Artikel Mini-Kata

Sumber gambar: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/426600.
Sebuah masa, ketika pecah pagi berlalu di langit Athena. Seorang lelaki tambun, sekarang kita mengenalnya dengan nama besar, Socrates, biasa keliling kota menebarkan kesangsian. Suaranya berat sedikit parau, kata-katanya deras seperti hujan di bulan November. Lidahnya tajam, bilah pedang pernyataan perang pada segala yang mapan. A round peg in a square hole. Melecehkan, mencairkan segala yang beku di kepala. Termasuk mengguncang keyakinan orang pada demokrasi. Satu kalimatnya yang masih saya ingat berbunyi, “kalau manusia sederajat, negara tidak lagi perlu ada”. Gagasan ini terus bertahan dalam kepala pemikir etika terbesar, Aristoteles.
Socrates, yang kita kenal melalui beberapa karya Plato, adalah ikon dari sebuah zaman yang terang, cerah seperti mata istri sehabis keramas. Yakni ketika rasio mengalami perjumpaan intelektual dengan sejarah, dan manusia meronta dari rengkuhan mitos. Kita mengenang itu sebagai salah satu akar Aufklarung di Eropa kelak paska Abad Pertengahan. Max Weber menyebutnya disenchanment of the world, rontoknya ilusi tentang dunia yang serba mitis.