Jawa

Sosiologi, Teknologi


Share


“Blog

Berbahagiakah orang Jawa dengan kehadiran teknologi internet? Tidakah melalui world wide web mereka bisa mendapatkan tafsir paling mutakhir atas Sumpah Palapa Gajah Mada? Sebuah sumpah yang ingin menghimpun rempah-ruah ranah budaya manusia, dari Trowulan sampai Campa, itu di bawah sebuah pusat wubawa kekuasaan. Melalui web bukan hanya Campa tapi seluruh dunia bisa dikendalikan hanya dengan sebuah layar monitor. Tak perlu berperang mengerahkan kekuatan militer, cukup mengklik link-link dan menuliskan alamat http yang, dengan serentak, akan membawa orang Jawa ke alamat mana saja yang diinginkannya. Dunia sudah berada di ujung jarinya.



Salah satu ciri khas orang Jawa, kata salah seorang teman saya, adalah hormatnya yang begitu tinggi pada kebesaran nama. Lantas banggakah mereka kalau tahu bahwa nama Jawa kemudian menjadi amat terkenal di seluruh bumi. Bukan oleh praktik kolonisasi seperti abad-abad silam, tapi karena Jawa telah menjadi nama sebuah bahasa pemrograman komputer yang dianggap paling hebat di internet. Persisnya memang bukan Jawa, melainkan lafal lidah penutur bahasa Inggris untuk kata yang sama: Jawa. Tapi itu semata hanya karena soal kuping saja sebenarnya. Kata “Java” yang dipakai dalam wacana bahasa pemrograman komputer, tidak lain adalah apa yang disebut oleh Denis Lombart sebagai Nusa Jawa.

Ada beberapa kemiripan antara Jawa yang memukau Lombart itu dengan Java yang diciptakan oleh orang-orang pintar di perusahaan Sun Microsystems. Keduanya kini menjadi titik penting dalam lingkup hidupnya masing-masing. Jawa adalah sebuah nama yang kompleks, karena ia merupakan representasi bukan hanya dari sebuah pulau yang memanjang mulai dari Merak sampai ke Banyuwangi, melainkan juga budaya yang rumit, dan masyarakat pendukungnya yang tersebar hampir ke seluruh dunia. Sebagian cukup besar orang Suriname jelas bukan bangsa Indonesia, tapi mereka adalah bagian yang syah dari bangsa Jawa. Dalam konteks itu, Jawa sebagai entitas bangsa bahkan lebih besar dari ke-Indonesiaan.

Java, di lain pihak, adalah nama yang begitu melambung belakangan ini, karena ia merupakan bahasa kode program komputer yang bisa menembus seluruh plarform komputer. Java tidak lain adalah Sumpah Palapa versi digital yang berorientasi universal. Kalau Gajah Mada berambisi menyeragamkan titah dan kepatuhan di bawah satu bahasa kekuasaan puncak, Majapahit, para penulis Java terobsesi oleh sebuah bahasa program yang write once run anywhere. Tujuan akhir keduanya sama saja: penyeragaman dan dominasi.

Berbahagiakan orang Jawa dengan kehadiran Java? Tidak semua. Sebab presentase orang Jawa yang bisa mengakses internet memang masih terlampau kecil. Internet di Jawa, apalagi di luar Jawa, nyatanya masih tetap merupakan bagian dari praktik hidup sebagian kecil kelas menengah terpelajar di kota-kota besar. Sebab di belakang harubiru orang yang menggunjingkannya, internet tetaplah sebuah kemewahan sosial ekonomis yang tak bisa ditukar dengan penghasilan sekali panen rata-rata petani Jawa.

Mari sejak bermain angka. Andaikan saja bahwa di setiap kecamatan telah ada Internet Service Provider (ISP) seperti target proyek Nusantara 21. Untuk mengakses internet, paling tidak seseorang harus memiliki sebuah komputer, modem, dan koneksi telepon. Untuk mudahnya, katakanlah semua itu menghabiskan dana sebesar Rp. 3, juta. Biaya ini musti ditambah lagi dengan pengeluaran bulanan untuk listrik, pulsa telepon, dan ongkos langganan di ISP. Misalkan saja rata-rata keluarga petani jawa menancapkan dirinya ke jalur internet setiap hari masing-masing 1 jam. Padahal biaya abonemen telepon di luar Jakarta sekarang sudah Rp. 18.000,- per bulan. Total biaya tersebut tentu saja mustahil bisa dipenuhi oleh mayoritas orang Jawa. Lagipula, apa informasi yang bisa mereka dapatkan dari internet dengan biaya yang begitu besar itu?

Tarip listrik yang terlalu tinggi, dan biaya operasi telepon yang terkesan tidak rasional, membuat hasrat berinternet bisa berubah menjadi frustasi berkepanjangan bagi sebagian terbesar orang Jawa dan masyarakat Indonesia umumnya saat ini. Kalau pun soal biaya bisa ditekan sekecil mungkin dengan hadirnya Warnet, misalnya, masih ada satu problem besar yang menghambat partisipasi orang Jawa dalam cyberspace. Java boleh saja menjadi bahasa program standar yang kelak akan mendominasi internet, tapi mengakses internet sampai sekarang nyatanya tidak bisa hanya bermodal bahasa Jawa. Ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuat orang Jawa mengurungkan niatnya berselancar dari situs Web yang satu ke situs yang lain. Kebanyakan orang Jawa bahkan mungkin tidak cukup tahu kalau kata “Java” adalah terjemahan Inggris untuk kata “Jawa”.

Problem bahasa di internet tentu saja bukan hanya menyulitkan orang Jawa. Sejak kelahiran sampai pertumbuhannya sekarang, dunia cyberspace memang didominasi oleh para penutur bahasa Inggris. Karena itu internet kadang-kadang juga dituduh sangat elitis bahkan rasialis. Pengembangan HTML, misalnya, tetap saja tidak bisa menjawab soal mengapa ke internet orang minimal harus mengerti bahasa Inggris. Cyberspace benar-benar dihadapkan pada sebuah dilema yang pelik. Ia memang berpotensi menciptakan sebuah lingkungan demokratis, tapi toh tetap belum bisa menghilangkan hambatan kelas sosial ekonomi, dan hirarki semantis antarbangsa dengan tegas. Katakanlah, ia malah justru menciptakan jarak pemisah digital (digital divide) antar manusia.

Karena itu, banyak pihak yang menuduh internet sebagai refleksi lain dari ketimpangan politik, sosial, dan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang. Potensi demokratisasi dihadapkan pada kecenderungan dominasi sebuah bahasa (dan bangsa) di atas bahasa-bahasa lainnya. Jika demikian, maka akan ada kecemasan baru dengan muatan lama: dominasi bahasa bisa mengantarkan kita pada bentuk-bentuk dominasi sektor-sektor hidup yang lain.

Maka bagi sebagian terbesar orang Jawa, apalagi orang luar pulau Jawa, saat ini internet memang baru tampil sebagai sejenis mitos baru—sesuatu yang membekas di wilayah kepercayaan tapi jarang termanifestasikan dalam kenyataan: Mitos tentang mudahnya komunikasi jarak jauh berbiaya murah; mitos tentang persamaan hak untuk menjadi partisipan aktif dalam menerima dan menyebarkan informasi secara berimbang. Dan mitos-mitos lain yang bagi sebagian dari kita, termasuk sejumlah kecil orang Jawa, benar-benar merupakan kenyataan sehari-hari yang menyenangkan.

Tapi jangan pernah menyepelekan mitos. Sebab ia adalah bagian yang teramat penting, yang membuat hidup tidak kering, dan keyakinan menjadi punya arti besar dalam hidup. Orang Eropa pertama kali memahami dunia secara rasional juga melaui mitologi. Karena masih berupa mitos, internet sering dipercaya sebagai sesuatu yang sanggup menyelesaikan segala soal, tapi sekaligus juga peluang untuk diganti mitos yang lain.

Hanya tinggal soal waktu, internet akan sanggup melayani lebih banyak orang dan lebih banyak bahasa manusia. Sebagian orang akan menaruh harapan pada Virtual Reality Markup Language (VRML). Sebagian yang lain berharap terjadinya penurunan biaya secara radikal, serta ambruknya monopoli Telkom. Ada juga harapan bahwa semakin banyak orang Jawa menerbitkan situs dalam bahasa Jawa, atau etnis-etnis lain dengan bahasanya masing-masing, itu akan mempersempit jarak semantis di dunia digital.

Lantas akan puaskah orang Jawa dengan pertumbuhan internet? Tapi mengapa mereka harus puas?


Majalah InfoKomputer Internet, Vol. I No. 7, 15 Agustus-15 September 1997.