Membuka (Lagi) Jendela Rusak, Melihat Indonesia Kita Kini

Dongeng Kecil untuk Nalar Gramsia Budiman



“Blog

Sebuah Pagi dari Jendela

Saya ingin mulai dari dongeng kecil tentang bangun pagi dan jendela.

Kalau bisa bangun pagi sekali, atau justru ketika tidak bisa tidur malam sepicing pun, satu hal yang paling saya nikmati adalah ketika membuka jendela kamar pertama kali. Mata langsung terpapar langit terbuka di timur, waktu cahaya matahari baru pecah dan masih berupa bias yang menebar dari ufuk karena mengalami refraksi ketika menembus atmosfer di kaki langit. Sinarnya belum menjadi bilah-bilah lembing cahaya menyilaukan yang menancap jatuh tepat di ujung teratak belakang. Angin subuh seperti berebut masuk, memenuhi ruangan dengan udara segar pagi. Di dalam kamar. Di dalam paru-paru. Saya menambahkan frasa langitpagi pada nama anak bungsu saya antara lain karena itu. Pada momen seperti itu saya sering terkagum-kagum dengan penemuan jendela. Tidak seperti pintu yang terbuka sampai ke lantai, jendela mengambang antara membuka dan menyembunyikan sebagian. Pintu dibuat untuk ditutup dan sesekali dibuka, sedangkan jendela mulanya dibuat untuk hanya ditutup pada malam hari. Yang satu menutup celah besar yang dipakai untuk lalu lalang agar tidak sembarang orang bisa masuk sesukanya, yang lain membuka celah cukup lebar di dinding agar ruang di dalam tidak terlampau tertutup dan menyesakkan. Pintu untuk keamanan, sedangkan jendela untuk kenyamanan tinggal di dalam rumah.

Saya tidak sepenuhnya mengerti bagaimana jendela kemudian menjadi simbol pembuka ke hal ihwal yang lebih luas dan dalam tapi sekaligus menjadi tabir yang memang harus disibak: buku adalah jendela ilmu bahkan jendela dunia, mata adalah jendela hati, dan mungkin ungkapan-ungkapan lain yang tidak saya ingat. Tentu saja kita tidak akan pernah bisa mengabaikan Bill Gates, yang dengan menjual “jendela-jendela” (Windows) menjadi orang terkaya dunia selama beberapa dekade sebelum posisinya itu digeser oleh nama-nama baru belakangan ini. Salah seorang teman lama saya, seorang penyair cukup ternama, menjadi cukup kaya raya juga bukan karena puisi berhonor sangat tinggi tapi konon karena ia berjualan kusen-kusen jendela kayu jati.

Tinggal di wilayah tropis agar di dalam rumah tidak kepanasan dulu orang memasang jendela-jendela berbukaan besar untuk bisa dibuka lebar-lebar dan terjadi sirkulasi udara yang baik dan cahaya yang sehat di siang hari. Sekarang untuk kebutuhan yang sama orang justru harus menutup rapat-rapat bukan hanya semua jendela dan pintu tapi seluruh lubang ventilasi, karena AC hanya bekerja optimal dalam lingkungan yang tertutup.


Penemuan jendela dalam arsitektur bangunan manusia pada mulanya mungkin sekadar tempat angin dan cahaya keluar masuk ruangan. Ventilasi agar rumah tidak gelap, pengap dan cepat menjadi bau apak. Penyakitan. Dugaan saya, jendela pertama-tama adalah fungsional sebelum ia menjadi ornamental dan estetis. Tentang hal ini para arsitek dan ahli-ahli sejarah pasti bisa memberi penjelasan yang berbeda dan lebih tepat, sedangkan saya sekadar menebak-nebak saja. Beberapa rumah tradisional sub-sub etnis kecil yang sempat saya datangi di berbagai tempat di Indonesia ada yang tidak mengenal konsep jendela, tapi itu tentu dengan alasan kosmologisnya sendiri. Di luar itu, untuk saat ini sulit membayangkan rumah atau bangunan modern lainnya yang digunakan manusia tidak memiliki jendela. Sama sulitnya dengan mencari sistem operasi komputer modern yang tidak menggunakan metafora jendela (windowing system) sebagai interface untuk navigasi. Bill Gates bukan pelopor apalagi penemu sistem operasi dengan basis metafora jendela, karena sebelum Microsoft perusahaan lain sudah menggunakannya bahkan secara jauh lebih baik.

Dalam kisah-kisah romansa masa lalu, seorang gadis berdiri mengintip, menyunggingkan sebaris senyum di bibir sambil melambai malu-malu dari balik (tirai) jendela, itu sudah bisa membuat longsor hati pemuda. Melihat purnama yang retak ditikam siluete ranting-ranting pohon dari balik jendela adalah puisi yang tidak mati-mati dalam pena penyair kasta tinggi sampai kelas rumput teki. Dari momen-momen seperti itu kita juga bisa melihat makna lain dari sebuah jendela: bagi yang berada di luar jendela mengokohkan kadar misteri untuk yang ada di baliknya. Tapi bagi kita yang berada di dalam, melalui jendela kita bisa melihat tanpa harus beranjak. Jendela menawari kita untuk mengamati dari kejauhan, membaca tanda-tanda yang tampak di mata. Memahami dunia tanpa harus secara fisik mengelilinginya.

Huis Clos-sartre
Sartre pernah menulis drama berjudul Huis Clos (1944), yang oleh Asrul Sani diterjemahkan menjadi Pintu Tertutup (1964). Itu adalah tafsir a la Sartre tentang kondisi kehidupan ketika orang-orang berdosa menjalani hukuman setelah kematian. Tiga tokohnya, Joseph Garcin, Inèz Serrano, and Estelle Rigault tidak mengalami macam-macam siksa fisik yang aneh-aneh seperti cerita komik surga-neraka yang dulu banyak beredar di Indonesia, tapi dimasukkan bersama-sama ke dalam sebuah ruangan misterius dan dikunci di sana untuk selamanya. Abadi. Tidak ada danau api, logam cair mengepulkan asap, mendidih atau malaikat-malaikat penyiksa. Tidak ada jalan keluar. Bermacam-macam masalah dan konflik berlangsung di antara ketiga orang itu, bahkan sampai hampir baku bunuh. Padahal mereka semua sudah mati dan, karena itu, tidak bisa mati lagi. Inèz kemudian menyadari bahwa mereka masing-masing ternyata merupakan siksaan bagi satu sama lain. Mereka dikumpulkan agar masing-masing menjadi sumber penderitaan bagi yang lain. Itu yang terjadi di balik pintu tertutup. Kesimpulan Garcin menjadi salah satu frase yang paling terkenal dari drama ini, yakni bahwa daripada alat-alat penyiksa atau hukuman fisik, kebersamaan abadi dengan sesama pendosa saja sudah merupakan siksa paling menyengsarakan, “l’enfer, c'est les autres" neraka adalah orang lain.

Dalam beberapa dekade belakangan ini, setelah Pintu Tertutup Sartre banyak dilupakan, di kota-kota besar paling tidak, tumbuh sangat banyak kelompok manusia-manusia yang hanya merasa eksis dan terhormat secara sosial kalau rumahnya sudah dipasangi AC (Air Conditioner), sehingga jendela-jendela rumah semakin banyak yang tidak pernah dibuka, dan hanya jadi ornamental belaka sifatnya. Tidak ada saluran hilir mudik bagi angin dan cahaya alami. Udara macet di dalam. Seperti sembelit.

Hidup di dalam rumah sekarang sudah mulai banyak menjadi siksaan bagi penghuninya. Ungkapan “rumahku istanaku”, dengan demikian, bisa juga dimaknai secara negatif sebagai sebuah ekspresi keputusasaan atau satire pahit tentang rumah daripada mewakili kebanggaan dan nikmat. Artinya, ungkapan itu bisa juga berarti orang sangat terobsesi bisa memiliki rumah yang bagus dan nyaman, tapi karena harganya sangat jauh di luar kemampuan finansialnya, mengingingkannya jadi seperti memimpikan sebuah kemewahan tertinggi, sebuah istana. Hampir pasti tidak bisa didapat. Yang paling mungkin dimiliki adalah rumah-rumah tinggal berhimpitan, diperoleh dengan metode cicilan jangka lama, dan meriah dipasangi mesin-mesin AC.

Mati-hidup cahaya lampu yang tampak melalui jendela-jendela itu seperti naik turunnya layar dalam pertunjukan teater klasik, yang menandai pergantian babak demi babak kisah yang dipentaskan.


Tinggal di wilayah tropis agar di dalam rumah tidak kepanasan dulu orang meletakkan plafon atau langit-langit cukup tinggi, dan memasang jendela di banyak titik untuk bisa dibuka lebar-lebar dan terjadi sirkulasi udara yang baik dan cahaya yang sehat di siang hari. Rumah-rumah tradisional di Jawa ukurannya tidak tinggi, tapi rata-rata juga tidak dipasangi plafon atau langit-langit sehingga ruang rongga di dalam rumah jadi terasa lebih lapang dan tinggi langsung ke bawah atap. Rumah-rumah tradisional orang Sunda berbentuk panggung rendah dengan dinding dan lantai terbuat dari anyaman bambu. Kolong di bawah lantai juga menyediakan jalur sirkulasi udara yang cukup baik. Sekarang untuk kebutuhan yang sama orang justru harus menutup rapat-rapat bukan hanya semua jendela dan pintu tapi seluruh lubang ventilasi, karena AC hanya bekerja optimal dalam lingkungan yang tertutup.

Ketika ada jeda libur di akhir pekan, sebisa mungkin rumah harus ditinggalkan, pintu dan jendela dikunci rapat-rapat, dan mereka akan pergi ke tempat-tempat wisata yang justru sangat ramai. Untuk orang Jakarta tempat wisata favorit di akhir pekan adalah kawasan Puncak, Bogor, yang masih cukup sejuk; walaupun pergi ke sana adalah siksaan yang secara nalar lebih mengerikan: kemacetan seperti darah membeku, yang hanya bisa diurai oleh waktu, bukan oleh tata kelola kehidupan masyarakat beradab. Gercin dalam naskah Huis Clos di atas sempat mencoba melarikan diri, dan sempat berhasil membuka pintu. Tapi anehnya dia tidak bisa meninggalkan ruangan itu. Dua tokoh yang lainnya juga tetap di sana. Mereka lupa bahwa di sana mereka dalam siksa abadi. Orang-orang pergi melarikan diri ke berbagai tujuan karena penat di Jakarta tapi bahkan sebelum sampai di sana mereka tetap menghadapi kepenatan yang lebih menyakitkan. Sebuah labirin kejenuhan orang-orang pekerja. Kekal oleh kapitalisme. Karena itu kalau Asrul Sani masih hidup mungkin ia akan mengalihbahasakan Huis Clos jadi “(di balik) jendela tertutup” dalam bahasa Indonesia. Atau harus ada yang menulis Fenêtre Fermée untuk bisa lebih menggambarkan penderitaan hidup manusia zaman sekarang dalam cara yang pantas dipuji.

Di kota-kota besar, tempat manusia tinggal di dalam kotak-kotak persegi apartemen atau rumah susun, kehidupan malam secara visual dimulai dengan nyala serentak lampu-lampu di dalam masing-masing kotak itu, yang bisa dilihat terang cahayanya dari kaca jendela masing-masing. Kontras antara latar belakang hitam malam dan cahaya yang mengisi bentuk kotak kaca jendela dari puluhan bahkan mungkin ratusan hunian persegi itu menampilkan pemandangan yang khas wilayah urban di kota-kota besar. Dalam beberapa jam ke depan, menjelang tengah malam, sebagian besar lampu-lampu itu akan dimatikan untuk nyala kembali saat subuh sebagai penanda mulainya hari baru. Mati-hidup cahaya lampu yang tampak melalui jendela-jendela itu seperti naik turunnya layar dalam pertunjukan teater klasik, yang menandai pergantian babak demi babak kisah yang dipentaskan.

Di Indonesia bentuk teater tradisional kita, antara lain, adalah sandiwara atau tonil (toneel) seperti kelompok Dardanella pimpinan Willy Klimanoff pada dekade 1920an atau Sri Asih. Sampai umur hampir 7 tahun di pertengahan 1970an saya sering diajak ayah saya nonton sandiwara Sri Asih yang gedungnya terletak di sebelah bioskop Garuda di kota Sukabumi. Dalam bahasa Jawa, seperti yang konon digunakan oleh Mangkunegara VII, sandiwara berarti “sandi” atau “shandi” (simbol atau perlambang) dan “wara” berarti berita atau tuntunan hidup, ergo sandiwara adalah ajaran tentang hidup yang ditampilkan dalam bentuk-bentuk perlambang. Jika demikian maka mungkin memang bisa dikatakan bahwa “sandiwara adalah jendela kehidupan”. Urut-urutan silogistiknya jadi seperti ini: citra visual jendela-jendela pada malam sampai subuh adalah lambang dari ritme kehidupan orang-orang urban, seperti naik turunnya layar dalam sandiwara klasik, dan sandiwara adalah jendela kehidupan. Kalau begitu, maka jendela adalah jendela kehidupan itu sendiri.

Tapi tidak semua hal tentang jendela melulu romantik dan cantik. Para pencuri banyak yang menyelinap masuk ke dalam rumah warga di malam hari melalui jendela (yang lupa dikunci atau sengaja dicongkel). Pencoleng di jalan-jalan mengambil barang dari mobil kita juga dengan memecah kaca jendela mobil. Ada ribuan bahkan lebih kasus kejahatan yang terjadi karena di luar status fungsional dan ornamen artistik jendela juga menjadi salah satu titik rawan yang paling mudah ditaklukkan. Entah kebetulan atau tidak selama beberapa dekade yang lalu sistem operasi komputer yang paling banyak diinveksi virus dan jadi target serangan para crackers dalam cyberspace adalah juga komputer-komputer yang berbasis sistem operasi Windows. Kondisi ini mungkin suda berubah saat ini, tapi mungkin juga belum sama sekali.

Dalam sosiologi kriminal atau, yang lebih spesifik, kriminologi, debat panjang pernah terjadi tentang kebijakan yang didasarkan pada teori yang premis-premisnya, antara lain, disusun dari observasi atas kondisi dan pemaknaan atas jendela-jendela rumah warga di lingkungan permukiman sebagai lambang-lambang yang mentransmisikan pesan kepada orang yang melihatnya. Teori ini disebut teori “Broken Windows” atau, sebut saja, teori “Jendela Rusak”.

Broken Windows

Pada awal dekade 1980an, George L. Kelling dan James Q. Wilson menulis esai yang sempat menjadi perdebatan luas di Amerika Serikat. Judulnya, “Broken Windows. The Police and Neighborhood Safety”, dipublikasikan oleh salah satu majalah tertua dan paling disegani di Amerika Serikat, The Atlantic pada edisi Maret 1982. Dari Kelling dan Wilson inilah kita diberi tahu bahwa ternyata jendela bisa juga dibicarakan sebagai sebuah ikon dari tatanan sosial. Kredo kita hari ini kurang lebih adalah “peduli pada jendela peduli pada ketertiban sosial”. Satu kaca jendela pecah, rusak susu sebelanga. Baik dan buruknya sebuah tatanan sosial tergantung kepada baik dan buruknya kondisi jendela di rumah-rumah warganya. Semakin cepat sebuah jendela rusak diperbaiki, semakin kecil kemungkinan kejahatan yang lebih serius akan terjadi, dan semakin kuat sebuah tatanan dipertahankan. Konsepnya adalah bahwa setiap problem yang tidak diselesaikan di sebuah lingkungan tertentu mempengaruhi sikap orang terhadap lingkungan tersebut dan cenderung akan menimbulkan lebih banyak masalah lain.

Dalam esai tersebut Kelling dan Wilson mengembangkan sebuah teori tentang kerusakan tatanan sebuah lingkungan urban, atau yang biasa disebut urban decay, itu melalui pemeriksaan atas tanda-tanda yang tampak di mata dari kondisi yang terjadi di dalam lingkungan yang bersangkutan. Secara sederhana konsep urban decay dapat dipahami sebagai sebuah proses melalui apa sebuah kota atau wilayah menjadi mangkrak dan tidak lagi digunakan. Indikasinya yang paling mudah adalah gedung-gedung bangunan yang ditinggalkan dan kavling-kavling tanah yang kosong melompong, tingkat pengangguran dan kriminalitas tinggi. Itu semua juga bisa dilihat dari pemandangan umum kota yang kusam dan suram. Dari tanda-tanda itu juga dapat dilihat sejauhmana sebuah lingkungan bersikap terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya gangguan pada tertib sosial di dalamnya. Pembiaran pada satu kerusakan kecil akan mempercepat terjadinya kerusakan yang lebih besar. Toleransi terhadap praktik-praktik yang menganggu tertib dan harmoni sosial sebuah lingkungan akan mendorong semakin banyak terjadi praktik serupa bahkan dalam skala yang bisa saja lebih besar. Warga yang pasif dan tidak peduli dan otoritas yang tidak responsif atas pelbagai gejala anti-order memperbesar kemungkinan berlangsungnya pengeroposan sosial di lingkungan tersebut.

warga yang lingkungannya mengalami patroli polisi jalan kaki tampak merasa lebih aman daripada orang-orang di wilayah lain. Mereka cenderung percaya bahwa kejahatan telah berkurang, dan mengambil lebih sedikit langkah untuk melindungi diri mereka dari kejahatan (seperti tinggal di dalam rumah dengan pintu yang terkunci).


Kelling dan Wilson, dalam kalimat lain, mengembangkan teori tentang kriminalitas dengan melihat tanda-tanda yang bisa dilihat dari kejahatan, kecenderungan prilaku anti-sosial dan kehidupan warga yang tidak memiliki kepedulilan pada pemeliharaan tatanan atau tertib sosial dalam lingkungan tempat tinggalnya. Dari cara bagaimana warga sebuah lingkungan menyikapi apa yang terjadi di balik apa yang terlihat melalui tanda-tanda tadi, keduanya menyimpulkan bahwa dalam konteks peristiwa-peristiwa kriminal, tanda-tanda tersebut telah menciptakan lingkungan di kawasan perkotaan yang cenderung mendorong bentuk-bentuk kejahatan berikutnya bahkan yang lebih serius. Hal penting yang diajukan oleh Kelling dan Wilson adalah hasil amatannya bahwa jika satu kaca jendela rusak dibiarkan tanpa diperbaiki maka semua jendela dalam bangunan itu akan segera rusak juga. Karena dengan membiarkan sebuah jendela rusak tidak segera diperbaiki, pesan yang ditransmisikan adalah bahwa di situ “tidak seorang pun peduli pada jendela itu”. Ini rumah kosong, sehingga perusakan pada jendela-jendela lain bahkan seluruh bangunan tidak akan menimbulkan risiko apa pun.

Fokus kajian Kelling dan Wilson terletak pada pentingnya peran disorder (gangguan pada tatanan atau kekacauan), yang secara visual tampak dalam bentuk jendela yang rusak atau corat-coret di dinding tembok, itu dalam menghasilkan dan mempertahankan kejahatan-kejahatan yang lebih serius. Meskipun gangguan pada tertib sosial ini tidak langsung berkaitan dengan kejahatan yang serius, tapi ia mengarah pada meningkatnya rasa takut dan kecenderungan warga untuk menarik diri (social withdrawal) dari lingkungan sosialnya. Social withdrawal akan menurunkan tingkat kontrol sosial, sehingga karena itu kejahatan yang lebih serius bisa masuk ke dalam lingkungan tersebut.

Rangkaian proses ini bisa diputus oleh polisi. Jika polisi fokus pada disorder dan kejahatan yang tidak terlalu serius dalam mengawasi lingkungan yang belum mengalami kejahatan serius, mereka bisa mengurangi rasa takut dan social withdrawal. Meningkatkan level kontrol sosial informal bisa mencegah kejahatan serius mengganggu kehidupan dalam lingkungan permukiman tersebut.

Teori “Broken Windows” dimulai dengan paparan tentang kebijakan yang ditempuh oleh Negara Bagian New Jersey pada pertengahan 1970an, melalui “Safe and Clean Neighborhoods Program”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas kehidupan komunitas di 28 kota. Salah satu bagian dari program itu adalah mengganti model patroli polisi yang semula menggunakan mobil dengan patroli jalan kaki. Tentu saja kebijakan ini memancing kontroversi di antara berbagai pihak yang berkepentingan langsung atau tidak, tapi tetap dijalankan. Lima tahun kemudian, the Police Foundation, di Washington, menyiarkan hasil evaluasi dari proyek patroli jalan kaki. George L. Kelling sendiri adalah salah satu anggota dalam tim yang melakukan riset untuk the Police Foundation ini. Didasarkan pada analisa terhadap sebuah eksperimen yang secara hati-hati dikontrol yang terutama dilakukan di Newark, yayasan ini menyimpulkan bahwa patroli jalan kaki tidaklah mengurangi tingkat kejahatan.

Meskipun demikian, warga yang lingkungannya mengalami patroli polisi jalan kaki tampak merasa lebih aman daripada orang-orang di wilayah lain. Mereka cenderung percaya bahwa kejahatan telah berkurang, dan mengambil lebih sedikit langkah untuk melindungi diri mereka dari kejahatan (seperti tinggal di dalam rumah dengan pintu yang terkunci). Warga juga cenderung memiliki opini yang lebih baik tentang polisi daripada di tempat lain, sehingga juga tidak mengherankan jika para opsir kepolisian itu secara moral merasa lebih percaya diri, memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi, dan sikap yang lebih menyenangkan kepada warga di lingkungan tempatnya berpatroli daripada para opsir yang berpatroli menggunakan mobil.

Bagaimana mungkin sebuah lingkungan warga lebih aman kalau tingkat kejahatan tidak menurun bahkan mungkin malah meningkat. Untuk menjawab pertanyaan ini Kelling dan Wilson melacaknya dari apa yang paling membuat orang ketakutan di tempat-tempat publik. Di samping beberapa bentuk kejahatan yang melibatkan kekerasan, Kelling dan Wilson juga mengungkapkan fakta lain tentang sumber rasa takut warga yang cenderung diabaikan: takut diganggu oleh orang-orang yang tidak tertib mengikuti aturan. Mereka bukan pelaku kekerasan fisik, tidak harus juga kriminal, melainkan orang yang tingkahlakunya tidak karuan, tidak menaati tatanan yang berlaku: para pengemis, pemabuk, pecandu obat-obar terlarang, remaja yang bikin onar, pelacur, gelandangan, dan orang-orang yang mentalnya mengalami gangguan. Kelling dan Wilson melihat para opsir patroli jalan kaki itu, sesuai kemampuannya, telah meningkatkan level public order di dalam lingkungan tempat mereka berpatroli. Bahkan meskipun lingkungan tersebut didominasi warga kulit hitam sedangkan opsirnya sebagian besar berkulit putih, fungsi pemeliharaan tatanan (order maintenance) dari polisi telah memberi kepuasan umum bagi kedua belah pihak.

Masalahnya kemudian adalah, kalau pun para opsir polisi itu bisa memelihara tatanan di tempat mereka berpatroli, tapi “tatanan” semacam itu tidak ada hubungannya dengan sumber ketakutan yang nyata bagi komunitas, yakni kejahatan dengan kekerasan (violent crime). Menjawab ini Kelling dan Wilson mengajukan dua argumen. Pertama, para pengamat dari luar tidak seharusnya berasumsi bahwa mereka tahu seberapa besar kecemasan yang endemik di kota-kota besar itu muncul dari sebuah rasa takut atas kejahatan “yang real” dan seberapa besar yang berasal dari sebuah perasaan bahwa jalanan tidak bertatanan, sebuah sumber dari hal-hal yang tidak menyenangkan, dan pertemuan-pertemuan yang mengkhawatirkan. Orang-orang di Newark yang dikaji Kelling terbukti memberi nilai tinggi pada keteraturan atau tatanan publik (public order), dan merasa terbebas dan aman ketika polisi menolong mereka memulihkan keadaan.

Kedua, pada level komunitas, disorder dan kejahatan biasa berkelindan tak terpisahkan. Para psikolog sosial dan opsir polisi cenderung setuju bahwa jika kaca sebuah jendela pada sebuah bangunan rusak dan dibiarkan tidak segera diperbaiki, semua kaca jendela lainnya akan segera rusak pula. Ini terjadi baik pada lingkungan yang tertib terpelihara maupun yang tidak. Seperti telah saya singgung di atas, yang penting dilihat adalah bahwa satu kaca jendela pecah yang tidak secepatnya diperbaiki adalah sebuah sinyal dengan pesan bahwa di situ “tidak seorang pun peduli pada jendela itu”, “ini rumah kosong”, sehingga memecahkan lebih banyak jendela bahkan merusak bangunan rumahnya sekalipun tidak akan menjadi masalah besar, malah mungkin bisa menyenangkan.

Eksperimen di Dua Lokasi

Untuk mendukung argumennya tersebut Kelling dan Wilson merujuk pada studi seorang psikolog dari Universitas Stanford, Philip Zimbardo, yang pada 1969 melaporkan hasil eksperimennya di dua lingkungan permukiman yang berbeda. Ia merancang untuk memarkir sebuah mobil tanpa plat nomor dengan kap mesin terbuka di kawasan the Bronx, kawasan kumuh dan banyak terjadi kejahatan di salah satu bagian New York City, dan yang satunya lagi di sebuah jalan di kawasan Palo Alto, California, yang terkenal sebagai kawasan makmur.

Mobil yang diparkir di kawasan the Bronx sudah diserbu para vandal dalam sepuluh menit setelah ditinggalkan. Yang pertama datang adalah sebuah keluarga—ayah, ibu dan seorang anak laki-laki—yang mencopot radiator dan baterai accu mobil. Dalam 24 jam semua yang berharga dari mobil itu sudah lenyap dicuri. Berikutnya pengrusakan acak dimulai—jendela-jendela mobil dihancurkan, bagian-bagian dipreteli, bahan-bahan pelapis disobek-sobek. Kanak-kanak mulai menggunakan mobil itu sebagai tempat bermain. Sebagian besar vandal dewasa berpakaian layak, mereka adalah orang-orang kulit putih yang berpenampilan rapi.

Sebaliknya, mobil yang diparkir di Palo Alto sama sekali tidak ada yang menyentuh selama lebih dari satu minggu. Zimbardo sendiri kemudian menghantamnya dengan palu godam. Tidak lama kemudian, orang-orang yang lewat ikut bergabung merusak. Dalam beberapa jam mobil sudah dijungkirkan dan benar-benar rusak parah. Di sini pun para vandal adalah orang-orang kulit putih yang umumnya cukup terhormat.

Apa yang ingin ditunjukkan oleh Kelling dan Wilson dari hasil eksperimen Zimbardo di atas adalah: pertama, barang yang ditinggalkan tanpa status kepemilikan yang jelas di sebuah kawasan yang sudah biasa mengalami berbagai prilaku kejahatan tentu saja akan dengan cepat menjadi korban vandalisme; kedua, prilaku jahat bisa diprovokasi bahkan di kalangan mereka yang tidak terbiasa melakukannya, sehingga bahkan dalam sebuah lingkungan yang dikenal memiliki tatanan sosial cukup tertib pun, sekali prilaku yang merusak ketertiban dimulai (provokasi yang dilakukan oleh Zimbardo dengan menghancurkan kaca mobil) segalanya bisa berkembang di luar kendali. Ini akan mengingatkan kita kepada kenyataan tentang bagaimana beberapa wilayah di Indonesia yang sudah sangat lama dikenal memiliki tradisi hidup bersama secara damai dari orang-orang yang memiliki latar belakang agama, budaya dan nilai yang berbeda, itu tiba-tiba diledakkan oleh konflik sosial terbuka dan terus meluas dalam skala besar. Penjelasnya adalah provokasi elite politik yang memiliki kepentingan dari munculnya konflik, dan kondisi sosial yang memicu ketegangan sosial akibat pemberlakuan demokrasi elektoral.

Kelling dan Wilson menerangkan bahwa properti yang tidak terurus tentu saja akan menjadi sasaran empuk bagi orang baik sekedar untuk bergembira maupun bagi para penjarah bahkan bagi mereka yang biasanya tidak terpikirkan untuk berbuat seperti itu dan merasa dirinya sebagai orang-orang yang taat aturan. Karena sifat kehidupan komunitas di the Bronx—anonimitasnnya, seringnya mobil-mobil ditinggalkan dan barang-barang dicuri atau dirusak, pengalaman yang lalu tentang “tak seorang pun peduli”—vandalisme mulai berlangsung lebih cepat daripada di Palo Alto, yang orang-orangnya percaya bahwa milik pribadi dirawat dengan baik, dan prilaku yang buruk mendapat hukuman. Tapi vandalisme dapat terjadi di mana pun sekali batas-batas komunal—perasaan saling menghargai dan obligasi-obligasi keadaban publik—diturunkan atau direndahkan oleh tindakan-tindakan yang tampak memberi sinyal bahwa “tak seorang pun peduli” pada kepentingan bersama atas sebuah tertib sosial.

Menurut kami prilaku menelantarkan juga mengarah pada rontoknya kontrol-kontrol sosial. Sebuah lingkungan pertetanggaan yang tabil dari keluarga-keluarga yang merawat rumah-rumahnya, menjaga masing-masing anaknya, dan secara tegas bisa menghalau pengacau yang tidak diinginkan bisa berubah, dalam beberapa tahun bahkan mungkin hanya beberapa bulan, menjadi sebuah rimba yang menakutkan. Sebuah rumah ditinggalkan, rumput liar tubuh, sebuah jendelanya dilempar batu. Orang-orang dewasa sudah tidak pernah lagi menegur keras para remaja yang bikin gaduh, anak-anak ingusan ini semakin berani, bertambah rusu. Keluarga-keluarga pindah ke luar, orang-orang tanpa pekerjaan yang jelas masuk. Remaja belasan tahun berkumpul di pojok toko. Pemilik toko menyuruh mereka pergi; mereka menolak. Terjadi perkelahian. Sampah menumpuk. Orang mulai minum minimuan keras di depan warung; pada waktunya pemabuk menepi ke pinggir jalan dan dibiarkan tidur di sana. Pedestarian diserbu pada pengemis.


Dalam kondisi seperti itu memang belum pasti bahwa kejahatan serius akan merebak dan serangan kekerasan pada orang-orang asing akan terjadi. Tapi akibat psikologis dan sosialnya cukup serius. Menyaksikan kejadian-kejadian di atas, sebagian penghuni permukiman mungkin akan berpikir bahwa kejahatan di lingkungannya sedang meningkat. Sebagian dari mereka akan mengubah prilakunya menyesuaikan dengan penerimaan psikologisnya mereka terhadap perubahan tersebut. Ketika di jalan-jalan banyak ditemukan pengemis berkeliaran, orang jalan sempoyongan karena mabuk minuman keras, para remaja berulah nakal, mungkin akan banyak warga yang merasa takut melintas di jalan-jalan itu. Kalaupun terpaksa harus berjalan di sana, mereka mungkin akan berjalan sambil tertunduk, mata dipalingkan ke arah lain, bibir terkatup rapat, dan dengan langkah-langkah yang tergesa karena ingin segera lepas dari rasa cemas. Kawasan permukiman yang semula merupakan tempat mereka mendapatkan makna dan kepuasaan dari keterikatan lokal akhirnya menjadi area yang tidak lagi menyenangkan untuk ditinggali, karena lingkungan pertetanggaan yang semula nyaman telah hilang. Meninggalkannya adalah pilihan yang tidak lagi memberi beban psikis dan moral yang terlampau berat.

Menurut Kelling dan Wilson proses pelapukan kota (urban decay) telah terjadi sejak berabad-abad lalu di setiap kota. Tapi apa yang terjadi saat itu (ketika mereka menerbitkan tulisannya) berbeda paling tidak dalam dua hal penting. Pertama, dalam periode sebelum Perang Dunia II, karena biaya, kesulitan transportasi, koneksi gereja dan keluarga, para penghuni kota jarang yang bisa meninggalkan atau menjauhkan diri dari masalah-masalah di lingkungan permukimannya. Kalau terjadi pergerakan, biasanya itu cenderung segaris dengan rute-rute transportasi publik. Saat ini mobilitas sudah sangat mudah untuk semua orang kecuali bagi yang paling miskin atau yang karena terhambat oleh masalah kecurigaan rasial. Gelombang kejahatan awal memiliki semacam mekanisme perbaikan-diri (self-correcting) yang sudah built-in: determinasi dari lingkungan pertetanggaan atau komunitas untuk menegakkan kembali kontrol di wilayahnya. Area-area di Chicago, New York, dan Boston mengalami kejahatan dan perang antar-gang, dan kondisi normal akan kembali ketika keluarga-keluarga mereklamasi otoritas mereka atas jalanan. Ini akan mengingatkan kita kepada premis-premis fungsionalisme struktural yang mengibaratkan dunia sosial akan selalu bergerak ke arah titik keseimbangan, menuju kondisi yang dalam biologi disebut homeostatis.

Esensi dari peran polisi dalam memelihara ketertiban adalah untuk meneguhkan mekanisme kontrol informal dari komunitas itu sendiri. Polisi tidak bisa, tanpa dukungan sumber daya yang luar biasa besar, menyediakan pengganti bagi kontrol informal semacam itu. Di sisi lain, untuk meneguhkan kekuatan-kekuatan natural tersebut polisi harus pula mengakomodasinya.


Kedua, polisi pada periode lebih awal membantu menegakkan otoritas dengan bertindak, kadang-kadang memang dengan kekerasan, atas nama komunitas. Para preman muda disikat, orang-orang ditangkap atas dasar kecurigaan, ataupun karena tidak punya tempat tinggal, dan para pelacur dan pencoleng kecil dikandangkan. “Hak” adalah sesuatu yang dinikmati oleh orang-orang yang berprilaku baik (decent folks), dan mungkin juga oleh penjahat profeisonal yang serius, yang bisa menyewa seorang pengacara.

Dari dikotomi tersebut, Kelling dan Wilson melihat bahwa kaitan antara pemeliharaan-ketertiban (order maintenance) dan pencegahan kejahatan (crime prevention) sangat jelas bagi generasi dahulu tapi sekarang mulai dilupakan. Padahal kaitan tersebut mirip dengan proses ketika satu jendela rusak menjadi banyak jendela rusak pada bangunan itu. Warga yang takut kepada pemabuk berbau tak sedap, anak remaja nakal dan rusuh, atau kepada para pengemis yang maksa meminta-minta uang di jalan, itu bukan hanya mengekspresikan ketidaksukaannya kepada prilaku yang tidak pantas; ketakutan itu juga menyuarakan kearifan rakyat (folk wisdom), yakni bahwa kejahatan jalanan yang serius berkembang di area-area tempat prilaku yang tidak sesuai tatanan tidak pernah diberi tindakan. Pengemis yang tidak ditindak adalah jendela pecah yang pertama. Para perampok akan percaya bahwa kalau mereka beraksi di jalan-jalan, mereka memperkecil peluang tertangkap atau dikenali karena di jalan-jalan para calon korban memang sudah merasa terintimidasi oleh kondisi yang ada.

Esensi dari peran polisi dalam memelihara ketertiban adalah untuk meneguhkan mekanisme kontrol informal dari komunitas itu sendiri. Polisi tidak bisa, tanpa dukungan sumber daya yang luar biasa besar, menyediakan pengganti bagi kontrol informal semacam itu. Di sisi lain, untuk meneguhkan kekuatan-kekuatan natural tersebut polisi harus pula mengakomodasinya. Di situlah letak soalnya. Apakah aktivitas polisi seharusnya dibentuk, dalam beberapa hal yang penting, oleh standar-standar dalam lingkungan permukiman daripada oleh aturan-aturan negara? Lebih dari dua dekade yang lalu, pergeseran polisi dari pemeliharaan-ketertiban ke penegakan hukum telah membawa mereka semakin berada di bawah pengaruh restriksi-restriksi legal, diprovokasi oleh keluhan-keluhan media dan dikuatkan oleh putusan-putusan pengadilan dan perintah departemen.

Konsekwensinya, fungsi-fungsi pemeliharaan ketertiban sekarang diurus dengan aturan-aturan yang dikembangkan untuk mengontrol relasi-relasi polisi dengan para kriminal yang dicurigai. Padahal selama berabad-abad, peran polisi sebagai penjaga dinilai terutama bukan dengan melihat ketaatannya pada prosedur tapi pencapaian tujuan yang diinginkan. Tujuan tersebut adalah ketertiban, tatanan (order), sebuah terminologi yang secara inheren memang ambigu tapi ia adalah sebuah kondisi yang diakui atau dikenali oleh orang-orang dalam komunitas yang bersangkutan ketika mereka melihatnya. Mendeteksi dan menangkap para kriminal, di sisi lain, merupakan sebuah cara untuk mencapai tujuan, bukan tujuan di dalam dirinya sendiri. Kalau dari yang pertama diharapkan akan mengikuti aturan-aturan yang menjelaskan proses tersebut, proses penangkapan para kriminal selalu dipahami melibatkan hak-hak individu, yang jika dilanggar tidak bisa diterima karena itu berarti opsir yang melanggarnya akan bertindak sebagai seorang hakim dan juri sekaligus. Bersalah atau tidak bersalah harus ditentukan oleh standar-standar universal di bawah prosedur-prosedur tertentu.

Dua penulis ini mengusulkan agar polisi mengubah fokusnya: daripada menghamburkan semua sumberdaya untuk mengatasi kejahatan-kejahatan besar, lebih baik mereka mencoba membersihkan jalanan dari pemabuk, gelandangan, pelacur, pengemis, copet, pemalak, pencoleng, dan memelihara tertib sosial sebuah tatanan—misalnya dengan mencegah orang menghisap ganja di ruang publik atau menangkap mereka yang tidak membayar tiket subways.

Idenya lebih kurang adalah bahwa kejahatan kecil tidak boleh dibiarkan dan hukuman yang berat harus diberikan untuk prilaku anti-sosial dan ketidpatutan sosial ringan untuk mencegah terjadinya kejahatan serius dan memastikan bahwa kesadaran kolektif dan solidarita sosial tetap terpelihara dengan pemeliharaan batas yang tegas.

Kebijakan Jendela Rusak

Teori Broken Windows termasuk salah satu teori yang mudah dipahami, sehingga mungkin karena itu banyak pihak yang antusias menyambutnya. Ketika memenangkan pemilihan wali kota New York tahun 1993, Rudy Giuliani berjanji akan mengurangi kejahatan dan membersihkan jalan-jalan di kota itu dari kriminal dengan mengadopsi teori Broken Windows. Janji ini disambu positif baik oleh kalangan konservatif (karena itu berarti akan mengembalikan tertib tatanan) maupun liberal (karena itu memungkinkan mereka melakukannya sambil tetap merasa benar sendiri dan baik tentang diri mereka sendiri).

Kalau Broken Windows diartikan menangkap orang karena prilaku negatifnya dengan maksud mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan yang lebih serius, kebijakan Bloomberg melihat itu belum cukup. Mereka ingin melakukan aksi yang lebih hebat. Konkretnya dalam bentuk pencegatan, menanyai dan menggeledah warga yang mereka anggap mencurigakan.


Giuliani dan komandan polisi yang baru, William Bratton, memulai programnya dengan target menertibkan sistem subway. Diketahui 250.000 setiap hari tidak membayar tiket. Mereka menerjunkan ratusan opsir polisi ke dalam subway untuk memberekannya. Untuk sementara teori Broken Windows terkonfirmasi. Setelah menarget para pelaku kejahatan kecil mereka kemudian mengarah pada para kriminal yang melakukan kekekrasan. Menurut Kelling, “tidak semua yang ngemplang tiket adalah kriminal, tapi banyak kriminal yang memang ngemplang tiket. Ternyata para kriminal yang serius memang sibuk. Mereka melakukan kejahatan kecil maupun besar.” Setelah itu skala program ditingkatkan dari subway ke seluruh kota New York. Polisi menangkap mereka yang melakukan hal-hal negatif seperti menghisap mariyuana di tempat terbuka, mencorat-coret grafiti dan menjual rokok ketengan yang tidak bayar pajak (loose cigarettes).

Mereka berhasil. Kejahatan merosot, tingkat pembunuhan menurun. Teori Broken Windows benar-benar seperti mukjizat. Media beramai-ramai meliput keberhasilan ini, dan Giuliani kembali memenangi pemilihan Wali Kota New York pada 1997. Sampai menjelang akhir masa jabatannya pada 2001, program kebijakan Broken Windows menjadi salah satu prestasi terbesar Giuliani. Pada pidato perpisahannya dia menekankan ide sederhana dan menawan di balik suksesnya:

Teori the Broken Windows sudah menggantikan gagasan bahwa kita terlampau sibuk untuk bisa memperhatikan prostitusi jalanan, terlalu sibuk untuk bisa memperhatikan peminta-minta, terlalu sibuk untuk dapat memperhatikan grafiti….Anda tidak bisa terlalu sibuk untuk bisa memperhatikan hal-hal semacam itu, karena hal-hal itulah yang mendasari masalah-masalah kejahatan yang terjadi dalam masyarakat Anda.


Tidak berhenti di era Giuliani, kebijakan wali kota penggantinya malah melangkah lebih jauh dari sekedar menerapkan teori Broken Windows. Michael Bloomberg yang terpilih pada 2001 menamai kebijakannya “stop dan frisk” (cegat dan geledah). Kalau Broken Windows diartikan menangkap orang karena prilaku negatifnya dengan maksud mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan yang lebih serius, kebijakan Bloomberg melihat itu belum cukup. Mereka ingin melakukan aksi yang lebih hebat. Konkretnya dalam bentuk pencegatan, menanyai dan menggeledah warga yang mereka anggap mencurigakan.

Mudah diduga, kebijakan tersebut justru menimbulkan masalah baru. Sebagian terbesar dari yang dihentikan di jalan dan digeledah tidak terbukti membawa barang yang dicurigai seperti senjata api atau obat-obat terlarang. Kebijakan yang didasarkan pada teori “Broken Windows” jadi identik dengan penangkapan besar-besaran oleh polisi atas orang-orang yang belum tentu bersalah. Dalam sebuah wawancara dengan Los Angeles Times (6/1/2015), Kelling menyatakan bahwa pada dasarnya “Broken Windows” adalah sebuah taktik, satu bagian esensial dalam strategi pengaturan tertib komunitas yang membutuhkan kerjasama dari komunitas dalam mengidentfikasi berbagai masalah dan menetapkan prioritas. Ia mengaku merasa ngeri mendengar ucapan seorang kepala kepolisian di Delaware bahwa di daerahnya akan diberlakukan “Broken Windows with stereoid”, karena itu tampak seperti sikap fanatik yang berlebihan (zealotry). Ia juga mengakui bahwa teorinya kadang-kadang seperti memberi cek kosong kepada polisi untuk bersikap overreaktif. Itulah mengapa ia tidak setuju kalau “Broken Windows” diartikan sebagai zero tolerance, karena itu berarti kita menangkap orang tanpa peringatan apa pun. Kelling menjelaskan bahwa melalui “Broken Windows” dia dan Wilson tidak bermaksud agar polisi hanya menangkap orang. Mereka ingin agar polisi berusaha mencari solusi, dan kadang-kadang solusi itu justru untuk tidak melakukan apa pun. Penangkapan tidak selalu merupakan outcome yang diinginkan.

Beberapa Kritik

Membaca keberhasilan program Wali Kota New York, Rudy Giuliani, dalam mengimplementasikan teori Broken Windows di atas, teori Kelling dan Wilson semakin banyak dibicarakan. Tapi beberapa waktu kemudian mulai muncul argumen yang meragukan klaim-klaim Giuliani tadi. Harcourt, seorang profesor hukum dari Universitas Columbia, misalnya, memeriksa data secara lebih teliti dan menemukan bahwa kejahatan sudah mulai menurun angkanya di New York sejak sebelum Giuliani terpilih jadi wali kota. Bukan hanya di New York, tapi sejak 1991 kejahatan di seluruh Amerika Serikat memang menurun cukup besar. Menurut Harcourt penurunan angka kejahatan itu bukan hanya terjadi di New York tapi juga di kota-kota lain yang tidak memberlakukan pendekatan Broken Windows Kejahatan bahkan juga menurun di Los Angeles, yang kepolisiannya terkena skandal korupsi dan secara luas dianggap disfungsional (Vedantam, dkk., 2016).

Kebijakan tersebut berlangsung hampir bersamaan dengan sebuah periode pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya kemiskinan. Mereka yang merasa bahwa kondisi-kondisi sosial merupakan pendorong yang lebih kuat ke arah kejahatan daripada Broken Windows melihat bahwa tingkat kejahatan di New York turun karena kondisi-kondisi sosial penduduk di sana secara signifikan memang telah meningkat. Maka adalah sangat mungkin bahwa itu murni sebuah koinsidensi bahwa ia berlangsung bersamaan dengan implementasi kebijakan Broken Windows. Hanya karena ada korelasi bukan berarti ada kausalitas. Kalau pun argumen tentang faktor kondisi sosial-ekonomis itu ada benarnya, kita juga bia bertanya apakah jika demikian berarti bahwa angka kejahatan berbanding terbalik dengan angka kemakmuran. Apakah kalau sudah makmur seseorang akan berhenti berbuat jahat? Tidakah para perampok besar, bandar-bandar narkoba, dan para mafia, itu hidupnya rata-rata berkemakmuran?

Salah satu kelemahan dari teori Broken Windows di mata Harcourt adalah karena tidak mempertimbangkan apa yang disebutnya “pembalikan ke rerata” (reversion to the mean). Singkatnya, kalau sesuatu meningkat tajam, ia juga cenderung akan menurun tajam. Telah terjadi peningkatan kejahatan sebelum terjadi penurunan yang dikalim Giuliani. Harcourt berargumen bahwa kalau diperiksa lebih jauh akan terlihat satu serial kenaikan dan penurunan. Semakin besar kenaikan semakin besar pula penurunannya ketika kejahatan kembali ke jumlah rerata (Vedantam, dkk., 2016).

Secara metodologis teori Broken Windows juga mendapat sanggahan dari Daniel T. O’Brien dan Brandon Welsh, dan Chelsea Farrel yang melakukan dua kajian. Mereka mencari jawaban atas dua pertanyaan: apakah disorder menyebabkan kejahatan, dan apakah itu memiliki akibat buruk kepada kesehatan masyarakat (public health). Temuan mereka, disorder dalam sebuah lingkungan pertetanggaan tidaklah menyebabkan penghuninya melakukan lebih banyak kejahatan. Mereka tidak menemukan bukti yang konsisten bahwa disorder mengarah kepada agresi yang lebih tinggi levelnya atau membuat penghuni merasa lebih negatif kepada lingkungannya (Martin, 2019).

Mereka juga tidak menemukan bukti bahwa tanda-tanda fisikal dari kerusakan sosial yang tidak diperbaiki menghalangi orang dari melakukan atau mendorong orang untuk melakukan seks tanpa alat pelindung. Namun mereka memang menemukan sebuah koneksi antara disorder dengan kesehatan mental. Orang yang tinggal dalam sebuah lingkungan dengan lebih banyak grafiti, bangunan-bangunan yang ditinggalkan, dan atribut-atribut semacam itu mengalami lebih banyak masalah kesehatan mental dan lebih cenderung menyalahgunakan alkohol dan obat-obat terlarang. Tapi mereka segera menggarisbawahi bahwa penyalagunaan alkohol dan obat-obat terlarang itu berasosiasi dengan kesehatan mental, bukan langsung disebabkan oleh disorder.

O’Brien, dkk. menemukan dua kelemahan dalam kajian-kajian yang mengafirmasi teori Broken Windows. Pertama, banyak kajian tidak memperhitungkan variabel-variabel penting, termasuk tingkatan penghasilan rumah tangga dalam lingkungan yang dianalisa. Kedua, berhubungan dengan bagaimana para peneliti mengukur tingkat disorder dalam lingkungan yang dikajinya. Banyak studi mengevaluasi disorder dengan survei penghuni yang ditanya tentang seberapa baik lingkungan mereka dipelihara dan atau apakah mereka cemas tentang kejahatan atau menderita masalah-masalah kesehatan mental. Menurut O’Brien hasil dari survei-survei seperti itu tidak reliable (dapat dipercaya) karena persepsi orang tentang disorder di lingkungannya bisa saja berkelindan dengan penilaian mereka tentang kejahatan dan bagaimana mereka menjelaskan kesehatan mental dan fisik mereka (Martin, 2019).

Beberapa kalangan menuduh kebijakan Broken Windows mencapai kontrol tanpa keadilan. Benar bahwa angka kejahatan menurun, tapi orang banyak dipenjara, kadang-kadang untuk waktu yang lama, hanya karena kesalahan kecil. Ada juga bukti bahwa kebijakan tersebut memiliki akibat negatif lebih berat kepada kelompok-kelompok etnis minoritas, terutama kelompok Afr0-Amerika dan Latin-Amerika, daripada pada mayoritas populasi kulit putih. Sementara orang kulti hitam mungkin ditangkap karena minum minuman keras atau jalan sempoyongan, para mahasiswa kelas menengah kulit putih yang merayakan tahun pertama mereka kuliah dengan cara yang sama ditoleransi. Diskresi polisi membuat implementasi Broken Windows tidak adil. Tapi para pendukungnya akan menangkis kritis tersebut dengan mengatakan bahwa zero tolerance haruslah berarti zero tolerance termasuk kepada kelompok kulit putih.

Melalui tulisannya yang dipublikasikan oleh Politico Magazine, “Don’t Blame My ‘Broken Windows’ for Poor Policing, ia meminta agar ketika terjadi kesalahan kebijakan jangan teori yang dia buat yang disalahkan (Kelling, 11/8/2015). Teori yang ia susun bersama Wilson sama sekali tidak dimaksudkan sebagai program penangkapan besar-besaran, meskipun di beberapa kota dipraktikan seperti itu. Padahal kebijakan “Broken Windows” adalah seperangkat aktivitas yang sifatnya sangat diskresioner dan mencari cara-cara yang paling tidak intrusif dalam memecahkan masalah. Lebih dari itu, bergantung pada masalahnya, kebijakan “Broken Windows” yang baik membutuhkan mitra untuk mengatasinya: para pekerja sosial, guru, petugas kesehatan, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk mengurangi tingkat kekacauan di tempat-tempat umum agar warga merasa aman. Penangkapan atas pelaku adalah cara terakhir, bukan yang pertama.

Masih banyak kritik tajam yang diajukan kepada Kelling dan Wilson tentang kelemahan bahkan risiko buruk ketika Broken Windows diaplikasikan dalam sebuah kebijakan pemerintah, tapi yang mendukungnya juga tidak kalah banyak. Lepas dari itu semua, kontroversi tersebut juga memperlihatkan bahwa sebagai sebuah teori Broken Windows adalah teori yang berhasil. Ia berhasil membuktikan dirinya penting secara intelektual, dan memiliki relevansi tinggi secara sosial—meskipun cukup banyak yang menentangnya—ketika dipakai sebagai dasar perumusan kebijakan politik pemerintahan sebuah kota. Di New York paling tidak. Tapi bagaimana dengan di Indonesia?

Jendela Rumah Kita

Ketika masih era kapitalisme cetak beberapa dekade lalu, kalau kita hendak mengunjungi rumah seseorang, kerabat atau kawan dekat, tanpa ada janji terlebih dahulu, jendela tertutup (dan pintu tertutup juga tentu saja) adalah tanda bahwa rumah yang kita datangi tidak sedang bersiap menyambut kita. Itu bisa karena penghuninya sedang pergi, tapi bisa juga karena memang mereka sedang tidak ingin privasinya terganggu dengan menerima tamu dari luar. Mereka yang tahu diri biasanya akan segera membatalkan niat bertamu, tapi yang penasaran akan tetap mengetuk pintu berkali-kali sekedar untuk meyakinkan. Tidak jarang mereka juga akan mencoba mengintip dari balik jendela di dekat pintu depan, mana tahu ada celah kecil untuk bisa melihat kondisi di dalam rumah. Setelah yakin tidak ada siapa pun di rumah itu baru dia akan pergi meninggalkannya. Sebaliknya, jika jendela rumah yang akan kita datangi terbuka lebar, meskipun pintunya tertutup rapat, kita akan menafsirkan bahwa penghuninya sedang berada di rumah.

Rumah-rumah modern ber-AC di kota-kota di Indonesia semakin banyak yang jendelanya selalu tertutup sepanjang hari. Dari pagi sampai pagi lagi. Alasannya bisa karena soal keamanan, bisa pula karena faktor kenyamanan. Di situlah paradoksnya: orang menutup jendela demi keamanan padahal jendela tertutup bisa diartikan rumah ditinggal penghuni sehingga penjahat justru punya lebih banyak kesempatan untuk melakukan kejahatan. Pesan yang ditransmisikannya kira-kira adalah “jangan ganggu kami”, kecuali sudah ada janji bertemu terlebih dahulu. Jarak sosial kita dengan tetangga sekitar semakin merenggang, meskipun kita sangat dekat dengan berbagai kalangan orang di media sosial, sehingga kontrol sosial bersama kita sebagai warga terhadap apa yang terjadi di lingkungan kita juga melemah. Kalau ada orang yang tidak dikenal mencoret-coret tembok pagar rumah tetangga kita, kita merasa seperti tidak perlu untuk menegurnya karena itu bukan urusan kita, dan jangan-jangan yang melakukannya adalah kerabatnya sendiri. Kita ingin menghargai privasi orang sebagai pemaknaan kita terhadap pesan “jangan ganggu kami” tadi, yang itu juga berarti “jangan ganggu saya dan keluarga saya”, sampai kita merasa sudah tidak perduli lagi pada apa pun yang terjadi di luar rumah kita.

Meskipun sudah mendapat kritik tajam dari bermacam-macam pihak, tapi bukan berarti kita sama sekali tidak bisa menemukan relevansi gagasan Kelling dan Wilson itu dalam ajang kehidupan masyarakat kita sekarang. Salah satu hal penting yang harus digarisbawahi dan saya kira masih sangat relevan dengan kondisi kita saat ini bukanlah pendekatan zero tolerance, yang terbukti di banyak tempat menimbulkan kesewenang-wenangan dan pada dasarnya memang bukan maksud si pembuat teori, melainkan menumbuhkan sikap untuk tidak membiarkan kejahatan dan gangguan-ganguan pada tatanan sosial berkembangan ke arah yang lebih parah dan serius tanpa secepatnya diselesaikan. Dan itu bisa dimulai dari perkara-perkara yang kecil dan sederhana. Interpretasi atas teori ini bisa diekstrapolasikan pada banyak wilayah dalam hidup kita sehari-hari bahkan ke dalam cara kita membaca politik nasional.

Titik-titik kemacetan parah di sejumlah lokasi di Jakarta, misalnya, beberapa di antaranya sering bermula dari pelanggaran satu dua orang pengendara yang dibiarkan tanpa penindakan dari kepolisian. Ketika hujan mulai turun satu, dua, tiga orang pengendara motor berteduh di bawah flyover dan dibiarkan, dalam 30 menit jumlahnya sudah akan mencapai puluhan sepeda motor diparkir di tempat yang sama. Itu terjadi di semua kolong flyover di Jakarta. Kemacetan menggila adalah salah satu akibatnya. Depresi sebagian warga yang semakin menjadi-jadi adalah akibat psikologisnya. Ketidakpercayaan kepada pemerintah adalah konsekwensi logisnya. Beberapa orang pedagang kaki lima berjualan di trotoir jalan, dan diabaikan petugas. Dalam sebulan trotoir di sepajang jalan itu akan dipenuhi para pedagang yang lain, dan pejalan kaki adalah korbannya. Markup atau penggelembungan anggaran untuk membeli lem Aibon dan ballpoint yang mencapai angka puluhan milyar rupiah dalam Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD) DKI Jakarta beberapa waktu lalu, itu pasti tidak dimulai dari pencurian anggaran triliunan rupiah tapi dari markup anggaran kecil-kecilan yang ditolerir dalam pemerintahan Jakarta di bawah Anies Baswedan.

Sampai dekade 1950an, mungkin baru beberapa puluh keluarga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung atau di lahan-lahan kosong milik negara lainnya di Jakarta. Tapi pada abad ke-21, para pemukim pinggiran kali itu sudah mereklamasi bagian terbesar lahan di sepanjang sungai, sehingga lebar Kali Ciliwung drastis menyempit hanya tinggal beberapa meter saja. Selama puluhan tahun penyempitan Ciliwung menjadi salah satu sumber masalah dari bencana banjir yang rutin melanda Jakarta setiap tahun, tapi persoalan permukiman di bantaran sungai ini tidak kunjung diselesaikan. Apa pun kebijakan yang akan diambil pemerintah Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini, ketika jumlah pemukim pinggiran kali itu sudah sebanyak saat ini, ia akan berkelindan dengan bermacam-macam isu dan persoalan kepentingan lain sehingga pasti akan meledakkan masalah-masalah baru yang lebih besar. Politik elektoral menjadikan persoalan ini semakin rumit karena para politisi mengubahnya menjadi komoditi politik setiap kampanye pemilu. Tidak pernah benar-benar diselesaikan, hanya diributkan dalam pasar jual beli suara.

Salah seorang kawan saya pernah bercerita tentang anaknya yang bersekolah di sebuah boarding school berbasis agama. Kira-kira setingkat sekolah menengah atas (SMA). Setelah berlangsung setahun, setiap pulang liburan semester anaknya selalu cerita tentang barang-barang miliknya yang hilang dicuri, mulai dari handuk, sandal sampai pakaian, di lingkungan sekolahnya. Karena terus-menerus terjadi, kawan saya itu berinisiatif datang ke tempat sekolah anaknya dan bertemu langsung dengan pengelolanya. Kepadanya kawan saya menceritakan pengalaman anaknya tadi. Jawaban si pengelola sekolah sangat tipikal: menurutnya itu sudah merupakan hal lumrah di tempat-tempat pendidikan seperti itu, dan itu terjadi karena siswa-siswa tersebut masih muda. Asumsinya kalau sudah dewasa tabiat-tabiat buruk itu akan hilang sendiri.

Pada kasus yang berbeda, salah seorang ibu di Jakarta menyekolahkan putrinya di sebuah sekolah dasar yang dikelola oleh yayasan berbasis agama yang berbeda. Dalam satu semester bisa beberapa kali ibunya dipanggil pihak sekolah karena anaknya melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang mengganggu temannya. Ibunya diminta membantu sekolah untuk memberi nasihat kepada putrinya di rumah. Dengan cara tersebut, sekolah berusaha menjaga tertib sosial di dalam sekolah dan tidak mentolerir perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan sejak dalam skala sangat kecil.

Saya tentu saja percaya (atau mungkin berharap) bahwa anak-anak tersebut, termasuk yang mencuri itu, tidak akan menjadi pencuri kambing atau sapi atau mobil atau melakukan tindak-tindak kejahatan lain yang lebih serius. Namun secara umum kita bisa mengatakan bahwa kalau dari kecil anak-anak dibiarkan/dimaklumi melakukan kesalahan-kesalahan kecil, padahal mencuri bukanlah persoalan kecil, atau membiarkan bahkan membenarkan berbagai pelanggaran aturan karena pelakunya dianggap masih kanak-kanak, dia akan terbiasa dengan pemahaman bahwa perbuatan buruknya adalah hal normal. Mencuri sandal kawan adalah satu jendela rusak, dan membiarkannya dengan dalih bahwa itu adalah hal wajar bagi seorang remaja berarti memberi impuniti untuk mencuri barang-barang yang lebih besar dan mahal di kelak kemudian hari. Dari satu jendela kerusakan menyebar ke jendela-jendela yang lain bahkan terus ke bagian-bagian lain dari bangunan rumah.

Pesan yang disampaikan adalah bahwa dalam konteks kawan saya tadi, struktur yang sangat toleran terhadap tindakan-tindakan buruk kemungkinan akan menanamkan nilai, bukan hanya bagi pelaku pencurian tapi bagi seluruh murid, dengan kalimat lain menjadi budaya, yang menganggap kejahatan-kejahatan tertentu sebagai hal yang biasa saja, dapat ditolerir karena pertimbangan-pertimbangan spesifik seperti umur pelaku. Tidak perlu diberi sanksi hukum, dan prilakunya diberi label hanya sebagai bagian dari “kenakalan” kanak—kanak. Kita ingat lagi eksperimen Zimbardo di atas. Mobil tanpa plat nomor dan dengan kap mesin terbuka yang diparkir di jalan di Palo Alto tidak dijamah oleh siapa pun sebelum Zimbardo sendiri melakukan provokasi dengan menghancurkan kacanya. Setelah itu setiap orang yang lewat, yang sebelumnya tidak pernah berpikir melakukan tindakan vandal seperti itu, serempak ikut merusak. Karena tidak ada pihak yang memiliki hak atas mobil itu, sehingga tidak ada yang peduli apakah mau dirusak atau dibiarkan begitu saja. Sebagian dari perusak itu melakukannya mungkin hanya karena menganggap kelakuan merusak bersama orang lain adalah hal yang menyenangkan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa tempat sekolah anak kawan saya itu menumbuhkan sikap koruptif dari kecil, melainkan menduga bahwa sebagian dari koruptor kita kemungkinan berasal atau tumbuh dari lingkungan (pendidikan) yang cenderung kuat mentolerir perbuatan melanggar hukum dalam skala kecil, seperti mencuri handuk atau sandal, dan menemukan lahan lebih subur ketika mereka sudah masuk ke dalam pergaulan politik yang lebih luas. Lokal atau nasional. Mereka yang semula dikenal sebagai individu-individu yang hidupnya sangat patuh pada norma, tegak lurus dengan hukum dan moral, bisa berubah menjadi koruptor bisa bermula dari keterpaksaannya untuk bersikap permisif terhadap prilaku dan sikap para koleganya yang cenderung koruptif. Mahkamah Agung yang akhir-akhir ini hampir selalu mengurangi hukuman para koruptor, misalnya, memberi pesan kuat kepada masyarakat kita bahwa bagi hakim-hakim itu, korupsi bukanlah kejahatan besar.

Beberapa persoalan yang muncul dalam kasus-kasus intoleransi, juga bisa dilacak dari kejadian-kejadian pelanggaran batas toleransi satu kelompok oleh kelompok lain yang semula kecil tapi dibiarkan tanpa penindakan sesuai hukum yang berlaku. Demikian pula dengan kasus munculnya organisasi-organisasi massa yang sering mengambil alih peran dan fungsi kepolisian dalam menyelenggarakan aksi-aksi penertiban sosial di sembarang tempat semata-mata berdasarkan penilaian mereka sendiri. Front Pembela Islam (FPI), untuk menyebut contoh termudah, pada tahun 2000 masih merupakan organisasi gurem dengan jumlah anggota tidak seberapa. Tapi mereka sudah melakukan beberapa praktik kekerasan kepada warga seperti pengrusakan tempat hiburan, restoran yang buka siang hari di bulan puasa, bahkan berdemonstrasi di depan istana sambil mengacung-acungkan golok di era pemerintahan yang sudah lama lewat. Tidak ada satu pun otoritas yang memberi mereka sanksi hukum untuk apa yang dilakukannya selain himbauan-himbauan normatif dan moralistik.

Begitu pula ketika mereka berkali-kali meneriakan ancaman membunuh tokoh pejabat publik tertentu dalam demonstrasi massa yang sering mereka lakukan, dan dibiarkan oleh kepolisian, tidak pula mendapat kecaman dari lembaga-lembaga yang selalu merasa menjadi penjaga moral masyarakat. Ketika tidak ada respons negatif apa pun dari semua kalangan, mereka semakin menjadi-jadi. Satu, dua dan beberapa baligo ilegal berukuran raksasa bergambar Rizieq Shihab dipasang di beberapa sudut jalan, tidak mendapat sanksi apa pun baik dari dinas pemerintahan daerah maupun aparat kepolisian. Dalam beberapa bulan di sebagian cukup besar sudut-sudut persimpangan jalan baligo serupa sudah terpasang. Merusak pemandangan kota bagi yang tidak menyukainya, menyuburkan pengkultusan buta bagi para pemujanya. Rizieq Shihab sudah seperti seorang rock star yang mukanya dipampang pada puluhan baligo raksasa di Jakarta. Tapi tanpa bayar pajak. Tanpa rasa malu. Baligo-baligo itu menyampaikan pesan bahwa menggunakan agama memberi orang kebebasan untuk melanggar hukum sekular.

Pembiaran tersebut memberi pesan bahwa impuniti dimungkinkan, mengancamkan kekerasan bahkan pembunuhan secara terbuka di ruang publik mungkin memang salah secara hukum tapi kalau dilakukan juga tidak memiliki konsekwensi buruk apa pun bagi pelakunya. Ketika kelompok vigilante ini bertumbuh pesat menjadi organisasi besar dengan cabang di hampir seluruh Indonesia, pemerintah semakin kesulitan untuk memberi sanksi tegas kepada mereka. Ini memberi pesan sangat kuat bagi mereka dan warga lain di luar FPI bahwa kepolisian Indonesia takut menghadapi mereka. Dibutuhkan pandemi Covid-19 dan tindakan non-standar Mayjen Dudung Abdurrahman sampai pemerintah Indonesia berani membubarkan FPI.

Tapi di luar pemerintah, saya kira sebagai masyarakat sipil kita juga lebih banyak gagal menciptakan dan memelihara tertib sosial yang dapat mencegah hal-hal yang menggangu kehidupan sosial kolektif kita dimulai dari yang kecil. Kecenderungan sikap tidak saling peduli dengan tetangga sekitar, yang sangat kontras dengan kepedulian yang demikian besar dalam media sosial bahkan untuk kasus-kasus yang terjadi di belahan bumi yang berbeda, karena alasan privasi, kelelahan di tempat kerja bahkan soal hak asasi manusia seringkali membuat kita seperti hidup menyendiri di dalam keramaian. Menghadapi ancaman menakutan kita sering tidak berhasil menggalang kekuatan bersama orang-orang yang secara fisik tinggal berdekatan untuk mengatasinya, dan lebih banyak berharap kepada pemerintah bahkan tuhan untuk menyelesaikannya. Jendela-jendela rumah kita mungkin tidak banyak yang rusak, tapi sudah semakin banyak yang tidak pernah dibuka. Di baliknya tidak diketahui apakah yang terjadi adalah kenyamanan ruang ber-AC atau ketakutan menghadapi ketidaknyamanan dan ketidakamanan di luar. Sebuah spekulasi bisa diajukan, kalau jendela yang rusak bisa jadi lambang dari ketidakpedulian dan melemahnya kontrol sosial alami sebuah komunitas, jendela yang selalu tertutup jangan-jangan juga menyampaikan pesan tentang semakin tidak pedulinya kita kepada kehidupan bersama dalam sebuah lingkungan pertetanggaan.

Kita ingat pada apa yang oleh Immanuel Kant disebut “imperatif kategoris” (categorical imperatives). Ini adalah apa yang dianggap Kant sebagai prinsip tertinggi tentang sebuah tujuan, yang secara rasional perlu. Sebuah prinsip yang harus selalu kita ikuti tanpa syarat betapa pun hasrat atau kecenderungan alami yang kita punya mendorong ke arah sebaliknya. “Kamu jangan membunuh”, misalnya, adalah kategoris sifatnya, dan berbeda dari imperatif-imperatif hipotetik yang berasosiasi dengan hasrat seperti “Jangan membunuh kalau kamu ingin masuk sorga”. Formula Kantian untuk soal ini adalah bertindaklah memperlakukan kemanusiaan, apakah dalam bentuk dirimu sendiri atau yang lain, selalu sebagai sebuah tujuan dan jangan pernah hanya sebagai sebuah alat.

Kalau kita kembali kepada Huis Clos di atas, kita bisa membaca dan memaknainya dari jurusan yang berbeda. Dengan pintu-pintu dan jendela rumah di permukiman kita semakin banyak yang selalu tertutup rapat sepenuhnya, sepanjang hari, kita bagaikan secara bersama-sama dimasukkan ke dalam ruang misterius seperti ketiga tokoh drama Sartre itu. Kita jadi mirip para pendosa yang harus menanggungkan penderitaan karena kebersamaan dengan para tetangga kita sendiri. Tidak ada cambuk api atau gergaji maut yang akan memotong-motong tubuh kita, tapi kebersamaan kita dengan orang-orang lain di tempat kerja, di angkutan umum, di jalan-jalan dan di permukiman adalah siksaan bersama sepanjang hayat dikandung badan. Kita ingin melarikan diri. Ke Puncak, ke pantai atau hutan atau ke desa-desa. Tapi untuk sampai ke sana kita juga harus selalu bertemu musibah yang lebih menyiksa. Karena pada dasarnya kita tetap berada di dalam ruang di balik pintu tertutup. Di rumah kita ingin menutup semua pintu, jendela dan celah apa pun karena di luar rumah kita akan bertemu dengan sumber-sumber penderitaan satu sama lain itu. Kita ingin membuat kompartemen tertutup di dalam ruang dengan pintu yang sudah tertutup permanen. Karena neraka adalah orang lain. Dan kita sendiri adalah orang lain.

Jendela rumah kita tampaknya memang adalah jendela dari kehidupan kita sendiri. Ketika jendela rusak dibiarkan atau ketika ia ditutup setiap saat karena kita ingin nyaman sendiri di dalam ruangan ber-AC, sementara AC mengeluarkan hawa panas ke luar rumah, boleh jadi itu adalah tanda yang mentransmisikan pesan kuat bahwa kualitas kehidupan kolektif kita, kondisi kemanusiaan kita memang cenderung semakin memburuk.

Tanjung Barat, Jakarta Selatan
13-18 Mei 2021


Rujukan

B., E., “What “broken windows” policing is”. The Economist Explains. 27 Januari 2015. < https://www.economist.com/the-economist-explains/2015/01/27/what-broken-windows-policing-is> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Bliss, Laura. Psychology Researchers Found New Evidence for the ‘Broken Windows’ Theory”. Bloomberg Citylab. 4 November 2016 < https://www.bloomberg.com/news/articles/2016-11-04/a-scientific-explanation-for-broken-windows> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Childress, Sarah. “The Problem with “Broken Windows” Policing”. PBS. 28 Juni 2016 < https://www.pbs.org/wgbh/frontline/article/the-problem-with-broken-windows-policing/> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Kelling, George L. “Broken Windows. The Police and Neighborhood Safety”. US. The Atlantic. Isu Bulan Maret 1982 < https://www.theatlantic.com/magazine/archive/1982/03/broken-windows/304465/> (diakses tgl. 12 Mei 2021).

Kelling, George. “Don’t Blame My “Broken Windows” Theory for Poor Policing”. Law and Order. Politico Magazine. 11 Agustus 2015. < https://www.politico.com/magazine/story/2015/08/broken-windows-theory-poor-policing-ferguson-kelling-121268> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Kirchner, Lauren. “Breaking Down The Broken Windows Theory”. Pacific Standard. 3 Mei 2017 < https://psmag.com/news/breaking-broken-windows-theory-72310> (diakses tgl. 16 Mei 2021)

Klinenberg, Eric. “The Other Side of ‘Broken Windows’”. Page-Turner. The New Yorker. 23 Agustus 2018 < https://www.newyorker.com/books/page-turner/the-other-side-of-broken-windows> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Martin, Greg St. “Do More Broken Windows Mean More Crime?”. [email protected] 15 Mei 2019 < https://news.northeastern.edu/2019/05/15/northeastern-university-researchers-find-little-evidence-for-broken-windows-theory-say-neighborhood-disorder-doesnt-cause-crime/> (diakses tgl. 15 Mei 2021).

McMaken, Ryan. “The Broken Windows Theory of Policing Has Failed”. Mises Institute. 14 Juli 2016 < https://mises.org/wire/broken-windows-theory-policing-has-failed> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Morrison, Patt. “”’Broken Windows’ Policing isn’t Broken, Says Criminologist George L. Kelling”. Column. Los Angeles Times. 6 Januari 2015 < https://www.latimes.com/opinion/op-ed/la-oe-morrison-kelling-20150107-column.html> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Noah, Timothy. “”Broken Windows” Revisited”. The New Republik. 2 Maret 2012 < https://newrepublic.com/article/101318/broken-windows-revisited> (diakses tgl. 16 Mei 2021)

Roberts, Sam. “Author of ‘Broken Windows’ Policing Defends His Theory”. The New York Times. 10 Agustus 2014 < https://www.nytimes.com/2014/08/11/nyregion/author-of-broken-windows-policing-defends-his-theory.html> (diakses tgl. 16 Mei 2021)

Sartre, Jean Paul. Huis Clos. Suivi de les Mouches. Paris. Galimard, 1947

Sterbenz, Christina. “How New York City Became Safe Again”. BusinessInsider.com, 3 Desember 2014 < https://www.businessinsider.com/criticism-for-giulianis-broken-windows-theory-2014-12?IR=T> (diakses tgl. 16 Mei 2021).

Vedantam, Shankar et al,. “How A Theory Of Crime And Policing Was Born, And Went Terribly Wrong”. NPR.org. 1 November 2016 < https://www.npr.org/2016/11/01/500104506/broken-windows-policing-and-the-origins-of-stop-and-frisk-and-how-it-went-wrong> (diakses tgl. 15 Mei 2021).




BACA JUGA

Sosiologi | Budaya

Mudik: Konsumsi dan Nostalgia