Technotopia

Digital, Ruang, Rupa, dan Kuasa: Cerita-cerita Ringan tentang Kamera

Sosiologi



Share


Blog Picture

Mereka yang terlampau antusias cenderung hanya tertarik pada aspek-aspek yang paling bombastis dari perkembangan teknologi digital, dan dari sana berkembang sejumlah mitos yang sebagiannya bermula dari riuh rendah pemasaran (marketing hype) belaka: bahwa internet telah membuka ruang bagi demokratisasi pengetahuan karena informasi semakin mudah diakses dan setiap orang bisa menjadi penerbit gagasannya sendiri, seolah informasi saja cukup untuk membangun pengetahuan, dan kalau sudah bisa menerbitkannya sendiri gagasan itu otomatis akan dibaca dan dianggap penting oleh khalayak luas; ekonomi digital akan menghapuskan kesenjangan, seolah-olah dunia digital tidak pernah memproduksi hierarki sosial dan ekonomisnya sendiri; buku-buku digital dalam iPad atau Kindle akan menyelematkan jutaan hektar hutan tropis, seolah-olah hutan di dunia akan habis hanya dipakai untuk mencetak buku, dan dengan menghilangkan keharusan mencetak buku pada kertas selamatlah hutan-hutan itu, dst. Ketika keajaiban semakin sering diambil oleh sain dan teknik, sebagian dari kita memang memiliki kecenderungan malang untuk melihat teknologi dari kacamata mesianisme seperti itu.

Read More…

Bill Gates dan Burung Hantu dalam Lingkungan Informasi Baru


“Blog

Bermacam-macam perubahan radikal yang kita saksikan belakangan ini bukan hanya hadir sebagai sesuatu yang mengejutkan, tapi juga menghasilkan teror di setiap kepala, yang berpikir atau yang tidak. Bagaimana, misalnya, menjelaskan tentang ringgit, dolar Singapura dan rupiah yang nyaris lumpuh oleh sebab-sebab yang sebagian besarnya hanya berlangsung di layar monitor komputer? Lantas mengapa seluruh dunia begitu murung mendengar kabar kematian Lady Diana Minggu, 31 Agustus 1997 lalu? Rasa kehilangan atas seorang aktivis-selebritis seperti Diana nyatanya jauh lebih suram daripada rasa kehilangan kita saat wafatnya seorang aktivis-spiritual sekelas Bunda Theresia seminggu kemudian. Dunia yang begitu kukuh ditopang oleh sain dan teknik tinggi ini telah membawa kita pada sebuah jeram, penuh guncangan, soal-soal yang tak selalu mudah dipahami.

Read More…

Cogito Orgasmus, Coito Ergo Sum. Dari Mimpi Descartes sampai Para Pemburu Bidadari Surga

Esai Plesetan tentang Mimpi dan Descartes. Dimuat majalah Matra, Desember 1996


Share


“Blog

Apa yang berharga dari sebuah mimpi? Martin Luther King Jr. disanjung orang antara lain juga karena ia bisa mengukuhkan sebuah mimpi menjadi itikad yang begitu keras, dan gelombang pengikut yang bergelora. Ia bermimpi tentang tumbuhnya Amerika Serikat yang lebih toleran, yang tidak melihat dosa manusia melulu dari warna kulit. Walaupun King mati sambil mendekap mimpinya yang berantakan,--karena AS sampai kini tetap menjadi salah satu negeri rasialis terbesar--toh penghormatan orang tidak lantas berkurang karenanya. Meskipun dalam pidatonya ia mengatakan bahwa “semalam ia bermimpi”, tapi mimpi King kemungkinan bukanlah apa yang sering disebut “kembang tidur”, melainkan sebuah kiasan untuk tekad atau harapan tentang masa depan yang letaknya tidak musti selalu jauh. Kita, di sini, sampai ini hari, biasa menyebut mimpi-mimpi yang langsung terkait atau tidak--artinya sengaja dikait-kaitkan--dengan sebuah realitas di luar tidur itu sebagai cita-cita. Tapi ia juga bisa berarti wangsit atau ilham.

Read More…

Dataveillance: SIN dan Kebebasan Individu

Sosiologi, Politik


“Blog

Almarhum filsuf utilitarian Inggris abad ke-18, Jeremy Bentham, tiba-tiba saja jadi penasihat presiden Susiolo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menghadapi korupsi di Indonesia. Kita semua tahu bahwa perang melawan korupsi kini mulai memasuki babak baru. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sekarang tampak begitu perkasa. Ia diberi otoritas bahkan untuk menyadap percakapan telepon. Akibat sertamertanya terkesan lucu bahkan moronik, ketika konon banyak anggota dewan legislatif yang ramai-ramai mengganti nomor telepon selulernya, seolah dengan cara itu mereka akan bisa lepas dari pengawasan.

Read More…

Ketika Informasi Menjadi Nonsense

Teknologi



Share

“Blog

Ketika semua orang ditelikung rasa takut oleh ancaman AIDS, Bill Gates-lah yang seharusnya paling bertanggungjawab, bukan para pekerja seks atau kaum homoseksual. Ceritanya bisa dimulai dari mana saja.

Read More…

Anak dan Pasar, dan Analogi dalam Politik Kita Itu

Sosiologi, Politik

“Blog

Gibran, penyair romantik dari awal abad ke-20 itu, kita tahu, pernah menulis tentang anak. Bagi saya yang tidak tekun membacanya, kata-kata Gibran sering terasa lebih mirip parabel atau, kalau bukan itu, sebut saja alegori sentimentil. Menyayat sesaat kadang menggugat di lain tempat, tapi tak cukup kuat untuk mengguncang. Mungkin, karena ia hidup dalam lingkungan yang tak banyak dikotori bau ompol, dan rengekan tengah malam yang bikin kesal. Pria kelahiran Bishari, bagian utara Lebanon, ini sebenarnya lebih suka mengaku dirinya seorang pelukis. Karya penulisannya cukup popular dan banyak terjual, termasuk di Indonesia sampai dekade 1990an, tapi tidak pernah benar-benar disambut hangat atau dianggap serius oleh kalangan kritikus sastra. Tapi sampai hari ini, sepotong kalimatnya, “anakmu bukan anakmu, tapi anak sang Mahahidup”, itu tak pernah gagal menghadirkan gema. Orang banyak mengenang itu dengan hati penuh takjub. Di Indonesia kalimat ini cukup sering dikutip menjadi sejenis inspirasi untuk banyak soal. Mungkin hanya karena ia terdengar begitu tak galib di telinga. Waktu itu.

Read More…

Anak dan Internet

Sosiologi, Teknologi



“Blog

Anak dan internet adalah perpaduan yang paling mengagumkan. Keduanya memiliki satu persamaan: peradaban yang baru. Anak-anak dalam sekejap akan menjadi dewasa. Internet sebentar lagi akan bermutasi menjadi bentuk-bentuk yang lebih rumit tapi juga makin lengkap. Seperti anak Anda yang sebentar lagi besar, internet besok lusa pasti tidak hanya akan berhenti dalam persaingan Netscape versus Microsoft. Bedanya, anak tumbuh ke arah sebuah format fisik yang relatif bisa ditebak, sedangkan internet justru belum lagi terduga masa depannya.

Read More…

Cyberspace, Database dan Surveillance: Pemetaan Teoritis Awal

Sosiologi



Share


“Blog

Narasi tentang Internet dalam Ilmu Sosial

Secara sederhana, internet mungkin bisa dipahami pertama-tama sebagai sebuah cara atau metode untuk mentransmisikan bit-bit data atau informasi dari satu komputer ke komputer lain dari satu lokasi ke lokasi lain di seluruh dunia. Arsitektur internet menyediakan beberapa teknologi pengelolaan data digital sehingga informasi-informasi yang dikirim tersebut bisa dipecah menjadi beberapa paket, lantas dikirim melintasi jaringan antar komputer, dan akhirnya ditata ulang oleh komputer penerima. Semua jenis informasi pada prinsipnya akan diperlakukan sama dalam arti bahwa bit-bit tersebut akan dikirim dengan cara yang sama tidak peduli apakah itu merupakan representasi teks, audio, gambar, atau video.[1] Bolehjadi karena itu pula banyak orang yang menganggap internet sebagai teknologi bersifat netral.

Read More…

Jawa

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Berbahagiakah orang Jawa dengan kehadiran teknologi internet? Tidakah melalui world wide web mereka bisa mendapatkan tafsir paling mutakhir atas Sumpah Palapa Gajah Mada? Sebuah sumpah yang ingin menghimpun rempah-ruah ranah budaya manusia, dari Trowulan sampai Campa, itu di bawah sebuah pusat wubawa kekuasaan. Melalui web bukan hanya Campa tapi seluruh dunia bisa dikendalikan hanya dengan sebuah layar monitor. Tak perlu berperang mengerahkan kekuatan militer, cukup mengklik link-link dan menuliskan alamat http yang, dengan serentak, akan membawa orang Jawa ke alamat mana saja yang diinginkannya. Dunia sudah berada di ujung jarinya.

Read More…

Realitas Virtual dan Makin Luruhnya Bangsa

Sosiologi, Teknologi


Share


“Blog

Masihkah kita bisa yakin dengan penataran, sementara kian hari semakin banyak kaum tua dimakamkan? Tampaknya semua orang harus mulai siap menerima dengan lapang hadirnya sebuah generasi yang dibesarkan dengan kesadaran sejarah yang, dalam pandangan kita, terlihat koyak. Bagaimana mungkin, misalnya, seorang pelajar SD di tahun 2010 masih tertarik dengan dongeng kita tentang PKI? Tak seorang pun bisa mengisi ruang peduli di hati dan pikirannya dengan rentang waktu begitu jauh. Orang seusia saya, yang lahir persis ketika dekade 1960-an akan pungkas dan masih sedikit berbau darah, misalnya, toh hanya bisa mengenang para jenderal yang dikuburkan dalam keprihatinan riuhrendah itu, tanpa dendam dan keharusan untuk hidup dalam suasana hati (dan politik tentu saja) yang sama dengan orang-orang sebelum kami. Padahal kami tak cukup beruntung untuk tumbuh dan besar bersama meledaknya revolusi teknologi informasi sampai melahirkan komunitas-komunitas virtual seperti sekarang. Dan kini, kami adalah generasi baru orang tua yang gembira membagi waktu dengan pelbagai media untuk membesarkan anak-anak. Bukan semata karena kesibukan kerja kami, melainkan lebih karena saat ini kami sadar betapa sejak dalam kandungan anak-anak kami telah demikian akrab dengan media.

Read More…

Reforma(t)si

Sosiologi, Teknologi


Share


“Blog

Sejak Kamis 21 Mei 1998, ada yang harus berubah dalam ingatan kita. Kota lautan api bukan lagi Bandung, tapi Jakarta. Hari itu kita menyaksikan puncak dari segala kemelut.

Macam-macam soal beraduk, kemudian api menghanguskan semuanya. Kehalusan pekerti yang berpuluh tahun dijadikan semacam topeng untuk menutupi kelancungan, berakhir dengan serangkaian prilaku biadab dan memalukan.

Read More…

Di Balik Sebuah Perang Suci

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Empat sistem operasi komputer personal, Mac OS, DOS, OS2/Warp, dan Windows 9x saling berlomba merebut kesetiaan konsumen. Apa sebenarnya fungsi terpenting dari sebuah sistem operasi pada sebuah komputer? Mengapa begitu banyak orang membelanjakan uangnya untuk sekumpulan kode-kode program yang tak sepenuhnya bisa mereka pahami? Mengapa sekian banyak perusahaan mau menanamkan modalnya hanya untuk sebuah produk perangkat lunak? Mengapa Netscape, IBM, Apple, dan Oracle begitu sengit melihat dominasi Windows?



Read More…

Luther, Huruf, Kertas, dan Datasphere

Sosiologi, Teknologi



Share

“Blog

“Adalah satu misteri bagiku, Tuan!” tulis Dr. Martin Luther dalam suratnya kepada Sri Paus, “bagaimana tesis hamba….tersebar ke seantero tempat. Padahal itu merupakan ciri eksklusif bagi lingkaran akademis kita, di sini. Tesis itu ditulis dalam bahasa yang sulit dipahami oleh orang-orang awam”. Luther benar dalam satu hal, tapi ia melupakan hal lain bahwa di luar gereja orang sudah mulai mengenal buku-buku cetakan. Apa yang dilupakan Luther, seperti ditunjukkan oleh Neil Postman dalam Technopoly, adalah soal portabilitas buku-buku yang dicetak. Maka meskipun tesisnya ditulis dalam bahasa Latin akademis, dengan mudah ia bisa disebarkan ke seluruh Jerman atau negeri lainnya melalui mesin cetak, dan lantas diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari yang lebih mudah dimengerti. Kelak, ketika Luther mempimpin gerakan Reformasi Protestantisme terhadap gereja, ia menularkan ide-ide, pidato-pidatonya, juga ke dalam pamflet yang dicetak untuk disebar ke mana-mana agar dibaca banyak orang.


Read More…

Seniman dan Paradoks Cyberspace

Sosiologi



Blog Picture

Beruntunglah karena dunia kita masih punya seniman. Sebab salah satu kehebatan seniman adalah kesanggupannya untuk menggandakan dunia tanpa penolakan yang berarti dari orang lain. Mereka bisa menciptakan dunia baru untuk berkeluhkesah atau sekedar untuk sebentar bergembira. Itu bisa berupa sebuah dunia tempat kata tak selalu dibebani makna, seperti yang diciptakan oleh Sutardji. Mungkin karena ia tahu betul, sekeras apa pun kita berusaha merekatkan kata pada makna, yang dihasilkannya adalah kalimat-kalimat yang korup, penuh aturan dan, pada dasarnya, juga tak bermakna. Lagi pula, tidakah kebiasaan seperti itu hanya memperlihatkan bakat kita untuk jadi pemaksa yang tak kenal kata "tidak". Sementara kepahitan Sukardal jadi begitu indah dalam puisi Goenawan Muhamad, seperti Affandi yang berhasil meyakinkan mata kita bahwa matahari biru warnanya. Seorang seniman dangdut bahkan sanggup membuat orang yang dihantam alu bencana tetap bergairah bergoyang pinggul.

Read More…

Berakhirnya Era Macintosh

Mac



Share

Blog Picture

Kalau Steve Jobs bisa menepati janjinya, Januari tahun 2001 nanti para pemakai Macintosh akan mendengar berita yang sangat mengguncangkan: era Macintosh telah berakhir. Setelah Apple berusaha keras mempertahankannya selama 16 tahun, satu-satunya sistem operasi komputer yang sanggup memberikan hubungan personal di hati pemakainya itu pun sebentar lagi harus mati. Zaman terus berubah, dan Mac OS telah terus dipacu untuk menyesuaikan diri pada perubahan itu, dan terbukti ia sanggup tetap bertahan. Tapi apa boleh buat Mac OS tidak pantas dipertahankan untuk masa depan. Ia harus surut ke belakang, dan lima tahun dari sekarang ia mungkin hanya akan tinggal sebagai kenangan.

Read More…

Laporan Dari Dunia Computer Games

Games

Blog Picture

Neraka Real Time Yang Asyik

Tiba-tiba siang berangsur suram. Gelap menggidikkan. Dunia seperti tenggelam entah di mana. Yang tampak hanya sepucuk BFG 9000—senapan pembunuh paling menghancurkan. Tangan saya besar oleh otot-otot bisep dan trisep serta topangan tendon yang mengukuhkan penyatuan saya dengan BFG 9000. Kaki saya dibungkus sepatu lars dari bahan kulit terbaik, lentur dan nyaris tidak bisa rusak. Solnya terbuat dari thermoplastic polyurethane yang beberapa kali lebih kuat dari yang digunakan sepatu merek Timberland.

Seribu hantu seperti tumpah dari langit, menggerung dahsyat, menjerit, melengking parau ke udara. Angkasa yang pasi.


Read More…