Menimbang Amien Rais

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Katakanlah Gus Dur dijatuhkan tahun ini. Setelah itu apa? Siapa menyusul? Selain Mega jadi presiden, satu jawaban lain yang mungkin adalah: menurunkan Amien Rais! Mengapa tidak? Bukankah soal turun menurunkan adalah hal biasa dalam demokrasi, seolah demokrasi melulu soal kebebasan gonta-ganti pejabat!

Beberapa alasan masuk akal dengan mudah bisa diajukan:

Pertama, kualitas dan kapasitas personal Amien jelas-jelas tidak lebih baik dari Harmoko. Malah mungkin lebih buruk. Tapi ada hal yang menyatukan keduanya: royal mengumbar diksi bombastis dalam komunikasi politik. Apakah MPR hanya akan jadi pelembagaan bombasme?

Kedua, Amien memiliki riwayat tingkah laku politik yang senantiasa menempatkan Megawati dalam posisi rawan. Kemarin menjegal, hari ini menyanjung, dan besok menjungkalkan. Soal inkonsistensi ia sepenuhnya sama dengan siapa pun yang dia kritik dengan ungkapan “esuk tele sore tempe” itu. Pujiannya pada Megawati harus diperlakukan sama dengan sanjungannya pada Gus Dur dua tahun lalu.

Ketiga, pada level kultural Amien cenderung menimbulkan kecemasan ideologis bagi masyarakat non muslim. Bagi sebagian orang, bolehjadi ia bisa dikategorikan sebagai muslim neokonservatif. Antropolog Cliford Geertz, misalnya, melihat Amien bukan sosok yang tepat untuk masa depan masyarakat-bangsa yang heterogen ini.

Yang tidak kalah pentingnya, Amien perlu dimundurkan demi rasa keadilan masyarakat. Ia dan Gus Dur sama-sama produk konspirasi politik dari sebuah proses pseudo demokrasi. Dengan hanya 11% suara di DPR Gus Dur adalah presiden tiban. Lantas apa artinya 7% suara milik Amien? Seluruh misinya di dunia sudah harus berakhir dengan jatuhnya Gus Dur. Siapa tahu ini cara termurah dan paling sopan meredam kemarahan pendukung Gus Dur. Biarlah ia dikenang sebagai si pemberani yang terlampau bernafsu.

Sejarah memang selalu memiliki cadangan para pemberani yang berakhir tragis.

Jakarta, 13 April 2001