Dua Pohon Orde Baru

Politik


Share

“Blog

Sebuah kekuasaan yang terlampau besar kepala selain akan cepat kehilangan ide-ide cerdas, juga akan mengundang cara matinya sendiri. Bukan saja karena ia dihidupkan oleh sekelompok orang dungu yang, karenanya, serba sok tahu, melainkan juga karena ia telah menjadi sebuah dunia di dalam dirinya sendiri. Satu wilayah yang demikian rapat menolak lalulintas harapan dan suara yang lain. Semacam sebuah rasionalitas yang serba tertutup dan inferior sebenarnya, tapi sekaligus berpotensi menghancurkan segala hal baik. Mereka yang hidup dalam orbit kekuasaan seperti itu, biasanya melulu bertindak atas nama dan untuk purbasangka. Hidup seperti berpusing dalam labirin paranoia. Politiknya sarat dengan pelbagai upacara besar, dan pengulangan kalimat-kalimat norak.

Orde Baru adalah contoh kekuasaan yang besar kepala itu. Ia dibangun di atas keyakinan bahwa pemerintahan akan langgeng jika terus dan terus ditongkrongi meriam, dan serdadu yang tak berhenti mengaum. Di bawah Orde Baru, seragam tentara telah menjadi sebuah medium politik untuk melumpuhkan segala alternatif di luar sistem. Orde Baru juga rezim yang tidak terlalu pusing dengan perkembangan di luar dirinya. Ia terlampau sibuk mengurus penataran, laporan intel, temu kader, dan upaya memaksakan sebuah stabilitas yang keras, penuh teror. Ancaman yang berperisai dua pohon paling angker: Beringin dan Cendana.

Beringin dan Cendana adalah identitas Orde Baru, representasi sebuah nafsu kekuasaan untuk mengeruk dan menguras. Mengeruk keuntungan ekonomis, menguras habis keragaman pilihan-pilihan politik. Keduanya adalah ikon dari sebuah rezim politik yang memusatkan seluruh energinya pada upaya-upaya untuk mengontrol dan memaksa. Keduanya secara mutual bersimbiosa, saling membesarkan, saling melindungi, tak bisa dipisahkan. Mendongkel yang satu akan merobohkan yang lain. Bahkan mungkin sampai hari ini.

Orang mengenal Beringin sebagai lambang sebuah kelompok politik, yang lebih dari tiga dekade telah menjadikan pemilu melulu sebagai ritus politik biaya tinggi, tanpa memiliki hubungan signifikan dengan demokrasi. Di baliknya orang tahu hanya ada doktrin kepatuhan, manipulasi, birokrasi yang buncit, dan warna kuning (bahkan untuk pohon, alun-alun dan taplak meja). Golkar telah menjadikan politik, meminjam prediksi pahit Hegel tentang sejarah, sebagai talenan di atas apa kesejahteraan negara, keutamaan pribadi, dan nasib orang-orang baik terus dan terus dikorbankan. Seluruh tatakrama politik negara modern, masuk tong sampah.

Cendana adalah simbol kekuasaan yang telah menjadi demikian personal. Dunia mengenalnya sebagai tempat beraduknya urusan politik negara, bisnis, militer, dan dapur keluarga Soeharto. Akibatnya, politik jadi selalu tampak kotor. Putusan-putusan penting kenegaraan (kita mengenalnya sebagai Keppres) lahir dan melembaga dari ruang tamu rumah pribadi presiden. Setiap taklimat yang diputuskan niscaya rentan omelan anak-istrinya. Karena itu, dengan mudah orang bisa membuat tafsir mutakhir atas salah satu pasal UUD’45: “Bumi, air, dan seluruh isinya dikuasai oleh, Cendana”.

Mei 1998, orang kemudian melihat tanda sebuah kuasa yang udzur. Sejarah perih yang musti segera tumbang. Selanjutnya adalah geram, dan api menghanguskan kota, melingsutkan nyali, mewajibkan lagi Siskamling. Ketika kekuasaan congkak berhadapan dengan senja, kelimun rakyat turun ke jalan berteriak, “Bang-bang-tut, masak kolang-kaling”. Orde baru dipungkas oleh hujatan, “Tommy, Bambang, Tutut, bapaknya raja maling.” Setelah itu segalanya berlangsung begitu cepat. Rezim tua itu akhirnya, gempa.


Pernah dimuat pada tabloid Adil, Jakarta, Mei 1998