Ekonomi Tsunami dan Lenonisme

Sosiologi


Share

“Blog

Museum Tsunami, Kota Banda Aceh. Foto oleh: Julianto Saputra (https://unsplash.com/photos/8Z0Q_K8I7Tc)


Hamburan informasi (visual, tekstual, dan audio) tentang bencana tsunami belakangan ini memberi impresi seolah sejarah Aceh sedang hendak ditulis ulang. Pekabaran media massa tentang tragedi ini benar-benar melahirkan horor di setiap kepala. Aceh kini mengalami sebuah disrupsi besar-besaran dalam seluruh dimensi. Begitu banyak korban, demikian banyak soal rumit yang harus diselesaikan. Puluhan ribu orang meninggal dalam hitungan hari, dan kemungkinan ribuan lain menyusul akibat komplikasi penyakit yang menyertai bencana tesebut.

Tidak kalah mengerikannya adalah kemungkinan lenyapnya eksistensi ribuan orang lain yang secara fisikal justru masih hidup. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan seluruh dokumen bukti resmi eksistensi sosialnya yang diakui oleh negara. Banjir telah menghempaskan seluruh bukti itu bersama mayat dan runtuhan bangunan. Kegetiran warga Aceh pasti akan berlangsung jauh lebih lama. Tapi setelah bencana reda dan orang ramai berhenti mengulurkan derma, hidup normal harus kembali dimulai hampir dari nol.

Tentu saja banyak pihak yang berperan dalam normalisasi Aceh. Di sana kita akan melihat pertaruhan segala bentuk kepentingan dari sembarang orang atau kelompok. Karena itu penting untuk dicermati sejak sekarang, apakah Aceh (baru) yang kelak dibangun akan melayani kepentingan warganya, ataukah ia lebih banyak dijadikan lahan rebutan bisnis baru oleh orang-orang yang justru tidak pernah mengalami penderitaan akibat bencana.

Ekonomi Tsunami

Rekonstruksi fisik dan sosial Aceh pasti membutuhkan biaya dan tenaga yang luar biasa besar. Sebelum ari mata tandas dan kematian dihitung dengan rapi, Aceh dan sekitarnya berubah menjadi sebuah situs yang menjadi pusat perhatian internasional. Internasionalisasi kasus Aceh berlangsung paling tidak pada dua tingkat.

Pertama pada tingkat isu, sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa bencana tsunami samudra Hindia sekarang telah menjadi sebuah isu internasional, dan karena Aceh mengalami kerusakan paling parah, sebagian besar perhatian dunia pun tertuju ke sana. Kedua, berhubungan erat dengan yang pertama, seperti di banyak tempat lain yang mengalami kerusakan besar, akibat perang atau bencana alam, sampai beberapa bulan ke depan Aceh telah dan akan terus didatangi oleh beragam manusia dari banyak tempat di dunia, mulai dari para aktivis kemanusiaan sampai para pelaku bisnis yang jeli memanfaatkan peluang.

Proses rekonstruksinya sendiri pasti merupakan sebuah proyek pembangunan berskala besar. Di lain pihak, kedatangan para warga internasional seperti para relawan, petugas PBB dan badan kemanusian internasional lainnya, selain patut disambut gembira juga perlu dipikirkan beberapa konsekwensinya yang tidak terduga. Sebab semakin banyak orang dari lingkungan internasional (termasuk Jakarta) datang dan menetap (untuk sementara) di Aceh, itu akan mendorong lahirnya kebutuhan baru yang tidak bisa ditopang oleh infrastruktur ekonomi daerah korban bencana.

Konkretnya, dalam beberapa waktu dekat ke depan, di Banda Aceh atau tempat lain di sekitarnya kemungkinan akan muncul beragam aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan banyak aspek dari proses rekonstruksi tadi. Secara tentatif kita mungkin bisa menyebut itu sebagai ekonomi tsunami. Artinya, ekonomi yang berputar melayani segala jenis kebutuhan yang berkaitan dengan proses normalisasi akibat bencana tsunami. Ia bisa berbentuk penyediaan bahan-bahan pembanguan fisik sampai kebutuhan hidup sehari-hari warga internasional yang terlibat di dalam proyek pembangunan kembali Aceh.

Bisa dipastikan akan banyak pihak yang berinvestasi di sektor tersebut. Bukan hanya dalam proyek pembangunan fisik, tapi juga pada sektor konsumsi untuk warga internasional tadi. Tidak pula tertutup kemungkinan bahwa dolar Amerika akan menjadi salah satu alat transaksi yang digunakan dalam eknomi tersebut. Resikonya, akan muncul segregasi ekonomi konsumsi antara warga korban bencana dan mereka yang justru datang bermaksud membantunya.

Tampaknya kita memang menghadapi dilema yang benar-benar pelik: di satu sisi kita butuh bantuan semua pihak (termasuk dari lingkungan internasional) untuk membangun kembali Aceh dari kehancuran, tapi pada sisi yang lain dan di saat yang bersamaan, kita tidak ingin melihat saudara kita di sana menanggung beban sosial dan psikologis tambahan. Ekonomi tsunami mungkin memang berkah bagi para pelakunya, tapi ia juga bisa berubah menjadi serapah kecemburuan bagi warga setempat.

Lenonisme

Kalau pun masih ada sisi baik dari prahara tsunami di Aceh, itu adalah munculnya solidaritas yang tidak terbayangkan sebelumnya. Aksi-aksi penggalangan bantuan berlangsung bahkan sampai unit terkecil asosiasi sosial masyarakat kita seperti rukun tetangga bahkan perkumpulan ibu-ibu arisan. Dalam bahasa para teoritisi sosial Amerika, ini adalah modal sosial yang tidak kalah penting daripada modal ekonomi untuk kembali membangun Aceh. Sekilas kita akan lupa bahwa negeri ini belum sepenuhnya lepas dari krisis ekonomi.

Bencana ini jelas bukan hanya telah menghancurkan Aceh tapi juga melumatkan bongkah keangkuhan dan ketidakpedulian kita kepada sesama. Tampaknya, kesadaran bahwa kita tidak berdaya menghadapi kemurkaan alam membuat kita merasa perlu untuk menggalang kebersamaan. Ini sangat kontras dengan prilaku sehari-hari kita di jalan raya, di kantor, atau di kompleks-kompleks perumahan. Singkatnya, Aceh telah menyatukan kita bukan lagi sebagai bangsa melainkan umat manusia.

Melebihi jelajah ruang prahara tsunami, gelombang kepedulian manusia atas penderitaan sesamanya ternyata menyebar demikian cepat ke mana-mana. Kepedulian mengalir hampir dari seluruh dunia. Kalau bangsa bisa diandaikan, dalam bahasa Anderson, sebagai sebuah komunitas terbayang, komunitas itu kini didirikan oleh begitu banyak manusia dari rentang geografis dan geopolitik yang demikian luas, dan ragam lingua yang tak berbatas. Ia tidak tertopang lagi oleh sebuah unit partikular yang secara nostalgis kita sebut nation dan derivasi imajinernya yang lain yang kita sebut nasionalisme.

Segera setelah bencana terjadi, situs terkemuka Amazon.com, misalnya, berinisiatif mengumpulkan sumbangan secara online yang akan disalurkan melalui Palang Merah Amerika. Sampai kamis, 30 desember 2004, situs ini telah mengumpulkan 5,7 juta dolar dari 91.000 donasi. Perusahaan Starbuck Corp telah menyumbangkan dana 100.000 dolar Amerika melalui LSM CARE Internasional dan Oxfam Inggris. Mulai bulan Januari 2005 ini, perusahaan ini juga akan menyisihkan 2 dolar untuk setiap pound kopi Sumatra, Sumatra Decaf dan Aged Sumatra yang terjual di jaringan kedai-kedainya di seluruh dunia.

Beberapa perusahaan penerbangan juga memberikan tiket gratis bagi para pekerja sukarelawan ke Aceh. Bill Gates melalui Gates & Melinda Foundation telah mengeluarkan 3 juta dolar, sedangkan perusahaannya, Microsoft, melalui cabang-cabangnya di Indonesia, Thailand, India dan Srilangka juga menggalang kerjasama dengan lembaga-lembaga kemanusiaan dunia. Ratusan perusahaan lain, besar dan kecil, juga menggalang aksi kepedulian yang sama. Ini belum termasuk aksi-aksi penggalangan bantuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh penting dunia sekelas Bill Clinton, dan aksi-aksi kecil yang dilakukan ribuan bahkan mungkin jutaan individu di seluruh dunia. Tsunami telah menjadi sebuah idiom yang begitu keras mengundang keprihatinan global, sampai beberapa narapidana di Perancis konon juga berinisiatif mengumpulkan sumbangan.

Apa yang hilang dari hirukpikuk kesibukan dunia menggalang bantuan untuk korban tsunami adalah purbasangka berbasis ras, budaya, etnik, agama, bahasa, nasionalitas bahkan sejarah. Kasus Aceh telah membetot kita untuk kembali memikirkan beberapa pertanyaan penting dalam hidup kita hari-hari ke depan. Apakah Aceh, misanya, hanya harus diperlakukan semata bagian dari sebuah entitas yang kita kenal sebagai bangsa, sehingga cara-cara penyelesaian yang kita pilih pun sebatas dalam kerangka solidaritas berbangsa?

Ini adalah sebuah momen yang sangat krusial, karena perasaan senasib sebagai bangsa kembali menguat sejajar dengan menguatnya kesadaran sebagai warga global. Pasca prahara tsunami sebagian orang mungkin akan kembali diingatkan pada utopia Lenonisme: imajinasi tentang nihilnya negeri, bangsa, agama dan hak milik pribadi.

Jakarta, 16 Januari 2005

Pernah dimuat Koran Tempo, 5 Februari 2005