Distorsi Realitas

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.

“Blog

Dalam hidup sehari-hari, sebuah perumpamaan sering dipakai untuk menjelaskan hal rumit agar lebih mudah dimengerti. Semacam pintu darurat yang mau tidak mau harus dipakai ketika kita kehilangan kesanggupan untuk memberi penjelasan yang bisa memuaskan, dan gampang dicerna. Banyak orang mengira bahwa untuk setiap soal rumit selalu ada perumpamaan yang bisa dipakai sesuka hati. Kita kadang lupa bahwa setiap perumpamaan pada dasarnya adalah simplifikasi. Dan setiap simplifikasi bukan lain adalah distorsi realitas. Orde Baru adalah contoh kekuasaan yang dihidupkan oleh politik distorsi realitas ini.

Kemelut politik kita hari ini boleh jadi antara lain juga berhulu dari kebiasaan simplifikasi seperti itu. Perumpamaan hubungan antara MPR dan presiden seperti relasi antara guru dan murid, misalnya, bukan saja bodoh tapi juga sangat berbahaya. Di situlah kita melihat bagaimana sebuah realitas yang sangat kompleks direduksi melalui sebuah perumpamaan yang sekilas cukup masuk akal.

Yang muncul kemudian adalah sebuah wacana tentang siapa yang berkuasa mutlak, tapi bukan tentang obligasi sosial dan politik kedua lembaga tersebut. Maka alih-alih menjernihkan makna, ia hanya menyembunyikan watak feodal anti-demokrasi, dan logika berpikir yang juga cenderung simplistis tapi juga manipulatif. Perumpamaan seperti itu pasti dihasilkan dari kapasitas intelektual yang belum berkembang.

Celakanya, banyak orang sering menarik konklusi dan memilih tindakan didasarkan pada hasil simplifikasi ini. Kericuhan primitif antara Gus Dur dan Amien Rais adalah produknya yang paling nyata. Pada pihak yang satu, Amien Rais dengan segenap keyakinan selalu merasa sebagai seorang guru dengan kuasa mutlak yang serba sok tahu dan, karenanya, berhak memecat murid kapan dia suka. Dia bahkan seperti benar-benar meyakini bahwa MPR adalah dirinya sendiri. Amien menjadikan dirinya sebagai individu, yang sebelum gerakan reformasi memang cenderung sering berseberangan dengan Gus Dur, dan lembaga tertinggi negara sekaligus.

Pada pihak yang lain, sangat jelas bahwa Gus Dur tidak suka diperlakukan melulu sebagai murid bodoh dan lancung. Apalagi orang(-orang) yang memberinya nilai buruk itu tidak semua dianggapnya patut dihormati karena prilkau politiknya yang tidak kunjung beranjak dewasa. Semua masih ingat bagaimana Gus Dur mengumpamakan mereka sebagai kumpulan murid taman kanak-kanak. Maka bagaimana mungkin orang atau sekumpulan orang dengan tabiat seperti murid TK bisa dipercaya memiliki otoritas menilai performa seoarang presiden. Ini adalah analogi relasi guru-murid paling aneh yang pernah terjadi dalam sejarah politik Indonesia.

Banyak kesulitan dalam hidup kita belakangan ini bermula dari realitas yang dibengkok-bengkokan oleh narasi yang keluar dari mulut orang-orang seperti Amien Rais ini. Pada level individual ia hanya akan menghasilkan orang-orang tanpa kedewasaan berpikir. Orang-orang yang diobsesi oleh hasrat memanipulasi realitas dan mengajak rakyat tingal dalam kebodohan lebih lama.

Jakarta, 30 Maret 2001