Bill Gates dan Burung Hantu dalam Lingkungan Informasi Baru


“Blog

Bermacam-macam perubahan radikal yang kita saksikan belakangan ini bukan hanya hadir sebagai sesuatu yang mengejutkan, tapi juga menghasilkan teror di setiap kepala, yang berpikir atau yang tidak. Bagaimana, misalnya, menjelaskan tentang ringgit, dolar Singapura dan rupiah yang nyaris lumpuh oleh sebab-sebab yang sebagian besarnya hanya berlangsung di layar monitor komputer? Lantas mengapa seluruh dunia begitu murung mendengar kabar kematian Lady Diana Minggu, 31 Agustus 1997 lalu? Rasa kehilangan atas seorang aktivis-selebritis seperti Diana nyatanya jauh lebih suram daripada rasa kehilangan kita saat wafatnya seorang aktivis-spiritual sekelas Bunda Theresia seminggu kemudian. Dunia yang begitu kukuh ditopang oleh sain dan teknik tinggi ini telah membawa kita pada sebuah jeram, penuh guncangan, soal-soal yang tak selalu mudah dipahami.

Sekarang makin banyak orang yang tidak lagi betah beralamat pada satu tempat dalam dunia aktual yang menggelisahkan. Mereka memilih rumah-rumah tinggal digital yang terintegrasi ke dalam sebuah jaringan rumit komputer sedunia, internet, tempat mereka bukan hanya bisa berpindah-pindah alamat dengan bebas melainkan bahkan berganti-ganti identitas tanpa keberatan dari siapa pun.[1] Sambil berada di atas Papua dalam sebuah pesawat terbang, Anda bisa memimpin rapat in situ perusahaan Anda di California, memesan tiket pertandingan Liga Italia, sambil mendiktekan surat kepada sekretaris pribadi Anda di London semuanya secara real time bersamaan tanpa beranjak sedikit pun dari tempat aktual Anda. Traveling without moving. Negara, sesuatu yang semula kita selenggarakan dengan harapan membuncah atas rasa aman sebagai warga yang dilindungi oleh sebuah institusi modern terbesar, kini terbukti bukan satu-satunya pemain yang bisa mutlak berkuasa. Ketika nasionalitas dipertanyakan, ideologi ditertawakan, negara harus tunduk pada satu mekanisme kuasa yang lain, yang tak selamanya mampu kita petakan dengan acuan-acuan lama.

Abad dua puluh segera berakhir dengan sekian banyak usaha manusia untuk mencoba makin betah bertahan hidup di satu pihak, dan pelbagai macam kondisi yang jelas-jelas melenceng dari rancangan awal. Kita tahu bahwa salah satu teleologisme modernitas adalah membuat sebuah kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bermula pada abad 18 modernitas muncul dengan kritisisme sebagai sebuah metode filsafat. Kemudian ia muncul sebagai sebuah metode politik lewat revolusi yang menampik segala yang ada atas nama utopia. Akhirnya modernitas menjadi sebuah metode artisitik, yang memuncak dalam avant-garde modernisme. Produk terbaik dari modernitas adalah mulai terbukanya pengakuan akan adanya peradaban lain di luar Barat. Ini memungkinkan berlangsungnya pencampuran tradisi ke dalam budaya Barat, mulai dari puisis-puisi Timur sampai topeng dan patung-patung Afrika yang merangsang kubisme (Paz, 1996:167-8).

Ide terpenting modernitas lainnya adalah tentang “masa depan”. Konsep ini benar-benar merupakan penemuan yang khas dari sebuah metode berpikir manusia modern. Seperti ditunjukkan oleh Octavio Paz, setiap peradaban pada dasarnya memiliki sebuah gagasan tentang waktu yang berbeda. Untuk masyarakat abad Pertengahan, misalnya, hal terpenting adalah keabadian, sebuah waktu di luar waktu, dan masa lalu. Mereka tidak percaya pada masa depan. Yang diketahuinya dengan baik adalah bahwa dunia akan segera ditimpa hukuman menuju kepunahan. Maka yang dipersoalkannya adalah bagaimana menyelamatkan jiwa orang-seorang, dan bukan mencoba menyelamatkan dunia (Ibid: 168-9). Modernitas kemudian memperkenalkan sesuatu yang baru pada konsepsi orang-orang Eropa tentang penyelamatan ini. Yakni bahwa bukan hanya jiwa individual yang harus dan bisa diselamatkan melainkan seluruh umat manusia. Para pengkhotbah Pencerahan menyerukan ajakan baru untuk ke luar dari nasib buruk. Yang ditawarkannya adalah sebuah “applicable future” , hasil dari sebuah proses pemisahan antara ruang dan waktu (Giddens, 1991:17), sebuah historisitas global yang akan merenggut kehidupan modern dari genggaman tradisi masa lalu. Jalan keluarnya adalah apa yang kemudian dikenal sebagai cita-cita tentang “progress”. Keberhasilan mereka, dengan demikian, adalah juga sebuah cerita tentang perampasan: perampasan masa lalu melalui upaya meyakinkan bahwa masa depan tidak ada hubungannya dengan masa lalu.

Dengan gagasannya tentang kemajuan, modernitas adalah cermin dari kepercayaan pada linearitas waktu yang terlampau berlebihan, yang diwarisi dari peradaban Judeo-Christian oleh orang-orang Eropa sejak hampir tiga abad silam. Merujuk pada tradisi Judeo-Chrisitian itulah, kita bisa melihat bagaimana mereka menafsirkan sejarah sebagai sebuah lintasan garis lurus seperti ajaran tentang Penciptaan, keterperosokan ke dalam dosa, penebusan, dan sorga sebagai akhir. Maka menjadi modern tidak lain adalah sebuah gerak bersama menuju sorga, meninggalkan dosa kegelapan (abad Pertengahan) melalui penebusan-penebusan sekular. Meninggalkan masa lalu atas nama sesuatu yang berbeda atau lebih baik di waktu yang akan datang. Gagasan tentang kemajuan adalah penebusan menuju sebuah surga di bumi masa depan yang bisa dihuni oleh semua orang. Ia menawarkan sorga yang bukan di sana tapi di sini. Amerika dijadikan substitusi surga sebagai awal sekaligus akhir: bahwa modernitas dimulai sejak ditemukannya benua Amerika oleh Columbus dan berakhir di surga pada tempat yang sama.

Dalam Dialectic of Enlightenment (1947), Horkheimer dan Adorno berargumen bahwa perayaan rasio oleh para pemikir Pencerahan Abad ke-18 telah membawa pada perkembangan tatanan yang sangat canggih secara teknologis tapi tidak manusiawi dan opresif, seperti tampak dalam munculnya fasisme dan totalitarianisme di abad ke-20.


Tapi itulah soalnya, hidup seolah tak punya gairah jika kita tak lagi sempat punya rancangan, punya telos, tujuan ke mana segenap jerihpayah dan luka niscaya dikorbankan. Hidup seperti sebuah lomba balap karung, ada mula dan ada penghabisan yang pasti, dengan sekian banyak kekalahan sebelum sampai finish. Sekarang kita menghadapi semua terminologi tersebut dengan kerutan kening makin mengendur. Orang kemudian yakin bahwa sorga bukan hanya teletak "di sini" di masa depan, melainkan "di sini' dan (sekaligus) "hari ini'. Amerika bukan lagi masa depan melainkan "the paradise now", sorga ini hari. Karena itu, hari ini tidak bisa dikorbankan hanya atas nama masa depan. Kecuali pada beberapa orang yang masih terbius oleh cerita besar, banyak dari kita yang mulai malu untuk, misalnya, mengkait-kaitkan antara modernitas dengan persoalan masa depan martabat manusia (dan bangsa). Terlampau gegap dulu orang menyambut modernitas, terlalu banyak dari mereka yang musti menanggungkan nasib sebagai orang atau bangsa yang dikalahkan. Karena itu pula, tekad menggiring seluruh warga sebuah bangsa untuk mensejajarkan diri dengan model yang dianggap maju (artinya di depan dalam waktu), seperti yang sering masih tampak mengiringi proses pembangunan, saat ini mulai menemukan lawan-lawannya yang tak mudah lelah.

Di balik seluruh dalil yang rumit tentang modernitas, nyatanya kita sering bisa mendapatkan sesuatu yang sebetulnya sering tampak tidak terlampau meyakinkan: hukum-hukum kemajuan atau pertumbuhan yang dibangun di atas logika “jika/maka” yang demikian lempang dan keras. Misalnya, jika sains dan teknologi terus berkembang pesat, maka peradaban manusia akan terus membumbung lebih tinggi. Memang ada banyak contoh beberapa peradaban yang menjulang ketika ilmu pengetahuan tumbuh di ladang-ladang kebudayaan yang subur. Dari Babilonia sampai Mesopotamia, dari Andalusia sampai Cina. Kelemahan logika semacam ini bukan hanya karena bukti ketidaktepatannya ketika diberlakukan untuk banyak realitas yang berbeda, melainkan juga karena ia kemudian melahirkan sebuah way of life yang tragis[2]: bahwa segera setelah penemuan ilmu dan pembuatan perkakas teknik yang canggih, manusia akhirnya hanyalah pelengkap bahkan objek yang inferior. Dalam kata-kata para pemikir Aliran Frankfurt, semangat Pencerahan berbalik menghantam ke dalam diri kita sendiri. Manusia ternyata tidaklah berkembang penuh menjadi lebih mulia melainkan justru terjerembab kembali masuk ke dalam bentuk-bentuk baru barbarisme. Dalam Dialectic of Enlightenment (1947), Horkheimer dan Adorno berargumen bahwa perayaan rasio oleh para pemikir Pencerahan Abad ke-18 telah membawa pada perkembangan tatanan yang sangat canggih secara teknologis tapi tidak manusiawi dan opresif, seperti tampak dalam munculnya fasisme dan totalitarianisme di abad ke-20. Dua pemikir ini melihat karakter penghancuran-diri (self-destruction) dari rasio Barat berakar pada sebuah dialektik sejarah antara dominasi alam dan masyarakat. Mereka melacak pencerahan, yang memisahkan keduanya (alam dan masyarakat manusia), kembali kepada akar-akar mitisnya. Pencerahan dan mitos, jika demikian, menurut Horkheimer dan Adorno bukanlah pasangan berlawanan yang tidak bisa direkonsiliasikan, melainkan kualitas-kualitas yang secara dialektis termidiasikan dalam kehidupan nyata dan kehidupan intelektual. Mitos sendiri pada dasarnya merupakan bentuk pencerahan, dan pencerahan kembali menjadi mitologi. Dialektis sekaligus paradoksikal.

Beberapa kalangan bahkan menunjuk zaman kita tengah mengalami apa yang oleh almarhum Nietzsche diharap penuh keberanian: umwertung aller werte, sebuah kondisi ketika segala nilai jungkirbalik secara total. Vaclav Havel melukiskan ini begitu muram dalam pidatonya, The Need for Transcendence in the Postmodern World, yang diucapkannya di Independence Hall, Philadelphia, 4 Juli 1994 :

Dan kemudian kita kini menemukan diri kita dalam sebuah situasi paradoksikal. Kita menikmati seluruh capaian peradaban modern yang membuat eksistensi fisik kita di bumi ini lebih mudah dalam banyak hal. Tapi kita belum lagi tahu pasti apa yang harus kita lakukan dengan diri kita, ke mana harus berbalik. Dunia pengalaman-pengalaman kita tampak khaotis, terputus, membingungkan. Di sana tak muncul daya-daya penyatu, tak ada makna yang bulat, tanpa pemahaman-dalam yang sesungguhnya tentang fenomena dalam pengalaman kita tentang dunia. Para ahli bisa menjelaskan pada kita apa pun dalam dunia objektif, tapi kita makin kurang memahami diri kita sendiri. Singkatnya, kita hidup dalam dunia postmodern, tempat segalanya adalah mungkin tapi hampir tak satu pun yang pasti.

Havel menunjuk dengan jelas zaman postmodern untuk menggambarkan sebuah situasi yang, lebih kurang, dianggapnya telah kehilangan tujuan yang jelas. Dengan demikian, bagi Havel, seperti juga bagi yang lain, zaman modern dengan segala buncahan janjinya tentang kemerdekaan dan pertumbuhan diri itu telah usai. Sampai di sini Havel tak begitu jelas memperlihatkan posisinya: adakah ia menyebut akhir modernisme dengan semacam penyesalan karena proyek-proyeknya yang banyak berantakan oleh teror yang dikandungnya sendiri, ataukah Havel sebenarnya menjadi pengutuk yang kesekian dari munculnya sebuah zaman baru, zaman postmodern itu, justru karena yang terakhir itu dianggapnya telah memungkas harapan yang ditawarkan oleh modernitas sejak akhir abad kedelapan belas silam. Yang bisa kita tangkap paling kuat adalah gairah Havel yang terus nyala ketika harapan justru semakin tipis untuk mencari kepastian, merumuskan sebuah tujuan bersama seluruh manusia. Ia kemudian merekomendasikan sebuah solusi bagi dunia yang ditudingnya sakit: transendensi-diri. Ia menurunkan gagasannya tentang itu dalam kalimat-kalimat berikut:

Transendensi sebagai tangan yang merengkuh mereka untuk dekat pada kita, pada orang-orang asing, pada komunitas manusia, pada seluruh makhluk hidup, pada alam, pada dunia. Transendensi sebagai sebuah pengalaman yang dalam dan menggembirakan yang dibutuhkan untuk selaras bahkan dengan apa yang bukan diri kita sendiri, apa yang tak kita pahami, apa yang tampak jauh dari kita dalam ruang dan waktu, tapi yang dengan itu kita secara ganjil terhubungkan sebab, bersama dengan kita, semuanya itu membangun sebuah dunia yang tunggal. Transendensi sebagai satu-satunya alternatif nyata dari kepunahan. [3]


Memperhatikan gagasan Havel kita seperti diingatkan pada tesis Ulrich Beck tentang risk society. Beck, seperti ditunjukkan oleh Giddens, memakai frasa ini tentu bukan saja untuk menunjukkan fakta bahwa kehidupan sosial modern memperkenalkan bentuk-bentuk bahaya baru yang musti dihadapi setiap manusia. Hidup dalam “masyarakat risiko” adalah menerima risiko sebagai risiko, menerima sebuah orientasi yang terus dibebankan pada kita oleh modernitas, sehingga kita dipaksa untuk menyadari bahwa sebenarnya tak satu aspek pun dari segala aktivitas kita yang mengikuti sebuah arah yang jelas. Semuanya serba kebetulan. Dengan ungkapan lain, ini juga berarti hidup dengan sebuah sikap kalkulatif atas kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dari setiap tindakan, positif atau negatif, dengan apa kita berhadapan terus-menerus sepanjang eksistensi sosial kita (Giddens, 1991:29). Ketetapan-ketetapan modernitas tentang "Sejarah", dengan demikian, sebagian besarnya adalah ilusi.

Salah satu faktor yang kerap ditunjuk sebagai pendorong munculnya pelbagai problem dan risiko buruk dalam kehidupan masyarakat kita sekarang, adalah pertumbuhan sains dan teknik yang tak terkendali. Bermacam-macam diskusi seolah memperlihatkan pada kita sebuah gambaran paling kelam tentang relasi antara manusia dengan dua hal tersebut: Teknologi dan sains ternyata justru lebih mirip berhala dalam masyarakat-masyarakat penyembahnya. Ia diciptakan untuk dimintai pertolongan menyelesaikan segala persoalan hidup, dan akhirnya kemudian ditakuti ancaman bahaya yang dikandungnya. Teknologi dibuat untuk dipuja dan lantas ditakuti.

Saya tidak akan membahas kritik ilmu-ilmu sosial terhadap perkembangan dan dominasi sains serta teknologi lebih jauh sebagai sebuah kajian diskursif. Pertumbuhan keduanya, dan pelbagai hal yang diakibatkannya pada kehidupan sosial, termasuk munculnya beberapa persoalan etis baru, sekurang-kurangnya itulah yang akan saya kerjakan, tampaknya telah menjadi satu masalah yang tidak kalah penting dibanding pembahasan sains dan teknologi sebagai wilayah kajian teoritis belaka. Salah satu bentuk dari implementasi kemajuan dua bidang tersebut adalah apa yang sekarang disambut banyak orang sebagai zaman masyarakat informasi. Cukup jelas dari terminologi yang dipakainya, sebuah zaman masyarakat informasi adalah masa ketika pelbagai macam institusi sosial lama mulai digantikan peran dan fungsinya oleh terciptanya bermacam-macam hal akibat revolusi teknologi komunikasi dan informasi massa.

Abad Microsoft: Bukan Bill Clinton Tapi Bill Gates

Majalah Nesweek edisi 2 Desember 1996 menurunkan cerita sampulnya dengan sebuah judul yang sangat atraktif: Microsoft Century. Potret William Henry Gates III, pendiri, pemilik sekaligus pemimpin tertinggi Microsoft, perusahaan pembuat perangkat lunak komputer terbesar di dunia, dipampang pada sampul depan. Sebulan berikutnya, dalam Time edisi 13 Januari 1997, wajah yang sama, dalam pose yang berbeda, juga dipasang pada sampul depan yang bertajuk “The Private World of Bill Gates, A surprising visit with the man who is shaping our future”.

Dalam esaynya yang sangat sugestif, “Media Mongols at the Gates of Baghdad”, Akbar S. Akhmed (1994:27-31) menyatakan bahwa media massa Amerika telah mencapai apa yang oleh para politikusnya tak berhasil diraih: dominasi Amerika atas dunia. Hollywood meraih sukses di tempat mana Pentagon justru gagal total. Bagi Ahmed, hubungan dua hal tersebut bisa ditarik berdasarkan fakta bahwa baik perlengkapan pertahanan militer maupun film adalah dua sumber pendapatan ekspor terbesar bagi ekonomi Amerika Serikat. Sekarang, di seluruh dunia hampir semua orang merujuk pada satu sumber informasi yang dianggap paling terpercaya: CNN (Cable News Network). Setiap hari jutaan pasang mata dan kesadaran manusia menerima kabar dan hiburan (serta ideologi) dari CNN atau MTV (Music Television). Yang ingin dikatakan Ahmed adalah kenyataan bahwa, dalam konteks perselisihan antara Barat dan Islam, kekuatan imperialisme tradisional seperti teknologi militer, melalui sekian banyak peperangan mutakhir, tetap tidak sanggup mencapai apa yang dengan mudah diraih oleh sebuah perangkat imperialisme baru berupa perangkat lunak teknologi media massa. Islam tak bisa ditaklukan oleh ekspansi-ekspansi militer Barat melainkan oleh CocaCola dan Michael Jackson. Perang Teluk antara pasukan Sekutu dan Irak tidak menghasilkan kemenangan berarti bagi militer Barat, tapi MTV di Arab Saudi sanggup menciptakan dorongan yang begitu kuat terhadap sebuah gaya hidup yang diharamkan syariat Islam.

Tentu saja Bill Gates tidak harus hanya dipahami sebagai satu sosok personal. Dalam konteks yang lebih luas Gates adalah juga Graham Bell, Thomas Alfa Edison, John D. Rockefeler, dan Henry Ford--mereka yang, sejak akhir abad 19, terbukti lebih cepat dan lebih terarah dari siapa pun dalam mengeksploitasi kemungkinan-kemungkinan ekonomis dari teknologi-teknologi baru. Gates, dengan kata lain, adalah seorang Robber Baron akhir abad 20, yang berhasil meraih kemakmuran, prestise, dan kekuasaannya melalui eksploitasi segala sumber yang ada.



Hollywood yang dimaksud Ahmed tentu saja bukan hanya merujuk pada sebuah tempat di Los Angeles, California, tempat Marilyn Monroe sampai Sharon Stones meledakkan tubuhnya dan birahi lelaki sedunia. Ia adalah sebuah representasi dari Amerika itu sendiri, sebuah sorga sekular dari mana ribuan judul dan bentuk hiburan modern dan informasi menyerbu setiap titik di seluruh jagat. Budaya, gaya hidup, bahkan sampai aliran-aliran pemikiran baru mengalir begitu deras bersilangtindih dengan gosip dan opera sabun atau kabar tentang peristiwa politik.

Satu hal yang lepas dari tilikan Ahmed adalah fakta bahwa saat ini tempat acuan dari dominasi media Amerika mulai terbelah dua. Dunia kini disibukkan bukan hanya oleh fakta tentang keberhasilan Hollywood menanamkan dominasinya, melainkan juga oleh bagaimana untuk pertamakalinya para programer komputer berhasil meraih posisi yang sama. Tempat acuan simboliknya kini bukan melulu bukit Hollywood melainkan juga Lembah Silicon (Silicon Valley—tempat para pencipta perangkat-perangkat digital meraih kemakmuran sekaligus menghamburkan pengaruhnya ke segala tempat dan setiap sektor kehidupan. Tempat ini kini telah menjadi simbol baru dari datangnya sebuah era baru, yakni era yang secara berlebihan biasa disebut era informasi bebas hambatan (information superhighway). Era ini bukan hanya merupakan perluasan dari apa yang telah dicapai oleh Hollywood sebelumnya, melainkan, lebih dari itu, ia juga telah membawa pertumbuhan media informasi dan komunikasi pada level yang jauh lebih kompleks. Terjadinya ledakan internet sejak tahun 1992 yang lalu, membuktikan bahwa komputer personal telah berhasil memadukan seluruh kesanggupan yang sebelumnya secara terpisah dimiliki oleh jenis-jenis media tradisional. Hollywood dan Lembah Silicon, dengan demikian, merupakan dua mata panah yang bergerak pada satu tujuan: integrasi dan homogenisasi dunia melalui hiburan, informasi, konsumsi dan komunikasi.

Mungkin benar apa yang ditulis oleh Newsweek, bahwa pada dasarnya kita sekarang tengah berhadapan dengan sebuah pilihan yang nyaris seragam. Di atas segalanya, kini kita hanya punya satu nama yang begitu melambung: Bill Gates. Perpustakaan majalah Time mencatat: sejak mendirikan Microsot tahun 1976, nama Bill Gates telah muncul dalam 114 isu pada pelbagai media cetak. Tak terhitung berapa jumlah kertas yarisikong dihabiskan untuk mencatat pertumbuhan fenomenal Microsoft dan pemiliknya ini. Ini bukan hanya disebabkan oleh fakta bahwa Bill Gates adalah seorang pengusaha muda terkaya di Amerika Serikat, melainkan karena perkembangan sebuah wilayah yang berada di bawah dominasinya, industri komputer personal (sekarang ia juga mulai bergerak ke wilayah bisnis media), telah berhasil mengubah cara pandang kita bukan hanya terhadap komputer dan media melainkan juga tentang hidup, kerja, dan masa depan kehidupan manusia. Dalam bahasa majalah Time, Gates adalah orang yang akan membentuk hari depan kita dimulai dari target untuk menciptakan sebuah pasar mahabesar: “sebuah komputer personal pada setiap meja di setiap rumah”.

Tentu saja Bill Gates tidak harus hanya dipahami sebagai satu sosok personal. Dalam konteks yang lebih luas Gates adalah juga Graham Bell, Thomas Alfa Edison, John D. Rockefeler, dan Henry Ford--mereka yang, sejak akhir abad 19, terbukti lebih cepat dan lebih terarah dari siapa pun dalam mengeksploitasi kemungkinan-kemungkinan ekonomis dari teknologi-teknologi baru. Gates, dengan kata lain, adalah seorang Robber Baron akhir abad 20, yang berhasil meraih kemakmuran, prestise, dan kekuasaannya melalui eksploitasi segala sumber yang ada. Di belakangnya jutaan orang lain berkutat dengan sekian banyak pekerjaan yang tak mudah: mulai dari penciptaan kode-kode rumit pemrograman, inovasi, eksperimen, negosiasi, harapan dan justa, sumpah serapah dan keringat, dan iklan. Dunia yang didukung dan dimasuki lantas didominasinya adalah apa yang oleh Benjamin R. Barber disebutnya dengan istilah McWorld, perkawinan rumit antara MTV, McDonalds dan Macintosh (media, gaya hidup, hiburan, konsumsi dan komputer). Di deretan paling ujung, jutaan orang di antara kita hanya tinggal melahap hasilnya sebagai pemakai akhir. Semuanya bergerak bersama menciptakan sebuah arus gelombang baru: gelombang revolusi informasi. Meniti gelombang tersebut berarti kita musti siap mengalami perjumpaan dengan bermacam-macam pengalaman yang sama sekali baru. Untuk pertama kalinya dalam hidup, kita akan banyak melewatkan waktu dan kejadian dalam sebuah dunia yang dihasilkan dari kombinasi antara hasrat pada kebebasan tanpa batas dan kemahiran membuat kode-kode rumit komputasi yang mencoba menerjemahkannya.

Para teoritisi Marxis dan Leninis berasumsi bahwa dorongan untuk meluaskan pasar pada gilirannya akan memaksa perekonomian kapitalis nasional untuk melangkahi batas-batas nasionalnya guna meraih sebuah imperium ekonomi internasional. Ini akan melahirkan sebuah pasar bersama. Sebuah pasar bersama tentu saja akan menghasilkan sebuah bahasa bersama sekaligus mata uang bersama yang dipakai dalam setiap transaksi. Lambat laun ini juga akan menghasilkan tingkahlaku bersama yang umumnya tampil dalam bentuk pola dan gaya-gaya hidup kota kosmopolitan. Antara seorang banker internasional, para wartawan, selebritis, ilmuwan, programer komputer, dan atlit olahraga membagi bersama sebuah pola tingkahlaku yang seragam. Mereka sama-sama mengunyah McDonald’s, minum CocaCola, memakai Windows, dan nonton CNN. Belanja telah menjadi penanda umum kehidupan mereka.

Di lain pihak, upaya-upaya pengembangan sain dan teknik memberikan tekanan yang lebih besar bagi terbentuknya masyarakat-masyarakat yang terbuka. Sejak penemuan telegraf di abad 19 sampai satelit dan interet di akhir abad 20, sarana-sarana telekomunikasi elektronik telah menembus batas-batas pemisah antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Selama tahun 1980-an, misalnya, salah satu acara yang paling banyak ditonton oleh rakyat Afrika Selatan adalah serial Cosby Show. Film terlaris di Swiss pada tahun 1991 adalah Terminator. Tahun ini, sequel Jurasik Park II menjadi best-seller di hampir semua kota besar di dunia. Keberhasilan-keberhasilan ini jelas jauh melampaui apa yang telah dicapai oleh Pentagon di bidang militer (Barber, 1992). Resto McDonald di Cina, opera sabun di Indonesia, CNN di Moskow, MTV di Vietnam, HBO di Rumania, atau Macintosh di Jepang lebih sanggup menciptakan sebuah budaya global daripada yang pernah dilakukan oleh kolonisasi militer. Seluruh kekuatan tadi telah secara total memaksa masyarakat-masyarakat manusia meninggalkan masa silammnya. Segala jenis kepercayaan, kebiasaan, atau tradisi niscaya disediakan alternatif teknologisnya yang berlawanan: akar-akar kekeluargaan ditawari alternatif mobilitas; untuk membaca alternatifnya adalah televisi; untuk pengekangan alternatifnya adalah pemuasan serentak; untuk bakat-bakat seni ada alternatif reproduksi massal; untuk dosa tersedia alternatif psikoterapi. Kini telah tersedia sebuah alat yang dipercaya sanggup melakukan semua itu sekaligus: komputer.

Melebihi teknologi apa pun yang pernah dibuat manusia, komputer tampaknya memang bukan lagi sekedar mesin pencacah bilangan, melainkan alat yang model berpikirnya mencoba habis-habisan meniru model pemikiran manusia. Observasi Sherry Turkle memperlihatkan bahwa era komputasi modern telah berakhir digantikan oleh era simulasi postmodern melalui komputer. Komputer saat ini adalah salah satu cara tercepat untuk menerjemahkan mimpi menjadi sesuatu yang dimungkinkan secara elektronis. Orang memakai komputer bukan lagi karena kesanggupannya yang luar biasa dalam menyelesaikan perhitungan-perhitungan kompleks, melainkan bagaimana ia bisa menjadi alat untuk memproduksi simulasi realitas. Bagaimana, misalnya, mengubah realitas dimulai dengan mengubah dan atau memanipulasi interface, memanipulasi layar monitor. Karena itu pula, ia memiliki potensi paling besar untuk mengubah bukan hanya cara kita menangani beberapa pekerjaan sehari-hari, melainkan juga cara pandang kita tentang dunia. Ia bukan hanya jendela informasi, melainkan bahkan telah masuk lebih jauh menjadi indra kita yang lain, yang menentukan cara kita berhubungan dengan dunia. Akibatnya, tanpa kehadiran komputer, kita mungkin akan merasakan dunia seperti telah kehilangan sekian banyak hal yang paling penting yang berguna untuk kemudahan hidup kita. Inilah apa yang oleh Neil Postman ditunjukknya sebagai gejala menyerahnya secara total budaya di bawah kekuasaan teknologi dalam zaman technopoly[4]. Bagi Amerika, komputer adalah bentuk paling canggih dari revitalisasi semangat para perintis Amerika untuk memperluas teritori terus-menerus.[5]

Apa yang terjadi? Sekarang kita hidup dalam sebuah zaman tempat terlalu banyak data dengan tak terlalu cukup makna dan pengetahuan. Untuk memakai kata-kata Jean Baudrillard, dunia kita sekarang tengah demikian deras ditumpahruahi informasi sambil terus-menerus mengalami peluruhan makna. Kita seperti hidup dalam kepungan informasi dari seluruh dunia, sampai kita kehilangan kesempatan untuk memilah-milah dan mensistemasikannya menjadi sebentuk pengetahuan yang berguna, sambil pada saat yang sama kita telah kehilangan kesanggupan untuk menolak serbuan tersebut. Jika kita menghubungkan sebuah perangkat komputer personal di kamar pribadi ke dalam jaringan internet, misalnya, kita bahkan akan menerima informasi yang sama sekali tidak kita butuhkan, tanpa pilihan untuk menolak. Mereka memakai istilah “push technology” untuk menunjuk sebuah cara kerja “mendorong informasi masuk ke layar komputer tanpa harus dipesan”.

Neil Postman (1993:63) memakai ungkapan yang sangat menarik untuk menggambarkan kondisi tersebut: AIDS (Anti-information Deficiency Syndrome). Ungkapan AIDS yang semula merujuk pada gejala-gejala medik tertentu, dalam kacamata Postman ternyata juga bisa diberlakukan pada konteks munculnya zaman baru yang tengah kita hidupi bersama. AIDS sebagai sebuah gejala medik menunjuk pada sebuah penyakit yang diderita seseorang akibat dari datanganya serangan human immunodeficiency virus (HIV). Sebagian terbesar penjelesan di sekitar persoalan ini umumnya menunjuk penyimpangan pola interaksi antar-manusia yang menjadi penyebab utamanya: seks bebas, prilaku biseksual, homoseks atau prostitusi. Penderita lain yang tidak pernah melakukan aktivitas-aktivitas tersebut umumnya dikategorikan sebagai korban yang tertular secara tanpa sengaja: karena tranfusi darah atau sebagai warisan keturunan. Satu hal yang pasti, AIDS telah menjadi momok paling menakutkan dalam hubungan personal antar-manusia abad ini. Ia merupakan hantaman telak pada hasrat kebebasan tanpa batas yang didengung-dengungkan bersama semangat modernitas di bidang-bidang kehidupan lainnya.

Di lain pihak, AIDS dalam konteks argumen Postman adalah sebuah gejala yang juga muncul dari pola hubungan interaksi antar-manusia pada tingkat yang jauh lebih luas dan lebih rumit. Sindroma hilangnya kekebalan tubuh dari informasi bukan lain adalah metafor untuk sebuah dunia yang terlampau ramai oleh pergaulan manusia dari seluruh dunia hanya untuk mencari dan mendapatkan informasi. Sejak penemuan teknik cetak kemudian dikuatkan oleh penemuan telegraf, informasi telah berubah menjadi barang yang bisa dikonsumsi. Ia menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan tanpa harus menghiraukan guna dan maknanya. Akibatnya seringkali muncul pendapat yang dengan sertamerta mengidentikan informasi dengan pengetahuan. Padahal keduanya adalah dua hal yang saling berbeda satu sama lain. Kalau informasi berisi fragmen-fragmen pengalaman yang tersebar acak dan tak saling berhubungan satu dengan lainnya, maka pengetahuan lebih terstruktur sifatnya. Yang pertama cenderung menyebar, yang kedua mencoba membatasinya dengan metode dan penetapan kategori-kategori. Dengan ungkapan lain, pengetahuan adalah produk dari sebuah proses pengolahan informasi menjadi sebuah bangun pikiran yang tertata dan bermakna. Informasi apa pun yang tidak bisa dijelaskan relasinya dengan infromasi lainnya akan dibuang, karena dianggap tidak relevan sehingga juga tidak bermakna.[6]

Satu contoh mutakhir tentang kemungkinan informasi yang terlalu melimpah bisa menjadi sekedar “nonsense”, dan begitu lemahnya daya tahan masyarakat untuk tidak menerima informasi yang dijejalkan begitu saja, adalah pelbagai berita tentang Lady Diana yang, langsung atau tidak langsung, membawanya pada sebuah kematian tragis. Di balik segala perdebatan tentang hak publik untuk mendapatkan informasi dan hak individu untuk menjaga privasinya, satu hal yang juga jelas adalah gambaran tentang arus informasi yang begitu deras--yang sebagiannya justru tidak pernah dibutuhkan publik. Persoalannya bukan hanya menyangkut perlu atau tidak perlunya kebebasan total bagi para pencari informasi (paparazi adalah salah satunya) sehingga bahkan sampai berhak memasuki wilayah paling pribadi dari seorang individu, melainkan juga apa sebetulnya makna di balik kecenderungan pemburuan informasi-informasi seperti itu. Siapa sebetulnya yang membutuhkan informasi tentang affair cinta Diana dengan sejumlah pria?

Apa sebetulnya manfaat foto-foto Diana berbikini dengan seorang pria asal Mesir bagi warga dunia? Informasi tersebut menjadi bernilai komersial tinggi bukan karena kualitasnya sebagai sebuah bahan pengetahuan atau refleksi teoritis atau diskusi filosofis, melainkan karena adanya sebuah mekanisme yang bekerja mengontrol pelbagai bisnis penyedia informasi modern dan masyarakat yang mengkonsumsinya. Sekali dan selamanya informasi berhenti sebagai komoditi. Pertama kalinya dalam sejarah informasi menjadi demikian penting dalam hidup manusia, tanpa harus memikirkan makna dan kegunaannya. Penyebaran informasi, kita tahu, kini tidak lagi menganut hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi klasik, melainkan terus-menerus membuat penawaran agar permintaan bisa diciptakan terus membesar. Untuk semuanya itu, Microsoft akan datang ke dalam sisi-sisi paling pribadi dalam hidup Anda dengan satu jawaban tunggal: membuat perangkat lunak untuk lebih banyak jenis komputer. Mulai dari rumah, mobil bahkan sampai saku baju. Mulai dari dapur sampai dompet, memburu-buru Anda dengan serbuan informasi yang muskil ditolak, tak selalu mudah dielakkan.

Burung Hantu Etika

Selalu saja ada yang tertinggal ketika kita membahas sebuah persoalan yang tampaknya menjadi begitu penting belakangan ini: pertumbuhan sains dan teknologi di satu pihak, dan perkembangan budaya serta peradaban manusia yang ditimbulkannya di pihak lain. Dalam setiap pembicaraan, sains dan teknologi menjadi seolah tidak terpisahkan satu sama lain. Ini bisa dimengerti sebab sejarah perkembangan sains dan keteknikan memang saling bersimbiosa mutual. Teknologi sendiri, dalam pengertian teknologi modern, sekarang sudah menjadi sebuah istilah khusus untuk menunjuk pelbagai jenis perkakas yang jalan dan perkembangannya diatur oleh kaidah-kaidah saintifik. Di lain pihak, perkembangan teknologi juga akan menentukan sejauhmana sains bisa dikembangkan. Teknologi merupakan wajah paling depan dari perkembangan sain, yang dengan itu kerja para ilmuwan akan tampak nyata hasilnya. Dengan tidak mengabaikan persoalan pembagian bidang kerja masyarakat modern, kita hampir bisa mengatakan bahwa siapa yang bergelut di bidang teknologi juga akan otomatis terlibat dalam perkara pengembangan sains. Antara seorang profesor di sebuah laboratorium dengan seorang insinyur yang menciptakan alat bantu pelbagai jenis eksperimen ilmiah terjalin sebuah relasi saling bergantung.

Di lain pihak, sekarang teknologi telah memainkan begitu banyak peran dalam hampir setiap aspek kehidupan penciptanya. Dalam nada yang terkesan terlampau berlebihan, Jacques Ellul bahkan menyatakan bahwa tidak ada fakta sosial, kemanusiaan bahkan spiritual yang demikian penting seperti fakta tentang perkembangan teknologi dalam masyarakat modern. Bagi Ellul, teknologi bukan lagi sebatas perkakas yang dibuat untuk membantu kerja manusia melainkan bahkan telah menggantikan alam sebagai konteks setiap persepsi dan keputusan sosial (Goulet, 1977:31). Dengan ungkapan lain, bagi masyarakat modern teknologi, bukan alam, adalah batas yang hanya dengan melampauinya pelbagai kemungkinan dalam kehidupan manusia bisa diukur.

Tanpa mengesampingkan kemungkinan adanya garis pemikiran lain, sejauh menyangkut perdebatan tentang teknologi tampaknya ada dua pandangan yang saling berbeda tajam bahkan sangat bertolakbelakang. Pemikiran yang pertama akan melihat teknologi sebagai salah satu, kalau bukan satu-satunya, alat yang akan membawa manusuia menuju satu tingkat peradaban lebih tinggi melebihi peradaban-peradaban yang telah dicapai masa sebelumnya. Pandangan semacam ini sebagian besar bisa dialamatkan kepada mereka yang, langsung atau tidak, bergelut dengan perkembangan teknologi itu sendiri. Para insinyur dan ahli-ahli keteknikan atau kelompok lain yang sejalan merupakan representasi dari pemikiran ini. Pemikiran kedua secara kontras justru melihat teknologi sebagai pembawa kehancuran. Daripada membawa pertumbuhan peradaban pada tingkat yang lebih baik teknologi, menurut kelompok ini, malah tampil sebagai instrumen yang akan menenggelamkan kehidupan manusia pada lembah kemalangan di masa depan. Neil Postman, seperti saya sebutkan di atas, bahkan melihat teknologi sebagai kekuatan yang telah menaklukan budaya. Dua garis pendapat tersebut sama-sama melihat kebolehjadian yang akan ditimbulkan oleh perkembangan sain dan teknologi, serta relasinya dengan kehidupan manusia. Kalau yang pertama menitik beratkan pada persoalan apa yang bisa diraih dengan teknologi, maka yang kedua berbicara tentang apa yang mungkin akan hilang. Yang pertama menyambut, yang kedua menolak.

Kalau Faust memperlihatkan kemungkinan orang menjual jiwanya kepada iblis untuk nafsunya pada ilmu pengetahuan, Frankenstein memperlihatkan kemungkinan pencapaian sains dan teknologi yang mengabaikan nilai-nilai moral, etis dan religius. Kedua-duanya berujung pada malapetaka. Kedua-duanya, dalam kalimat lain, adalah gambaran dari rasa takut manusia kepada kemungkinan-kemungkinan terburuk dari perkembangan sains dan teknologi pada jiwa dan kehidupan manusia.



Mengatasi kedua kubu tersebut pusat perhatian orang kemudian beralih pada persoalan etika: tentang perlu atau tidak perlunya sebuah produk teknologi tertentu dikembangkan dalam relasinya dengan persoalan kehidupan sosial masyarakat-masyarakat manusia. Marie Curie (1867-1934) pernah menyatakan bahwa sains hanya berperkara dengan benda-benda, bukan dengan orang. Sejak lama masyarakat Yunani kuno membuat sebuah distingsi antara filsafat alam dan filsafat moral. Yang pertama berurusan dengan benda-benda dan pelbagai peristiwa dunia, yang kedua dengan tingkahlaku dan aspirasi-aspirasi manusia. Kalau perkara benda-benda dipercaya bisa dipelajari secara empiris dan rasional, maka perkara-perkara moral berada dalam sebuah kategori yang sama sekali berbeda karena ia memperkarakan soal baik dan buruk. Filsuf Scotlandia, David Hume, memberi tekanan ulang pada problem ini dengan menyatakan bahwa, berdasarkan pada apa yang dilakukan, secara logis adalah mungkin untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan. Argumen Hume ini berpengaruh besar pada karya-karya Immanuel Kant. Kant telah mencoba menerapkannya dengan mengidentifikasi dua bentuk aktivitas mental, yakni rasio teoritis murni yang mengatur kemungkinan-kemungkinan pengalaman manusia, dan rasio praktis murni yang mengatur tindakan moral. Dari basis filosofis inilah kita bisa melacak kecenderungan sikap terhadap sains dan etika yang berlaku sejak awal abad 20 seperti yang dinyatakan oleh Marie Curie di atas. Kalau sains dianggap deskriptif dan impersonal, berurusan dengan dunia “luar”, maka etika dianggap bersifat preskriptif dan personal, dan hanya berpretensi membimbing ke arah tindakan yang benar (Stewart Richards, 1984:136-7, Kees Bertens, 1997).

Sains mendasarkan dirinya pada realitas sebagaimana adanya (das Sein), sedangkan etika justru berpijak pada premis tentang sesuatu yang seharusnya (das Sollen). Kalau ilmu cenderung anti-dogma, maka etika justru cenderung dogmatik. Ini akan membantu kita memahami bagaimana pertumbuhan sains seolah dengan sendirinya menampik campurtangan etika. Para pembela kebebasan sains, misalnya, akan merujuk pada peristiwa Galileo Galilei ketika kepentingan sains harus tunduk pada dogma-dogma etis yang dipegang teguh oleh gereja. Dilema yang muncul kemudian adalah, jika ilmu harus bebas dari pertimbangan-pertimbangan atau kepentingan-kepentingan etis maka ia akan berkembang seolah berada di luar kontrol manusia, mengabaikan persoalan akibat buruk yang mungkin timbul pada kehidupan sosial kemasyarakatan dari penerapan temuan-temuan sains, khususnya ketika itu diberlakukan untuk menciptakan perkakas-perkakas teknologi. Sebaliknya, jika terlampau disibukkan oleh pertimbangan-pertimbangan etis, sains tidak bisa berkembang dengan baik, sebab itu berarti ia telah kehilangan kekebasan untuk hanya tunduk pada kaidah-kaidah saintifik yang dianutnya.

Gambaran tentang tabrakan antara sains dan teknik di satu sisi dengan etika atau kepentingan masyarakat secara keseluruhan di sisi lain, itu tampak jelas dari peristiwa Perang Dunia II. Peristiwa tersebut membuka mata kita bahwa apa yang dianggap benar untuk dilakukan dalam sebuah dunia ilmu pengetahuan yang tertutup dan terpisah, tidak sepenuhnya bisa dibenarkan dalam konteks masyarakat yang lebih luas. Dari malapetaka yang ditimbulkannya orang kemudian menyadari bahwa pasti akan terjadi benturan antara kepentingan-kepentingan impersonal sains dan teknologi dengan kepentingan-kepentingan yang lebih manusiawi dari masyarakat kebanyakan. Kalaupun bukan benturan, akhirnya ditemukan bahwa antara masyarakat dan sains serta teknologi terdapat sebuah relasi. Masyarakat, seperti kita ketahui, adalah sebuah komunitas yang diikat oleh adanya penerimaan akan norma-norma etis dan tingkahlaku. Penolakan luas atas norma-norma tersebut akan membawa pada perpecahan dan kehancuran komunitas tersebut. Di lain pihak, komunitas ilmiah yang ada dalam masyarakat juga diatur oleh norma-normanya sendiri. Misalnya norma tentang keharusan menulisan laporan penemuan secara benar, atau keharusan mentaati prinsip-prinsip perkembangan sain. Hal yang memprihatinkan adalah kenyataan bahwa norma-norma sains dan teknologi diterima hampir secara bulat oleh para pendukungnya, sedangkan norma-norma masyarakat kontemporer justru makin lama semakin banyak ditinggalkan. Maka tidaklah mengherankan jika lebih banyak muncul ketaksepakatan tentang “fakta” dalam ilmu sosial daripada dalam ilmu-ilmu alam.

Problem lebih besar muncul ketika dalam perkembangan mutakhirnya, sains ternyata tidak semata-mata mendasarkan dirinya pada apa yang ada, melainkan juga mengupayakan sesuatu yang, menurut kepentingannya sendiri, seharusnya ada melalui teknologi. Istilah rekayasa (engineering) dengan tepat menggambarkan hal itu. Dalam konteks yang lebih luas, ini menghasilkan sebuah cara pandang baru bahwa alam dan masyarakat pun bisa dibentuk dan diatur berdasarkan model-model sains, yakni melalui apa yang dikenal sebagai saintisme. Maka bukan hanya sains telah berusaha makin melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan moral, melainkan ia bahkan telah mendudukkan dirinya sebagai nilai-nilai moral baru dalam masyarakat yang dibentuknya. Secara sederhana inilah yang kemudian melahirkan semacam ideologi bahwa apa yang dimungkinkan secara saintifik dan teknis, maka juga harus mungkin secara sosial. Ini menjadi salah satu bahan menarik dalam diskusi atau perdebatan tentang apakah sains bebas nilai atau tidak, karena faktanya sains juga cenderung membawa nilai-nilainya sendiri. Tapi saya tidak akan membahas diksusi tersebut lebih jauh dalam karangan ini.

Sementara itu, sikap kita, penerimaan dan penolakan kita terhadap perkembangan sains dan teknologi akan sangat ditentukan oleh sejauhmana kontrol kita bisa ditetapkan untuk mengendalikannya. Artinya, tidak pernah ada posisi stabil yang bisa dipegang. Sebuah tema lama tentang persoalan relevansi teoritis sebuah hasil temuan di satu pihak, dan relevansi sosial pemberlakuan temuan tersebut pada level kemasyarakat di pihak lain seperti terus-menerus akan berulang.[7] Ketika akhirnya perusahaan IBM (International Business Machines) berhasil menciptakan mini komputer DeepThought yang sanggup mengalahkan pecatur terbaik dunia, Garry Kasparov, misalnya, banyak orang kemudian melontarkan kritik tajam atas pencapaian tersebut. Muchtar Buchori, misalnya, dalam esainya di The Jakarta Post menyayangkan mengapa temuan-temuan teknlogi diarahkan pada usaha-usaha untuk mengalahkan manusia. Yang lain berpendapat bahwa itu merupakan salah satu bukti tentang bagaimana sains dan teknologi yang semula ditujukan untuk membantu mempermudah kehidupan manusia kemudian berbalik menjadi salah satu sebab ancaman nasib kita di dunia.

Akan tetapi, setahun sebelumnya, ketika Kasparov berhasil mengalahkan mesin DeepBlue generasi lebih awal, orang di dunia ramai merayakan keberhasilan manusia melawan mesin. Dengan keyakinan yang terkesan terlampau berlebihan, beberapa orang bahkan menyatakan itu sebagai satu bukti lain bahwa setinggi apa pun teknologi dikembangkan, manusia tetap memiliki sebuah kecerdasan “misteri” yang tak bisa diprogramkan. Ketika itu jarang sekali, untuk tidak menyebutnya tidak ada, yang menyesalkan dilangsungkannya pertandingan tersebut. Kritik baru muncul setelah manusia berhasil dikalahkan--artinya, setelah sebuah rasa percaya diri sebagai pemilik kecerdasan misteri dirontokkan, sehingga manusia seperti tidak lagi memiliki otoritas untuk menyebut dirinya sebagai makhluk paling cerdas di planet bumi.[8]

Drama dua babak dari pujangga tebesar Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, Dr. Faust, dan karya novelis Swiss-Inggris, Mary Shelley, Frankenstein; or The Modern Promotheus (1818) adalah dua mahakarya sastra yang paling sering dirujuk untuk memperlihatkan potensi terburuk dari perkembangan sains dan teknologi bagi kehidupan umat manusia. Dr. Faust menceritakan kisah persekutuan antara iblis Mephistopheles dan seorang manusia kekasih Tuhan (Faust) demi memenuhi hasratnya pada ilmu pengetahuan dan kesenangan duniawi. Seperti sudah banyak diketahui, dalam tanggapannya terhadap esai provokatif Sultan Takdir Alisjahbana pada majalah Pujangga Baru (2/8/1935), pada surat kabar Suara Umum (4/9/1935), Sanusi Pane menulis artikel, Persatuan Indonesia, dan menjadikan sosok Dr. Faust sebagai representasi dari tradisi ilmu pengetahuan Barat yang dikontraskannya dengan sosok Harjuna sebagai orang yang haus ilmu dalam tradisi timur. Kalau Faust menggadaikan jiwanya kepada iblis, Harjuna yang bertapa di Indrakila justru menyatukan dirinya dengan para dewa. Faust adalah representasi nafsu manusia pada ilmu pengetahuan dan kesenangan yang mengesampingkan begitu saja perkara-perkara etis dan moral. Sementara Harjuna adalah representasi dari upaya manusia yang senantiasa mencari keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan spritirualisme, yang dianggap khas masyarakat timur. Sanusi Pane seperti mewakili suara-suara dari abad yang sudah lewat tapi sekaligus masih cukup aktual, paling tidak sampai ketika apa yang kemudian dikenal sebagai Polemik Kebudayaan itu berlangsung, yakni bahwa sains dan ilmu pengetahuan Barat tidak bisa begitu saja diterima tanpa sikap kritis.

Sementara Shelley dalam Frankenstein mengisahkan tentang seorang ilmuwan kelahiran Italia yang mempelajari proses-proses kimiawi dan pembusukan benda-benda hidup. Frankenstein kemudian mendapat ide untuk menciptakan kehidupan dan menghidupkan makhluk buatannya sendiri. Ia berhasil melakukan itu tapi lantas kecewa karena keburukan bentuknya yang menyerupai monster. Frankenstein meninggalkan hasil kreasinya itu. Sang monster berjanji akan membalas dendam kepada penciptanya. Kisah ini umumnya dianggap menggambarkan kemungkinan buruk ketika sains dan teknologi dikembangkan tanpa pertimbangan-pertimbangan etis, moral dan religius. Buah dari kejeniusan manusia bisa berubah menjadi monster yang justru berbalik mengancam kehidupan bukan hanya orang yang menciptakannya tapi juga semua orang terdekatnya. Kalau Faust memperlihatkan kemungkinan orang menjual jiwanya kepada iblis untuk nafsunya pada ilmu pengetahuan, Frankenstein memperlihatkan kemungkinan pencapaian sains dan teknologi yang mengabaikan nilai-nilai moral, etis dan religius. Kedua-duanya berujung pada malapetaka. Kedua-duanya, dalam kalimat lain, adalah gambaran dari rasa takut manusia kepada kemungkinan-kemungkinan terburuk dari perkembangan sains dan teknologi pada jiwa dan kehidupan manusia.

Jelas terlihat bagaimana sebetulnya kita niscaya bersikap ambigu menghadapi perkembangan teknologi. Dari kasus di atas tampak bahwa kritik etis sekalipun baru dilontarkan ketika fakta telah membuktikan bahwa sains dan teknologi mutakhir kini benar-benar bisa dipakai untuk menciptakan mesin secerdas manusia paling pintar. Maka persoalannya kemudian adalah, adakah kritik itu merupakan cermin dari sebuah penolakan etis terhadap upaya-upaya pembuatan teknologi untuk menyamai manusia, atau justru akan memperlihatkan sebuah problem filosofis yang lebih dalam tentang rasa takut manusia akan hilangnya superioritas mereka di hadapan segala hal. Artinya, adakah kecaman semacam itu tetap akan muncul jika kemudian terbukti Kasparov kembali berhasil memenangkan pertandingannya. Ini sekaligus memperlihatkan betapa sebenarnya etika selalu bergerak lebih lambat dari kenyataan. Ia seperti perumpamaan Hegel tentang filsafat, bahwa burung hantu minerva terbang hanya ketika senja hari telah lewat. Artinya pertimbangan-pertimbangan etis seringkali baru muncul setelah problem etisnya itu sendiri (telah) terjadi.

Dunia terus berubah dengan atau tanpa legitimasi etis atas segala jenis perkembangan yang terjadi. Sains dan teknologi terus bergerak melayani atau bahkan menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru manusia yang. Maka problem etisnya kemudian tidak lagi terbatas pada perlu atau tidaknya sebuah teknologi dikembangkan untuk, dalam contoh kasus di atas, meniru manusia, melainkan lebih pada bagaimana kita bisa menerima hadirnya “makhluk” lain yang terus berkembang bersama kita yang, secara kebetulan, adalah ciptaan kita sendiri.[9] Artinya, sejauhmana sebetulnya kita bisa menerima etika juga sebagai sesuatu yang tidak berhenti melainkan bergerak dinamis. Dengan kata lain, etika yang tidak melulu berorientasi ke belakang melainkan terus berdialog secara kreatif dengan kenyataan hari ini. Konsekwensinya, persoalan benar dan salah perlu dilihat sebagai sesuatu yang tidak bisa lepas dari konteks. Pretensinya bukan memelihara sebuah tatanan etis lama, melainkan membuka kesempatan menciptakan tata etis baru terus-menerus dalam lingkungan-lingkungan yang tengah terus berubah. Havel atau siapa pun berhak kecewa dengan ketidakpastian segala hal di zaman postmodern, tapi kepastian etis yang salah tempat--dengan kata lain, lepas dari konteks-- tidak kalah berbahaya dibanding ketidakpastian sama sekali.

Catatan Akhir

Dalam konteks munculnya lingkungan-lingkungan pengalaman baru yang kemudian disebut sebagai zaman informasi itu, problem yang muncul ternyata bukan hanya menyangkut persoalan dipenuhi atau dilanggarnya etika lama, melainkan juga munculnya desakan ke arah pembaharuannya. Ketika teknologi informasi generasi pertama dalam bentuk teknik cetak baru mulai berkembang, masyarakat dan kebudayaan Eropa membutuhkan lebih dari 200 tahun untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang tercipta oleh temuan tersebut. Seperti ditunjukkan oleh Postman, mereka kemudian mengembangkan institusi-institusi baru seperti sekolah dan pemerintahan perwakilan. Budaya Eropa kemudian juga mulai mengembangkan konsepsi-konsepsi baru tentang pengetahuan dan intelegensia, dan mulai lebih menaruh hormat pada rasio dan privasi. Selajutnya berkembanglah bentuk-bentuk aktivitas ekonomi baru, seperti mekanisasi produksi dan kapitalisme korporat, bahkan sampai munculnya peluang bagi sosialisme. Diskursus-diskursus publik berlangsung melalui surat-surat kabar, pamflet dan, tentu saja, buku-buku. Dari sinilah kemudian kita mengenal para penjaga rasio seperti Goethe, Voltaire, Diderot, Hume, Kant, sampai Adam Smith. Mereka ini pula yang sampai kini dikenal sebagai perumus-perumus etika yang menggemakan kembali suara-suara kebijakan purbawi dari Socrates, Plato dan Aristotles.

Ketika selepas Perang Dunia II orang-orang Eropa dan Amerika sibuk merumuskan sebuah etika universal bagi seluruh umat manusia, para antropolog seperti Melville Jean Herskovits dan Ruth Benedict sudah mengingatkan kemungkinan terjadinya benturan antara ambisi universalisme moral seperti itu dengan konteks ke dalam apa prinsip-prinsip tadi akan diberlakukan. Para antropolog ini sadar benar bahwa bagaimanapun etika atau moral pasti sulit diberlakukan secara universal kecuali dengan mengingkari terlebih dahulu kenyataan bahwa budaya manusia sama sekali tidak seragam. Ini adalah sebuah gambaran yang bertentangan dengan perkiraan para perumus etika. Kalau etika berpretensi universal, budaya justru sangat terikat oleh lokalitas. Etika cenderung ahistoris karena ia dianggap sebagai pemberian langsung dari tuhan kepada manusia, atau hasil dari proses abstraksi pikiran manusia yang melampaui realitas, sedangkan budaya niscaya sangat historis, ia lahir dari upaya manusia untuk hidup di dunia. Persoalan ini menjadi lebih rumit karena setiap budaya juga pasti menghasilkan kaidah-kaidah moralnya sendiri. Di lain pihak moral adalah omong kosong jika ia tidak diberlakukan pada sebuah konteks sosial dan budaya tertentu.

Keberatan terhadap klaim universalisme moral dengan mudah bisa dilontarkan: tidakah apa yang dianggap universal itu pada dasarnya hanya merupakan produk khas dari kebudayaan tertentu? Kebebasan individu, misalnya. Tidakah ini merupakan produk dari pikiran orang-orang Yunani yang mengerti betul apa arti dan harga seorang individu yang bebas karena mereka memberlakukan perbudakan dengan kejam? Aristotles sendiri, salah seorang peletak dasar etika yang diagungkan itu, secara terang-terangan mensyahkan perbudakan atas nama moral. Dalam batas ini, moral atau etika dalam praktik seringkali juga merupakan bahasa kekuasaan. Tuntutan akan hak akhirnya muncul dari orang atau kelompok orang yang secara nyata mengakibatkan hal yang bertolakbelakang dengan tuntutannya. Dari sudut pandang ini, dunia di luar Yunani tidak terlampau menggebu menuntut kebebasan individu bukan semata karena kebebasan itu di mata mereka tidak penting, melainkan lebih karena pengalaman mereka, budaya mereka, sejarahnya tidak begitu jelas membedakan antara tuan dan hamba, misalnya.

Saat ini, kembali pada argumen Havel, kita hidup dalam sebuah situasi paradoksikal. Gerak cepat lalu-lintas informasi dan mobilitas manusia dari dan ke segala tempat di bumi, semakin menguatkan pendapat bahwa segala klaim absolutisme tidak lagi memadai. Pelbagai jaringan teknologi media memang berhasil menciptakan sebuah budaya global yang nyaris seragam di seluruh dunia, tapi ia juga menghasilkan bermacam-macam gerak yang menjauhinya. Dengan penuh kecemasan Huntington menyatakan bahwa meskipun orang-orang Timur (Islam) sama-sama menyantap McDonalds atau minum CocaCola dan nonton MTV, tapi mereka tetap saja tidak pernah menjadi masyarakat demokratis seperti Barat. Benjamin R. Barber, dalam nada yang sama, juga menyatakan bahwa meskipun antara Jihad dan McWorld tampak kontras perbedaannya, tapi mereka membagi satu hal yang sama: ancaman bagi demokrasi Barat.[10] Yang menarik dari dua pernyataan tersebut tentu saja bukan hanya soal tuduhan tentang macetnya demokrasi di negara-negara Timur melainkan, dalam konteks tulisan ini, betapa sesungguhnya setiap budaya memiliki daya resistensinya sendiri-sendiri.

Globalisasi pada gilirannya juga dijajari oleh lokalisasi sebagai sebuah gerakan horizontal yang mengimbanginya. Globalisasi mempertanyakan negara, bangsa, etnisitas, agama, dan ideologi, sambil pada saat yang sama berupaya melakukan penyeragaman pola dan gaya hidup, antibirokrasi, bahkan antinomianisme. Lokalisasi justru tampak sebagai pelbagai kecenderungan untuk kembali mamadatkan batas-batas yang tengah mulai makin memudar tadi, sambil pada saat yang sama menolak penyeragaman yang ditawarkan via media, dan terus bergerak menggugat pelbagai klaim universalitas tentang demokrasi, hak asasi manusia, bahkan etika dan moral. Secara singkat bisa dikatakan bahwa lokalisasi bergerak menggugat Eropa dan Amerika.

Munculnya apa yang disebut era informasi bebas-hambatan saat ini, telah melahirkan akibat yang, dalam banyak hal, bertolakbelakang bahkan cenderung menghilangkan apa yang diraih oleh revolusi informasi pertama lebih dua abad silam, sekaligus memperkuat desakan ke arah relativisme moral. Model-model sekolah klasikal, misalnya, sekarang mulai dipertanyakan relevansinya setelah tersedia layanan jasa on-line untuk menyebarkan pengetahuan ke seluruh dunia. Hak cipta intelektual makin sulit ditegakkan segera setelah Xerox memudahkan orang untuk menyalin setiap buku yang terbit dengan biaya lebih murah. Di lain pihak, tindakan seperti itu juga seolah mendapatkan legitimasi filosofis dari pemikiran postmodernis tentang hyperrealitas dan simulacra, yang dengan sangat meyakinkan berhasil menunjukkan lenyapnya distingsi antara yang asli dan yang tiruan, antara yang real dan yang tidak real. Jaringan transportasi, telekomunikasi dan informasi memungkinkan orang untuk lebih banyak bertemu dengan wilayah, kesadaran, dan budaya yang selama ini tak pernah dikenalnya. Contoh-contoh lain masih bisa dideretkan sangat panjang mulai dari privasi individu sampai aktivitas-aktivitas ekonomi yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Kalau kita bisa menerima asumsi bahwa etika bukanlah sesuatu yang muncul dan beroperasi dalam ruang kosong, segenap perubahan yang kita saksikan tadi seolah membuktikan bahwa beberapa landasan untuk sebuah sistem etika lama yang berpretensi universal dan absolut kini semakin sulit ditemukan. Relativisme membantu kita menemukan perbedaan budaya sekaligus perbedaan moral dalam lokasi dan waktu yang berlainan. Ia membantu kita menemukan bahwa bukan hanya Eropa dan Amerika yang berhak menentukan etika dan moral manusia. Setiap budaya memiliki validitasnya sendiri. Ini akan menghasilkan ketidakpercayaan dan rasa curiga berkepanjangan terhadap segala hal yang dimutlakkan, termasuk terhadap upaya-upaya untuk merumuskan etika dan/atau moral sebagai sebuah pedoman bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali.

Persoalannya kemudian barangkali lebih terletak pada ketepatan memilih ketika etika, seperti halnya produk kebudayaan yang lain, juga tersedia sebagai pilihan-pilihan yang beragam. Dalam konteks Indonesia, misalnya, apakah kita bisa memilih antara etik Pancasila dan liberalisme. Relativisme bukan dalih untuk menghindar. Problem yang dihadapi para pendukung relativisme etika adalah ketika faham tersebut dijadikan dalih untuk menutupi kesewenangan-kesewenangan etis yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan politik. Misalnya, apakah represi Orde Baru bisa dibenarkan hanya karena keyakinan bahwa etika bersifat relatif? Akan tetapi, pertanyaan ini bisa dikembangkan lebih lanjut: apakah etika masyarkat Indonesia memang membenarkan represi, ataukan itu sekedar bukti lain bahwa etika lebih sering muncul sebagai fungsi kekuasaan? Artinya, masalah tersebut tidak muncul karena perselisihan antara absolutisme vs relativisme etika melainkan lebih pada sejauhmana sebuah rezim melakukan manipulasi atas norma-norma etis masyarakat yang dikuasainya. Modernitas, kita tahu, selain mengandung utopia dan melahirkan nostalgia juga membenamkan beberapa trauma yang pahit persis ke bagian belakang kepala. Termasuk di dalamnya pelbagai trauma yang muncul dari pengalaman ketika etika tak lain sekedar salah satu fungsi dari kekuasaan dan dominasi.

Etika selama ini memang mirip burung hantu. Ia muncul ketika segala kejadian telah lewat, dan kerap sangat berhasil menghadirkan sebuah suasana menakutkan. Penuh teror.

Sukabumi, 12 September 1997


Versi awal esai ini pernah dimuat pada salah satu edisi Jurnal UNISIA, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1997. Tapi saya lupa nomor edisinya yang lengkap. Dimuat lagi di situs ini dengan sejumlah perbaikan dan beberapa tambahan kecil.



BACA JUGA



Endnotes


[1] Persoalan identitas dalam dunia postmodern telah menjadi bahan diskusi akademis yang cukup menarik. Pertumbuhan jaringan global telekomunikasi elektronik yang tak lagi menghormati batas-batas geografis, etnisitas, politik, gender, agama dan ideologi, membuat beberapa kalangan berpikir ulang tentang konsep identitas sebagai sebuah entitas yang tunggal. Penelitian Profesor Sherry Turkle bahkan menunjukkan bahwa persoalan identitas individu tidak ubahnya seperti konsep tentang jendela dalam sistem operasi komputer. Bukan tunggal, melainkan banyak identitas yang bisa disandang oleh seseorang. Banyak orang yang mulai menganggap identitasnya dalam kehidupan di dunia aktual sehari-hari sebagai sebuah “jendela yang lain”, yang tidak lebih baik daripada jendela-jendela lainnya. Turkle sampai pada kesimpulan bahwa daripada memiliki sebuah identitas yang tunggal, manusia sebenarnya selalu berputar-putar dalam lingkaran pelbagai peran yang berlainan, dan ditantang untuk berpikir tentang identitasnya dalam terminologi keberagaman. Seseorang mungkin akan bangun pagi sebagai seorang ibu, berangkat ke kantor sebagai seorang wartawati, dan menjadi istri di tempat tidur. Di internet orang bebas untuk melakukan eksperimen tentang identitasnya atau untuk, meminjam bahasa Turkle, terlibat dalam permainan identitas. Internet telah memberi kita kesempatan untuk menghadirkan diri kita di depan sekian banyak orang sekaligus yang mungkin tidak pernah mengalami kehadiran aktual kita. Layar monitor, dengan demikian, adalah sebuah medium baru melalui apa kita bisa menghadirkan diri dalam sebuah cara representasi yang, secara radikal, baru. Melalui cara representasi-diri seperti inilah, kita akan memperoleh sebuah perspektif baru untuk mendekati persoalan identitas manusia dalam zaman posmodern ini.

Identitas telah menjadi bahan diskusi panjang lebar dalam pelbagai situs World Wide Web di internet. Sebagai pintu masuk ke dalam perdebatan tersebut, Anda bisa mengunjungi Home Page pribadi Daniel Chandler atau Home Page pribadi Sherry Turkle di internet. Keterangan yang saya tulis di atas mengacu pada Sherry Turkle, “Who Am We? Wired Ventures, 1995; Annalee Newitz, Surplus Identity On-Line, Bad Subjects, Issue # 18, January 1995; Herb Brody, “Session with the Cybershrink: an Interview with Sherry Turkle”, from Technology Review, 1995; Paul J. Kelly, “Human Identity Part 1 : Who Are You?”, pada situs Netropolitan Life; Sherry Turkle, “Construction and Reconstruction of the Self in Virtual Reality” ; Daniel Chandler, “The Construction of Identity”.

[2] Sudah menjadi hal biasa dalam kenyataan kita akhir-akhir ini, bahwa segenap keberhasilan upaya manusia dalam meraih sesuatu dengan menggunakan seperangkat teknologi tinggi, pujian akan pertama-tama ditujukan pada kemajuan tekniknya itu sendiri. Ketika manusia pertama kali mendarat di bulan, yang sampai kini lebih banyak kita kagumi adalah jenis teknologi dan sains yang berhasil menciptakan Apollo, bukan keberanian Neil Armstrong. Ini akan berubah secara kontras jika yang kita alami adalah kegagalan. Laporan IPTEK dalam Kompas, 2 September 1997, boleh jadi masih memperlihatkan hal ini dengan jelas. Mengomentari petaka yang menimpa Lady Diana, para pengamat teknologi menyebutkan bahwa secara teknologis kecelakaan tersebut seharusnya bisa dihindari. Sebab mobil yang dipakai oleh Diana telah dirancang sedemikian rupa untuk menghadapi setiap kemungkinan kecelakaan. Dengan ungkapan lain, kecelakaan tersebut lebih banyak ditimbulkan oleh persoalan human-error. Memperhatikan kasus-kasus serupa selama ini, kita bisa pula menduga hal yang sebaliknya: seandainya Lady Diana berhasil lolos dari bahaya tersebut, maka semua orang akan melihat itu melulu karena teknologi yang digunakan pada mobil yang ditumpanginya tadi. Dari dua kemungkinan seperti itu, yang muncul bukanlah keyakinan bahwa manusia merupakan penentu segalanya melebihi teknologi, melainkan justru bagaimana teknologi menjadi demikian superior di hadapan manusia. Dalam kasus ini, mengacu pada laporan tersebut, teknologi seolah menjadi sesuatu yang tidak berdosa, dan ketaksanggupan manusia untuk memanfaatkannyalah yang menjadi pangkal bencana. Cara pandang ini menjadi khas dalam banyak kasus kemalangan nasib manusia yang melibatkan teknologi tinggi. terminologia human-error menjadi sebentuk argumen yang membuat superioritas teknologi legitim karenanya. Sains dan teknik selalu tampak seperti malaikat tanpa dosa.

[3] Dari ucapan-ucapannya di atas, kita bisa mengatakan bahwa Havel pada dasarnya tidak sedang berbicara tentang sebuah ide baru. Apa yang ditawarkannya, seperti dengan terang ia ungkapkan, terinspirasi oleh teori yang begitu akrab di telinga para aktivis postmodernisme. Ajakannya untuk sebuah dunia yang saling bergantung imbalbalik bukan hanya secara ekonomis melainkan sebagai sebuah ekosistem adalah inti dari apa yang lebih dikenal sebagai teori GAIA sejak dekade 1960-an lalu.

Bayangan tentang dunia sebagai sebuah kehidupan, ibu pengasuh, bisa ditemukan dalam banyak kebudayaan baik kuno maupun modern. Hipotesis Gaia, nama dari dewa-dewa bumi Yunani kuno, menyatakan bahwa semua kehidupan di bumi menyerupai sebuah organisme hidup yang mahabesar yang selalu bergerak di atas sistem-sistem fisik dan kimia bumi. Melalui interaksinya dengan lingkungan, superorganisme ini telah berhasil mempertahankan planet bumi untuk kehidupan. Menurut hipotesa Gaia, evolusi organisme-organisme hidup dan evolusi lingkungan fisik dan kimianya saling terikat demikian kuat menjadi sebuah proses. Hipotesa ini pertamakali dikembangkan pada dekade 1960-an oleh seorang ahli kimia James Lovelock, yang bekerja pada National Aeronautics and Space Administration (NASA) dengan tugas untuk menentukan ada atau tidaknya kehidupan di Mars. Keterangan ini mengacu pada , The Earth Explorer, The multimedia encyclopedia of the environment and more, For Macintosh. Apple Computer, 1995.

[4] Postman menunjuk technopoly sebagai sebuah kondisi budaya sekaligus kondisi pikiran masyarakat ketika budaya mencari otoritasnya, mencapai pemenuhannya, dan menetapkan tatanannya melalui teknologi. Technopoly berkembang ketika pertahanan melawan informasi telah lenyap. Dengan demikian, technopoly bisa diartikan sebagai peristiwa yang terjadi pada masyarakat ketika pertahanan melawan serbuan infromasi telah hilang. Itu terjadi ketika kehidupan institusional tidak lagi memadai untuk mengatur informasi yang terlalu melimpah. Yakni ketika sebuah kebudayaan, dipaksa takluk kepada informasi yang dihasilkan oleh teknologi, mencoba untuk memakai teknologi sebagai sebuah cara untuk menunjukkan arah yang pasti dari kehidupan manusia. Technopoly tidak lain adalah sebentuk teknokrasi totalitarian. Lebih jelas periksa Neil Postman, Technopoly. The Surrender of Culture to Technology. Vintage Books, New York, 1993. Kritik tajam Postman terhadap kecenderungan dominannya peran komputer dalam kehidupan masyarakat kontemporer secara khusus bisa dilihat dalam Bab 7 buku tersebut, “The ideology of Machine: Computer Technology”.

[5] Keterangan lebih lengkap tentang hal ini bisa dilihat, antara lain, dalam tulisan seorang pemikir generasi X, Douglas Ruskhoff, Media Virus! Hideen Agendas in Popular Culture. Random House Australia, NSW, 1994. Atau baca pula sebuah wawancara dengan Sherry Tukrle yang dilakukan oleh Herb Brody dalam Session with the Cybershrink: an Interview with Sherry Tukrle, pada Home Page pribadi Herb Brody di internet.

[6] Cerita yang dituturkan oleh Umberto Eco mungkin akan menjadi salah satu ilustrasi terbaik tentang jarak antara informasi dan pengetahuan. Ketika ditanya oleh Patrick Coppock tentang apakah teknologi komputer secara aktual fungsional baginya sebagai seorang penulis dan peneliti sastra, Eco menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah cerita: Suatu hari ia pernah diundang oleh Universitas Jerusalem pada sebuah simposium yang bertema tentang citra Jerusalem dan tempat-tempat ibadah sebagai sebuah citra. Ia sempat kebingungan karena tidak tahu apa yang akan dibahasnya dengan topik seperti itu. Kebetulan disertasinya membahas tentang Thomas Aquinas. Akhirnya ia putuskan untuk mencari informasi tentang Jerusalem dari bahan-bahan yang sebelumnya ia pergunakan saat membuat disertasi, yang telah ia susun menjadi sebuah dokumen hypertext dalam komputer pribadi di ruang kerjanya. Sebetulnya ia hanya membutuhkan 10 sampai 15 tema yang relevan dengan tema yang akan dibahasnya. Tapi dengan fasilitas sistem hypertext, dalam satu kali pencarian ia mendapat sekitar 11.000 item yang saling berkaitan satu dan yang lain. Dengan informasi sebanyak ini, Eco mengakui adalah tidak mungkin baginya untuk bisa membuat sebuah telaah yang baik dalam waktu yang terbatas. Ia berkesimpulan bahwa seandainya ia masih menggunakan metode pencarian konvensional tanpa komputer, mungkin ia telah menyelesaikan tulisan yang diminta universitas Jerusalem tadi. Lebih jelas periksa Patrick Coppock, “A Conversation on Information”-An Interview with Umberto Eco, Februari, 1995. Artikel ini bisa diakses melalui internet dengan alamat http://www.cudenver.edu/mryder/itc-data/eco/eco.html. Ini adalah sebuah situs tentang semiotika Universitas Colorado yang diasuh oleh Martin Ryder.

[7] Ignas Kleden pernah berhasil mengulas masalah ini dalam satu karya terbaik yang pernah ditulisnya, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Jakarta, LP3ES, 1987.

[8] Hampir dalam waktu yang bersamaan, debat sains dan teknologi versus etika dipanaskan oleh kabar tentang rekayasa genetika, tentang proses cloning yang, setelah diujicoba pada seekor domba, secara teoritis bisa diterapkan pada tubuh manusia. Orang kemudian seperti dilemparkan pada kecemasan yang semula tak dikenal: ketika ilmu dan teknik bukan hanya berfungsi untuk mempermudah dan memperbaiki kehidupan manusia seperti diyakini oleh Francis Bacon, melainkan juga sangat mungkin untuk dipakai menciptakan salinan-salinan dari diri manusia sendiri. Kalau proyek minikomputer DeepThougth hanya bertujuan untuk, sampai tingkat tertentu, meniru kecerdasan manusia, maka prinsip cloning adalah menyalin secara total bukan hanya sebagian tubuh manusia. Secara sederhana proses tersebut berarti menggandakan tubuh manusia melalui sebuah upaya rekayasa genetika. Kalau IBM hanya berambisi agar mesinnya bisa menyamai kejeniusan Kasparov dalam membuat perhitungan probabilitas, maka cloning bermaksud menciptakan tubuh biologis Kasparov yang kedua atau lebih.

[9] Dari sudut pandang perkembangan sains dan teknologi sendiri, sebenarnya bisa diajukan sebuah keberatan yang menyulitkan: jika bukan manusia yang dijadikan model terakhir kecerdasan produk-produk teknologi, lantas adakah model lain yang bisa ditiru? Pada tingkat lebih lanjut ini akan merupakan bentuk serangan lain pada klaim yang terlanjur kita terima seolah sebagai sebuah kodrat, bahwa manusia adalah spesies tercerdas yang pernah ada di dunia. Munculnya kecemasan di atas, dengan demikian, sekaligus juga memperlihatkan bagaimana kita mulai meragukan apa yang semula kita anggap kodrat manusia tadi. Tidakah dengan itu kita bisa melihat perkembangan teknologi dari sisi yang lebih optimistis sekaligus terus berusaha memelihara sikap kritis terhadap diri kita sendiri? Bahwa sudah saatnya manusia membuang keinginan untuk hidup tanpa sekutu yang menyerupainya. Yang terakhir ini adalah warisan dari ajaran lama yang menempatkan manusia sebagai pengganti tuhan di dunia. Karena ia pengganti tuhan, maka seperti yang digantikannya, manusia juga tidak ingin ada hal lain yang menandinginya.

[10]Istilah McWorld dan Jihad dipakai Barber untuk menunjuk pada dua fenomena yang tampak paling menonjol saat ini: tribalisme di satu pihak dan globalisme di pihak lain. Dengan Istilah McWorld yang dimaksudnya adalah tuntutan-tuntutan ke arah integrasi dan uniformitas melalui pola, gaya-gaya hidup, konsumsi, hiburan dan informasi. Semua itu terwakilkan ke dalam MTV, Macintosh, dan McDonalds, yang oleh Barber disingkat McWorld. Tuntutan-tuntutan tadi bertolak belakang dengan dunia Jihad. Cara pandang Burber yang sangat Orientalis melihat Jihad sebagai semangat kepercayaan keagamaan yang sempit orang-orang Timur yang menentang interdpendensi dan terus-menerus mengobarkan peperangan. Kalau Jihad didorong oleh kebencian-kebencian parokial, McWorld justru didorong oleh universalisasi pasar-pasar ekonomi. Jihad bertujuan menciptakan kembali batas-batas etnik dan subnasional lama dari dalam, MacWorld justru mencairkan batas-batas tersebut dari luar. Dua kubu tersebut, menurut Burber, senantiasa bentrok dalam segala lini kecuali dalam satu hal: mereka sama-sama merupakan ancaman bagi demokrasi Barat. Lebih jelas periksa Benjamin R. Barber, Jihad Vs. McWorld, The Altlantic Montly, Volume 269, No. 3 March, 1992, halaman 53-65.


Acuan

Ahmed, Akbar S. “Media Mongols at the Gates of Baghdad, dalam At Century’s End, Great Minds Reflect on Our Times. Foreword by Bill Moyers, edited by Nathan P. Gardels, ALTI Publishing, California, 1996.

Barber, Benjamin R. “Jihad Vs. McWorld”, The Altlantic Montly. Volume 269, No. 3 March, 1992, halaman 53-65.

Bertens, Kees. Etika. Gramedia, Jakarta, 1997.

Brody, Herb, “Session with the Cybershrink: an Interview with Sherry Turkle”, from Technology Review, 1995, dalam Personal Home-page Daniel Chandler dalam World-Wide Web.


Chandler, Daniel, “The Construction of Identity in Personal Home-page on the World-Wide Web”, dalam Personal Home-page Daniel Chandler dalam World-Wide Web.

Coppock, Patrick, “A Conversation on Information”-An Interview with Umberto Eco, Februari, 1995 pada http://www.cudenver.edu/mryder/ itc-data/eco/eco.html. Ini adalah sebuah situs tentang semiotika Universitas Colorado yang diasuh oleh Martin Ryder.

Gates, Bill, “Mendapatkan Kesempatan di Era Ekonomi Global”, Kompas, Minggu, 6 Juli 1997.

Giddens, Anthony. Modernity and Identity, Self and Society in the Late Modern Age. Polity Press, Cambridge, 1993.

Goulet, Denis. The Uncertain Promise, Value Conflict in Technology Transfer. IDOC, New York, 1977.

Havel, Vaclav, “Trancendene in the Postmodern World”, pidato di Independence Hall, 4 Juli 1994. (http://www.worldtrans.org/whole/havelspeech.html)

Kelly, Paul J. “Human Identity Part 1: Who Are You?” pada situs Netropolitan Life ( http://www-home.calumet.yorku.ca/pkelly/www/id1.htm)

Kleden, Ignas. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. LP3ES, Jakarta, 1987.

Merton, Robert K. The Sociology of Science, Theoritical and Empirical Investigation. Edited and with an introduction by Norman W. Storer, The University of Chicago Press, Chicago and London, 1973.

Newitz, Annalee, “Surplus Identity On-Line”. Bad Subjects. Issue # 18, Januari, 1995.

Paz, Octavio, “West Turn East at the End of History”. Dalam At Century’s End, Great Minds Reflect on Our Times. Foreword by Bill Moyers, edited by Nathan P. Gardels, ALTI Publishing, California, 1996.

Postman, Neil. Technopoly. The Surrender of Culture to Technology. Vintage Books, New York, 1993.

Richards, Stewart. Philosophy and Sociology of Science. An Introduction. Schocken Books, New York, 1984.

Ruskhoff, Douglas. Media Virus! Hidden Agendas in Popular Culture. Random House, NSW, 1994.

Turkle, Sherry. “Who Am We?”, Wired Ventures, 1995. (https://www.wired.com/1996/01/turkle-2/).

Turkle, Sherry. “Construction and Reconstruction of the Self in Virtual Reality”. Dalam S. Kiesler (Ed.), Culture of the Internet (h. 143–155). Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

The Earth Explorer, The Multimedia Encyclopedia Of The Environment And More, For Macintosh, Apple Computer, 1995.

Majalah Time edisi 13 Januari 1997.

Majalah Newsweek edisi 2 Desember 1996.

Kompas, 2 September 1997