Kondolasi Politik untuk (Pendukung) Gus Dur

Artikel Mini-Kata Koran Cepat Detik.



“Blog


Memakai cara apa pun, tahta Abdurrahman Wahid sudah sulit dipertahankan. Agustus 2001 mungkin saatnya kita memberikan salam perpisahan pada orang yang semula begitu menjanjikan, tapi yang kemudian terbukti baru bisa berjanji. Namun jika Agustus nanti ia bisa bertahan, kemungkinan besar ia akan tetap di tahtanya sampai 2004. Sebab orang-orang partai politik akan mulai sibuk mempersiapkan pemilu, membikin janji-janji baru, membuncahkan lagi omong kosong, dan melupakan Wahid.


Tapi Skenario terburuk tentu saja adalah robohnya Gus Dur melalui Sidang Istimewa MPR. Kalau itu terjadi, bagaimana kita memperkecil kemungkinan terjadinya petaka politik setelah palu sidang diketok, dan Wahid disisihkan dari pusat kekuasaan. Konkretnya, bagaimana agar tidak terjadi gelap mata politik di kalangan para pendukung setia Gus Dur, dan agar negeri ini tidak terlalu menilai rendah darah manusia untuk urusan politik?

Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah mempersiapkan sebuah kondolasi politik, sejenis ungkapan simpati yang bisa menawarkan pahit hati orang yang dipaksa berhenti berkuasa di tengah jalan. Di balik sikapnya yang terlampau keras kepala, kita tahu Wahid adalah orang yang mudah dihibur hatinya. Kebiasaannya mengumbar anekdot dan humor adalah bukti wataknya yang sangat periang: gampang melupakan problem paling getir yang dihadapinya. Desakan agar Amien Rais juga (di)mundur(kan), mungkin salah satu kondolasi politik yang paling disukai Gus Dur dan para pendukungnya.

Dalam konteks itu, Rahmawati termasuk orang yang tahu bagaimana harus melipur sengsara hati Wahid. Himbauannya agar Mega mundur mungkin memang sebuah kondolasi politik yang muncul lebih karena simpati, bukan karena sebab-sebab yang lebih serius. Tidakah persoalan kita sekarang bermula dari hal-hal sepele yang terlalu dianggap serius? Soal sikap dan ucapan kontroversial presiden misalnya.

Jakarta, 15 Mei 2001