lokal, dan kewargaan. Di samping tema umum itu, saya juga memberi pilihan kepada para peneliti untuk mengerjakan topik yang diminatinya sendiri di lokasinya masing-masing. Peneliti yang akan berangkat ke Kota Baubau di pulau Buton, Sulawesi Tenggara, misalnya, berencana menulis tentang konflik dalam lingkaran kaum bangsawan Keraton Buton. Sementara yang berangkat ke Minahasa Utara berencana meneliti rantai komoditi manusia dalam industri kopra di sana, dan lain-lain.

Saya membebaskan Kelana memilih lokasi yang akan didatanginya, dan ia memilih Minahasa Utara. Karena salah satu yang sering diobrolkan dalam diskusi-diskusi para peneliti tadi adalah tentang rempah, meskipun tidak satu pun yang menjadikannya fokus studi, Kelana berencana membuat video dokumenter tentang salah satu rempah yang memang melimpah di kawasan Minahasa, selain di kepulauan Maluku tentu saja, yakni pala (Myristica fragrans). Salah satu slide presentasi Kelana, saya ingat, menampangkan ungkapan “ad loca aromatum”, di mana rempah-rempah berada. Saya tidak tahu apakah ungkapan tersebut sengaja dipotong dari “navigatio ad loca aromatum” atau bukan, yang pasti ia cukup kuat memerangkap kami yang hadir ke dalam ribuan kisah masa silam; ketika rempah-rempah seolah meruah para pengembara Eropa datang ke sini, mengarungi ribuan kilometer, dan sesudahnya peta-peta ditulis, dan pahit luka bangsa-bangsa jajahan dipahatkan. Saya baru tahu bahwa dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata jadian “merempah”, antara lain, bisa juga berarti mengembara.

April 2014. Tim penelitian Kota-kota di Sulawesi diberangkatkan. Andang Kelana berangkat bersama Syaiful “Paul” Anwar. Mencari kebun-kebun pala, mereka kemudian menetap di Kecamatan Airmadidi, ibukota Kabupaten Minahasa Utara, beberapa hari menjelang pemungutan suara pemilu DPR/DPRD tgl. 9 April 2014. Oleh seorang pemilik kebun pala, mereka ditawari tinggal di sebuah rumah yang dikelillingi kebun pala. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tapi dari sana ceritanya kemudian berubah sepenuhnya ketika mereka terpikat oleh sesosok pemuda yang baru dikenalnya. Pala kemudian hanya menjadi sebuah ajang dari cerita baru itu.

Judul video ini bisa membingungkan, tapi bisa pula bersifat menjelaskan dirinya sendiri (self-explanatory). Karena Minahasa tidak dikenal sebagai habitatnya kawanan harimau, film ini jadi sebuah displacement (atau mungkin lebih tepat misplacement) yang disengaja. Ia bercerita tentang duka dan kegembiraan menjadi seorang warga negara yang selalu bergerak, menjadi kembara kultural dan (terutama) ekonomi. Singkatnya, ini adalah sebuah cerita tentang kehidupan yang biasa-biasa saja. Bukan gambaran romantis tentang semangat muda bertualang seperti dalam lagu dan seri film Berkelana-nya Rhoma Irama, dan bukan pula suspensi kisah pengembaraan seperti ketika Odysseus mencari jalan pulang ke Ithaca selepas perang Troya.

Subjek film ini adalah seorang pemuda Jawa, muslim, kelahiran Lampung, Sumatra, yang kemudian berkelana ke beberapa tempat. Namanya Budiono, tapi orang-0rang yang mengenalnya lebih suka memanggilnya “Ateng”. Ia pernah bekerja di perkebunan sawit di Pematang Siantar, Sumatra Utara sebelum disuruh pindah ke Aceh. Setelah tsunami ia berhenti, dan kembali ke kampungnya di Lampung. Kemudian ia pergi melancong ke Jakarta, dan lantas menggelandang ke Bali sebelum akhirnya menetap (mungkin untuk sementara saja) di desa Truman, Airmadidi, Minahasa Utara, yang mayoritas warganya beragama Kristen.

Budi tinggal di kebun pala milik tuannya, rumah yang juga ditempati kru pembuat film ini selama mereka di Minahasa. Sehari-hari ia membantu kerja tuannya, termasuk memandikan dan memberi makan angsa, dan babi-babi yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya sendiri. Budi adalah subjek yang ditemukan secara tidak sengaja oleh pembuat film. Apa yang mereka temukan pada sosok Budi adalah apa yang pada dasarnya dapat mereka temukan setiap hari di Jakarta atau di tempat-tempat lain. Yakni sosok-sosok para kembara, migran-migran yang kekayaan pengalaman hidupnya jauh melampaui kapasitas ekonomisnya. Mereka adalah orang-orang yang, seperti sebagian dari kita, dipaksa bermigrasi untuk kehidupan yang lebih baik.

dvd_harimau_minahasa_alternate_medium
Sebagian dari film ini adalah rekaman tentang perjalanan ulang-alik antara realitas sehari-hari dengan sekeping kehidupan dari masa lalu subjeknya. Dari kegembiraan hidup di tempat yang cukup mudah untuk mendapatkan uang dibandingkan di Jawa atau di Bali, dan sekian banyak bualan di siang hari, dengan momen-momen tertentu ketika kampung halaman dan keluarga yang ditinggalkannya begitu kuat mengundang rindu-dendam di malam hari. Sehari-hari Budi berbahasa Indonesia dengan dialek Minahasa. Tapi hitam sebuah malam di kebun pala itu tiba-tiba memerih ketika ia nembang dalam langgam Jawa yang lirih, dan sedikit sumbang. Diselingi tingkah polah seperti seekor harimau, malam itu, dalam bahasa Jawa ngoko dan mengaku sebagai (almarhum) kakeknya, ia bercerita tentang asal-usul si subjek (Budi). Pesannya berkali-kali tidak sampai karena kedua orang pembuat film ini sama sekali tidak paham bahasa Jawa.

Di Indonesia kita mengenal momen seperti itu dengan sebutan “kesurupan” atau “kemasukan” arwah (leluhur atau siapa saja), sehingga apa yang dilakukan dan diucapkan oleh orang yang mengalaminya dianggap berada di luar kontrol kesadaran dirinya. Kesurupan sama sekali bukan perkara asing dalam kehidupan kita. Fenomen yang sama juga dapat ditemukan pada beberapa masyarakat Asia Tenggara. Dalam satu atau lain cara sebagian dari kita adalah juga para kembara, yang tidak pernah tinggal diam. Budiono adalah kita yang terus meronta dari gravitasi kampung halaman, tanpa pernah benar-benar bisa melupakannya. Ekonomi dan politik mendorong kita untuk selalu bergerak pindah. Demokrasi menjamin hak-hak kita untuk bisa pindah dan menetap di mana pun. Tapi ia tidak pernah bisa menjamin hasil dari perpindahan itu. Seperti pada kasus pemilu, demokrasi hanya menjamin cara untuk melakukan suksesi tapi tidak pernah bisa menjamin apakah hasilnya akan benar-benar sesuai harapan.

Merempah ke desa Truman, Minahasa Utara, yang permai itu, Budi masih harus dijaga oleh seekor harimau dari Jawa. Di balik ceritanya ketika kesurupan itu, saya menangkap hadirnya rasa tidak aman yang memang jamak terjadi pada seorang migran di tempat barunya. Sebagian dari kita yang hidup sebagai migran di Jakarta atau di kota-kota lain pasti membutuhkan lebih dari sekedar jaminan penjagaan mitis seperti itu. Ada yang mencoba meraih rasa aman melalui konsumsi, agar diperlakukan sepadan oleh orang-orang satu kalangan. Ada pula yang menjaminkan keamanan pada agama, agar tidak dikafirkan atau bahkan diusir oleh orang-orang sekaum. Budi tidak bisa mendapatkan itu, maka dia hanya bisa mengandalkan harimaunya. Tapi semakin kita membutuhkan penjaga keamanan dari hal-hal seperti itu, kita pantas bertanya di mana fungsi negara dalam menjamin rasa aman kehidupan warganya.

Jakarta, 14 Juli 2014.
Dimuat dalam Katalog Festival Film Internasional ARKIPEL, Forum Lenteng, Jakarta, 2016.