Menimbang buku Global Transformation and the Third World

Review Artikel




Judul Buku: Global Transformation and the Third World
Editor: Robert O. Slater, Barry M. Schutz, dan Steven R. Dorr
Penerbit: Lynne Rienner Publisher, Boulder, Adamantine Press, London
Tahun Terbit: 1993
Esai yang dibahas: “Global Economic Transformation and Less Developed Countries”



“Blog

Sampai empat belas tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, kata jadian “globalisasi” sama sekali belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen P dan K dan Balai Pustaka. Ini paling tidak bisa berarti dua kemungkinan: globalisasi belumlah menjadi terminologi yang dikenal luas atau, kalau tidak, hal tersebut justru memperlihatkan bagaimana perkembangan khasanah bahasa Indonesia cenderung kurang responsif terhadap perkembangan zaman yang bergerak begitu cepat.

Akan tetapi, sejauh ingatan saya cukup teliti, paling tidak sejak sekitar awal dekade 1980an globalisasi telah menjadi tema diskusi dalam pelbagai wacana yang berkembang di Indonesia. Para ekonom, ilmuwan sosial, teknokrat, birokrat, ahli-ahli teknik, dan para pelaku bisnis sampai mahasiswa menggunakan kata tersebut untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang sangat fundamental tengah berlangsung di seluruh dunia, tanpa kecuali. Dalam kalimat lain, globalisasi sebagai sebuah fenomena yang sebagiannya dipacu oleh perluasan-perluasan ekonomi perdagangan internasional, pada level wacana berkembang menjadi satu buzzword yang direproduksi terus-menerus sampai hari ini.

Hampir diterima secara umum di kalangan para teoritisi sosial di dunia, bahwa globalisasi antara lain dicirikan oleh makin susutnya peran dan dominasi negara digantikan oleh korporasi-korporasi transnasional atau Perusahaan Multinasional (Multi-National Corporations atau MNC). Dalam The Age of Uncertainty (1977), John Kenneth Galbraith, antara lain menulis sebagai berikut:

Korporasi modern juga mempraktekkan kekuasaannya di dalam dan melalui jalannya pemerintahan…..Dan yang jarang diungkap tapi sebenarnya lebih penting adalah hubungan yang secara alamiah berkembang antara korporasi modern dengan birokrasi publik—antara mereka yang membuat mobil dan mereka yang membangun jalan raya, antara mereka yang membuat pesawat tempur dengan orang-orang yang mengontrol angkatan udara. Antara korporasi modern dan negara modern terdapat hubungan simbiosis yang mendalam yang didasarkan pada pembagian kekuasaan dan keuntungan. (Glabraith, 1977: 258).

Dalam buku yang sebagiannya dikutip di atas Galbraith, seorang pemikir ekonomi yang pernah memiliki pengalaman empirik sebagai duta besar Amerika Serikat untuk India, ingin menggambarkan bagaimana sebuah proses transformasi sedang berlangsung pada skala global. Dalam proses tersebut, bukan saja peran negara sebagai institusi sosial tradisional terbesar semakin kecil melainkan bahkan bergeser menjadi agen-agen korporasi transnasional melalui apa yang disebut Galbraith sindroma perusahaan multinasional. Sindroma inilah yang, menurut Galbraith, telah mengantarakan kita memasuki satu zaman tempat segala hal adalah mungkin, tapi tanpa satu pun yang pasti (the age of uncertainty).

Sebagai sebuah fakta, globalisasi sama sekali bukanlah hal baru. Sebagian orang bahkan menganggap itu sebagai sebuah keniscayaan sejarah masyarakat manusia. Akan tetapi, bagi masyarakat warga belahan Dunia Ketiga seperti Indonesia, harubiru wacana tentang globalisasi tentu bukan hanya menunjuk pada berlangsungnya pelbagai pergeseran tata ekonomi, politik dan kebudayaan dunia, melainkan juga pada bagaimana proses-proses tersebut berlangsung secara tidak simetris. Karena itu tidaklah mengherankan jika sebagian orang melihatnya sebagai pengulangan bentuk-bentuk imperialisme negara maju vis à vis masyarakat Dunia Ketiga. Dalam satu wawancara dengan sebuah penerbitan mahasiswa di awal dekade 1990an sosiolog UGM Loekman Soetrisno, misalnya, dengan nada gusar menunjuk globalisasi tidak lebih dari “gombalisasi” atau, untuk memakai ungkapan yang lebih sarkastis, pembodohan masyarakat Dunia Ketiga oleh masyarakat negara maju.



Cukup jelas bahwa terminologi globalisasi adalah sebuah bangun teoritis yang terbuka untuk ditafsirkan. Ia ternyata bukanlah hal yang secara konseptual bisa dipahami hanya dengan merujuk pada berlangsungnya peningkatan proses-proses perluasan interaksi transnasional dalam lapangan ekonomi, melainkan juga membingkai isu-isu krusial lain di wilayah politik, psikologis, dan perumusan teori-teori sosial.

Bagi sebagian teoritisi sosial mutakhir, globalisasi juga menandai berlangsungnya sebuah konfigurasi sejarah global yang baru, yakni apa yang kemudian lebih sering disebut sebagai kondisi postmodernitas (Harvey, 1990) di bawah dominasi kapitalisme transnasional. Kondisi inilah yang sering dijadikan landasan bagi berkembangnya wacana tentang postmodernisme dalam ilmu sosial seperti sosiologi.

Esai “Global Economic Tranfromation and Less Developed Countries” (GETLDC) yang ditulis Michael Dolan (1993), kurang lebih, berada di tengah arus pembentukan wacana tentang kondisi postmodernitas tadi. Dibandingkan dengan beberapa kajian tentang kondisi postmodernitas yang kebanyakan berkutat pada level diskursif dan filosofis, kelebihan utama Dolan dalam GETLDC adalah karena ia secara cukup meyakinkan berhasil mengkaitkan problem krisis global dengan implikasinya pada realitas empirik tatanan ekonomi negara-negara dunia ketiga.

Tesis utama Dolan dalam esainya ini adalah bahwa krisis global yang telah berlangsung sejak dekade 1970an secara umum telah menghambat laju pembangunan di negara-negara Dunia Ketiga, dan bahwa karena itu maka masa depan negeri-negeri tersebut tampak suram di mata Dolan (hlm., 260). Satu konsep menarik yang dipakai Dolan dalam karangannya inilah adalah apa yang ia sebut Less Developed Countries (LDCs), yang justru menampilkan sosok sebenarnya dari Dolan sendiri: seorang akademisi Barat yang tetap saja melihat belahan dunia yang lain sebagai entitas yang kurang berkembang dibandingkan dengan negeri-negeri maju. Meskipun berguna menambah perbendaharaan istilah-istilah pembangunan, tapi penggunan terminologi LDC pada dasarnya hanya satu bentuk eufimisme yang dasar-dasarnya juga bisa dikembalikan pada dalil-dalil pertumbuhan modernisasi.

Secara garis besar, garis pikiran utama Dolan dalam GETLDC dibingkai oleh dua isu utama: globalisasi sebagai proses gradual lenyapnya batas-batas ekonomi yang dibarengi oleh makin meningkatnya pertukaran internasional dan interaksi transnasional; dan munculnya pengalaman tentang apa yang disebut Dolan sebagai krisis hegemoni Amerika Serikat. Meskipun secara militer AS masih tetap menjadi kekuatan nomor satu dunia, namun secara ekonomi hegemoninya mulai goyah berhadapan dengan kekuatan ekonomi Jepang, negara-negara Eropa, dan terutama kekuatan transnasional. Kombinasi kedua isu inilah yang menurut Dolan telah mengakibatkan munculnya krisis struktural pada tingkat global, dan mendorong lahirnya beberapa perubahan struktural pada tatanan masyarakat dunia (hlm., 259).

Dalam upayanya membangun landasan yang kokoh bagi argumentasinya tadi, Dolan kemudian mengidentifikasi akar dari perubahan-perubahan dan problem struktural yang tengah dihadapi oleh masyarakat dunia: krisis hutang yang terutama dihadapi oleh negara-negara Dunia Ketiga; runtuhnya Timur sebagai benteng terakhir sosialisme, dan; meningkatnya kecenderungan regionalisasi baru seperti yang tampak dalam pembentukan blok-blok perdagangan baru.

Yang juga menarik dalam kajian Dolan ini adalah argumennya tentang bagaimana dalam konteks makin leburnya batas-batas ekonomi transnasional, itu masih juga ditandai oleh menguatnya kepentingan untuk melindungi kepentingan perekonomian masing-masing negara. Munculnya proteksionisme baru di bidang perdagangan yang diberlakukan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat terhadap negara-negara kurang maju, misalnya, semakin memperkuat argumen mereka yang cenderung memandang globalisasi sebagai proses yang terutama berimplikasi negatif bagi masyarakat dunia ketiga. Skeptisisme ini diperkuat oleh prognosis Dolan tentang nasib masa depan LDCs. Bagi Dolan, hanya negeri-negeri yang memiliki tingkat penghasilan lebih tinggi, dan secara teknologis lebih majulah yang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi global yang sudah berubah. Sebaliknya negeri-negeri berpenghasilan rendah,termasuk Indonesia saya kira, hanya akan menghadapi globalisasi sebagai, untuk kembali meminjam istilah Loekman Sutrisno, proses gombalisasi ekonomi, politik, dan kultural.



Beberapa tahun setelah Perang Dunia II berakhir dan Perang Dingin baru memasuki tahap-tahap awal, filsuf dan matematikus Inggris pemenang Nobel untuk kesusastraan tahun 1950, Bertrand Russell, menulis sebuah esai yang sangat menarik untuk konteks waktu itu. Russell memberi esainya itu sebuah tajuk provokatif, The Future of Mankind (1964: 34-44), Masa Depan Umat Manusia. Sejak kalimat pertama Russell telah memprovokasi pikiran pembacanya. Menurutnya, sebelum abad 20 berakhir, kecuali jika sesuatu yang tidak teramalkan terjadi, satu dari tiga kemungkinan akan dialami umat manusia di dunia. Pertama, berakhirnya kehidupan umat manusia, bahkan mungkin seluruh kehidupan di atas planet bumi ini; Kedua, mundurnya peradaban kembali pada barbarisme setelah sebuah malapetaka yang memusnahkan seluruh umat manusia di dunia, dan; Ketiga, unifikasi atau penyatuan dunia di bawah satu pemerintahan yang memiliki monopoli atas seluruh perlengkapan perang. Ketika dihadapkan pada pilihan antara Amerika Serikat (AS) atau Uni Soviet (waktu itu), Russel secara tegas memilih AS sebagai pemerintah tunggal dunia.

Untuk konteks Indonesia, jejak pemikiran konservatif seperti Russel tersebut dengan mudah kita temukan pada gagasan-gagasan sang empu berambut perak, almarhum Sutan Takdir Alisjahbana (STA), yang dengan penuh semangat mempromosikan gagasan “satu dunia satu umat manusia” ketika usianya makin lanjut.

Sampai abad 20 berakhir dan permulaan milenium ketiga saat ini, tak satu pun dari nubuat Russel yang menjadi kenyataan. Bukan saja karena manusia terbukti masih terus melanjutkan proses-proses sejarah sampai hari ini, melainkan juga karena proses-proses tersebut masih tetap menyisakan potensi-potensi kebaikan dalam jumlah besar. Tendensi ke arah tribalisme memang muncul di beberapa tempat di dunia, tapi ia lebih dipicu oleh kondisi-kondisi yang sama sekali bertolak belakang dengan asumsi-asumsi Russel. Di lain pihak, mulai tersatukannya geografi dunia oleh temuan-temuan teknologi transportasi dan telekomunikasi, ternyata tidak otomatis mendorong orang untuk menyepakati kesatuan geopolitis yang tunggal.

Esai Dolan tentang proses restrukturisasi tatanan global yang dipicu oleh krisis ekonomi dekade 1970an, dan implikasi praktisnya pada kehidupan negara-negara di dunia ketiga memperlihatkan pada kita bukan saja bukti tentang kemustahilan struktural dari proses unifikasi masyarakat dunia seperti yang dibayangkan oleh Russel, melainkan juga tentang bagaimana hegemoni kekuasaan sebuah negara dengan perlengkapan perang paling unggul di dunia, secara pasti mulai direbut oleh kekuasaan korporasi-korporasi transnasional. Kalau Russel mungkin bisa dianggap sebagai wakil dari pesimisme intelektual sekaligus harapan paska Perang Dunia II, maka Dolan adalah wakil dari kecemasan intelektual yang sebagian alasannya bisa dialamatkan pada kondisi ketimpangan pembangunan masyarakat dunia. Karena itu mungkin ada baiknya mengingat kalimat-kalimat sinis Galbraith bahwa lebih dua ratus tahun setelah Adam Smith, para ekonom telah berprestasi bukan mengendalikan inflasi, tidak pula mencegah pengangguran, melainkan menghadirkan keduanya secara bersamaan.


Referensi


Dolan, Michael, “Global Economic Transformation and Less Developed Countries”, dalam Robert O. Slater, et all, Global Transformation and the Thirl World, Lynne Rienner Publisher, Boulder, Adamantine Press, London, 1993.

Galbraith, John Kenneth, The Age of Uncertainty. Houghton Mifflin, Boston, 1977

Harvey, David, The Condition of Postmodernity. An Inquiry into the Origins of Cultural Change. Basic Blackwell, Oxford, 1990.

Russel, Bertrand, “The Future of Mankind”, dalam Bertrand Russel, Unpopular Essays.12 Adventures in Argument by the Winner of the 1950 Nobel Prize for Literature. Simon and Schuster, New York, 1964


© 2020 Hikmat Budiman