Pohon Bo

Sosiologi, Budaya


Share



“Blog

Keterangan Foto: Buddha head embedded in a Banyan tree, Wat Mahathat, Tha Wasukri, Phra Nakhon Si Ayutthaya District, Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand. Wat Mahathat's Buddha Head is a famous statue that over the decades has been overgrown with the roots of a Banyan Tree. It rests in Thailand's ancient city of Ayutthaya, about an hour and a half from Bangkok. Most people who venture out to this ancient city have a fairly good idea of why they want to go there. I on the other hand, arrived not really sure what to expect. While there, I turned my head and saw this face looking back at me and I realized I have stumbled upon something I have seen many times in photos but never planned to find it for myself. You can say it found me instead. Sumber: https://unsplash.com/photos/ugm-yDj9Hi4.




Sebatang pohon bukan hanya bisa dijadikan lambang sebuah organisasi politik, melainkan juga jadi sumber dari segala hal yang kita anggap paling baik: kebijaksanaan. Konon, dalam keyakinan para pengikut Budha, ada sepokok kayu yang dianggap pangkal kemuliaan: pohon Bo(dhi).

Persis di bawah pohon Bo yang liar inilah, di abad keenam sebelum Masehi, jauh sebelum orang-orang Eropa mengenal dan membanggakan jargon Pencerahan, seorang pangeran bertafakur demikian keras, sedemikian kerasnya hingga ia membiarkan tubuh rupawannya menjadi rudin.

Maka, kisah sebatang pohon Bo adalah juga pekabaran tentang pahit luka penegakkan sebuah prinsip:

Belum lagi terbit pagi ketika Pangeran Sidharta sampai pada keputusan untuk segera meninggalkan istana—pusat segenap kuasa dan sekaligus gairah hidup yang senantiasa bertahan muda. Ia berkemas untuk mengakhiri sebuah riwayat. Ditatapnya Yosodhara, istrinya terkasih--yang lelap sambil merengkuh ubun-ubun bayi buah cinta mereka dalam dadanya yang hangat—dengan segenap getaran yang penghabisan. Sejarah yang baru terbangun musti segera tumbang. Dipadatkannya tekad pada hati yang bisa saja masih sangsi dan menahan kepergian. Dipanggilnya Chananah, abdinya paling berbakti. Dalam bisik ia menyuruhnya mengambil kuda kesayangan di istal belakang istana.

Pada malam yang masih tersisa, persis ketika harum keputren menelikung dingin yang gelap dan membangkitkan keinginan lelaki, ditemani Chananah, Sidharta malah melangkah ke dalam hitam rimbun langit Kapilawista ke arah Magada. Mencari kebijaksanaan hidup, mengorek makna ke palung paling ujung. Hampir tidak ada geliak embun pagi yang terjaga oleh langkah-langkah kecil kuda tunggangannya. Ia meninggalkan sejarah memang tanpa orasi selamat tinggal. Inilah kelam yang kelak oleh para pengikut Budha biasa disebut malam pengingkaran-mulia, menolak kelimpahan merayakan ugahari: “Jangan lagi panggil aku pangeranmu, wahai Chananah….,” kalimat ini ke luar dari mulut kecil Sidharta sambil melepas abdinya itu kembali ke istana. Ia lantas meneruskan perjalanan, sendiri. Kita tahu, Sidharta telah melakukan pengingkaran-diri secara asketis setahun sebelum usianya genap tiga puluh. Total ia mencoba mengeringkan hati dari keinginan, memilih bulan yang sepi tanpa bara api, menyengsarakan diri untuk membangun jiwa yang kukuh.

“Dari kebaikan akan lahir kebaikan. Dan dari kejahatan akan datang kejahatan,” sontak satu malam Sidharta terlonjak. Di bawah pohon Bo, ia mulai sadar bahwa kebijaksanaan nyatanya bukanlah wahyu yang tersembunyi di ujung pelangi, melainkan bersemayam pada lekuk hati sendiri. Ketika itulah ia merasakan sebuah relasi baru terbentuk antara kata dan hal. Ketika cahaya pagi menembus rimbun daun seperti lembing-lembing pasukan perang, Sidharta bangkit dengan terang emas di wajahnya, bening seperti mata perawan yang mendamba: ia telah menjadi orang yang enlightened, menjadi Sang Budha yang kemilau justru karena kebersahajaannya. Jauh mendahului hirukpikuk semangat Aufklarung di Eropa akhir abad ke-18, para pengikut Budha telah mengenal konsep tersebut hampir tanpa sorak sorai.

Budha, seperti dituturkan oleh Fritjof Capra—fisikawan Barat yang demikian terobsesi oleh Timur—dalam The Tao of Physics, tidaklah tertarik untuk memuaskan keingintahuan manusia tentang asal muasal dunia, sifat-sifat tuhan, dan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Secara eksklusif ia justru lebih memprihatinkan nasib manusia: penderitaan dan frustasi kita di dunia. Ia telah memberikan tafsiran psikologis yang lebih segar dan dinamis pada konsep-konsep tradisional India tentang maya, karma, dan nirwana dalam menjelaskan cikalbakal penderitaan manusia, sekaligus jalan untuk menyebranginya. Maka, demikian Capra, doktrin Budhisme tidaklah bersifat metafisis, melainkan psikoterapis.

Kisah asketisme Sidharta tentu tidak bisa disejajarkan begitu saja dengan lakon Arjunawiwaha dalam wayang Jawa. Sebab pada Sidharta tidak ada imbalan senjata dan wanita di akhir cerita. Lakon Arjunawiwaha barangkali justru jauh lebih mencerminkan rasio instrumentalis, sebentuk rasionalitas yang dikukuhkan oleh perhitungan cara dan tujuan (means-ends rationality): bahwa setiap pengorbanan diri yang memilukan seperti bertapa itu pasti akan ada imbalannya: senjata sakti dan wanita cantik, kekuasaan dan kenikmatan: keduanya lambang kedunguan palugosentrisme. Semakin keras orang menyengsarakan diri, semakin besar ganjaran yang (ia harapkan) akan diperoleh. Semakin besar biaya, semakin melambung keuntungan. Pada Sidharta, yang ada hanya gairah untuk terus-menerus mengoreksi diri. Ia tidak terobsesi oleh hasrat untuk menjadi pemberantas kebatilan dengan kecakapan adimanusiawi. Ia justru berangkat dari keinsyafan akan makin melelanya carutmarut nasib manusia. Dengan kalimat lain, ia bolehjadi sepenuhnya menyadari keragaman topia.

Sidharta hidup pada pertengahan abad keenam sebelum Masehi. Ia persis besar dalam salah satu kurun sejarah yang memukau hingga kini. Yakni sebuah masa yang dengan penuh bangga mengatakan kepada kita bahwa dalam buaiannya telah lahir sekian banyak para pendobrak: Confucius dan Lao Tzu di Cina, Zarathustra di Persia, serta Pytahgoras dan Heraclitus di Yunani—orang-orang yang dengan penuh tenaga mengayunkan tombak “logos” untuk mengusir “mitos”, meskipun kemudian banyak yang berakhir menjadi mitos yang lain; suatu zaman ketika bumi masih terlimpahi pesona dan rahasia.

Sekarang kita hidup dalam sebuah dunia yang, seperti terkesan sangat disesali oleh Max Weber, telah kehilangan banyak daya pukau masa silamnya. Akibat serbuan gencar proyek modernisasi—terjemahan teknis dan sangat simplistis dari konsep Pencerahan itu—agama, mistisisme, mitos, dan takhayul lainnya menjadi sesuatu yang musti kita cari kembali. Sebab memang sulit dibayangkan kita hidup tanpa mitos (termasuk agama). Dalam banyak hal, mistisisme bahkan bisa menjadi sumber kepercayaan diri sekaligus harapan yang tak kunjung habis: apa jadinya jika sejarah dihidupi oleh orang-orang tanpa harapan? Bisakah kita membayangkan ada sebuah peradaban yang dibangun tanpa mitos?

Karena mistisisme telah raib dari hati sebagian cukup besar dari kita, ia menjadi sesuatu yang langka. Dan karena ia langka, orang yang berhasil menetapkan klaim penguasaan atasnya cenderung bersikap, atau paling tidak merasa, seolah memiliki sejenis kemewahan yang lain. Artinya, mungkin saja benar bahwa rasionalisasi telah berhasil merampingkan jumlah dewa dan syetan, sehingga mistisisme kini menjadi kampung sepi yang berangkat mati. Tapi tidakkah dengan begitu berarti ia menjadi sesuatu yang dirindukan kembali: menyeramkan tapi sekaligus mengundang? Semakin gencar kita diharubirukan oleh rasionalisasi, semakin kuat ajakan untuk kembali menengok wilayah non dan irrasional yang sempat kita tinggalkan tapi belum jauh benar. Sebab, di bawah bentuk-bentuk logika yang kita benarkan, niscaya tertinggal, seperti tesis Pareto, pelbagai residu sentimen irrasional dan emosi yang kian menebal.

Boleh jadi lantaran itu pula hingga hari ini kita cenderung semakin sering melihat orang yang terpikat pada ajaran-ajaran lama.
Layaknya Pangeran Sidharta, Richard Gere konon juga rela meninggalkan isti jelitanya, Cindy Crawford, dan sebuah terjemahan materialis dari konsep syurga, Hollywood, untuk pergi ke puncak Tibet mencari kebijaksanaan dari para Buddhis, mencari cahaya yang bisa mencerahkan. Tapi ia jauh lebih mirip Arjuna ketimbang Sidharta. Dan karena itu pula sangat boleh jadi ia cukup tahu diri bahwa di zaman ini toh tidak ada peluang untuk menjadi suci sepenuhnya. Sejarah dan hidup berjalan nyatanya tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kesucian orang-orang bijaksana macam Sidharta. Dan Budha sendiri mengajarkan bahwa tugas seorang bijak bukan sekedar mencari pencerahan bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi yang lain. Buddha tidak pernah berhenti setelah masuk nirwana, tapi kembali ke bumi untuk menunjukkan langkah pembebasan bagi pengikutnya.

Perjumpaan antara Gere dan Buddhisme barangkali hampir sama dengan keterpesonaan Capra pada khazanah alam pikiran Timur: lebih merupakan satu proses melalui apa sang ego bersedia menerima “kelainan” sebaga adanya “ si lain”, dan bukan semata-mata hasil dari suatu politik representasi. Bahwa di samping Hollywood yang Barat dan Kristen, masih sangat mungkin juga ada Barat yang Buddha—yang oleh Barat terkadang begitu saja dikateogrikan sebagai mistisisme—tanpa harus bersitegang. Ada baiknya kita bersyukur bahwa kerangka berpikir dialektis, yang selama ini dianggap paling tangguh, terbukti mulai kedodoran: apa salahnya meletakkan dua hal yang berlainan dalam kedudukan jukstaposisi?

Pada dasarnya, baik saintisme mau pun mistisisme adalah metode kita membaca, menafsir, dan memahami realitas. Keduanya memiliki hak yang sama untuk hidup, berkembang, dan dianut dengan setia. Dengan ilmu pengetahuan, dunia boleh jadi menjadi lebih terjelaskan secara terang. Tapi dengan mistisisme, dunia dihadirkan di hadapan kita dengan segenap potensi dan vitalitas purbawinya yang mencengangkan. Sementara ilmu pengetahuan menjadikan dunia lebih transparan dengan maksud agar yang sampai pada kita adalah dunia sebagai objek yang harus ditaklukkan, mistisisme mengantarkan sebuah dunia yang tidak bisa ditaklukkan melainkan hanya bisa diajak berdamai. Saintisme menjelaskan dunia, sedangkan mistisisme memamerkan segenap gairahnya.

Keterpesonaan seperti yang tampak pada Gere atau Capra kepada Timur tentu saja tidak dengan sendirinya berarti bahwa Timur lebih benar. Sebab pencarian atas pesona-pesona masa silam seperti itu juga merupakan bagian dari keseharian kita di sini, hari ini. Kita adalah bagian dari gerombolan yang senantiasa berpotensi merasa rindu pada kampung sendiri yang disepikan oleh rasionalisasi, seperti halnya setiap orang dari kita adalah bagian dari massa yang dengan antusias melahap siarah televisi dan informasi sejagat. Maka mungkin benar apa yang ditulis Capra: “Ilmu pengetahuan”, katanya dengan bahasa yang jernih, “sama sekali tidak membutuhkan mistisisme. Juga sebaliknya, mistisisme tidaklah memerlukan ilmu pengetahuan,” tapi kita, “manusia, membutuhkan keduanya.”

Sidharta tepekur di bawah pohon Bo. Kita tidak persis tahu seperti apa gerangan pohon kebijaksanaan itu. Tapi, tentu saja, kita tidak harus hanya menjadikan sebatang pohon sekedar sebagai lambang organisasi dan sumber takhayul politik.

Yogyakarta, 15 Maret 1996