Diaphtheirein

Artikel Mini-Kata

“Blog

Sumber gambar: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/426600.



Sebuah masa, ketika pecah pagi berlalu di langit Athena. Seorang lelaki tambun, sekarang kita mengenalnya dengan nama besar, Socrates, biasa keliling kota menebarkan kesangsian. Suaranya berat sedikit parau, kata-katanya deras seperti hujan di bulan November. Lidahnya tajam, bilah pedang pernyataan perang pada segala yang mapan. A round peg in a square hole. Melecehkan, mencairkan segala yang beku di kepala. Termasuk mengguncang keyakinan orang pada demokrasi. Satu kalimatnya yang masih saya ingat berbunyi, “kalau manusia sederajat, negara tidak lagi perlu ada”. Gagasan ini terus bertahan dalam kepala pemikir etika terbesar, Aristoteles.

Socrates, yang kita kenal melalui beberapa karya Plato, adalah ikon dari sebuah zaman yang terang, cerah seperti mata istri sehabis keramas. Yakni ketika rasio mengalami perjumpaan intelektual dengan sejarah, dan manusia meronta dari rengkuhan mitos. Kita mengenang itu sebagai salah satu akar Aufklarung di Eropa kelak paska Abad Pertengahan. Max Weber menyebutnya disenchanment of the world, rontoknya ilusi tentang dunia yang serba mitis.

Tapi hidup Socrates sendiri berujung murung. Ia ditangkap, dikurung dan dibungkam dengan tuduhan yang ganjil, diaphtheirein. Investigasi kepustakaan yang dilakukan oleh I.F. Stone (1991) menghasilkan tafsiran bahwa kata “diaphtheirein” sepadan dengan “mengacau” atau “mengasingkan” anak muda dari demokrasi. Kasus ini mengajari kita bahwa demokrasi juga bisa mengingkari kebebasan berpikir warganya.

Sejarah kemudian mencatat betapa demokrasi Athena dihinakan oleh kalimat-kalimat rekalsitran Socrates pada peradilan yang menghebohkan itu. Ketika ia menolak diselundupkan ke luar penjara oleh murid-muridnya, dan lebih memilih racun untuk menghabisi hidupnya sendiri, ia sontak berubah jadi monumen tragedi kebebasan melawan demokrasi. Mengguncang yang mapan, mencairkan yang beku, tampaknya selalu harus beresiko perih.

Gus Dur, kupikir kau tidak harus seperti itu.

Jakarta, 10 Juni 2001