Inflasi Doktor

Kolom Intermezo di Majalah Matra, Januari 1998



Share

“Blog

“Here is the test of wisdom, Wisdom is not finally tested in schoolds, Wisdom cannot be pass’d from one having it to another not having it, Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, Is its own proof” (Walt Whitman, "Song of the Open Road", diambil dari Leaves of Grass, edisi 1954).


Tidak begitu jelas berapa orang di negeri ini yang telah menyandang gelar doktor sebagai puncak prestasi akademisnya. Karena menyandang gelar tertinggi, tampaknya, mereka cenderung tidak suka diikat dalam satu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia untuk para dokter medis, atau Persatuan Insinyur Indonesia untuk para alumni keteknikan. Sementara itu, konon, ada rektor sebuah universitas ternama yang bahkan tengah berupaya keras agar pada tahun 2000 nanti universitasnya, paling tidak, akan memiliki 1.000 orang doktor pelbagai jurusan.

Tampaknya tidak bisa dimungkiri, memasuki abad 21, di Indonesia juga tengah berlangsung pelbagai pergeseran ke arah sebuah masyarakat yang baru, yang di dalamnya peran ilmu pengetahuan (dan teknologi tentu saja) semakin menjadi demikian (di)penting(kan). Ini sesuai dengan ramalan lama teoritikus sosial Eropa dan Amerika tentang munculnya masyarakat postindustrial.

Gelar doktor, bagaimana pun, secara tradisional menunjuk pada puncak proses pahit getir dan pencapaian prestasi akademik seseorang sehingga ia dianggap layak menjadi seorang ilmuwan tingkat paling tinggi. Jalan ke arah itu benar-benar tidaklah mudah. Setidaknya dibutuhkan waktu 22 tahun masa pendidikan sejak SD sampai S-3. Dengan memperhitungkan biaya pendidikan yang kian melangit, tempo selama itu benar-benar akan menguras habis kesanggupan daya dukung ekonomi hampir seluruh penduduk Nusantara. Karena itu pula, secara inheren, doktor memang lahir untuk menjadi kelompok minoritas yang sangat berwibawa.

Sangat sulit mencari seorang doktor yang, betapa pun ia berasal dari latar belakang ekonomi demikian berlebihan, lulus tanpa bantuan dana dari pihak lain. Bukankah ini bukti lain bahwa pada dasarnya tidak ada manusia yang rela berkorban terlalu besar hanya untuk sebuah gelar? Tapi bukan itu yang penting. Sebab letak soalnya justru pada upaya keras untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bagi kepentingan satu dunia dan umat manusia.

Mari sebentar bermain statistik. Kalau secara kasar dihitung bahwa sampai saat ini kita telah memiliki sekitar 200 perguruan tinggi, misalnya, dan semua rektornya memiliki obsesi mulia seperti rektor yang saya sebutkan di atas, paling tidak, pada pergantian abad nanti kita telah memiliki sekitar 200 ribu orang ilmuwan puncak dari segala disiplin. Sekedar perbandingan, di Amerika Serikat saat ini terdapat sekitar 300 perguruan tinggi yang biasa memberikan gelar philosophiae doctor (Ph.D) kepada lulusannya.

Kalau jumlah penduduk negeri ini pada saat yang sama diperkirakan mencapai jumlah 210 juta, misalnya, rasionya sekitar satu doktor per seribu penduduk. Angka ini benar-benar fantastis. Sebab di dalamnya belum termasuk penduduk bergelar akademis satu, dua, atau beberapa tingkat di bawah doktor. Kalau perbandingan antara doktor dan sarjana S-1 saat ini satu berbanding 10.000, misalnya, bisa dibayangkan betapa tingginya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat kita pada tahun 2000 mendatang. Paling tidak, seluruh warga Nusantara pada masa itu berpendidikan jenjang S-1. Ilusi? Belum tentu. Life is too short to wory, man!

Keinginan untuk secara besar-besaran menambah jumlah para penyandang gelar akademik tertinggi mungkin saja ada baiknya, tapi yang paling mudah ditebak adalah akan munculnya berbagai institusi pendidikan, dalam dan luar negeri, yang ramai-ramai menawarkannya. Mereka akan saling bersaing satu dengan yang lain, dan harga mungkin menjadi satu-satunya pembeda paling mudah. Seperti ungkapan, ada harga ada rupa. Gelar yang sangat terhormat itu kemudian akan menjadi komoditi seperti kubis, cabe merah dan bawang kriting di Pasar Klewer yang harga-harganya rutin diumumkan sehabis warta berita di RRI. Atau bahkan bisa seperti ketika uang yang terus dicetak melampaui kebutuhan, nilainya merosot seperti celana pangsi putus tali.

Satu soal yang tidak mudah dijawab adalah, kalau sudah berbiak begitu banyak, gelar-gelar akademis itu lantas untuk apa?

Pernah dimuat dalam rubrik Intermezo majalah MATRA, Januari 1998.