Artikel Opini

Mudik: Konsumsi dan Nostalgia

Mengenang Mudik yang Kini Dilarang




Share

“Blog

Tidak ada yang membantah bahwa puasa memiliki dimensi etis dan sosial yang sangat relevan bagi kehidupan modern. Selama ramadhan orang diajak untuk bisa mengendalikan diri, mengasah asketisme menghadapi problem sistemik yang makin berat. Pada sisi sosial, puasa melatih toleransi, menajamkan kepekaan sosial dan empati pada penderitaan sesama. Kalau empati sosial produk renungan filosofis muncul dari sebuah jarak antara subjek yang merenung dan objek yang mengalami penderitaan, kepedulian sosial kita selama ramadhan muncul dari pelibatan diri dalam perih luka menanggungkan lapar dan dahaga yang sehari-hari kerap dialami kaum papa.

Read More…

Seeing is Believing, dan Drama Politik Akbar Tandjung

Sosiologi dan Politik


“Blog

Apa yang tertinggal bagi kita setelah Mahkamah Agung memutus bebas Akbar Tanjung adalah sebuah drama. Penuh suspensi, haru, dan sebuah akhir yang terlalu mudah ditebak. Memahaminya tidak lebih sulit dari menebak alur drama televisi. Mereka yang merasa dirinya memiliki keprihatinan pada nasib bangsa, dan berkepentingan dengan tegaknya pemerintahan yang relatif bebas korupsi, pasti melihat itu sebagai malapetaka hukum nasional. Mahkamah Agung bagi mereka bukan lagi benteng pelindung keadilan, tapi justru sebuah bungker tempat para perompak bisa berlindung dengan aman.

Read More…

Jihad

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.


“Blog

Apakah terorisme tidak beragama? Ketika bom bunuh diri diledakkan dengan sepenuh-penuhnya semangat dan keyakinan pelakunya bahwa ia sedang berjihad, seperti yang telah diajarkan kepadanya oleh pimpinan atau mungkin gurunya, mengapa setelah itu hampir semua pihak menolak tindakan tersebut dikaitakan dengan agama mana pun?

Read More…

Ekonomi Tsunami dan Lenonisme

Sosiologi


Share

“Blog

Museum Tsunami, Kota Banda Aceh. Foto oleh: Julianto Saputra (https://unsplash.com/photos/8Z0Q_K8I7Tc)


Hamburan informasi (visual, tekstual, dan audio) tentang bencana tsunami belakangan ini memberi impresi seolah sejarah Aceh sedang hendak ditulis ulang. Pekabaran media massa tentang tragedi ini benar-benar melahirkan horor di setiap kepala. Aceh kini mengalami sebuah disrupsi besar-besaran dalam seluruh dimensi. Begitu banyak korban, demikian banyak soal rumit yang harus diselesaikan. Puluhan ribu orang meninggal dalam hitungan hari, dan kemungkinan ribuan lain menyusul akibat komplikasi penyakit yang menyertai bencana tesebut.

Read More…

Normalisme Jakarta

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Bagi sebagian orang, ada satu hal yang disyukuri setiap kali Jakarta disergap kecemasan: banyak ruas jalan akan sepi, lalu lintas akan sangat lancar, dan Jakarta jadi terasa lebih manusiawi. Karena itu, meskipun terkesan kurangajar, sebagian orang justru mengharapkan Jakarta lebih sering dicekam isu kerusuhan. Mereka tentu saja bukan para penjahat atau politisi yang senang memancing di air keruh. Mereka hanya orang-orang biasa yang ingin hidup dalam kondisi “normal”.

Read More…

Diaphtheirein

Artikel Mini-Kata


Dewan Pembina Yayasan Interseksi, Jakarta

“Blog

Sumber gambar: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/426600.



Sebuah masa, ketika pecah pagi berlalu di langit Athena. Seorang lelaki tambun, sekarang kita mengenalnya dengan nama besar, Socrates, biasa keliling kota menebarkan kesangsian. Suaranya berat sedikit parau, kata-katanya deras seperti hujan di bulan November. Lidahnya tajam, bilah pedang pernyataan perang pada segala yang mapan. A round peg in a square hole. Read More…

Inflasi Doktor

Kolom Intermezo di Majalah Matra, Januari 1998


Share

“Blog

“Here is the test of wisdom, Wisdom is not finally tested in schoolds, Wisdom cannot be pass’d from one having it to another not having it, Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, Is its own proof” (Walt Whitman, "Song of the Open Road", diambil dari Leaves of Grass, edisi 1954).


Tidak begitu jelas berapa orang di negeri ini yang telah menyandang gelar doktor sebagai puncak prestasi akademisnya. Karena menyandang gelar tertinggi, tampaknya, mereka cenderung tidak suka diikat dalam satu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia untuk para dokter medis, atau Persatuan Insinyur Indonesia untuk para alumna keteknikan. Sementara itu, konon, ada rektor sebuah universitas ternama yang bahkan tengah berupaya keras agar pada tahun 2000 nanti universitasnya, paling tidak, akan memiliki 1.000 orang doktor pelbagai jurusan.

Read More…

Bangsa yang Takut

Artikel Mini-Kata


“Blog

Kalau sebuah karya intelektual dibakar, yang dilalap api tentu bukan hanya kerja keras penulisnya, melainkan juga kehormatan seluruh kepala manusia yang punya otak waras. Ketika belakangan beberapa orang membakar buku-buku kiri, buruk rupa peradaban kita pun semakin memalukan.

Read More…

Destarastra

Artikel Mini-Kata

sumber: https://www.indictoday.com/quick-reads/tales-mahabharata-vidura-niti-part-iv-viduras-exhortation-dhritarashtra/

“Blog

Malam itu apa yang dirasakan Destarastra ketika Perang Kurukshetra, atau yang di Jawa disebut Bharatayudha, berakhir, dan seluruh amarah mengendap jadi debu, lalu bisu, dan angsana yang luruh? Dari cerita Sanjaya ia menyaksikan robohnya kehormatan jadi sederet panjang pekuburan. Seratus anak-anaknya bertumbangan, tumpas seperti batang-batang rumput disabit para pembuka lahan. Read More…

Empat Huruf yang Menyakitkan

Catatan tahun 1992



Share

“Blog

Pernahkah Sang Budha atau orang suci lainnya terbahak? Atau adakah mereka orang yang senantiasa tampil tegar, sedikit senyum, serius melulu menyuntuki nasib dunia—seperti dokter memeriksa preparat melalui mikroskop? Kita tak persis tahu jawabannya. Karena pekabaran yang kita tangkap tentu tak demikian lengkap. Kita hanya sanggup mencegat kesan, yang itu pun kadang seperti bunglon. Semakin ngotot kita meyakini salah satu warnanya, semakain kelirulah kesimpulan kita. Yang pasti, dalam hidup ini ada banyak wilayah yang seakan enggan bersinggungan dengan gelak tawa. Kaku, sepi dan dingin seperti tembok rumah bekas Belanda. Ia cenderung menghindar dari ketawa yang lepas. Sebab hanya dalam sunyi ada keheningan untuk merapatkan rasa, sedangkan ketawa sering diidentikkan dengan nafsu. Dan nafsu itu dari syetan, perusuh setiap itikad baik yang serius.

Read More…

Kritisisme Kaum Tengah-Atas

Politik dan Hiburan


“Blog

Kita telah kehilangan seluruh hak kita dimulai dengan hilangnya hak kita untuk bicara. Dalam The Republic of Silence Sartre menuliskan kalimat tersebut dengan timbre suara mengerang dan menerjang di dekade 1940-an. Persisnya pada bulan september 1944, ketika Prancis sedang berada di bawah dan mencoba melawan pendudukan Jerman, dan ia sendiri menjadi bagian dari gerakan yang dikenal dengan France Resistance itu. Sebagian menduga ia merupakan salah satu pemimpinnya, tapi sebagian yang lain kemudian menyadari bahwa peran Sartre di sana telah terlampau dilebih-lebihkan.

Read More…

Politik dan Kegilaan

Politik

“Blog

Banyak peristiwa konyol yang lewat begitu saja di wilayah panca indera kita belakangan ini. Orang ramai mengumpat kemacetan jalan-jalan raya di Jakarta, tapi ketika gubernur DKI memberi sebuah solusi dengan introduksi Busway, yang dilakukan banyak orang hanya memaki. Tapi di situlah letak soalnya, kalau kepentingan orang kaya terganggu, dan politik sudah terlalu lama identik dengan manipulasi.

Read More…

Wacana Kekerasan, Teror Politik

Politik



Share


“Blog

Negara didaulat memiliki wewenang mutlak penguasaan atas mesin-mesin kekerasan yang paling menghancurkan, konkretnya militer, karena ia didirikan justru untuk memenuhi rasa aman warganya. Konkretnya, di tangan negara secara ideal orang membayangkan bahwa kekerasan tidak akan melela tanpa kendali. Penggunaan mesin kekerasan dalam perspektif semacam ini terutama ditujukan untuk kepentingan keselamatan warga dari kemungkinan ancaman kekerasan pihak lain.

Read More…

Presiden Baru: Antara Ilusi dan Disilusi Politik

Politik



Share

“Blog

Almarhum Nietzche menuding demokrasi tidak lebih dari “a mania of counting nose”. Nietzche mungkin terlampau berlebihan, tapi bukan berarti aforismanya itu sama sekali tidak relevan untuk konteks politik kita sekarang. Setelah tgl. 20 September 2004, eksistensi kita dalam demokrasi akan dikonversikan menjadi angka-angka. Ketika sudah menjadi barisan angka, rakyat pada dasarnya menjadi sebuah entitas yang sangat (trans)portable, bisa dibawa ke mana-mana, sangat mudah dimanipulasi menjadi tampilan grafik visual di layar TV atau pagina media cetak. Angka-angka statistik hasil sebuah Pemilu adalah bukti dukungan politik yang paling dipercaya dalam demokrasi.

Read More…

Dua Skenario Pasca 20 September 2004

Politik


Share


“Blog

Dalam Pemilu presiden putaran kedua, peluang pasangan Megawati/Muzadi dan Yudhoyono/Kalla bisa diasumsikan lebih kurang sama. Lantas apa yang harus dilakukan setelah kartu suara dicoblos, dan angka-angka kemenangan ditetapkan. Salah satu kelemahan kita sejauh ini adalah karena sebagian terbesar energi kita habiskan untuk mengurusi pemilu, seolah demokrasi melulu identik dengan itu. Sekarang, ketika pilihan yang tersisa hanya tinggal dua kandidat dan Golput, sudah saatnya fokus perhatian kita digeser pada proses demokrasi pasca Pemilu.

Read More…

Calon Presiden, Obsesi Kesempurnaan Ragawi

Politik



Share

“Blog

Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan calon presiden dan wakil presiden secara definitif tgl 22 Mei 2004, pemeo Latin mens sana in corpore sano sudah harus dibaca secara kritis. Ungkapan “jiwa sehat dalam tubuh sehat” tersebut tampaknya telah mengimposisi nalar kita dengan sebuah commonsense bahwa, dalam konteks Pemilu presiden kali ini, hanya mereka yang fisiknya sempurnalah yang bisa jadi (calon) presiden. Artinya, commonsense seperti ini telah melahirkan cara berpikir yang potensial menjadi praktek diskriminasi seperti sinyalemen Komnas HAM tentang kasus Abdurahman Wahid.

Read More…

Kekuatan Lama dan Baru dalam Pemilu 2004

Politik



Share

“Blog

Tahun 2004 ini, sebagian besar rakyat pemilih akan disergap kebingungan menghadapi Pemilu beberapa bulan ke depan. Bukan hanya karena Pemilu sekarang berlangsung dalam cara baru yang jauh lebih rumit, tapi terutama karena untuk pertamakalinya dalam periode enam tahun belakangan ini, kompetisi antara kekuatan lama dan baru akan muncul lebih terbuka dalam kontestasi politik formal.

Read More…

Dua Pohon Orde Baru

Politik




Share

“Blog

Sebuah kekuasaan yang terlampau besar kepala selain akan cepat kehilangan ide-ide cerdas, juga akan mengundang cara matinya sendiri. Bukan saja karena ia dihidupkan oleh sekelompok orang dungu yang, karenanya, serba sok tahu, melainkan juga karena ia telah menjadi sebuah dunia di dalam dirinya sendiri. Satu wilayah yang demikian rapat menolak lalulintas harapan dan suara yang lain. Semacam sebuah rasionalitas yang serba tertutup dan inferior sebenarnya, tapi sekaligus berpotensi menghancurkan segala hal baik. Mereka yang hidup dalam orbit kekuasaan seperti itu, biasanya melulu bertindak atas nama dan untuk purbasangka. Hidup seperti berpusing dalam labirin paranoia. Politiknya sarat dengan pelbagai upacara besar, dan pengulangan kalimat-kalimat norak.

Read More…

Tentara dan Anak Kita Nanti

Politik



Share


“Blog

Tidak semua orang setuju Shakespeare soal nama. Bekas aktivis penentang Soeharto di masa lalu, misalnya, konon ada yang memberi anaknya nama “Gempur Soeharto” dan “Tikam Soeharto”. Itu artinya, sebuah nama juga bisa bicara banyak tentang pelbagai peristiwa politik pada satu periode historis tertentu. Sebuah nama, dengan kalimat lain, juga sering merupakan satu usaha untuk menautkan diri seseorang dengan pengalaman tertentu di masa lalu, sambil membebankan harapan untuk hari depan. Nama, singkatnya, adalah juga doa, permintaan yang baik dari makhluk kepada yang Mahasegala.

Read More…

Pak Flintstone (dan Rindu Kita pada Rumah)

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog


Sumber Gambar Mr. Flintstone: Fred Flintstone Gallery

Sumber kearifan di zaman kita kini barangkali bukan lagi petuah kaum tua tapi film kartun. Kaum tua terlampau sering merasa benar sendiri, sehingga lebih sanggup mendatangkan rasa bosan yang menentang ketimbang pendengar yang antusias. Selain itu, orang tua kelewat lamban, tak sesuai dengan desakan sumber-sumber informasi lain yang terus-menerus saling menjatuhkan. Dunia kita sekarang, seperti kata Lyotard, terlampau sarat kanal frekwensi informasi bahkan sampai overloaded : Terlampau sering mendengarkan omongan orang tua, dengan demikian, berarti membiarkan diri kita sendiri tertikam kesepian dalam gaduhnya kabar dan peristiwa yang mbludak. Apalagi karena sesungguhnya kita telah menjadi korban dari kelangkaan informasi justru di tengah hirukpikuknya lalulintas kata dan benda, dan warta sejagat.

Read More…

Iklan Partai Politik dan Konservatisme

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Antara praktek politik dan praktek bisnis industri pasti bertaut kepentingan. Lebih dari itu, dalam banyak kasus di Indonesia, misalnya, baik pebisnis dalam industri maupun politisi dalam politik, keduanya memiliki tujuan akhir yang sering sama: kemakmuran ekonomis bagi dirinya. Industri mengerahkan modal raksasa untuk teknologi pemasaran dengan tujuan meraih keuntungan yang jauh lebih besar. Teorinya jelas: makin besar modal yang dikeluarkan, makin besar kemungkinan pasar bisa dikuasai, dan makin besar pula keuntungan yang diproyeksikan akan diraih. Metode konvensional yang paling banyak dipakai adalah melalui iklan. Dalam politik, kita juga sering mendengar kabar tentang begitu besarnya kapital yang harus dikerahkan oleh seorang politisi untuk mendapatkan dukungan politik dalam sebuah plebisit. Bedanya, kalau profit dalam industri mengindikasikan bisnis yang sehat, profit ekonomis yang ingin diraih politisi justru mengindikasikan politik yang sakit.


Read More…

Kuasa dan Kebebasan

Sosiologi, Politik


Share

“Blog

Tiga surat kabar yang memusuhi
jauh harus lebih ditakuti daripada seribu bayonet.”

(Napoleon Bonaparte)



Saya yakin Abdurrahman Wahid pasti membaca George Orwell. Dalam karya distopiannya, 1984, Orwell memperlihatkan bagaimana sebuah kuasa total diterjemahkan secara konkret menjadi pelbagai operasi pengawasan visual (visual surveillance). Kekuasaan jadi tampak bersifat omnipresent, hadir di mana-mana, melotot tajam melalui telescreen raksasa. Kalimat “Big Brother is always watching you” dipakai Orwell sebagai sejenis pemakluman tentang sebuah rezim yang omnipotent sekaligus omniscient, mahakuasa sekaligus mahatahu. Sebuah kuasa yang bersifat omnes et singulatim, mencakup semua dan segalanya, total. Sejarah seperti sedang berkerut menjadi sebuah ruang sempit, dan hidup harus menyerah pada teror. Dan setiap saat adalah langkisan kecemasan.

Read More…

Millenium Bug dalam Politik Kita

Sosiologi, Politik

Share

“Blog

Kondisi politik Indonesia hari ini pantas membuat kita murung menatap masa depan. Menjelang tahun 2000, seperti halnya di dunia komputer, pada dasarnya kita masih belum lepas dari ancaman millenium bug. Dalam wacana komputer, istilah kutu millenium mengacu pada ketidakmampuan komputer mengelola angka tahun kalender lebih dari dua digit. Tahun 2000 akan diperlakukan sama dengan tahun 1900. Akibatnyal seluruh urusan kacau balau. Dalam wacana politik, itu bisa berarti ketidaksiapan kerangka berpikir kita menghadapi realitas hidup yang makin kompleks dan beragam di zaman baru. Akibatnya, seluruh tatanan bisa ambruk.

Read More…

Pohon Bo

Sosiologi, Budaya

Share


“Blog

Keterangan Foto: Buddha head embedded in a Banyan tree, Wat Mahathat, Tha Wasukri, Phra Nakhon Si Ayutthaya District, Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand. Wat Mahathat's Buddha Head is a famous statue that over the decades has been overgrown with the roots of a Banyan Tree. It rests in Thailand's ancient city of Ayutthaya, about an hour and a half from Bangkok. Most people who venture out to this ancient city have a fairly good idea of why they want to go there. I on the other hand, arrived not really sure what to expect. While there, I turned my head and saw this face looking back at me and I realized I have stumbled upon something I have seen many times in photos but never planned to find it for myself. You can say it found me instead. https://unsplash.com/photos/ugm-yDj9Hi4.





Sebatang pohon bukan hanya bisa dijadikan lambang sebuah organisasi politik, melainkan juga jadi sumber dari segala hal yang kita anggap paling baik: kebijaksanaan. Konon, dalam keyakinan para pengikut Budha, ada sepokok kayu yang dianggap pangkal kemuliaan: pohon Bo(dhi).

Persis di bawah pohon Bo yang liar inilah, di abad keenam sebelum Masehi, jauh sebelum orang-orang Eropa mengenal dan membanggakan jargon Pencerahan, seorang pangeran bertafakur demikian keras, sedemikian kerasnya hingga ia membiarkan tubuh rupawannya menjadi rudin.

Read More…

Horo(r)skop Politik

Sosiologi, Politik



Share

“Blog

Dari mana sebenarnya masa depan bermula? Di masa kanak-kanak kita, masa depan dikurung dalam kerangkeng pemahaman konseptual tentang cita-cita: harapan yang belum (tentu) datang. Tapi masa depan ternyata memang tidak lebih dari sekedar sebuah ide. Bagi peziarah kultural seperti Octavio Paz, misalnya, masa depan pada dasarnya bukanlah periode historis yang membentang dalam horison, sudah ada di sana dan, seperti gadis remaja yang belum disunting, menunggu kita mendatangi dan meminangnya dengan wajah gemilang. Sebaliknya, ia adalah sebuah konsep yang secara partikular diperkenalkan oleh modernitas. Tepatnya, ketika tradisi Judeo-Kristian masyarakat Eropa mengintervensi proses pemetaan sejarah sekular, dan menawarkan sebuah historisitas yang khas miliknya: sejarah sebagai sebuah rangkaian teleologis linear yang diderivasikan dari konsep-konsep biblikal. Ada awal yang bisa dilacak, dan akhir yang bisa dinubuat. Ada awal penciptaan, dan sorga sebagai sebuah akhir.

Read More…

Kampanye Massal, Ketidakhadiran (Ruang) Publik

Hikmat Budiman


Sosiologi, Politik


Share


Blog Picture

Menjelang pemilu, wacana tentang ruang publik (public sphere) kembali relevan paling tidak karena beberapa alasan. Pertama, ruang publik terlanjur diidentikkan dengan proses pembentukan opini publik, dan opini publik dianggap penting karena diasumsikan bisa mendesakkan putusan-putusan politik. Dalam pemilu, idealnya program-program politik kontestan dibawa ke lingkar publik, dan dijadikan wacana terbuka untuk dievaluasi di dalam pasar suara pemilih. Pertanyaannya, bisakah publik mendesakkan perubahan politik melalui suara mereka dalam pemilu kali ini.

Read More…