Luther, Huruf, Kertas, dan Datasphere

Sosiologi, Teknologi



Share


“Blog

“Adalah satu misteri bagiku, Tuan!” tulis Dr. Martin Luther dalam suratnya kepada Sri Paus, “bagaimana tesis hamba….tersebar ke seantero tempat. Padahal itu merupakan ciri eksklusif bagi lingkaran akademis kita, di sini. Tesis itu ditulis dalam bahasa yang sulit dipahami oleh orang-orang awam”. Luther benar dalam satu hal, tapi ia melupakan hal lain bahwa di luar gereja orang sudah mulai mengenal buku-buku cetakan. Apa yang dilupakan Luther, seperti ditunjukkan oleh Neil Postman dalam Technopoly, adalah soal portabilitas buku-buku yang dicetak. Maka meskipun tesisnya ditulis dalam bahasa Latin akademis, dengan mudah ia bisa disebarkan ke seluruh Jerman atau negeri lainnya melalui mesin cetak, dan lantas diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti. Kelak, ketika Luther mempimpin gerakan Reformasi Protestantisme terhadap gereja, ia menularkan ide-ide, pidato-pidatonya, juga ke dalam pamflet yang dicetak untuk disebar ke mana-mana agar dibaca banyak orang.



Konon ada orang yang percaya bahwa format peradaban kita sekarang antara lain bermula dari dua perkara sepele: kompas dan teknik cetak. Tapi ceritanya memang tidak sesederhana itu. Dua perkakas tersebut adalah wakil dari sebuah proses sejarah yang membengkak, dan lantas pecah berantakan menghantam ke sana-sini, menikam tradisi dan meluruhkan banyak dogma. Yakni, ketika apa yang disebut sebagai proses rasionalisasi menemukan perangkat konkret untuk memperlihatkan diri.

Kompas adalah pantulan langsung dari gairah mausia untuk mengatasi keterbatasan gerak. Ia adalah penerus mata untuk tempat-tempat yang justru tak tertembus di balik horison. Kata sahibul, orang Cinalah yang pertama kali menyadari keberadaan magnet bumi, sebelum para pelaut Mediterania menerapkan konsep tersebut untuk membantu pelayaran mereka. Orang-orang Eropa lain kemudian memanfaatkannya untuk pelbagai kepentingan ekonomi dan militer.

Sementara teknik cetak adalah eskalasi semangat manusia untuk mengenal huruf dan menghormati kertas secara lebih luas. Karena semula, huruf dan kertas adalah simbol dari sebuah kelas atas dalam hampir seluruh masyarakat manusia. Di Yunani atau Cina, juga di Nusantara saya kira, tradisi baca-tulis adalah sejenis mukjizat yang tak sembarang orang sanggup memilikinya. Membaca dan menulis adalah sebuah kerja luhur spiritual (opus spirituale). Terutama karena untuk menguasainya, orang akan butuh hal langka lainnya: waktu senggang dan modal. Seorang Antropolog Perancis, Levis Strauss, mencatat bagaimana dalam suku-suku “primitif” orang-orang yang menguasai tulis-baca dikagumi bahkan dipuja bagai dewa.

Tapi manusia memang tak pantas menyandang wibawa auratik para dewa. Sejak Gutenberg menyempurnakan mesin ketik portabel pada dekade 1440an, perlahan-lahan teknik cetak mulai melucuti wibawa dewa dari manusia. Pada permulaan abad 17 di Eropa, sebuah lingkungan informasi yang sama sekali baru telah tercipa oleh teknik cetak. Astronomi, anatomi, dan fisika bisa dipelajari siapa pun yang bisa membaca. Bentuk-bentuk kesusasteraan baru, seperti novel dan esai-esai personal, juga mulai muncul. Tafsir kalimat Tuhan dalam kitab suci tak lagi dimonopoli oleh sebuah lingkaran dalam gereja.

Teknik cetak telah mengantarkan kita pada sebuah zaman demokratisasi tulis-baca. Ini artinya, membaca dan menulis telah mengalami desakralisasi menjadi teknologi, menjadi pekerjaan kasar belaka (opus manuale). Kemudian munculah institusi-institusi baru seperti sekolah dan pemerintahan perwakilan. Juga konsepsi baru tentang pengetahuan dan intelegensia, serta peningkatan rasa hormat atas rasio dan privasi, dan bentuk-bentuk ekonomi baru. Pada level yang lain munculnya liberalisasi informasi ini kemudian semakin memperkuat dorongan bagi munculnya borjuasi dan proses industrialisasi.

Masyarakat Eropa membutuhkan lebih dari 200 tahun untuk menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi baru yang tercipta oleh ledakan informasi tersebut. Kini kita hidup di zaman yang lain, sebuah zaman ketika bukan hanya wibawa para dewa yang telah dilupakan, melainkan juga sebuah sejarah yang nyaris secara total ditentukan oleh informasi. Sekarang ke dalam datasphere, kalau menulis tesis, saya bisa memuatnya dalam homepage pribadi, dan seketika ia akan menyebar ke seluruh dunia. Bukan hanya dibaca, melainkan dikomentari, didiskusikan, dipuji atau dilecehkan sama sekali. Semuanya berlangsung dalam hitungan jam bahkan detik. Seorang bocah di AS, bisa menyampaikan sikap tidak setujunya atas pidato Bill Clinton di Jepang, persis ketika pidatonya sendiri belum selesai, langsung ke Gedung Putih melaui komputer di kamarnya.

Ini, tentu saja, akan melahirkan banyak institusi bahkan norma-norma baru. Kalau teknik cetak telah mendorong makin luasnya pembentukan institusi pendidikan seperti sekolah, misalnya, maka di zaman internet orang justru akan dihadapkan pada pertanyaaan tentang relevansi sekolah model klasikal, ketika informasi berbiak seperti CocaCola: bisa dilahap siapa, kapan dan di mana saja. Padahal, ilmu tidak lain adalah resultante antara akses pada iformasi dan usaha-usaha keras untuk mengujinya ketika berbenturan dengan kenyataan. Kalau informasi telah menjadi CocaCola, maka deretan panjang gelar akademis akan menjadi tumpukan sampah yang baru.

Bersama proses tersebut, mereka juga dilanda pelbagai kecemasan yang semula tidak dikenal. Bagaimana, misalnya, masyarakat Barat harus siap menerima sebuah world view baru yang, antara lain, melihat sejarah bukan sebagai garis lurus penghubung antara awal dan akhir. Bahwa proses sejarah yang satu bukan hanya merupakan persiapan untuk proses berikutnya, melainkan bisa saja tumpang-tindih. Kecemasan lain: sejak dominannya budaya audio-visual, tingkat literasi masyarakat AS konon terus menerus mengalami penurunan. Sebab banyak anak yang merasa tak perlu membaca untuk tahu dunia, melainkan cukup hanya mendegar dan melihat TV. Karena itu, TV sering dituduh seolah mengembalikan kita ke zaman tradisi lisan.

Tak seperti TV, internet justru mewajibkan orang padai membaca, bukan hanya menggeser-geser mouse, dan menonton monitor komputer. Tak bisa membaca adalah awal kesesatan di pasar bebas informasi. Masalahnya adalah bagaimana menginstitusionalisasikan pelbagai aktivitas yang saat ini masih terkesan centangperenang itu. Bagaimana, misalnya, melembagakan norma dana nilai-nilai baru yang saat ini mulai dianut orang sedunia dalam internet? Atau bagaimana membentuk lembaga-lembaga perekonomian yang responsif terhadap sumber informasi yang datang sejuta kali lebih cepat dari sebelumnya. Dominasi media cetak mungkin memang sudah waktunya mulai pudar bersamaan dengan makin susutnya hutan di bumi. Ia telah memakan terlalu banyak biaya. Tapi kita toh tidak harus jadi buta huruf hanya karena kertas akan banyak diganti oleh layar monitor. Ayam bisa mati di lumbung padi, kita tidak harus bernasib malang di lumbung informasi. Mungkin masih akan ada misteri lain.

MajalaH INFO KOMPUTER Internet, Vol. I. No. 9. Edisi 15 oktober – 15 November 1997.