Reforma(t)si

Sosiologi, Teknologi


Share

“Blog

Sejak Kamis 21 Mei 1998, ada yang harus berubah dalam ingatan kita. Kota lautan api bukan lagi Bandung, tapi Jakarta. Hari itu kita menyaksikan puncak dari segala kemelut.

Macam-macam soal beraduk, kemudian api menghanguskan semuanya. Kehalusan pekerti yang berpuluh tahun dijadikan semacam topeng untuk menutupi kelancungan, berakhir dengan serangkaian prilaku biadab dan memalukan.

Asap dan bunyi senapan memerihkan hati dan menguras habis seluruh potensi ruhani. Puncaknya adalah air mata dan bau daging menghangus. Setelah itu yang datang adalah antiklimaks. Sebuah kekuasaan yang begitu kukuh dan pongah, runtuh bergemuruh. Soeharto turun, dan orang-orang ramai menyebut dirinya pendukung reformasi. Seolah-olah tanpa itu, perjuangan muspro belaka.

Apa yang tertinggal bagi kita kini boleh jadi memang hanya puing. Kita yang hidup secara sadar menjauhkan diri dari hiruk-pikuk politik, akhirnya harus ikut mengusung kesulitan yang makin berat dari sehari ke sehari. Secara keseluruhan, ekonomi kita telah hancur, dan uang di kantong makin susut. Semua harus kembali dari nol. Pusat kegiatan bisnis komputer di Jakarta ambruk. Komputer kini benar-benar jadi barang paling mewah yang bahkan untuk memimpikannya sekalipun tidak mudah.



Bukan soal mudah untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Para aktivis dan ilmuwan politik, seperti biasa, hanya bisa memperlihatkan mulutnya yang berbusa kata-kata. Mereka ramai bersitegang tentang sebuah terma yang, karena terlampau sering diteriakkan, kini seperti slogan baru yang lain: reformasi. Sebagai orang yang terdidik dalam lingkungan ilmu sosial, saya sendiri tidak pernah benar-benar mendapat jawaban melegakan. Begitu banyak pihak yang merasa berkepentingan.

Biarkanlah mereka berdebata sampai kelelahan sendiri. Tidak ada penjelasan yang begitu sederhana dan memuaskan tentang reformasi, selain yang bisa diajukan oleh wacana bahasa industri komputer. Ini mungkin akan sedikit menghibur kita saat ini.

Dalam lingkungan dunia komputer, proses reformasi dengan mudah bisa kita temukan, dan hampir pasti pernah dilakukan oleh pemilik komputer mana pun. Kita melakukannya mungkin dengan hati sedikit cemas, tapi tidak pernah benar-benar terkesan mengerikan. Tidak pedulil apa platform komputer yang Anda pakai, suatu saat Anda pasti pernah melakukan itu: format ulang disket atau hard disk. Tepat! Maksud reformasi memang hanya seperti itu. Singkatnya, reformasi = reformat. Tidak kurang, tidak lebih. Tetapi jika hanya ini yang bisa kita katakan, banyak orang yang mungkin akan mencibir. Karena itu, mari kita lihat keterangannya secara rinci.

Anggap saja bahwa sebuah negara bukan lain adalah sebuah lingkungan atau ruang atau, agar lebih mengena, sebuah platform, tempat segala aktivitas berbangsa-negara bisa dilangsungkan. Negara diatur oleh sebuah sistem pemerintahan, dengan rakyat yang jadi penentu jalan atau tidaknya sistem tersebut. Antara pemerintahan dan rakyat harus berlangsung interkonektivitas yang baik, sehingga proses-proses kelangsungan hidup negara dan bangsa bisa dipertahankan. Kalau interkonektivitas itu terganggu, negara akan limbung dan, lama kelamaan, bankrut.

Dalam dunia komputer dengan mudah kita bisa temukan setiap elemen yang sama. Kita mengenal hard disk, sistem operasi, dan program-program aplikasi. Jadi komputer adalah ruang tempat sistem interkonektivitas itu berlaku. Ke dalam hard disk kita memasangkan sebuah sistem operasi seperti kumpulan warga negara memilih menggunakan sistem pemerintahan dengan presiden atau perdana menteri atau raja sebagai pimpinannya. Kita pilih Windows, DOS, atau Macintosh, seperti orang meyakini sistem monarki atau demokrasi dalam bernegara. Beberbagai fasillitas seperti Control Panel akan menyerupai para pejabat yang tugasnya membantu kelancaran tugas-tugas sistem operasi (pemerintahan).

Di luar itu, ribuan program aplikasi dan dokumen data tersebar dengan status dan fungsinya masing-masing, dan harus tunduk pada kaidah-kaidah atau aturan yang berlaku dalam sistem operasi tertentu. Ini menyerupai kebanyakan dari kita, warga negara biasa, dengan peran, fungsi dan pekerjaan masing-masing, harus tunduk pada aturan pemerintah yang berlaku. Kalau program-program aplikasi ditulis oleh programer tanpa mempedulikan kaidah-kaidah yang ada (seperti orang menulis virus komputer), atau dia telah mengalami korupsi, aplikasi-aplikasi itu bisa menimbulkan gangguan pada proses komputasi yang dilakukan seorang pemakai. Analoginya, kalau banyak orang atau pejabat tidak mematuhi kaidah hukum negara seperti melakukan korupsi atau kejahatan lain, perbuatannya akan menimbulkan gangguna pada kehidupan orang banyak.

Krisis yang menimpa negara Orde baru, bolehjadi bisa dilihat seperti kalau komputer Anda mulai sering ngadat, hang, sering muncul pesan error. Penyebabnya bisa sistem yang mengalami gangguan korupsi, konflik antar aplikasi (seperti konflik antar sesama warga negara), serangan virus (katakanlah virus itu kolusi, dan nepotisme), atau karena beberapa sektor dalam hard disk mengalami kerusakan. Untuk problem-problem tertentu, penyembuhannya mungkin masih cukup hanya dengan memakai program utility atau program antivirus. Dalam konteks negara, itu berarti upaya law enforcement, pelaksanaan fungsi kontrol kekuasaan, dan langkah-langkah pembaharuan from within the system lainnya.

Kalau langkah itu ternyata tidak bisa dilakukan, atau bisa dilakukan tapi tidak membawa hasil yang diharapkan, berarti platform Anda memang sedang sekarat. Terus-menerus mempertahankannya, hanya akan membuahkan kerugian lahir batin. Sistem dan aplikasi yang korup hanya akan menyengsarakan data yang Anda miliki, seperti krisis yang kini menyengsarakan kita. Satu-satunya jalan keluar yang tersisa: selamatkan data, dan format ulang seluruh hard disk. Lantas pasang atau instal sistem operasi dan program-program aplikasi yang baru. Jangan biarkan satu pun sisa sistem lama bercokol, sebab itu akan terus menginfeksi data dan program lain yang masih bersih. Setelah itu, Anda bisa memulai kembali kehidupan baru yang penuh harapan kebaikan.

Praktek berbangsa-negara tentu saja tidak sesederhana itu. Tapi bermacam-macam kemerosotan yang kita alami bersumber justru dari ketidaksanggupan kita mengurus negara dalam cara yang sederhana, efisien, dan bersih.

Perbedaan paling mendasar antara komputer dan sebuah negara pada dasarnya hanya satu: jika sebuah rezim kekuasaan mengalami krisis total, ia akhirnya akan tumbang bergemuruh, seperti gempa bumi. Beberapa orang akan mencoba menjadi bunglon, untuk tetap bisa selamat. Tapi jika sebuah sistem komputer macet, ia bisa diganti total sesuka hati pemakainya. Tidak ada perlawanan, tidak ada bunglon.

Karena itu, politik memang hanya menarik bagi mereka yang menyukai kebohongan. Bukan untuk kita.

Majalah InfoKomputer Internet. Vol. I No. 2 edisi Januari-Februari 1999