Pers (Bukan) Cermin Realitas!?

Artikel MiniKata, Koran Cepat Detik



“Blog

Analogi pers semata cermin realitas tampaknya sudah harus mulai ditinggalkan. Bukan saja karena ia sudah ketinggalan zaman, melainkan juga karena pada dasarnya ia didasarkan pada asumsi yang kini sulit dipertahankan. Analogi di atas mengandaikan adanya garis pemisah yang tegas antara realitas kehidupan sehari-hari dengan media yang hanya memantulkannya kembali kepada wilayah kognisi khalayak luas. Soalnya adalah apakah batas seperti itu benar-benar ada?

Untuk sekarang, peertanyaannya adalah apakah media hanya entitas yang pasif dan objektif belaka tanpa kesanggupan untuk mempengaruhi atau bahkan membentuk realitas baru? Jika demikian, lantas untuk apa orang banyak mengeluarkan modal pada sektor media untuk mempromosikan produk dalam industri ekonomi atau para kandidat pada pemilihan umum dalam industri politik? Faktanya media-media bertiras besar lebih dari separuhnya ditopang oleh pembiayaan dari pemasangan berbagai jenis iklan. Lantas tidakah media juga mewakili kepentingan modal para pemiliknya? Kalau para pemodal ini tidak meraup untung besar, surat-surat kabar itu semua pasti sudah gulung tikar sejak sebelum kapitalisme digital menghancurkan bisnis-bisnis media cetak di seluruh dunia.

Problem lebih serius muncul karena asumsi tadi memiliki konsekwensi filosofis yang berbahaya. Analogi di atas seolah memaksakan satu pemahaman pada kita bahwa media bebas kepentingan dalam dirinya sendiri, karena yang disampaikannya semata-mata merefleksikan realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Analogi semacam itu hanya tepat diberlakukan pada konteks awal-awal pertumbuhan media independen pada abad ke-17 di Eropa sebelum semuanya dikelola menjadi industri dengan modal raksasa seperti sekarang. Tapi era tersebut sudah lama sekali lewat. Sekarang media adalah soal kepentingan bisnis, sebagiannya dalam skala gigantik sedunia. Maka ungkapan pers cermin realitas bukanlah sebuah ungkapan nirkepentingan. Ia secara sengaja terus direproduksi agar masyarakat dapat terus memelihara kepercayaan kepada ideal-ideal publikasi media seperti ketika sedia kala ia diterbitkan berabad-abad lalu.

Dengan cara seperti itu, tanpa disadari, ia akan menggeser posisi kategoris media massa menjadi satu bentuk instansi di luar atau bahkan di atas seluruh institusi lain dan publik yang membentuk dunia sosial. Ia lantas akan menempati posisi tidak pernah salah. The media can do no wrong. Kebiasaan mengutip perumpamaan “buruk muka cermin dibelah” untuk menangkis gugatan publik, jelas memperlihatkan kecenderungan itu. Jika demikian, pantaskah pers menjadi pilar keempat demokrasi?

Faktanya pers memang bukan sekedar cermin dari melainkan juga pembentuk realitas. Ia bukan hanya menyampaikan kabar tentang tapi juga bisa menciptakan peristiwa. Dalam kehidupan di kota-kota besar di era postmodern sekarang semakin banyak peristiwa yang terjadi yang awalnya bersumber dari media. Ahli-ahli sosial mutakhir, misalnya, bahkan melihat kehidupan sehari-hari sebagai sebuah layar mahalebar tempat realitas-realitas dalam media dipantulkan kembali menjadi prilaku masyarakat. Bukan pers yang jadi cermin tapi justru realitas masyarakat yang hanya jadi cermin tempat kajadian-kejadian dalam media memantul kembali. Terus-menerus. Kehidupan mewah dalam sinetron-sinetron televisi itu sama sekali tidak merefleksikan kenyataan hidup masyarakat Indonesia, tapi lambat laun ia menjadi semacam acuan untuk gaya hidup orang-orang kaya di perkotaan. Hidup mereka adalah hidup seperti yang tampil dalam drama-drama berkualitas buruk di tv-tv kita, bukan sebaliknya. Setelah itu relasinya bersifat bolak-balik, saling mengacu.

Kapital dan teknologi memang telah membuat pelbagai asumsi dan logika tradisional jungkir balik. Tapi ada satu hal yang tetap: segala hal bisa keliru. Termasuk pers. Kalau argumen pers sebagai cermin realitas terus dipertahankan, orang akan dengan mudah membalik logika menjadi “buruk cermin muka dibelah”. Padahal sekarang justru pers itulah muka yang setiap hari tercermin dalam hidup dan gaya hidup masyarakat.

Jakarta, 20 Mei 2001

Versi awal artikel pendek ini pernah dimuat di salah satu edisi Koran Cepat Detik. Dimuat kembali di sini dengan beberapa perbaikan dan sedikit tambahan di sana-sini.


BACA JUGA

Sosiologi | Budaya

Mudik: Konsumsi dan Nostalgia