Budaya

Rasio dan Kapitalisme, dan Makna yang Menguap





Share


“Blog

Bukan tanpa bukti ketika Goethe, misalnya, melontarkan sebuah ungkapan menarik, seperti terepresentasikan dalam refleksi sosiologis Weber tentang perkembangan agama di bawah kapitalisme, bahwa orang-orang Kristen mencari Tuhan tapi malahan dengan menciptakan setan. Itulah salah satu paradoks peradaban modern. Dari Weber kita diberi tahu bahwa jika agama (Protestan) telah menjadi pendorong yang hampir bersifat kausal bagi perkembangan kapitalisme, yang terakhir (kapitalisme) justru bertindak sebagai tali gantungan yang mengantar agama pada titik nadir peran dan fungsinya. Jalinkelindan relasi antara agama dan kapitalisme tidak berupa simbiosa mutual melainkan parasitis. Kapitalisme menjadi benalu yang terus-menerus menggerogoti kehidupan agama-agama.

Read More…

Komunalisme & Demokrasi

Postscript Untuk Diskusi Forum Interseksi [*]




“Blog
Share


Komunalisme sebagai Konsep

Apakah komunalisme adalah ancaman yang secara inheren memang berbahaya bagi upaya-upaya penguatan proses demokratisasi yang, dalam konteks Indonesia, baru saja dimulai sejak kekuasaan Suharto dipaksa berhenti? Kalau dipraasumsikan sebagai ancaman, konsekwensinya muncul asumsi berikutnya bahwa untuk memajukan demokrasi maka komunalisme pada titik terjauhnya harus disingkirkan. Asumsi-asumsi semacam itu tentu saja berpijak pada keyakinan (sesuatu yang sebenarnya tidak pantas menjadi landasan sebuah penelitian sosial yang baik) bahwa demokrasi mensyaratkan warga yang lebih mengutamakan aspek-aspek rasional dalam politik daripada unsur-unsur ikatan primordial. Di samping itu, modernisasi melalui pembangunan ekonomi, proses pendidikan modern, dan intensitas hubungan antar kelompok sosial dalam skala ruang yang jauh lebih luas selama ini diasumsikan akan mendorong orang semakin jauh meninggalkan ikatan-ikatan komunalnya menjadi sebuah bangsa di atas apa demokrasi bisa ditegakkan.

Read More…

Dr. Faust dan Dr. Fulan: Gremengan tentang Intelektual

Untuk Mas Heru Nugroho





“Blog

Intelektual dan kaum intelektual sudah menjadi subjek ribuan diskusi. Lisan dan tulisan. Dikunyah dan dimamah biak. Terus-menerus. Berbilang masa. Tapi tetap saja ada satu dua hal yang terasa tertinggal, dan sedikit mengganjal. Seperti remah makanan menyisip di sela-sela gigi. Tidak terkunyah. Bukan bongkah besar. Hanya cuil kecil saja. Tapi menghadirkan rasa tidak nyaman di mulut kalau tidak lekas dicungkil. Slilit kata orang Jawa. Ceuhil dalam bahasa Sunda. Seperti geremengan saya berikut:

Read More…

Minoritas, Multikulturalisme, Modernitas



“Blog

Tendensi-tendensi pembangunan ekonomi ke arah perampingan multiplisitas program-program kultural masyarakat sudah banyak digugat di banyak tempat. Demi kepentingan ekonomi, beberapa aspek kebudayaan masyarakat sering terpaksa harus dikorbankan atau, pada level yang lebih rendah, mengalami komodifikasi menjadi objek yang bisa dijual agar bisa mendatangkan keuntungan ekonomi seperti dalam proyek-proyek turisme. Turunan dari komodifikasi adalah komoditisasi ketika budaya khas suatu daerah, misalnya, dikemas sedemikian rupa sehingga sebagai sebuah paket wisata pada dasarnya sulit dibedakan dengan paket wisata kultural dari wilayah lain. Kultur yang mengalami komoditisasi mengalami standarisasi sehingga menjadi seragam. Keragaman dan beda dianggap potensial mendatangkan ketidakteraturan, khaotik, dan bisa merugikan. Tema-tema seperti ini pernah menjadi pokok diskusi akademik yang cukup menarik dalam membicarakan proyek-proyek modernisasi melalui pembangunan ekonomi di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, paling tidak sejak pertengahan dekade 1990an, tanpa sebab yang jelas debat-debat teori pembangunan berangsur-angsur meredup.


Read More…

Meretas Batas: tentang kepompong dan kupu-kupu

Prolog untuk Program Crossing Boundaries: Cross-Culture Video Making Project for Peace, Yayasan Interseksi 2010



“Blog

Sebagian terbesar individu manusia pernah hidup di dalam kepompong kulturalnya sendiri. Di dalam lingkungan budaya, etnis, puak, nilai, dan agama yang dikenal sejak kecil orang menemukan rasa aman, kenyamanan, lingkungan yang akrab, dan kepastian bahwa segala hal senantiasa berada dalam tatanan yang dapat dipahami. Ibu kultural kita itu memastikan kita semua hidup serba kecukupan dalam hal nutrisi yang akan memberi kita asupan nilai-nilai dan norma yang harus diikuti, ladang pengetahuan yang subur, serta pandangan dan pedoman hidup yang membimbing kita hidup secara teratur sesuai dengan tradisi yang sudah berlangsung lama.

Read More…

Digital, Ruang, Rupa, dan Kuasa: Cerita-cerita Ringan tentang Kamera

Sosiologi



Share


Blog Picture

Mereka yang terlampau antusias cenderung hanya tertarik pada aspek-aspek yang paling bombastis dari perkembangan teknologi digital, dan dari sana berkembang sejumlah mitos yang sebagiannya bermula dari riuh rendah pemasaran (marketing hype) belaka: bahwa internet telah membuka ruang bagi demokratisasi pengetahuan karena informasi semakin mudah diakses dan setiap orang bisa menjadi penerbit gagasannya sendiri, seolah informasi saja cukup untuk membangun pengetahuan, dan kalau sudah bisa menerbitkannya sendiri gagasan itu otomatis akan dibaca dan dianggap penting oleh khalayak luas; ekonomi digital akan menghapuskan kesenjangan, seolah-olah dunia digital tidak pernah memproduksi hierarki sosial dan ekonomisnya sendiri; buku-buku digital dalam iPad atau Kindle akan menyelematkan jutaan hektar hutan tropis, seolah-olah hutan di dunia akan habis hanya dipakai untuk mencetak buku, dan dengan menghilangkan keharusan mencetak buku pada kertas selamatlah hutan-hutan itu, dst. Ketika keajaiban semakin sering diambil oleh sain dan teknik, sebagian dari kita memang memiliki kecenderungan malang untuk melihat teknologi dari kacamata mesianisme seperti itu.

Read More…

Membuka (Lagi) Jendela Rusak, Melihat Indonesia Kita Kini

Dongeng Kecil Kriminologi untuk Nalar Gramsia Budiman




“Blog

Sebuah Pagi dari Jendela

Saya ingin mulai dari dongeng kecil tentang bangun pagi dan jendela.

Kalau bisa bangun pagi sekali, atau justru ketika tidak bisa tidur malam sepicing pun, satu hal yang paling saya nikmati adalah ketika membuka jendela kamar pertama kali. Mata langsung terpapar langit terbuka di timur, waktu cahaya matahari baru pecah dan masih berupa bias yang menebar dari ufuk karena mengalami refraksi ketika menembus atmosfer di kaki langit. Sinarnya belum menjadi bilah-bilah lembing cahaya menyilaukan yang menancap jatuh tepat di ujung teratak belakang. Angin subuh seperti berebut masuk, memenuhi ruangan dengan udara segar pagi. Di dalam kamar. Di dalam paru-paru. Saya menambahkan frasa langitpagi pada nama anak bungsu saya antara lain karena itu. Pada momen seperti itu saya sering terkagum-kagum dengan penemuan jendela. Tidak seperti pintu yang terbuka sampai ke lantai, jendela mengambang antara membuka dan menyembunyikan sebagian. Pintu dibuat untuk ditutup dan sesekali dibuka, sedangkan jendela mulanya dibuat untuk hanya ditutup pada malam hari. Yang satu menutup celah besar yang dipakai untuk lalu lalang agar tidak sembarang orang bisa masuk sesukanya, yang lain membuka celah cukup lebar di dinding agar ruang di dalam tidak terlampau tertutup dan menyesakkan. Pintu untuk keamanan, sedangkan jendela untuk kenyamanan tinggal di dalam rumah.

Read More…

Renungan kecil Ikhwal puasa, lebaran dan kita

Semacam Sebuah Tafsir Sekular atas Sebuah Ritus Keagamaan



“Blog

Puasa, seperti yang telah “diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu”, memperlihatkan kepada kita bahwa lapar dan haus yang dikelola dengan satu keyakinan teguh, artinya dengan kesadaran penuh, bukanlah sekadar sebuah fakad dari derita dan sengsara belaka. Bagi yang berpikir sangat metodis, puasa adalah bagian dari pengelolaan antara pengekangan dan pelepasan, agar keduanya tidak diumbar tanpa takaran. Hidup adalah soal kapan melepas dan bilamana harus mengekang. Bersahaja. Samadya. Tahu batas cukup.

Read More…

Bill Gates dan Burung Hantu dalam Lingkungan Informasi Baru


“Blog

Bermacam-macam perubahan radikal yang kita saksikan belakangan ini bukan hanya hadir sebagai sesuatu yang mengejutkan, tapi juga menghasilkan teror di setiap kepala, yang berpikir atau yang tidak. Bagaimana, misalnya, menjelaskan tentang ringgit, dolar Singapura dan rupiah yang nyaris lumpuh oleh sebab-sebab yang sebagian besarnya hanya berlangsung di layar monitor komputer? Lantas mengapa seluruh dunia begitu murung mendengar kabar kematian Lady Diana Minggu, 31 Agustus 1997 lalu? Rasa kehilangan atas seorang aktivis-selebritis seperti Diana nyatanya jauh lebih suram daripada rasa kehilangan kita saat wafatnya seorang aktivis-spiritual sekelas Bunda Theresia seminggu kemudian. Dunia yang begitu kukuh ditopang oleh sain dan teknik tinggi ini telah membawa kita pada sebuah jeram, penuh guncangan, soal-soal yang tak selalu mudah dipahami.

Read More…

Something is Rotten in the State of Denmark

Belajar lagi membaca sastra sambil mengenang Pak Kayam*



“Blog


Saya selalu tergoda membayangkan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Horatio, ketika tubuh-tubuh para bangsawan ksatria Kerajaan Denmark yang terhormat itu, satu per satu membujur disungkurkan oleh kematian? Kejahatan, culas, benci, dendam, pembalasan, justa, serakah, berahi, dan cinta yang karam beraduk tuntas, dan kerajaan seperti terbenam dalam lumpur maut, tanpa peluang bisa keluar selamat. Horatio menjadi saksi tumpasnya sebuah kuasa yang dibangun di atas berbagai khianat, kebohongan, kebodohan, ancaman, dendam kesumat, manipulasi, dan semata nafsu atas tahta. Ia dipilih Shakespeare untuk melihat sampai tamat ketika manusia bertumbuh menjadi makhluk-makhluk buas yang saling menerkam, baku bunuh. Jiwa-jiwanya seperti asap hitam mengotori angkasa. Di istana angkara melela, dan lolong anjing hutan tak putus-putus meningkahi malam.

Read More…

Beberapa Pertemuan Saya dan Daniel Dhakidae

In Memoriam


“Blog

Daniel Dhakidae dan Thung Ju Lan dalam acara diksusi membahas buku Seri Hak Minoritas terbitan Yayasan Interseksi tahun 2007 di Hotel Santika, Jakarta Barat, 4 September 2007.



Tadi pagi, Selasa, 6 April 2021, puluhan pesan WA mengantarkan kabar duka lagi. Daniel Dhakidae, salah seorang intelektual publik dengan reputasi besar telah pergi menghadap illahi akibat serangan jantung pada pukul 3 dini hari. Seperti ribuan orang lainnya, saya tentu saja ikut merasakan sebuah kehilangan besar oleh kepergiannya itu. Sosok Daniel Dhakidae sudah menjulang tinggi di mata saya bahkan sejak saya masih kuliah S1 di akhir 1980an sampai awal 1990an. Meskipun saya tidak pernah benar-benar kenal dekat secara personal, tapi ada beberapa momen dalam hidup kami yang sempat bersisian dan membuat respect saya kepadanya semakin bertambah besar.

Read More…

Marx tentang Manusia, Kerja dan Alienasi

Belajar Sosiologi


“Blog

Dalam pandangan Marxian, basis material masyarakat menentukan bentuk kebudayaannya, bukan sebaliknya. Prognosis Marx tentang masyarakat komunis berangkat dari pemahamannya tentang sejarah yang, berbeda dari Hegel atau Feuerbach, kemudian lebih dikenal sebagai the materialist conception of history (Mises, 1951: 352-53). Telaah Marx difokuskan pada basis-basis material masyarakat manusia, terutama tentang mode produksi (mode of production), yakni pelbagai proses melalui apa masyarakat-masyarakat manusia memenuhi kebutuhan materialnya. Bagi Marx, sejarah bisa dikategorikan menjadi beberapa zaman yang masing-masing dicirikan oleh satu mode produksi utama. Mode-mode produksi inilah yang menentukan bentuk-bentuk institusi, kebudayaan, hukum, agama, dan ideologi pada masing-masing masyarakat pada masing-masing zamannya.

Read More…

iPod, therefore I am

Sosiologi

“Blog

Orang yang paling berpengaruh di wilayah kultural tahun 2003 yang lalu adalah Jonatahn Ive. Paling tidak itulah hasil pilihan pemirsa stasiun radio BBC, Inggris, baru-baru ini. Lahir di kawasan utara London, Ive mengalahkan jutawan baru, penulis serial Harry Potter, serial buku terlaris di planet bumi dalam tiga tahun terakhir ini, J.K. Rowling, dan beberapa tokoh berpengaruh lainnya. Ive bukanlah pengarang penerima penghargaan Nobel, atau ilmuwan humaniora kelas puncak, melainkan hanya seorang perancang desain peralatan teknologi mutakhir yang sekarang paling banyak dipakai di dunia: pemutar lagu portable berbasis teknologi komputer, MP3 player yang diberi nama iPod.

Read More…

Cogito Orgasmus, Coito Ergo Sum. Dari Mimpi Descartes sampai Para Pemburu Bidadari Surga

Esai Plesetan tentang Mimpi dan Descartes. Dimuat majalah Matra, Desember 1996


Share


“Blog

Apa yang berharga dari sebuah mimpi? Martin Luther King Jr. disanjung orang antara lain juga karena ia bisa mengukuhkan sebuah mimpi menjadi itikad yang begitu keras, dan gelombang pengikut yang bergelora. Ia bermimpi tentang tumbuhnya Amerika Serikat yang lebih toleran, yang tidak melihat dosa manusia melulu dari warna kulit. Walaupun King mati sambil mendekap mimpinya yang berantakan,--karena AS sampai kini tetap menjadi salah satu negeri rasialis terbesar--toh penghormatan orang tidak lantas berkurang karenanya. Meskipun dalam pidatonya ia mengatakan bahwa “semalam ia bermimpi”, tapi mimpi King kemungkinan bukanlah apa yang sering disebut “kembang tidur”, melainkan sebuah kiasan untuk tekad atau harapan tentang masa depan yang letaknya tidak musti selalu jauh. Kita, di sini, sampai ini hari, biasa menyebut mimpi-mimpi yang langsung terkait atau tidak--artinya sengaja dikait-kaitkan--dengan sebuah realitas di luar tidur itu sebagai cita-cita. Tapi ia juga bisa berarti wangsit atau ilham.

Read More…

Diaphtheirein

Artikel Mini-Kata


Dewan Pembina Yayasan Interseksi, Jakarta

“Blog

Sumber gambar: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/426600.



Sebuah masa, ketika pecah pagi berlalu di langit Athena. Seorang lelaki tambun, sekarang kita mengenalnya dengan nama besar, Socrates, biasa keliling kota menebarkan kesangsian. Suaranya berat sedikit parau, kata-katanya deras seperti hujan di bulan November. Lidahnya tajam, bilah pedang pernyataan perang pada segala yang mapan. A round peg in a square hole. Read More…

Imlek dan Gandrung Kita pada Timur

Menyambut Imlek 17 tahun silam


Share


“Blog

Pada mulanya adalah warna kulit. Batas antara “yang sama” dan “yang lain” ditarik begitu tegas: aku “pribumi”, Indonesia asli, muslim, dan kau orang-orang keturunan, bukan asli, nonmuslim, nonpri. Kemudian kita ramai-ramai mendefinisikan dosa-dosa orang lain. Melalui KTP, atau surat keterangan lain. Dalam bisnis atau perhelatan-perhelatan politik, dan birokrasi yang gendut. Setelah itu proses-proses sejarah memunculkan pembedaan lain: aku miskin, kau kaya raya, aku papa sedangkan kau begitu berlimpah. Tanpa harus membaca Proudhon, aku tahu milikmu adalah hasil curian, hasil persekutuan sesat dengan kekuasaan yang menindasku. Dan karena itu, satu saat aku harus mencurinya kembali.

Read More…

Virus Media! Agenda Terselubung dalam Budaya Popular

Rangkuman Buku


“Blog

Di samping merupakan momen cukup penting dalam sejarah negara Orde Baru, peristiwa wafatnya Nyonya Tien Soeharto tgl 28 April 1996 yang lalu di sisi lain juga berhasil mengungkapkan sebuah indikasi tentang kekuatan media dalam menciptakan sebuah realitas ( a socially constructed reality). Ketika praktis selama lebih dari dua puluh jam seluruh media massa (televisi, radio, dan media cetak) yang ada hanya menyiarkan acara-acara yang masih berkait langsung dengan peristiwa kematian istri presdien tersebut, maka paling tidak ada dua persoalan menarik yang bisa diperhatikan. Pertama, teknologi media massa telah memungkinkan penyebaran berita (duka) ke seluruh pelosok negeri dalam skala waktu yang sangat kecil: cucu Obahorok yang men-tuning radionya di lembah Baliem akan mengetahui kabar kematian tersebut sama cepatnya dengan warga Jakarta yang tinggal di Jakarta--tidak jauh dari kediaman almarhum--atau Nyonya Siti Hardijanti Rukmana yang konon tengah berada di London.

Read More…

Mengenang Bisri Effendi: Tentang VW Tua dan Rekonsialiasi Kultural

In Memoriam


Share

“Blog

Dua mobil VW (Volkswagon) tua mungkin bisa sedikit bercerita tentang komitmen Bisri Effendi (BE) dalam upaya panjangnya untuk rekonsiliasi kultural di banyak tempat di Indonesia.

BE adalah pencinta mobil VW tua. Seingat saya ia memiliki dua VW tua di rumahnya, tapi saya tidak persis tahu keluaran tahun berapa masing-masing mobil itu. Yang satu sebuah VW Kodok (VW Beetle), dan satu lagi sebuah VW Kombi (Combi). Dua-duanya adalah model VW yang saya kira paling ikonik, yang bukan hanya digemari di Indonesia tapi juga di tempat-tempat lain di dunia. Ketika butuh modal untuk mendirikan perusahaan yang sekarang menjadi perusahaan terkaya di bumi, Apple Computer, yang belakangan berubah nama menjadi Apple Inc, Steve Jobs menjual barang miliknya yang dia anggap paling berharga waktu itu, sebuah VW Kombi. Read More…

Mengapa Keadilan Musti Dicari?

Untuk 50 Tahun Indonesia Merdeka, 1995.


“Blog

Di mana bisa kita temukan keadilan? Di penjara. Kemana kita mencari kebebasan? Ke penjara. Menjelang perayaan ulang tahun proklamasi kemerdekaan politik Indonesia kelima puluh tahun lalu, orang ramai-ramai malah pergi ke penjara. Mencari kemerdekaan, memburu keadilan, sebab konon Tyson dan Subandrio pun bisa bertemu Tuhan di sana. Padahal, konon, kebebasan paling puncak adalah pengikatan diri dengan Tuhan; keadilan paling akhir adalah yang datang dari ujung jari-Nya. Tapi mengapa Subandrio, Oemar Dhani, Arswendo dan Tyson malah memilih ke luar dari rumah yang mendekatkan mereka dengan kebebasan paling puncak, dengan keadilan paling tinggi? “Mengapa mereka menginginkan dunia luar yang bebas tapi semu?” kata sebagian penghujat. Mereka memburu keadilan yang lebih jelata, sedangkan Pak Flintstone pun tetap berusaha memelihara hubungan mitisnya dengan penjara goa purbawi: merapatkan diri pada keheningan, melautkan keinginan menjadi sunyi.

Read More…

Inflasi Doktor

Kolom Intermezo di Majalah Matra, Januari 1998


Share

“Blog

“Here is the test of wisdom, Wisdom is not finally tested in schoolds, Wisdom cannot be pass’d from one having it to another not having it, Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, Is its own proof” (Walt Whitman, "Song of the Open Road", diambil dari Leaves of Grass, edisi 1954).


Tidak begitu jelas berapa orang di negeri ini yang telah menyandang gelar doktor sebagai puncak prestasi akademisnya. Karena menyandang gelar tertinggi, tampaknya, mereka cenderung tidak suka diikat dalam satu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia untuk para dokter medis, atau Persatuan Insinyur Indonesia untuk para alumna keteknikan. Sementara itu, konon, ada rektor sebuah universitas ternama yang bahkan tengah berupaya keras agar pada tahun 2000 nanti universitasnya, paling tidak, akan memiliki 1.000 orang doktor pelbagai jurusan.

Read More…

Bangsa yang Takut

Artikel Mini-Kata


“Blog

Kalau sebuah karya intelektual dibakar, yang dilalap api tentu bukan hanya kerja keras penulisnya, melainkan juga kehormatan seluruh kepala manusia yang punya otak waras. Ketika belakangan beberapa orang membakar buku-buku kiri, buruk rupa peradaban kita pun semakin memalukan.

Read More…

Destarastra

Artikel Mini-Kata

sumber: https://www.indictoday.com/quick-reads/tales-mahabharata-vidura-niti-part-iv-viduras-exhortation-dhritarashtra/

“Blog

Malam itu apa yang dirasakan Destarastra ketika Perang Kurukshetra, atau yang di Jawa disebut Bharatayudha, berakhir, dan seluruh amarah mengendap jadi debu, lalu bisu, dan angsana yang luruh? Dari cerita Sanjaya ia menyaksikan robohnya kehormatan jadi sederet panjang pekuburan. Seratus anak-anaknya bertumbangan, tumpas seperti batang-batang rumput disabit para pembuka lahan. Read More…

Kekalahan Tradisi Lisan: Merenungkan Bojongpari

Rough-Draft

“Blog

Kebudayaan akhirnya kerap menjadi pembicaraan yang semena-mena. Betapa tidak, karena ia adalah rimba New York bahkan belantara Bojongpari atau ketenteraman Ngrimpak. Bara padang pasir yang mematangkan keperkasaan piramid sampai beku kutub bumi yang memadatkan kultur Kwakiutl suku Eskimo--yang mengundang decak kagum Franz Boas; mode body language yang memusingkan birahi lelaki, sampai kombinasi jilbab-cadar yang serba enggan atau lilitan jarik yang membius, misterius. Semua punya jatah ruang dan waktu hidupnya sendiri. Raung hirukpikuk sampai kesunyian yang demikian tandas.

Read More…

Empat Huruf yang Menyakitkan

Catatan tahun 1992



Share

“Blog

Pernahkah Sang Budha atau orang suci lainnya terbahak? Atau adakah mereka orang yang senantiasa tampil tegar, sedikit senyum, serius melulu menyuntuki nasib dunia—seperti dokter memeriksa preparat melalui mikroskop? Kita tak persis tahu jawabannya. Karena pekabaran yang kita tangkap tentu tak demikian lengkap. Kita hanya sanggup mencegat kesan, yang itu pun kadang seperti bunglon. Semakin ngotot kita meyakini salah satu warnanya, semakain kelirulah kesimpulan kita. Yang pasti, dalam hidup ini ada banyak wilayah yang seakan enggan bersinggungan dengan gelak tawa. Kaku, sepi dan dingin seperti tembok rumah bekas Belanda. Ia cenderung menghindar dari ketawa yang lepas. Sebab hanya dalam sunyi ada keheningan untuk merapatkan rasa, sedangkan ketawa sering diidentikkan dengan nafsu. Dan nafsu itu dari syetan, perusuh setiap itikad baik yang serius.

Read More…

Mengenang Radjimo

In Memoriam


Share

“Blog

Sepokok pohon sawo di halaman depan rumah saya, yang roboh oleh hujan deras kamis sore menjelang maghrib, sebenarnya mungkin tidak memberi tanda apa pun. Tapi Jum’at pagi puluhan pesan WA saya terima mengabarkan hal yang tidak pernah saya harapkan: seorang sahabat yang demikian baik hatinya, Radjimo Sastro Wiyono, telah pergi untuk selamanya. Orang percaya bahwa meninggal di hari Juma’at adalah pertanda baik, dan saya percaya itu untuk Radjimo. Tapi tetap saja ada bolong besar dalam hati saya hari itu.

Read More…

Harimau Minahasa: tentang kembara dan rasa aman warga

Pengantar Video Dokumenter

“Blog

Ad loca aromatum. November 2013, Andang Kelana, salah satu pembuat video Harimau Minahasa, datang memenuhi undangan saya untuk bergabung ke dalam tim penelitian kota-kota di Sulawesi yang diorganisir Yayasan Interseksi. Ada tujuh kota yang akan menjadi tujuan kami di keenam provinsi di Sulawesi. November itu para peneliti sedang melakukan proses pendalaman bacaan tentang Sulawesi, dan setiap minggu rutin bertemu di kantor kami untuk mendiskusikan hasil bacaan dan cicilan rencana penelitian. Tema umum program Interseksi di Sulawesi (2013-2015) adalah tentang demokrasi, politik lokal, dan kewargaan. Di samping tema umum itu, saya juga memberi pilihan kepada para peneliti untuk mengerjakan topik yang diminatinya sendiri di lokasinya masing-masing. Peneliti yang akan berangkat ke Kota Baubau di pulau Buton, Sulawesi Tenggara, misalnya, berencana menulis tentang konflik dalam lingkaran kaum bangsawan Keraton Buton. Sementara yang berangkat ke Minahasa Utara berencana meneliti rantai komoditi manusia dalam industri kopra di sana, dan lain-lain.

Read More…

Anak dan Pasar, dan Analogi dalam Politik Kita Itu

Sosiologi, Politik

“Blog

Gibran, penyair romantik dari awal abad ke-20 itu, kita tahu, pernah menulis tentang anak. Bagi saya yang tidak tekun membacanya, kata-kata Gibran sering terasa lebih mirip parabel atau, kalau bukan itu, sebut saja alegori sentimentil. Menyayat sesaat kadang menggugat di lain tempat, tapi tak cukup kuat untuk mengguncang. Mungkin, karena ia hidup dalam lingkungan yang tak banyak dikotori bau ompol, dan rengekan tengah malam yang bikin kesal. Pria kelahiran Bishari, bagian utara Lebanon, ini sebenarnya lebih suka mengaku dirinya seorang pelukis. Karya penulisannya cukup popular dan banyak terjual, termasuk di Indonesia sampai dekade 1990an, tapi tidak pernah benar-benar disambut hangat atau dianggap serius oleh kalangan kritikus sastra. Tapi sampai hari ini, sepotong kalimatnya, “anakmu bukan anakmu, tapi anak sang Mahahidup”, itu tak pernah gagal menghadirkan gema. Orang banyak mengenang itu dengan hati penuh takjub. Di Indonesia kalimat ini cukup sering dikutip menjadi sejenis inspirasi untuk banyak soal. Mungkin hanya karena ia terdengar begitu tak galib di telinga. Waktu itu.

Read More…

Dongeng Kecil tentang Shokunin (Extended Version)

Budaya



Share


“Blog


Catatan Personal:
Kawan-kawan di situs Jalankaji meminta seluruh redaksi menulis singkat tentang buku favorit mereka di tahun 2020. Bagi saya ini tidak terlalu mudah, karena lebih dari separuh waktu saya di tahun 2020 habis untuk mengerjakan buku Sudah Senja di Jakarta (SSDJ) bersama teman-teman di Populi Center. Tapi karena diberlakukan Work from Home (WFH) waktu yang tersedia jauh lebih melimpah dari biasanya. Dalam interval waktu itu pula saya menemukan buku Japanese Wordworking Tools. Their Tradition, Spirit, and Use (1984). Di luar dugaan buku ini ternyata berisi banyak hal yang sejak lama ingin saya ketahui tentang seluk beluk tradisi pekerja kayu di Jepang yang mengagumkan itu. Maka inilah buku yang saya pilih untuk diceritakan dalam rubrik "bacaan favorit editor" di situs Jalankaji tadi.

Karena kebetulan ada libur cukup panjang di akhir tahun, dan sebagai selingan dari postingan tulisan-tulisan lama, saya mencoba mengembangkan tulisan singkat untuk Jalankaji tadi berikut ini:



Suatu saat saya ingin bisa menulis tentang kayu, karena sejak kecil saya suka mendengar suara ketika bilah ketam yang tajam mengupas permukaan papan atau balok Jati, menghempaskan lapisan tipis-tipis melalui lubang di punggugnya. Berulang-ulang. Bunyi yang nyaring bening, bersih, menukik tapi tetap terdengar halus di ujung. Musik.

Read More…

Pak Flintstone (dan Rindu Kita pada Rumah)

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog


Sumber Gambar Mr. Flintstone: Fred Flintstone Gallery

Sumber kearifan di zaman kita kini barangkali bukan lagi petuah kaum tua tapi film kartun. Kaum tua terlampau sering merasa benar sendiri, sehingga lebih sanggup mendatangkan rasa bosan yang menentang ketimbang pendengar yang antusias. Selain itu, orang tua kelewat lamban, tak sesuai dengan desakan sumber-sumber informasi lain yang terus-menerus saling menjatuhkan. Dunia kita sekarang, seperti kata Lyotard, terlampau sarat kanal frekwensi informasi bahkan sampai overloaded : Terlampau sering mendengarkan omongan orang tua, dengan demikian, berarti membiarkan diri kita sendiri tertikam kesepian dalam gaduhnya kabar dan peristiwa yang mbludak. Apalagi karena sesungguhnya kita telah menjadi korban dari kelangkaan informasi justru di tengah hirukpikuknya lalulintas kata dan benda, dan warta sejagat.

Read More…

Refleksi Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia: Disilusi Kesatuan Kuasa dan Kemuliaan

Sosiologi, Politik



Share


“Blog

Full Disclosure:

Tulisan ini merupakan pengembangan lebih jauh dari tiga artikel opini saya sebelumnya yang berturut-turut pernah dimuat di situs Detik.com pada 22 Agustus 2001, 24 Agustus 2001, dan 25 Agustus 2001

Pengantar

Meskipun mungkin akan terkesan terlampau mengada-ada bahkan ahistoris untuk mengatakan bahwa riwayat kekuasaan politik pada sebuah masyarakat senantiasa berulang dalam pola yang relatif sama untuk jangka waktu yang sangat lama, tapi untuk konteks politik Indonesia kontemporer, pernyataan seperti itu tampaknya tetap tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ketika Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya tgl 21 Mei 1998 yang lalu, misalnya, ia tidak menggunakan istilah apa pun yang bisa dicari dalam kamus politik modern melainkan satu istilah yang bisa mengantarkan konotasi konseptual kita pada kisah kekuasaan ratusan tahun yang lalu di zaman kerajaan Mataram Hindu, yakni istilah “lengser” atau lengkapnya “lengser keprabon” yang artinya tidak bisa tidak kecuali meninggalkan tahta keprabuan atau kerajaan.

Read More…

Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia (1): Kekuasaan dan Kemuliaan

Sosiologi, Politik



Share

“Blog

Kekuasaan dan kemuliaan pada mulanya bolehjadi merupakan dua wilayah yang berbeda sama sekali. Untuk keperluan tulisan ini cukuplah dikatakan bahwa, kalau yang pertama berasosiasi pada otoritas dan kepatuhan, yang kedua berasosiasi pada keagungan dan penghormatan. Kuasa mengisyaratkan kemampuan mempengaruhi bahkan memaksa pihak lain untuk melakukan sesuatu, kemuliaan mengisyaratkan aura, semacam getar ganjil yang menerbitkan ketakziman pihak lain. Kekuasaan adalah terminologi politik, sedangkan kemuliaan bisa diperlakukan sebagai terminologi kultural.

Read More…

Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia (2): Pelajaran dari Wahid

Sosiologi, Politik



Share


“Blog

Abdurrahman Wahid adalah kontoversi di dalam dirinya sendiri. Bahkan ketika tahta tertinggi telah direnggutkan darinya ia tetaplah sebuah kontroversi. Bagi orang seperti Wimar Witoelar, kegagalan Wahid mengelola kekuasaan lebih karena ia tidak bisa diimbangi secara cerdas oleh masyarakatnya. Untuk orang tipe Amien Rais, kegagalan yang sama justru timbul karena faktor Wahidnya sendiri. Kalau sikap Wimar bolehjadi didorong oleh kekaguman yang sering tidak kritis, Amien lebih mungkin dirangsang oleh rasa geram yang tidak rasional.



Read More…

Jatuhnya Kekuasaan Modern Indonesia (3): Menanggalkan Kemuliaan, Menghidupkan Akal Sehat

Sosiologi, Politik



Share


“Blog

Dalam tradisi sosiologi, terbentuknya negara modern merupakan bagian dari proses rasionalisasi. Bagi Max Weber, misalnya, rasionalisasi adalah rangkaian sistematik operasi rasionalitas pada konteks sosial dan kebudayaan. Proses ini berlanjut menjadi modernisasi pada level kemasyarakatan melalui perluasan dan diferensiasi ekonomi kapitalis serta munculnya negara modern. Modernisasi, dengan demikian, mencakup pembentukan perusahaan-perusahaan kapitalis yang bersifat publik dan terpisah dari dunia domestik, serta terbentuknya institusi politik rasional berupa negara modern.

Read More…

Web: Desa Global Kita

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog

Lambat tapi pasti masyarakat mulai bergeser pada satu bentuk yang bersandar pada informasi (information-based society). Dominannya informasi dalam dinamika dan relasi sosial masyarakat telah lama disebut-sebut oleh para teoritisi sosial sebagai salah satu ciri zaman pasca-industri. Kondisi seperti ini bukan tanpa resiko. Sebab zaman informasi berarti guncangnya beberapa batas lama, dan mengendurnya pelbagai tradisi. Pada level politik, misalnya, sebuah pemerintahan musti selalu siap merevisi kebijakan politiknya, kalau perlu dalam setiap 24 jam. Jika tidak, segala kebijakan yang diputuskannya akan menjadi tidak relevan lagi. Dengan demikian, serbuan arus informasi telah memperbarui tradisi politik.


Read More…

Kuasa dan Kebebasan

Sosiologi, Politik


Share

“Blog

Tiga surat kabar yang memusuhi
jauh harus lebih ditakuti daripada seribu bayonet.”

(Napoleon Bonaparte)



Saya yakin Abdurrahman Wahid pasti membaca George Orwell. Dalam karya distopiannya, 1984, Orwell memperlihatkan bagaimana sebuah kuasa total diterjemahkan secara konkret menjadi pelbagai operasi pengawasan visual (visual surveillance). Kekuasaan jadi tampak bersifat omnipresent, hadir di mana-mana, melotot tajam melalui telescreen raksasa. Kalimat “Big Brother is always watching you” dipakai Orwell sebagai sejenis pemakluman tentang sebuah rezim yang omnipotent sekaligus omniscient, mahakuasa sekaligus mahatahu. Sebuah kuasa yang bersifat omnes et singulatim, mencakup semua dan segalanya, total. Sejarah seperti sedang berkerut menjadi sebuah ruang sempit, dan hidup harus menyerah pada teror. Dan setiap saat adalah langkisan kecemasan.

Read More…

Realitas Virtual dan Makin Luruhnya Bangsa

Sosiologi, Teknologi


Share


“Blog

Masihkah kita bisa yakin dengan penataran, sementara kian hari semakin banyak kaum tua dimakamkan? Tampaknya semua orang harus mulai siap menerima dengan lapang hadirnya sebuah generasi yang dibesarkan dengan kesadaran sejarah yang, dalam pandangan kita, terlihat koyak. Bagaimana mungkin, misalnya, seorang pelajar SD di tahun 2010 masih tertarik dengan dongeng kita tentang PKI? Tak seorang pun bisa mengisi ruang peduli di hati dan pikirannya dengan rentang waktu begitu jauh. Orang seusia saya, yang lahir persis ketika dekade 1960-an akan pungkas dan masih sedikit berbau darah, misalnya, toh hanya bisa mengenang para jenderal yang dikuburkan dalam keprihatinan riuhrendah itu, tanpa dendam dan keharusan untuk hidup dalam suasana hati (dan politik tentu saja) yang sama dengan orang-orang sebelum kami. Padahal kami tak cukup beruntung untuk tumbuh dan besar bersama meledaknya revolusi teknologi informasi sampai melahirkan komunitas-komunitas virtual seperti sekarang. Dan kini, kami adalah generasi baru orang tua yang gembira membagi waktu dengan pelbagai media untuk membesarkan anak-anak. Bukan semata karena kesibukan kerja kami, melainkan lebih karena saat ini kami sadar betapa sejak dalam kandungan anak-anak kami telah demikian akrab dengan media.

Read More…

Pohon Bo

Sosiologi, Budaya

Share


“Blog

Keterangan Foto: Buddha head embedded in a Banyan tree, Wat Mahathat, Tha Wasukri, Phra Nakhon Si Ayutthaya District, Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand. Wat Mahathat's Buddha Head is a famous statue that over the decades has been overgrown with the roots of a Banyan Tree. It rests in Thailand's ancient city of Ayutthaya, about an hour and a half from Bangkok. Most people who venture out to this ancient city have a fairly good idea of why they want to go there. I on the other hand, arrived not really sure what to expect. While there, I turned my head and saw this face looking back at me and I realized I have stumbled upon something I have seen many times in photos but never planned to find it for myself. You can say it found me instead. https://unsplash.com/photos/ugm-yDj9Hi4.





Sebatang pohon bukan hanya bisa dijadikan lambang sebuah organisasi politik, melainkan juga jadi sumber dari segala hal yang kita anggap paling baik: kebijaksanaan. Konon, dalam keyakinan para pengikut Budha, ada sepokok kayu yang dianggap pangkal kemuliaan: pohon Bo(dhi).

Persis di bawah pohon Bo yang liar inilah, di abad keenam sebelum Masehi, jauh sebelum orang-orang Eropa mengenal dan membanggakan jargon Pencerahan, seorang pangeran bertafakur demikian keras, sedemikian kerasnya hingga ia membiarkan tubuh rupawannya menjadi rudin.

Read More…

Terowongan Waktu dan Ruang Dunia Hyperreal

Sosiologi



Share


“Blog

Masih ingat The Time Tunnel? Sekitar lima belas tahun "yang lain", film ini diputar TVRI setiap jum'at malam dengan rasa bangga. Ini adalah sebuah serial science fiction Amerika dengan segala congkak sekaligus kebaikan hatinya. Gagasannya secara lengkap terpresentasikan dalam judul yang diangkatnya: Terowongan Waktu. Lorong yang bisa mengantarkan manusia untuk menjangkau sejarah secara tak terbatas. Ia bisa mengirim kita ke masa ratusan tahun yang lain, dan melemparkan kita ke dalam pelbagai riwayat pada ruang, tempat dan waktu ketika itu, tapi dengan kesadaran saat ini. Kemarin dan hari ini tidak lagi menjadi kategori-kategori penting dalam pengalaman manusia. Waktu tidak lagi bisa dipahami sebagai satuan linear pada apa kita tak memiliki kesanggupan untuk mencegat lajunya.

Read More…

Seniman dan Paradoks Cyberspace

Sosiologi



Blog Picture

Beruntunglah karena dunia kita masih punya seniman. Sebab salah satu kehebatan seniman adalah kesanggupannya untuk menggandakan dunia tanpa penolakan yang berarti dari orang lain. Mereka bisa menciptakan dunia baru untuk berkeluhkesah atau sekedar untuk sebentar bergembira. Itu bisa berupa sebuah dunia tempat kata tak selalu dibebani makna, seperti yang diciptakan oleh Sutardji. Mungkin karena ia tahu betul, sekeras apa pun kita berusaha merekatkan kata pada makna, yang dihasilkannya adalah kalimat-kalimat yang korup, penuh aturan dan, pada dasarnya, juga tak bermakna. Lagi pula, tidakah kebiasaan seperti itu hanya memperlihatkan bakat kita untuk jadi pemaksa yang tak kenal kata "tidak". Sementara kepahitan Sukardal jadi begitu indah dalam puisi Goenawan Muhamad, seperti Affandi yang berhasil meyakinkan mata kita bahwa matahari biru warnanya. Seorang seniman dangdut bahkan sanggup membuat orang yang dihantam alu bencana tetap bergairah bergoyang pinggul.

Read More…

Komedi, Kritik!

Sosiologi, Budaya



Share

Blog Picture

Mengapa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sering mengadakan konferensi pers hanya untuk menanggapi kritik lawan-lawan politiknya yang sebenarnya tidak begitu penting? Kritiknya sendiri mungkin memang penting, tapi mengalokasikan ruang dan waktu khusus di depan publik untuk menanggapi itu semua, tidak akan menghasilkan apa pun selain impresi bahwa ia adalah seorang tokoh yang memang rawan dipermainkan oleh hal-hal yang remeh temeh. Yang didapat SBY dari itu semua hanya julukan "lebay", terlampau sensistif, sebuah julukan yang sungguh bertolakbelakang dengan keinginannya sendiri membangun citra diri sebagai pemimpin yang agung dan disegani. Tapi mengapa gaya egaliter Jusuf Kala selama kampanye Pemilu pemilihan presiden 2009 yang lalu justru banyak dilihat sebagai penampilan seorang calon pemimpin yang kurang patut dan tidak berwibawa? Ilmuwan politik atau ahli teori sosial mungkin bisa menjelaskannya dari banyak sisi. Tapi saya curiga, jangan-jangan itu semua juga bersangkutpaut dengan komedi dan relasinya dengan tradisi kritik politik dalam (sebagian) masyarakat Indonesia.

Read More…

A(nti) Social Network

Sosiologi



Share

Blog Picture

Sampai hari ini saya masih sering bingung melihat orang yang membawa bukan satu tapi dua bahkan tiga telepon genggam sekaligus. Tapi rupanya jumlah handphone yang dibawa bisa menjadi petunjuk awal tentang kehidupan seseorang dalam jaringan sosialnya. Makin luas dan kompleks jaringan sosialnya, makin besar keharusan memiliki lebih dari satu handphone. Mereka yang membawa handphone lebih dari satu karena punya yang baru dan enggan membuang yang lama juga tetap termasuk ke dalam kategori ini. Kalau tidak, mengapa tidak ditinggal di rumah?

Read More…

Kisah Lima Kota: Melampaui Masyarakat Plural

Hikmat Budiman

Sosiologi


Share

Blog Picture

Masyarakat Plural

Secara konseptual, semboyan bhinneka tunggal ika (secara literer berarti "beraneka satu itu") tidaklah kompatibel dengan bentuk masyarakat plural, dan tidak pula kompatibel dengan multikulturalisme. Lebih dari itu, konstruksi masyarakat plural secara konseptual juga tidaklah kompatibel dengan multikulturalisme. Kalau bhinneka tunggal ika, yang diambil dari salah satu bait kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, mengandaikan adanya kesamaan bahkan kesatuan (unity) di antara hal yang berbeda, terminologi masyarakat plural yang diperkenalkan oleh J. S. Furnivall mengandaikan adanya dominasi satu kelompok di atas beragam-ragam beda yang lain, dan multikulturalisme adalah terminologi yang justru tidak merekomendasikan pencarian kesamaan dan kesatuan di antara ragam dan perbedaan melainkan bagaimana ragam dan perbedaan tersebut diperlakukan secara sederajat.

Read More…

Laporan Dari Dunia Computer Games

Games

Blog Picture

Neraka Real Time Yang Asyik

Tiba-tiba siang berangsur suram. Gelap menggidikkan. Dunia seperti tenggelam entah di mana. Yang tampak hanya sepucuk BFG 9000—senapan pembunuh paling menghancurkan. Tangan saya besar oleh otot-otot bisep dan trisep serta topangan tendon yang mengukuhkan penyatuan saya dengan BFG 9000. Kaki saya dibungkus sepatu lars dari bahan kulit terbaik, lentur dan nyaris tidak bisa rusak. Solnya terbuat dari thermoplastic polyurethane yang beberapa kali lebih kuat dari yang digunakan sepatu merek Timberland.

Seribu hantu seperti tumpah dari langit, menggerung dahsyat, menjerit, melengking parau ke udara. Angkasa yang pasi.


Read More…