Citizenship

Vote & Voices: kewarganegaraan, demokrasi dan multikulturalisme di Indonesia pasca Suharto






Share


“Blog


Pengantar

Salah satu pemandangan yang paling mudah ditemui di banyak kota di Indonesia selama periode demokrasi belakangan ini adalah spanduk, poster, dan baliho berukuran raksasa yang menampangkan sosok-sosok para kontestan perebutan supremasi politik di masing-masing daerah melalui pemilihan umum (Pemilu) daerah. Muka-muka yang sebelumnya boleh jadi tidak banyak dikenal sebagai para penampang (selebritis) itu tiba-tiba menyerbu dan memenuhi kota, berebut ruang dan perhatian warga dengan reklame layanan sedot WC, guru menggambar, les musik, tawaran pinjaman dana, dan iklan-iklan komersial lain. Divisi dan hierarki sosial hadir secara kasat mata dalam bentuk distingsi antara penampang dan warga biasa yang (diharapkan) memirsa tampangan tersebut. Tentu saja ada banyak hal yang bisa dipersoalkan dengan ekstravagansa publisitas semacam itu, namun bagaimana pun itu semua adalah bagian dari praktik demokratisasi yang baru tumbuh. Pemilu adalah dasar di atas apa mekanisme utama demokrasi, yakni representasi politik formal, didirikan (Saward, 2006: 403).

Read More…

Senarai Singkat Kisah-kisah dari Sulawesi

Lampiran untuk buku Kota-kota di Sulawesi

“Blog

Pengantar

Dalam periode 15 tahun terakhir Sulawesi telah makin berkembang menjadi salah satu kawasan terpenting di wilayah timur Indonesia. Beberapa kalangan secara tidak resmi bahkan sering merujuk Makassar, salah satu kota terpenting di Sulawesi, sebagai ibu kota Indonesia (Bagian) Timur. Selain karena perkembangan fisik kota Makassar belakangan ini, dalam konteks yang lebih luas sebutan seperti itu tentu saja tidak terlalu mengejutkan mengingat kawasan Sulawesi memang telah mengalami perkembangan politis sangat dinamis sejak dimulainya era demokrasi lokal dan otonomi daerah belakangan ini. Cukup aman untuk mengatakan bahwa dari sisi terbentuknya wilayah-wilayah urban baru dan desentralisasi politik, setelah Sumatra, Sulawesi merupakan wilayah yang mengalami perkembangan paling dinamik di Indonesia. Pada tingkat provinsi, misalnya, sejak berakhirnya era Orde Baru terdapat dua provinsi baru dibentuk (Gorontalo dan Sulawesi Barat). Read More…

Harimau Minahasa: tentang kembara dan rasa aman warga

Pengantar Video Dokumenter

“Blog

Ad loca aromatum. November 2013, Andang Kelana, salah satu pembuat video Harimau Minahasa, datang memenuhi undangan saya untuk bergabung ke dalam tim penelitian kota-kota di Sulawesi yang diorganisir Yayasan Interseksi. Ada tujuh kota yang akan menjadi tujuan kami di keenam provinsi di Sulawesi. November itu para peneliti sedang melakukan proses pendalaman bacaan tentang Sulawesi, dan setiap minggu rutin bertemu di kantor kami untuk mendiskusikan hasil bacaan dan cicilan rencana penelitian. Tema umum program Interseksi di Sulawesi (2013-2015) adalah tentang demokrasi, politik lokal, dan kewargaan. Di samping tema umum itu, saya juga memberi pilihan kepada para peneliti untuk mengerjakan topik yang diminatinya sendiri di lokasinya masing-masing. Peneliti yang akan berangkat ke Kota Baubau di pulau Buton, Sulawesi Tenggara, misalnya, berencana menulis tentang konflik dalam lingkaran kaum bangsawan Keraton Buton. Sementara yang berangkat ke Minahasa Utara berencana meneliti rantai komoditi manusia dalam industri kopra di sana, dan lain-lain.

Read More…

Kisah Lima Kota: Melampaui Masyarakat Plural

Hikmat Budiman

Sosiologi


Share

Blog Picture

Masyarakat Plural

Secara konseptual, semboyan bhinneka tunggal ika (secara literer berarti "beraneka satu itu") tidaklah kompatibel dengan bentuk masyarakat plural, dan tidak pula kompatibel dengan multikulturalisme. Lebih dari itu, konstruksi masyarakat plural secara konseptual juga tidaklah kompatibel dengan multikulturalisme. Kalau bhinneka tunggal ika, yang diambil dari salah satu bait kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, mengandaikan adanya kesamaan bahkan kesatuan (unity) di antara hal yang berbeda, terminologi masyarakat plural yang diperkenalkan oleh J. S. Furnivall mengandaikan adanya dominasi satu kelompok di atas beragam-ragam beda yang lain, dan multikulturalisme adalah terminologi yang justru tidak merekomendasikan pencarian kesamaan dan kesatuan di antara ragam dan perbedaan melainkan bagaimana ragam dan perbedaan tersebut diperlakukan secara sederajat.

Read More…