Destarastra

Artikel Mini-Kata

sumber: https://www.indictoday.com/quick-reads/tales-mahabharata-vidura-niti-part-iv-viduras-exhortation-dhritarashtra/


“Blog

Malam itu apa yang dirasakan Destarastra ketika Perang Kurukshetra, atau yang di Jawa disebut Bharatayudha, berakhir, dan seluruh amarah mengendap jadi debu, lalu bisu, dan angsana yang luruh? Dari cerita Sanjaya ia menyaksikan robohnya kehormatan jadi sederet panjang pekuburan. Seratus anak-anaknya bertumbangan, tumpas seperti batang-batang rumput disabit para pembuka lahan. Hanya tinggal Yuyutsu, hasil selingkuhnya dengan perempuan lain, Vaisha. Hastinapura yang agung kini hanya tinggal rongsokan kereta-kereta perang. Di beberapa sudut keraton asap masih mengepul meneruskan lolong kepedihan.

Langit menggigil, dan di sudut ruangan Bima berdiri masih dengan tangan berlumur darah, mukanya keruh meski dengan seringai puas tanda kemenangan. Terkenang lenguh penghabisan Duryudana yang sebentar saja baru berhasil dibunuhnya. Andai saja Destarastra mau mendengar kata-kata Bhisma, kehancuran ini mungkin masih bisa dicegah: Waktu tubuh Bhisma dihamparkan ke tanah oleh puluhan anak panah Harjuna, sebagian merihnya basah. Darah. Merah luka mengangakan duka, dan dia tidak bisa berbuat lain kecuali meratapinya.

Apa salah Destarastra sesungguhnya? Kematian Pandu membuat tahta jadi ihwal yang rawan sekaligus rumit. Sebagai putra sulung, tahta itu seharusnya adalah miliknya, tapi ia terlahir buta. Maka ketika Pandu tewas oleh supata seorang pertapa, ia menerima tahta itu sebagai pemangku sementara menunggu putra-putra Pandawa dewasa. Ia tidak berdaya ketika serakah dan culas berbiak di hati anak-anaknya. Dan ketika Drupadi yang mulia itu dinistakan beramai-ramai di paseban agung, persis di hadapannya, ia juga hanya diam gelisah. Perjudian yang direstuinya itu demikian menghancurkan martabat wangsa Kuru. Ditemani Sanjaya, kini ia hanya bisa merasakan kesunyian menyergap dari segala arah. Perang besar ini menyisakan banyak pertanyaan tentang dharma, kuasa, dan arti sejumlah kematian.

Gus, sebuah kuasa kini bagimu mungkin memang bukan soal kursi. Di tangannya kau melihat peluang besar untuk berbuat baik bagi sesama. Mungkin karena itu kau ingin mengukuhinya kuat-kuat, kalau perlu dengan ancaman, dan maklumat, dan dekrit. Tapi bukankah kau tahu bahwa kuasa juga bisa jadi dorongan bengis untuk memangsa orang banyak? Mengapa Vyasa menulis Bhagavad Gita? Mungkin karena ia ingin mengabadikan sebuah momen, jarak beberapa saat sebelum segenap kehendak membunuh terlanjur tumpah.

Tapi memang tak banyak yang bisa dilakukan Destarastra. Sampai akhir hidupnya ia hanya tahu bahwa ia sekedar menjalani titah. Lantas apa arti kemenangan ini bagi Pandawa? Kepada siapa setelah itu kuasa berpihak? Setelah segalanya hangus, Khrisna yang bijak pun tak lagi jadi lumbung jawaban. Beberapa tahun ke depan ia pun harus menanggungkan nasib buruk akibat kutukan Gandhari. Seluruh wangsanya tumpas saling baku-bunuh.

Gus, malam itu bahkan Pandawa pun harus belajar, bahwa nasib negara tak pantas dijadikan taruhan untuk sebuah tahta.

Jakarta, 29 Mei 2001. Pernah dimuat pada Koran Cepat Detik.com versi cetak.

Sahabat saya, Didik Supriyanto, yang waktu itu jadi Wakil Pemimpin Redaksi Detik.com memberi saya tantangan yang belum pernah saya hadapi: menulis sangat singkat. Kalau tidak salah ingat, 1500 karakater. Bukan 1.500 kata, tapi karakter atau huruf untuk Koran Cepat Detik.com yang akan segera diterbitkan. Ini bukan situs berita detik.com tapi koran versi cetaknya yang diterbitkan dua kali sehari. Meskipun semula sedikit ragu, tapi akhirnya saya menyanggupinya. Awalnya memang terasa cukup susah, tapi setelah selesai satu dua tulisan, berikutnya biasa saja. Kadang-kadang saya bisa nulis kurang dari 1.500 karakter, tapi sering juga lebih banyak dari itu. Seperti tulisan ini. Mungkin ada sekitar 15 tulisan yang bisa saya selesaikan sampai terobosan teman-teman Detik itu berhenti terbit. Saya tidak tahu berapa bulan Koran Cepat ini beredar di pasar, yang pasti sampai kali terakhir saya belum pernah melihat bentuk fisiknya. Karena bentuknya yang ringkas, saya menyebutnya artikel Mini-Kata. Tentu saja sebutan ini diilhami oleh istilah “teater minikata" yang dipakai Goenawan Mohammad untuk menyebut terobosan pertunjukan oleh Rendra akhir dekade 1960an.