Esai Personal

Membuka (Lagi) Jendela Rusak, Melihat Indonesia Kita Kini

Dongeng Kecil Kriminologi untuk Nalar Gramsia Budiman




“Blog

Sebuah Pagi dari Jendela

Saya ingin mulai dari dongeng kecil tentang bangun pagi dan jendela.

Kalau bisa bangun pagi sekali, atau justru ketika tidak bisa tidur malam sepicing pun, satu hal yang paling saya nikmati adalah ketika membuka jendela kamar pertama kali. Mata langsung terpapar langit terbuka di timur, waktu cahaya matahari baru pecah dan masih berupa bias yang menebar dari ufuk karena mengalami refraksi ketika menembus atmosfer di kaki langit. Sinarnya belum menjadi bilah-bilah lembing cahaya menyilaukan yang menancap jatuh tepat di ujung teratak belakang. Angin subuh seperti berebut masuk, memenuhi ruangan dengan udara segar pagi. Di dalam kamar. Di dalam paru-paru. Saya menambahkan frasa langitpagi pada nama anak bungsu saya antara lain karena itu. Pada momen seperti itu saya sering terkagum-kagum dengan penemuan jendela. Tidak seperti pintu yang terbuka sampai ke lantai, jendela mengambang antara membuka dan menyembunyikan sebagian. Pintu dibuat untuk ditutup dan sesekali dibuka, sedangkan jendela mulanya dibuat untuk hanya ditutup pada malam hari. Yang satu menutup celah besar yang dipakai untuk lalu lalang agar tidak sembarang orang bisa masuk sesukanya, yang lain membuka celah cukup lebar di dinding agar ruang di dalam tidak terlampau tertutup dan menyesakkan. Pintu untuk keamanan, sedangkan jendela untuk kenyamanan tinggal di dalam rumah.

Read More…

Komedi, Kritik!

Sosiologi, Budaya



Share

Blog Picture

Mengapa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sering mengadakan konferensi pers hanya untuk menanggapi kritik lawan-lawan politiknya yang sebenarnya tidak begitu penting? Kritiknya sendiri mungkin memang penting, tapi mengalokasikan ruang dan waktu khusus di depan publik untuk menanggapi itu semua, tidak akan menghasilkan apa pun selain impresi bahwa ia adalah seorang tokoh yang memang rawan dipermainkan oleh hal-hal yang remeh temeh. Yang didapat SBY dari itu semua hanya julukan "lebay", terlampau sensistif, sebuah julukan yang sungguh bertolakbelakang dengan keinginannya sendiri membangun citra diri sebagai pemimpin yang agung dan disegani. Tapi mengapa gaya egaliter Jusuf Kala selama kampanye Pemilu pemilihan presiden 2009 yang lalu justru banyak dilihat sebagai penampilan seorang calon pemimpin yang kurang patut dan tidak berwibawa? Ilmuwan politik atau ahli teori sosial mungkin bisa menjelaskannya dari banyak sisi. Tapi saya curiga, jangan-jangan itu semua juga bersangkutpaut dengan komedi dan relasinya dengan tradisi kritik politik dalam (sebagian) masyarakat Indonesia.

Read More…

A(nti) Social Network

Sosiologi



Share

Blog Picture

Sampai hari ini saya masih sering bingung melihat orang yang membawa bukan satu tapi dua bahkan tiga telepon genggam sekaligus. Tapi rupanya jumlah handphone yang dibawa bisa menjadi petunjuk awal tentang kehidupan seseorang dalam jaringan sosialnya. Makin luas dan kompleks jaringan sosialnya, makin besar keharusan memiliki lebih dari satu handphone. Mereka yang membawa handphone lebih dari satu karena punya yang baru dan enggan membuang yang lama juga tetap termasuk ke dalam kategori ini. Kalau tidak, mengapa tidak ditinggal di rumah?

Read More…