Ketika Informasi Menjadi Nonsense

Teknologi



Share


“Blog

Ketika semua orang ditelikung rasa takut oleh ancaman AIDS, Bill Gates-lah yang seharusnya paling bertanggungjawab, bukan para pekerja seks atau kaum homoseksual. Ceritanya bisa dimulai dari mana saja.

Misalkan saja kita sepakat bahwa pekerjaan yang paling dibenci orang di seluruh dunia selama tahun 1997 adalah paparazzi. Saya percaya sampai abad 20 ini berakhir, tidak ada tokoh lain yang begitu dicintai seluruh umat manusia—kecuali di mata Charles dan Elizabeth II—melebihi Lady Diana. Namun tokoh paling berpengaruh di sepanjang tahun ini bukan Lady Di atau paparazzi, tetapi William. Bukan putra tertua Diana, tetapi William Henry Gates III alias Bill Gates. Dalam sejarah, Gates adalah inkarnasi paling sempurna dari nafsu para pendiri Amerika Serikat untuk selalu memperluas wilayah. Bayangkan, sekitar 300 juta unit komputer personal (PC) di seluruh dunia memakai produk Microsoft. Ini belum termasuk komputer yang dirakit sendiri oleh pemakainya. Semuanya memakai DOS, Windows 3.xx/95 atau NT. Kalau setiap PC dipakai oleh dua orang saja, misalnya, paling tidak ada lebih dari 600 juta umat manusia menggantungkan sekian banyak hal penting dalam hidupnya pada kebijaksanaan Bill Gates.

Bill Gates mungkin mirip dewa Zeus bagi para pemakai PC: putusannya menjadi anutan, kualifikasinya menjadi ideologi dan, karenanya, produknya habis terbeli. Ia membuat sistem operasi sekaligus dengan seluruh aplikasinya. Ini mirip dengan anak pejabat kita yang membuat jalan tol sekaligus jual mobil yang akan dipakai di jalur jalan tol tersebut.

Antara Diana, paparazzi dan Bill Gates bertemu oleh satu hal yang sama: informasi. Pada kasus kematian Diana, persoalan terpenting bukanlah antara privasi individu dan kebebasan pers. Pada diri Gates, yang paling pokok bukanlah kesanggupannya untuk selalu menang dalam persaingan bisnis. Gates adalah satu dari segelintir orang yang sanggup mentransformasikan sikap sebagian cukup besar manusia terhadap informasi. Sikap terhadap informasi yang sekarang cenderung overload, entah untuk apa. Ini adalah pusaran yang tampaknya membuat kita tidak lagi menyadari bahwa semua bisa berubah jadi nonsense. Bahwa antara informasi dan pengetahuan, antara kabar dan makna, ada jarak yang tidak dekat.

Jejak yang dirintis oleh para penemu telegraf dan telepon dalam mengubah informasi menjadi komoditi, itu telah mencapai salah satu puncaknya saat ini. Informasi kini menjadi barang yang ramai-ramai dievaluasi di dalam pasar, diperdagangkan tanpa harus selalu jelas kandungan maknanya. Setiap orang menjadi produsen sekaligus konsumen barang yang sama. Menjual, kemudian membelinya kembali. Melingkar-lingkar terus seperti itu. Kita seperti hidup di dalam sebuah kasino informasi, bermodal informasi untuk dapat informasi yang lebih banyak.

Kini perhatian kita tengah disedot oleh sebuah teknologi (informasi) baru: push technology atau teknologi-dorong. Secara sederhana, teknologi ini akan memungkinkan desktop komputer Anda menjadi sumber informasi yang benar-benar hidup. Bill Gates menyebutnya Active Desktop. Pada prinsipnya, komputer Anda, melalui koneksi internet, akan menjadi sebuah agregator informasi dari sekian banyak sumber di seluruh dunia, mengumpulkan dan menyajikannya di depan mata Anda. Idealnya: klik beberapa kali pada Active Desktop, dan anda akan tahu segalanya. Atau, biarkan komputer Anda memperbaharui informasi yang ada dengan update terbaru, dan otomatis menghadirkannya untuk Anda. Benar-benar hidup, sekaligus juga bisa membuat hidup tidak lagi nyaman. Kita seperti ditelikung oleh sebuah kebutuhan yang sebenarnya tidak pernah ada, terus-menerus.

Yang paling tidak menyenangkan hidup di zaman ini adalah ketika kita jadi seolah-olah punya berhala baru: informasi. Sebab begitu memasang push technology, kita akan disibukkan oleh bukan hanya data yang mungkin kita butuhkan, tapi juga oleh tumpukan sampah informasi. Padahal sekarang, tanpa teknologi tersebut pun, mereka yang keranjingan email dan mendaftar pada sekian banyak mailinglist, misalnya, sudah mulai merasakan akibatnya. Yang datang ke desktop mereka bukan hanya kabar dari orang yang kita kenal, atau tentang sesuatu yang ingin kita ketahui, melainkan juga tumpukan sampah surat-surat elektronik yang entah dari mana (junk-emails). Semuanya menyita perhatian kita untuk membaca atau membuangnya begitu saja. Memang ada software yang diklaim bisa melakukannya secara otomatis, tapi itu berarti kita harus mengeluarkan dana tambahan. Semuanya hanya untuk menghidar dari satu hal: serbuan-balik informasi yang justru selalu kita buru penuh nafsu. Informasi, dengan demikian, benar-benar menjadi teknologi yang memiliki kekuatan untuk mendorong-balik ke arah para pencarinya.

Lalu berapa sebenarnya harga informasi jika ia sudah terlampau berlimpah. Apa untungya memiliki informasi yang juga sudah diketahui oleh jutaan orang lainnya. Tidak ada. Semuanya hanya nonsense. Murahan. Sebab kita harus kembali mencari informasi lain yang lebih eksklusif, dan punya nilai kompetitif lebih tinggi. Maka justru di tengah lautan sumbernya, kita kembali dirundung problema kelangkaan informasi.

Itulah mengapa ada paparazzi yang sekaligus dicari dan dibenci pada saat yang sama di seluruh dunia saat ini. Informasi seperti foto Diana berkencan dengan para kekasihnya, misalnya, menjadi demikian melambung harganya, karena informasi yang semula dianggap lebih penting kini tersedia dalam jumlah terlampau banyak. Sekali dan selamanya, kita dipaksa menyerah pada desakan arus informasi, yang datang di luar kendali kebutuhan dan pikiran waras kita.

Seorang penulis terkenal Amerika, Neil Postman, menuduh kita kini menderita penyakit kronis: AIDS. Artinya, anti information deficiency syndrome, atau sindroma hilangnya kekebalan tubuh terhadap informasi. Seperti mereka yang terjangkit virus HIV, sekarang kita mulai kehilangan kesanggupan untuk menolak pukulan balik sejagat informasi yang terus memburu-buru kita. Putusan Bill Gates dan Barksdale dari Netscape untuk memaksa kita menggunakan push technology akan membuat serangan tersebut justru semakin sulit dikendalikan. Karena sumbernya dipasang persis di depan mata kita. Dua tokoh ini, bukan para pekerja seks komersial atau kaum homoseksual, memang paling layak dituduh sebagai penganjur gaya hidup yang rawan AIDS.


Majalah InfoKomputer Internet, Vol. I No. 10, 15 Desember 1997-15 Januari 1998.