Horo(r)skop Politik

Sosiologi, Politik


Share


“Blog

Dari mana sebenarnya masa depan bermula? Di masa kanak-kanak kita, masa depan dikurung dalam kerangkeng pemahaman konseptual tentang cita-cita: harapan yang belum (tentu) datang. Tapi masa depan ternyata memang tidak lebih dari sekedar sebuah ide. Bagi peziarah kultural seperti Octavio Paz, misalnya, masa depan pada dasarnya bukanlah periode historis yang membentang dalam horison, sudah ada di sana dan, seperti gadis remaja yang belum disunting, menunggu kita mendatangi dan meminangnya dengan wajah gemilang. Sebaliknya, ia adalah sebuah konsep yang secara partikular diperkenalkan oleh modernitas. Tepatnya, ketika tradisi Judeo-Kristian masyarakat Eropa mengintervensi proses pemetaan sejarah sekular, dan menawarkan sebuah historisitas yang khas miliknya: sejarah sebagai sebuah rangkaian teleologis linear yang diderivasikan dari konsep-konsep biblikal. Ada awal yang bisa dilacak, dan akhir yang bisa dinubuat. Ada awal penciptaan, dan sorga sebagai sebuah akhir.



Tapi masa depan tetap saja sebuah misteri. Karena itu banyak cara dilakukan orang untuk menebak peruntungan hidupnya setelah hari ini melalui bermacam cara. Peradaban Cina mengenal konsep shio untuk menetapkan karakter masing-masing angka bilangan tahun, dan merekomendasikan langkah apa yang harus dilakukan orang untuk memanfaatkan peluang atau menyiasati aspek negatif dari masing-masing karakter tersebut. Tahun 2004, misalnya, disebut tahun monyet dan dianggap memiliki karakter yang mirip dengan binatang tersebut.

Orang-orang Mesopotamia mewarisi kita sebuah metode yang kekal dipakai sampai hari ini: astronomi. Kita di sini juga mengenalnya dengan nama popular horoskop. Intinya, sebuah upaya untuk menetapkan relasi antara waktu kelahiran seseorang dengan posisi relatif bintang-bintang atau planet pada momen-momen tersebut yang dianggap bisa menguak tabir misteri kehidupannya. Cabang ilmu yang mempelajari relasi semacam itu disebut astrologi. Di Indonesia kita memiliki padanan kata yang terkesan ganjil untuk itu: ramalan bintang. Padahal yang diramal bukan bintangnya, melainkan justru nasib manusia yang diasumsikan dipengaruhi oleh konstelasi benda-benda langit.

Deformasi yang Tidak Bisa Diabaikan

Sebelum teknologi merebut seluruh potensi keajaiban, astrologi mungkin menjadi salah satu cara yang paling banyak dipakai untuk meneropong nasib pada hitungan minggu atau bulan. Otoritas atas nasib itu terletak sepenuhnya di tangan seorang Astrolog, dan kita tetap tinggal sebagai penerima nasib yang pasif belaka. Orang menyukai ramalan bintang mungkin karena ia bisa menemukan jawaban cepat. Ia tahu jawaban itu tidak sepenuhnya benar, tapi jawaban yang sedikit benar saja jauh lebih baik daripada tidak ada jawaban sama sekali.

Karena demikian banyak orang membaca sstrologi dalam media massa, Theodore Adorno (1957) menyebut astrologi konvensional sebagai tidak lebih dari ramalan yang sedemikian rupa didorong dan sudah menjadi kebiasaan yang mendarah-daging (institutionalized superstition). Di mata Adorno, karakter paling menonjol dari mereka yang percaya pada astrologi adalah sikap konformis terhadap realitas. Sebab meskipun dalam astrologi nasib manusia ditentukan oleh konstelasi bintang-bintang, para astrolog senantiasa merekomendasikan sikap pragmatis, menerima status-quo.

Menjadi rasional dalam terminologi horoskopik adalah menyesuaikan kepentingan pribadi pada konfigurasi sosial yang ada. Horoskop, dengan demikian, bagi Adorno tidak berbeda dengan produk-produk budaya massa yang lain seperti iklan, opera sabun, atau talk-show politik di televisi: semuanya hanya merangsang pemirsa untuk mematikan kecerdasan otak di kepalanya, dan menerima seluruh otoritas pihak lain dicekokkan secara semena-mena melalui panca indera.

Tapi saya kira Adorno terlalu serius melihat astrologi sebagai pengunci akal sehat. Pandangannya menjadi khas generasi awal para kritikus budaya massa yang masih percaya pada the Great Divide antara budaya luhur dan rendah. Padahal tidak pernah ada bukti bahwa semua orang yang membaca ramalan bintang sepenuhnya patuh pada otoritas si peramal, seperti tidak semua orang hanya menjadi konsumen pasif serbuan citra audio visual di televisi. Lagi pula, ramalan bintang tetap saja sebuah rubrik pelengkap yang tidak terlalu penting dalam media massa saat ini. Ia hadir tapi sekaligus bisa diabaikan.

Isi media massa yang sulit diabaikan saat ini bukan ramalan bintang tapi polling atau jajak pendapat politik. Hampir seluruh media massa utama yang terbit dari Jakarta, dalam caranya masing-masing, memiliki versi polling politik yang menggoda untuk dibaca. Kalau horoskop lebih banyak muncul dalam terbitan-terbitan berkategori hiburan, polling politik dimuat pada terbitan-terbitan yang sejauh ini dianggap serius. Padahal, beberapa di antaranya bahkan sering tidak memiliki metode yang jelas atau lebih baik daripada para peramal nasib.

Polling politik menjadi menarik bukan karena akurasi datanya bisa dipertanggungjawabkan, melainkan lebih karena dalam sesaat ia sanggup mengundang impresi tertentu tentang popularitas seorang tokoh atau sebuah kelompok politik. Kalau data telah dideformasi menjadi pixel-pixel tampilan grafis olahan komputer, kemudian diproyeksikan ke dalam layar TV, ia tidak menuntut verifikasi dari pembacanya melainkan hanya sebuah impresi tentang apa yang sering disebut opini publik.

Kesesaatan memang menjadi penanda paling penting dari polling-polling politik yang belakangan ini dilakukan oleh beberapa stasiun TV di Jakarta. Teknologi terbaru yang dipakai adalah pesan singkat melalui telepon genggam (SMS).

Meskipun secara metodologis sangat diragukan, tapi polling politik ternyata memang tidak pernah benar-benar bisa diabaikan. Megawati Soekarnoputri, misalnya, pernah secara khusus berpesan agar para pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberi perhatian serius pada hasil-hasil polling semacam itu. Instruksi Megawati tersebut tentu saja terkait langsung dengan hasil beberapa polling yang memperlihatkan semakin pudarnya popularitas PDIP di mata rakyat.

Kepuasaan Serentak dan Kepercayaan Mitis pada Statistik

Satu hal yang menyatukan para penganut kepercayaan pada poling pollitik dan astrologi: hasrat pada kepuasaan serentak (immediate gratification). Mengikuti atau hanya membaca hasil sebuah polling politik, orang seolah didorong untuk sesegera mungkin mengetahui gambaran potensial pilihan politiknya, seperti orang ingin sesegera mungkin menemukan panduan nasib dalam ramalan bintang. Saluran telepon menjadi medium yang seolah mendekatkan pemiliknya dengan pemenuhan hasrat pada kepuasan serta-merta tadi.

Seperti gambaran nasib dalam horoskop tidak pernah sepenuhnya akurat, orang juga cukup tahu bahwa hasil polling tidak pernah benar-benar menggambarkan realitas sebenarnya. Pertanyaannya, kalau ia sama sekali bukan refleksi dari kenyataan sesungguhnya, lantas untuk apa ia dilakukan hampir setiap hari? Mengulang kesian-sian seperti tragedi Sisiphus? Mungkin. Tapi yang pasti, polling memberikan kepuasaan serentak dari peristiwa lepasnya kemerdekaan pikiran dan menyerah pada otoritas pihak lain. Kalau otoritas pada astrologi dipegang secara personal oleh seorang juru ramal, dalam polling otoritas personal digantikan oleh sejenis pengetahuan yang berpretensi impersonal dan objektif: statistik.

Berbeda dengan kepercayaan pada astrologi, kepercayaan pada hasil-hasil polling politik dilegitimasi oleh sebongkah rejim signifikasi yang diderivasikan dari tradisi riset ilmiah kaum akademisi. Ia, dengan kalimat lain, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kepercayaan yang hampir bersifat mitis terhadap statistik.

Banyak kategori dalam duni modern dengan apa kita berpikir tentang orang dan aktivitasnya dibuat melalui pengumpulan data numerik. Dari sekumpulan data statistik tentang catatan medis, misalnya, kategori waras dan tidak waras ditetapkan. Lebih dari sekedar sebuah cara untuk menampilkan informasi, statistik telah menjadi bagian dari teknologi kekuasaan dalam sebuah negara modern. Ia bisa berdiri kukuh menjadi sejenis hukum sosial, dan dalam tradisi sosiologi di Prancis orang dulu bahkan menganggapnya sebagai sebuah moral science. Jangan terlalu heran jika kelak, berkat teknologi pengiriman data yang makin cepat, dan secepat itu pula data itu bisa dikonversikan menjadi data numerik dan lantas dimanipulasi menjadi simbol-simbol piktorian dalam televisi, sebuah konstanta politik baru akan lahir pada abad 21 ini: menguasai SMS menguasai bangsa. Tampaknya kita memang harus mulai mempersiapkan diri menghadapi horor politik jenis baru ini.

Jakarta, 26 January 2004