Rasio dan Kapitalisme, dan Makna yang Menguap





Share


“Blog

Bukan tanpa bukti ketika Goethe, misalnya, melontarkan sebuah ungkapan menarik, seperti terepresentasikan dalam refleksi sosiologis Weber tentang perkembangan agama di bawah kapitalisme, bahwa orang-orang Kristen mencari Tuhan tapi malahan dengan menciptakan setan. Itulah salah satu paradoks peradaban modern. Dari Weber kita diberi tahu bahwa jika agama (Protestan) telah menjadi pendorong yang hampir bersifat kausal bagi perkembangan kapitalisme, yang terakhir (kapitalisme) justru bertindak sebagai tali gantungan yang mengantar agama pada titik nadir peran dan fungsinya. Jalinkelindan relasi antara agama dan kapitalisme tidak berupa simbiosa mutual melainkan parasitis. Kapitalisme menjadi benalu yang terus-menerus menggerogoti kehidupan agama-agama.

Kalau dengan merujuk Ahmed (1996), Bryan S. Turner secara meyakinkan berhasil menunjukkan bahwa ancaman bagi Islam bukanlah lagi berasal dari ajaran Yesus melainkan Madonna, maka peringatan Samuel P. Huntington tentang ancaman benturan antar-peradaban antara Barat dan Islam jadi harus dibaca dengan hati lapang. Bagi sebagian ahli, pasca Perang Dingin, setelah Komunisme secara umum berhasil diruntuhkan, dan negara-negara komunis satu persatu berbelok menjadi negeri-negeri kapitalis dalam berbagai cara dan modelnya, di dunia hanya tertinggal hak-hak azasi manusia, demokrasi liberal, dan pasar bebas ekonomi kapitalisme yang bisa menjadi ideologi bagi bangsa-bangsa.

Sejarah, dalam pengertian Hegelian sebagai perwujudan dari ide-ide, sudah berakhir menurut Francis Fukuyama (1992). Setelah dua pesaing utamanya, fasisme dan komunisme, berhasil dikalahkan Fukuyama percaya bahwa liberalisme, termasuk demokrasi liberal dan ekonomi pasar, adalah satu-satunya pemenang dan tidak ada lagi ideologi kompetiror yang bisa menandinginya. Liberalisme, dan demokrasi liberal, mungkin bukan yang terbaik, tapi Fukuyama melihat tidak ada ideologi dan struktur politik lain yang bisa memberi kemakmuran dan kebebasan individu seperti yang bisa diberikan oleh liberalisme dan demokrasi liberal.

Selain menjadi ideologi dalam proyek-proyek pembangunan negara-negara miskin, kapitalisme juga datang dalam rupa yang sangat menggoda seperti Madona, McDonald, Macintosh, Sean Connery, bahkan sepakbola dan mukena. Whiskey dan air mineral kemasan. Champagne dan buah kurma. Burka dan bikini sekaligus.


Pertanyaannya, jika demikian, lantas apa dan siapa yang akan muncul sebagai pesaing bagi liberalisme Barat. Huntington datang dengan jawaban untuk kekosongan yang ditinggalkan oleh Fukuyama. Bagi Huntington, meskipun liberalisme dan demokrasi Barat sudah terbukti ungul di semakin banyak tempat di dunia, tapi bukan berarti tidak akan muncul kekuatan yang menandinginya. Konflik yang akan muncul bukan lagi antar ideologi dan/atau negara-bangsa melainkan antar-peradaban. Ringkasnya, dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) Huntington melihat bahwa setelah era Perang Dingin berakhir, perang besar akan berlangsung bukan antar-negara melainkan antar-kebudayaan. Identitas kultural dan agama akan menjadi sumber utama konflik di masa depan. Bukan lagi ideologi, politik, atau ekonomi yang menjadi distingsi antarorang melainkan kebudayaan. Di batas-batas budaya yang berbeda itulah akan muncul pola-pola konflik baru, sedangkan pola-pola kohesi akan ditemukan di dalam batas-batas kultural. Budaya yang berbeda akan berkonflik, di dalam batas budaya kohesi sosial semakin menguat.

Terminologi benturan peradaban-peradaban (clash of civilizations) sendiri bukanlah ungkapan baru yang ditemukan Huntington karena ia telah digunakan oleh penulis-penulis lain bahkan sejak Prancis masih berada di era yang biasa disebut la belle époque, sebuah era ketika di bawah Republik Ketiga Prancis ditandai oleh kemakmuran ekonomis, kedamaian hidup, dan optimisme. Menurut Huntington, peradaban Islam dan Sinik (Cina) menjadi dua peradaban yang akan menjadi musuh utama dari peradaban Barat modern. Selain negara-negara di Timur Tengah, Indonesia masuk ke dalam kelompok peradaban Islam bersama-sama dengan Malaysia, Brunei, dan Maladewa. Peradaban Sinik dan Islam kemungkinan akan bersekutu melawan peradaban Barat.

Kembali kepada Ahmed yang dirujuk Turner di atas, kita bisa membaca tesis Huntington tadi dari sisi penglihatan yang berbeda. Yesus memang bukan Barat, tapi Kristen sebagai lembaga dan nilai memang identik dengan Barat. Sebagai nilai ia ikut mendorong kapitalisme tumbuh dan terus membesar, tumpah ruah ke mana-mana. Selain menjadi ideologi dalam proyek-proyek pembangunan negara-negara miskin, kapitalisme juga datang dalam rupa yang sangat menggoda seperti Madona, McDonald, Macintosh, Sean Connery, bahkan sepakbola dan mukena. Whiskey dan air mineral kemasan. Champagne dan buah kurma. Burka dan bikini sekaligus. Ia menjual sebagai firma raksasa ke seluruh dunia, tapi juga melalui para penjaja yang membawa pakaian dalam gembolan ke sembarang pelosok desa. Dari sandang aurat (lingeries) merek Triumph atau Wacoal dalam pagina-pagina majalah yang licin mengkilap dan panggung-panggung lenggok-kucing di Paris dan Milan sampai para mindring atau tukang kredit yang menyebar dari Tasikmalaya dan bersenandung untuk memanggil para pelanggan mereka di pojok-pojok dusun di kaki gunung. Dari busana-busana haute couture sampai pakaian di lapak-lapak kaki lima.

Kalau pun clash atau benturan dalam pengertian perang bersenjata antar-peradaban itu belum akan terjadi dalam waktu dekat ini, atau kalau pun terjadi masih dalam skala relatif terbatas, tapi tidakah pada dasarnya setiap hari kita sedang terus-menerus menyaksikan pertempuran-pertempuran yang tak habis-habis itu dalam bentuk yang lain? Bagaimana pun Barat adalah imperialis bagi masyarakat-masyarakat di belahan bumi yang lain, termasuk di dalam peradaban Sinik juga di dalam peradaban Islam. Barat bukan hanya mengandalkan kapitalisme industri mesin-mesin perang militer tapi juga berbagai hulu ledak budaya yang diproduksi dari industri budaya kapitalisme, yang penetrasinya sudah sangat kuat ke dalam peradaban-peradaban tersebut.

Seorang penulis Arab pada dekade 1960an meradang, “kita memenuhi semua keinginan imperialisme tapi kita setiap hari mengutuknya”. Dunia atau peradaban Islam sekarang tidaklah pertama-tama sedang menyiapkan pedang untuk sebuah peperangan melawan kafir di Barat, tapi justru tengah memompa kapital untuk membeli konsumsi. Madonna, Nadya Hutagalung atau Sharon Stones dan Tamara Bleszynski jelas bukan hanya deretan wajah-wajah cantik. Di tubuh, buah dada dan wajah para model itu mengalir deras modal dan impian sejagat. Mereka, mengikuti Turner, adalah tanda dari sebuah kondisi sosial yang tengah disodok oleh teknologi-teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya-gaya hidup, hyper-konsumerisme, dan mulai pudarnya negara-bangsa. Pada semua itu sebagian terbesar investasi masyarakat manusia saat ini tengah digiring.

Perang terbesar bukanlah menghadapi kaum kafir di medan tempur tapi justru melawan nafsu yang adanya bukan nun jauh di sana, tapi di sini, di dalam diri kita sendiri. Ucapan dari sekitar abad ke-7 di jazirah Timur-Tengah tersebut kini semakin terasa memukau dalam gema di malam sepi atau dalam riuh-rendah kota yang berpacu meraih kemajuan. Secara tradisonal, nafsu tersebut dipahami sebagai “hawa”, tak berwujud tapi nyata dan begitu sulit ditaklukkan. Ia bisa datang tiba-tiba membutakan pikiran, tapi ia juga sering merambat pelan dalam lorong-lorong jiwa sunyi sendiri.

Tapi dari sekian banyak godaan, hasrat besar pada konsumsi dengan sekian banyak variasi dan ramifikasi akibatnya adalah apa yang akan kita diskusikan. Islam, juga agama-agama lain sebenarnya, selalu mengajarkan pengekangan hasrat. Diri dianggap entitas yang mutlak harus dikendalikan. Liberalisme dan ekonomi pasar, di sisi lain, selalu mendorong masing-masing dan setiap individu melepaskan kekangan. Kita ingat kapitalisme awal dengan prinsip laisez faire. Versi awal semboyan ini adalah laisez faire, laisez passer, le monde va de lui même (kurang lebih berarti, lakukan saja, biarkan berlalu, dunia hidup oleh dirinya sendiri), yang konon merujuk pada ungkapan dari pedagang Cina.

Prinsip seperti itu jelas sudah melepaskan diri dari asketisme dan Puritanisme Protestan, dan menghasilkan para kapitalis yang kerakusannya tidak mengenal batas, setan-setan ekonomi yang ketamakannya seperti kuda-kuda tak berkekang. Semua lepas dari kekangan yang dianjurkan dalam ajaran-ajaran agama. Orang Kristen mengumpulkan kekayaan untuk kebesaran tuhan, tapi dalam prosesnya yang mereka dapatkan adalah, atau mereka sendiri mengalami transformasi menjadi iblis-iblis rakus para kapitalis yang akan melahap apa pun di dunia ini. Karena baik Islam maupun Kristen sama-sama memberi tekanan pada keharusan melakukan kekangan atas hasrat/nafsu maka liberalisme dan ekonomi pasar kapitalisme pada dasarnya adalah musuh bersama bagi keduanya. Dalam konteks ini kita bisa lebih memahami pernyataan Turner di atas bahwa Islam tidak terancam oleh ajaran Yesus melainkan oleh liberalisme dan ekonomi pasar kapitalisme, Madonna dan McDonald.

Kita yang hidup belasan abad setelah era orang-orang suci tamat, mencoba berkhidmat pada ajaran-ajaran lama dalam cara yang kita masing-masing mampu lakukan. Tidak pernah sepenuhnya bisa persis sama, identik, dengan apa yang dulu pernah ada. Purifikasi agama memang dilakukan oleh sebagian orang, tapi dengan hasil yang justru lebih banyak mendatangkan rasa takut bagi sebagian yang lain. Setiap ujar menjadi ajar ia akan menghadapi keharusan menjadi wajar dalam setiap lokasi kalau ia mau diterima pada ajang lahan-lahan berbeda di luar rumpun atau puaknya. Artinya lama-kelamaan ia harus menjadi bagian dari kebudayaan setempat. Kalau tidak bisa seperti itu ia hanya bisa menyebar melalui perang, main hajar segala yang berbeda. Kalau pun banyak yang berkeras bahwa agama bukanlah produk budaya tertentu, ia tetap harus bisa masuk ke dalam kultur agar ajaran itu bisa tumbuh subur di lahan-lahan baru.

Era Islam yang dulu sempat dikenal dan dihadirkan dalam nafas bias kultural oleh Weber sebagai kelompok yang memiliki kultur serdadu, dengan pasukan-pasukan perang berkuda atau naik onta, berderap gagah perwira menaklukan padang-padang pasir bahkan sampai ke Romawi, itu sudah berhenti di masa lalu. Tantangan besar bagi Islam, dan agama-agama lain juga sebenarnya, sekarang bukan lagi dari ajaran yang berbeda dan pasukan-pasukan perangnya yang saling berebut jalan keselamatan (tapi dengan cara mencuri kematian), melainkan serbuan godaan untuk masuk dan menikmati sorga secara serba serentak. Karena bumi sudah penuh dengan garis-garis peta dan perbatasan berpagar meriam dan pasukan perang, yang mengancam kehidupan beragama bukan berasal dari agresi fisik musuh untuk menancapkan bendera sebagai tanda penguasaan teritorial, melainkan dari ajakan-ajakan untuk menggenapi hidup dengan surga yang sudah dibikin nyata di dunia fana ini. Sejauh agama dapat dipahami sebagai jalan hidup yang meletakkan kontrol atas segala yang berlebihan demi hidup yang seimbang, kapitalisme menginginkan kita menjadi manusia-manusia yang sepenuhnya lepas dari kekangan apa pun.

Kapitalisme akan mengadopsi pola-pola apropiasi kultural untuk kepentingan akumulasi kapital belaka. Kita akan terus semakin didorong untuk lebih patuh pada ritual-ritual keagamaan, tapi setiap ritus itu kemudian secara perlahan-lahan mengalami pergeseran menjadi arena distribusi dan konsumsi sekaligus dari produk-produk perusahaan kapitalis. Aktivitas-aktivitas ritus keagamaan menjadi pasar bagi hasil produksi kapitalisme.

Orang bisa pula menjadi tokoh paling khusuk melafalkan nama Tuhan setiap kali bicara atau menulis, sambil pada saat yang sama menjadi seorang playboy garda depan. "Puritan by day playboy by night", kata Featherstone.


Peresapan agenda-agenda kapitalisme ke dalam wilayah-wilayah keagamaan seperti itu, tentu saja melahirkan pelbagai pengalaman baru yang menggetarkan. Latihan-latihan pengekangan diri asketis-rasional mungkin hanya tinggal sebagai residu masa lalu yang membuat malu. Karat besi pada sebatang keris yang tak lagi pernah dihunus. Para padri yang masih cukup gigih menajiskan hedonisme kini tampak seperti sisa pasukan kalah perang yang demikian lelah, sampai akhirnya menyerah pada tawaran hidup yang sangat mudah, dan lezat. Berhadapan dengan gemuruhnya rimba televisi, kondom(inium), café, internet dan ledakan tubuh Sharon Stone yang demikian cerdas, keutamaan-keutamaan watak Puritan dan pengendalian diri asketis-rasional bukan lagi pesolek yang tak pernah kehilangan peluang untuk menang. Sebab keduanya telah didevaluasikan dan dilecehkan beramai-ramai.

Kerakusan dan derma sekarang bertaut sudah, karena para pelaku kapitalisme mutakhir telah banyak menimba pengalaman sulit akibat memelihara jarak yang terlampau tegas antara keduanya. Maka kata efisiensi dan hura-hura, pengekangan dan pelepasan, kemaruk dan sistem sedekah, maksiat dan makrifat, wisata dan ibadah, tidak lagi ditujukan pada alamat yang bertolakbelakang secara etis maupun ekonomis. Semuanya bukan lagi kategori-kategori moral tapi peluang untuk meraup keuntungan kapital. Angkat telephone rumah Anda untuk ikut sebuah acara telekuis di televisi swasta! Sejumlah besar uang (biasanya berkisar antara Rp. 100 ribu sampai jutaan rupiah) bisa segera menjadi milik Anda tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup hanya menjawab satu pertanyaan yang benar-benar tidak memerlukan energi besar untuk memikirkannya. Persoalannya seolah hanya terletak sepenuhnya pada faktor keberuntungan, dan selama kita masih percaya pada keberuntungan atau nasib seperti itu, selama itu pula sebenarnya kita tengah menghidup-hidupkan sebagian dari harta kepercayaan masa silam.

Jika Anda seorang pengusaha raksasa baik dalam ukuran perut maupun modal sekaligus seorang politikus ternama merangkap moralis yang lantang, misalnya, apa yang Anda akan lakukan seandainya produk-produk perusahaan Anda babakbelur dihantam pesaing Anda di dalam pasar? Bisa jadi Anda akan meminta perlindungan politik dari kolega, kerabat atau ayah Anda untuk bisa menjalankan monopoli. Tapi mungkin juga tidak ada alternatif lain bagi Anda kecuali memilih untuk membuat bungkus dan promosi atau iklan dengan model-model yang sensual, yang sohor dan glamor, menjanjikan kemudahan dan kepuasan serentak--dan tentu saja fantasi-fantasi seksual yang membetot sahwat. Orang bisa pula menjadi tokoh paling khusuk melafalkan nama Tuhan setiap kali bicara atau menulis, sambil pada saat yang sama menjadi seorang playboy garda depan. "Puritan by day playboy by night", kata Featherstone memparafrasekan ungkapan Daniel Bell dua dekade sebelumnya, “straight by day swinger by night”.

Puasa dan keasyikan sahwat beraduk-aduk ketika segala hal dievaluasi di dalam pasar. Diterapkan secara lebih luas, munculnya kontradiksi seperti itu dengan mudah bisa dilihat dalam beberapa praktik kehidupan kita sehari-hari: seorang penceramah ulung yang tidak pernah lelah mengingatkan bahaya konsumerisme, misalnya, ternyata juga seorang penggemar mobil dan hidup mewah serta pecinta shoping mall; seorang pengkhotbah yang dalam orasi-orasinya tidak pernah berhenti bercuriga terhadap ancaman setan dan niscaya dengan kukuh mempertahankan kategori "yang baik dan benar" versus "yang tidak baik dan tidak benar", misalnya, terbukti pula memiliki kegemaran tetap mengunjungi kelompok-kelompok malam, berkaraoke atau mencicipi “gula-gula”. Sebaliknya, seorang American gigolo sekelas Richard Gere toh jatuh cinta begitu dalam pada Budhisme. Karena itu mengobsesikan kesucian dunia sama saja artinya dengan mengharapkan sebuah dunia yang mati.

Simak bagaimana Emha Ainun Nadjib begitu terpesona pada sebuah statsiun televisi swasta hanya karena stasiun tersebut bersedia menyiarkan monolognya yang, menurutnya, bermuatan dakwah. Ia menyebut itu sebagai dakwah alternatif. Emha lupa bahwa agenda di belakang setiap penyiaran adalah meraup kapital sebanyak-banyaknya: orang boleh menjadi muslim atau nasrani paling saleh tapi ia harus nonton TV agar bisa saleh. Sebab hanya di TV ada siraman nurani dari Emha Ainun Nadjib. Maka hanya dengan mengkonsumsi TV seseorang bisa menjadi penghayat iman paling baik. Anda bahkan bisa pergi jiarah umrah secara gratis kalau membeli satu produk tertentu. Artinya, sebagai penghayat iman sekaligus konsumen, kita diajak meluruhkan diri dengan dan menjadi citra bersama-sama. Maka tampilnya Emha atau deretan penceramsurgaah agama lainnya di layar TV pada dasarnya tidaklah berbeda dengan bunyi iklan “Hari ini kita puasa, menjalankan perintah agama, kita sahur bersama Indomie.....!”

Efektif atau tidaknya metode yang ditempuh Emha, saya kira, bukan persoalan yang penting benar, sebab dalam konvensi dakwah tradisional yang pokok adalah disampaikannya dakwah tersebut, dan bukan sejauhmana audience merespon dakwah tersebut dengan tindakan-tindakan yang sesuai. Jadi InsyaAllah Emha tidak akan berdosa, malah akan menuai pahala dan rezeki besar. Yang lebih menarik dan boleh jadi juga penting barangkali justru mengapa Emha memilih media TV, sebuah instrumen paling potensial untuk mengelabui konsumen karena rangsangnya pada citra audio-visual, yang sangat superfisial untuk menyampaikan substansi persoalan yang demikian krusial. Mengapa Emha memilih melenyapkan dan mentransformasikan dirinya menjadi citra yang demikian cair, dengan kata lain, artis, daripada menjadi tauladan yang konkret? Kita tidak pernah tahu jawabannya. Kalau pun ada alasan tentang netralitas media, secara teoritis dan ideologis, soalnya kemudian adalah apakah netralitas media bukan merupakan sebuah iklan dalam bentuk lain, ketimbang argumen yang landasan epistimologisnya tahan uji. Tapi lupakanlah itu!

Salahkah tindakan-tindakan seperti itu? Sayang sekali bahwa di zaman simulacrum seperti ini, pertanyaan tentang salah dan benar tidak lagi terlalu relevan. Hidup bukan lagi bercermin pada kitab atau tuntunan moral tapi barisan-barisan model. Zaman kita adalah zaman manusia jelata yang hidup dengan kesadaran, bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan melulu melalui rujukan etika. Kita tampaknya mulai makin didesak untuk bisa menerima sebuah politik baru dalam memetakan persoalan-persoalan.

Persis inilah yang membuat beberapa kalangan di Barat menjadi risau bahkan meratap. Di mata mereka, peradaban modern tengah mengalami deklinasi, karena kata "adab" yang dipakainya cenderung mengacu pada sebuah order rasional berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan lain untuk menciptakan tatanan baru. Ada semacam rasa kehilangan, seperti Margaret Mitchel terkesan meratapinya dalam Gone With The Wind (1936), ketika sebuah kebersamaan yang gagah perkasa dan sukses mendirikan sebuah tatanan yang tampak rapih, yang di Barat kemudian disebut borjuis itu, harus lenyap oleh dorongan-dorongan hedonistik atau perayaan-perayaan Dyonisian. Maka seperti mengorek kembali mitologi Yunani, mereka benar-benar merupakan sosok pengagum Apollo yang bertugas mengawasi dan menertibkan ulah Bachus, dewa mabuk dan posta pora. Bagi mereka segala hal mustilah berjalan dalam garis tatanan yang ada agar sumbangannya bagi peradaban bisa dinilai. Puritan dalam segala urusan.



“Blog


Pada perkembangan paling mutakhirnya saat ini, kapitalisme telah menjadi kekuatan besar yang, dalam bahasa Baudrillard, secara mencengangkan sanggup membentuk realitas-realitas yang bahkan sering dianggap lebih nyata dari kenyataan. Bukan surreal tapi ia menyebutnya dengan ungkapan hyperreality. Dengan jala dunia hyperrealitas inilah, dunia ditransformasikan secara menyeluruh, dan kesadaran diri manusia, termasuk kesadaran tentang Yang Absolut mengalami pembentukan ulang. Ironisnya, hasil transformasi tersebut malah mendudukkan manusia menjadi sekedar pantulan dari realitas-realitas yang, secara suksesif dan sangat masif, diparadekan dan dihamburkan melalui kesan-kesan atau citra dalam pelbagai media informasi dan telekomunikasi massa.

Konstruksi masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat massa, dalam apa manusia dikumpulsatukan tapi lantas diceraiberaikan menjadi serpih-serpih tanpa kedaulatan otonom pada dirinya sendiri. Secara agak berlebihan, Baudrillard bahkan menyebut masyarakat manusia saat ini sebagai lubang-hitam yang akan menyerap setiap tanda, setiap makna, ideologi, atau apa saja yang ada di sekitarnya, tanpa pernah terefleksikan dalam relasi sosial.

Lenyapnya kedaulatan subjek manusia seperti itu, di lain pihak, juga berarti susutnya sebentuk sistem pemaknaan hidup. Suatu legitimasi transendental atas subjektivitas manusia di hadapan realitas, yang semula sanggup memberikan seperangkat acuan nilai normatif bagi pelbagai bentuk prilaku itu telah sirna. Agama sebagai sistem nilai dan makna dengan sendirinya mulai kehilangan fungsi sosialnya. Sebab posisinya sebagai satu keharusan fungsional, seperti dulu diyakini Durkheim, dewasa ini mulai digeser oleh ideologi-ideologi (kalau term ideologi masih bisa dipakai) yang lebih lembut seperti opera sabun, film kartun, sinetron, fantasi seksual atau serbuan informasi lain yang sanggup menciutkan dunia menjadi sedemikian kecil. Sekali dan selamanya, realitas berhenti menjadi salinan dari citra-citra di media massa. Lengkap sudah pelumpuhan rohani dan pengeringan nurani.

Posisi fungsional agama yang semula merupakan keharusan kolektif dihempaskan ke sudut terpencil dunia privat masing-masing orang. Utopia tentang surga dan neraka sebagai ganjaran dan siksa, atau ketabahan menanggungkan petaka digeser oleh hasrat akan progres, dan akibat yang sertamerta dan pelbagai kepuasan sesaat. Artinya, keharusan-keharusan kehidupan kolektif dihempaskan menjadi hak-hak subjektif melalui proses privatisasi agama. Agama telah menjadi sekedar, meminjam istilah yang sangat subtil dari Peter L. Berger, 'a rumor of angels', kasak-kusuk tentang para malaikat, kabar angin dari langit yang tidak lagi aktual untuk menjawab tantangan kehidupan nyata. Teleologisme eskatologis agama diganti oleh cita-cita muluk tentang kemajuan, rasionalitas dan saintisme positivistik. Agama hanya tinggal sebagai sekumpulan titah dan keharusan yang tidak lagi real dan aktual. Sebab yang nyata dan hadir setiap hari adalah citra. Padahal mencerap citra orang jadi semakin terasing dari dunianya yang benar-benar nyata, sebab yang harus diacunya adalah representasi dunia yang berlapis-lapis. Lapis-lapis representasi yang direproduksi melalui simulasi berdasarkan model dalam media.

Daya kohesi sistem kepercayaan berantakan dicabik bermacam-macam informasi yang, sekali lagi, sanggup menghadirkan dunia secara sangat cepat langsung di depan mata, tanpa interaksi fisik dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Secara telak citra telah membungkam aneka seruan dan pekabaran ideologis. Dunia menjadi demikian transparan sekaligus membeku, tak menyisakan puisi masa silam dan suspensi pengharapan akan surga atau neraka di seberang kehidupan. Ideologi konsumsi lambat-laun berhasil mengimposisikan konsep kepuasan sesaat dan hasrat tanpa kendali di atas pemahaman orang tentang surga sebagai sistem kesukariaan: Dengan konsumsi tinggi, surga segera ditarik turun ke bumi dan seluruh hasrat bisa dilepaskan di sini dan hari ini juga. Prinsipnya adalah carpe diem, raihlah ini hari.

Transformasi radikal seperti itu, akhirnya menyisakan semacam ruang hampa makna dalam spasi kesadaran manusia modern, yang terlanjur terjebak dalam keruwetan silang sengkaruk kesan-kesan dan peristiwa dari dunia hyperrealitas tadi. Manusia modern hanya mencari dan terus mencari kepuasan tanpa batas. Kerinduan seolah tanpa pelipur dan lantas telak ditikam kesepian dalam gaduhnya hirukpikuk informasi dan hiburan yang saling bertabrakan. Apa yang terjadi sesungguhnya, ketika di abad digital ini sekian banyak orang masih bisa terbius oleh kata-kata David Koresh atau Applewhite, misalnya? Orang berusaha mencari idola lain di luar para pahlawan pop yang setiap menit muncul di layar TV, memenuhi langit-langit kesadaran. Mereka mengharap juru selamat yang lebih konkret, bukan citra orang suci di televisi yang cair, tak bisa dipegang.

Di lain pihak, serbuan mahagencar rasionalitas instrumental proyek modernitas, habis-habisan telah menumpas seluruh pesona masa silam, mitos dan agama. Sejak dini kita tahu bahwa Weber telah mengingatkan hal ini dalam tesisnya tentang the disenchanment of the world yang termashur itu. Kepercayaan yang akhirnya juga bersifat mitis pada rasio, itu telah merontokkan tindakan-tindakan penuh makna dalam agama.

Perpaduan antara rasionalitas instrumental dan kapitalisme telah menjadikan modernitas sebagai sebuah proyek yang keras tanpa ampun. Tidak ada lagi tempat untuk berlindung dari prahara. Bahkan negara pada dasarnya tidak lebih dari sebuah institusi terbesar yang jalannya dibimbing oleh mekanisme kapitalisme berikut aparat-aparat kontrol birokratis-hegemoniknya. Privatisasi sensibilitas keabsolutan yang dimulai sejak orang ramai merayakan modernitas kemudian dibarengi pula oleh pengkooptasian lembaga-lembaga keagamaan untuk digabungkan pada struktur kekuasaan negara. Maka munculah agama resmi yang dominatif. Agama seperti ini tidak lain kecuali fungsi dari kekuasaan yang lebih besar, yakni negara. Sementara negara adalah instansi kekuasaan dari mekanisme kapitalisme global yang dengan gemilang berhasil meraih posisi puncaknya selepas Perang dunia II.

Lantas ke mana orang mencari makna? Tampak nyata bahwa impian Francis Bacon tentang aplikasi ilmu pengetahuan untuk pengembangan nasib manusia kini telah menjadi mimpi buruk yang menyeramkan. Di dalamnya kemajuan manusia telah direduksi menjadi sekedar kemajuan teknis semata. Visi yang telah dikemukakan oleh Marx dan Engels tentang suatu zaman dalam apa berlangsung keharmonisan setimbang antara alam dan kemanusiaan telah diganti secara total. Pertama-tama oleh dominasi ilmu pengetahuan atas alam, dan lantas oleh kontrol kekuasaan terhadap kemanusiaan kita sendiri. Jika kita percaya pada argumentasi Marx berarti bahwa kita melihat perkembangan-perkembangan seperti itu memang inheren dalam masyarakat kapitalis. Sementara kalau kita terpengaruh oleh seorang filsuf Neo-Marxis seperti Herbert Marcuse, kita mungkin hanya sedikit menemukan hal lain kecuali pesimisme terhadap dunia modern ini.


Ada tamsil lama bahwa jika datang badai melanda, jangan berpegang pada beringin tapi ilalang. Tamsil tersebut mungkin bisa diberlakukan dalam konteks serangan gencar proyek modernitas yang telah mengharubirukan, dan lantas mencabik-cabik pelbagai hal penuh makna dalam kehidupan manusia. Bermacam-macam riwayat keberhasilan boleh jadi memang telah merupakan tiang-tiang Hercules peradaban. Tapi semuanya ternyata tidak menyediakan jawaban bagi tuntutan akan rasa aman dari malapetaka. Dalam kondisi seperti itu, tidaklah mengherankan jika orang kemudian banyak yang berpaling pada hal-hal kecil, pada ilalang yang sebelumnya dilupakan. Agama yang semula demikian terpojok di sudut terpencil sektor privat kehidupan manusia modern, dengan kata lain, sebagai realitas yang dianggap sepele dan menghambat kemajuan peradaban sekular rasional, itu kemudian kembali ditengok ulang.

Ketika hidup telah menjadi sedemikian mencemaskan, milieu sosial yang ada justru tampil sebagai ancaman dan sumber keresahan. Dalam kondisi seperti itu orang membutuhkan utopia yang sanggup memberikan janji dan harapan. Semula orang mencoba melakukan retreat pada wilayah budaya terutama kesenian, tapi kehampaan nilai belum juga mendapatkan pembasuh dahaganya. Mana makna, "aku menguap", tulis Radhar Pancadahana dalam Lalu Waktu. Maka mulailah naskah-naskah lama diperiksa dan dihayati kembali. Janji dan harapan mereka temukan dalam kitab-kitab suci. Dari sini mereka mencoba melakukan repostulasi transendental untuk menepiskan mimpi-mimpi buruk kehidupan itu. Seperti dalam seni orang banyak yang mencoba menciptakan sensasi --sekedar untuk memberi sentakan atau bisa juga hanya sebagai satu-satunya jalan yang bisa mereka lakukan--untuk menyegarkan gairah penciptaan, dalam wilayah kepercayaan juga terdapat kecenderungan untuk menghidupkan kembali ajaran atau ritus-ritus lama.

Di dunia ini tidak pernah ada hegemoni yang benar-benar total atau mutlak. Selalu saja ada ruang yang luput entah karena atau dengan cara apa. Dalam persepktif ini, munculnya kelompok-kelompok sektarianisme, misalnya, bisa dilihat sebagai usaha menciptakan atau memanfaatkan ruang oposisi. Ia adalah visi religius sekaligus kultural suatu komunitas tertentu yang mencoba menampik dan mengelak dari kooptasi hegemoni. Negasi atas kesepakatan-kesepakatan konsensual yang dipaksakan via proyek-proyek kekuasaan dominatif. Maka tidaklah mengherankan jika penanganan yang dilakukan terhadapnya seringkali berupa serangkaian tindakan koersif yang dihasilkan dari perpaduan antara agama resmi dan negara.

Sekterianisme bisa muncul baik dalam masyarakat yang sepenuhnya sekular maupun pada masyarakat yang secara formal menolak sekularisme. Term sekterianisme sendiri sebenarnya mengisyaratkan adanya sebentuk kekuasaan (agama resmi, negara atau bentuk-bentuk lainnya) yang hegemonik bahkan dominatif. Dengan kalimat lain, sekterianisme adalah term yang melekat dalam pola relasi dominasi. Dalam relasi semacam itu, para penghayat visi-visi alternatif tadi dikategorikan sebagai the lesser communities dari komunitas yang lebih besar. Sampai di sini, sekterianisme tidak bisa hanya dipahami sebagai reaksi atas persoalan-persoalan agama an sich, melainkan dan bahkan lebih sering lahir sebagai respon terbuka atas problem sistemik yang lebih luas dan kompleks. Yakni problema politik ekonomi, kebudayaan dan peradaban secara keseluruhan.

Bertambah kuatnya kecenderungan ke arah sekterianisme belakangan ini, walaubagaimana, tidak bisa hanya ditafsirkan sebagai simptom frustasi sosial dan psikologis yang melahirkan rekonstruksi utopia-utopia lama yang lantas ditahbiskan sebagai ideologi, melainkan juga perlu dilihat sebagai suatu upaya repostulasi transendental dari pelbagai problema dan harapan hidup paling akhir. Ia adalah bentuk keinginan untuk menulis sejarah sendiri, dengan pertama-tama menampik standarisasi oleh kuasa hegemonik bahkan dominatif. Dalam skala yang lebih besar, ia adalah gerak-balik horisontal yang secara alamiah menentang proses penyeragaman dunia melalui proses globalisasi. Sekterianisme juga muncul sebagai jawaban alternatif atas immediate interests akan kepastian yang cepat dalam kondisi tunamakna yang tercipta dalam kondisi dunia kontemporer.

Yang terkesan paling kuat memang tendensi manusia untuk meratapi nasib dan dunianya. Kesadaran mereka terguncang dan lantas mencoba menemukan solusi. Salah satunya adalah menempuh jalan memutar, dan kembali pada keyakinan-keyakinan religius dalam pelbagai bentuk revitalisasi bahkan revivalisasinya. Kemudian beberapa pengamat menyebut langkah seperti itu sebagai kecenderungan konservatisme (pemikiran) yang telah menemukan jalan buntu. Tapi adakah hak kita untuk meremehkannya?

Maka persoalannya bukanlah bagaimana menghilangkan kecenderungan ke arah sekterianisme atau bentuk-bentuk “kembali ke akar” lainnya, melainkan bagaimana mengupayakan bersama adanya ruang-ruang dan kesempatan bagi semua orang untuk menghayati dan menjalani sendiri hubungannya dengan Yang Absolut. Bahwa setiap orang berhak memilih caranya sendiri dalam menghayati dunia. Saya percaya bahwa para rasul dan nabi pun tidak pertama-tama diturunkan untuk menegakkan (lembaga) agama. Mereka dikaruniakan Tuhan sebagai uswah, teladan keteguhan dan keberanian hati sekaligus konsistensi tindakan untuk senantiasa melakukan negasi-oposisional terhadap hegemoni tafsir tentang “Tuhan-kebenaran-dunia”. Maka Muhammad pun memilih Gua Hira sebagai basis ruang oposisi terhadap hegemoni dan dominasi kaum Jahiliyah.

Sesungguhnyalah, di dunia ini selalu saja ada ruang untuk beroposisi--yang menganga laksana kerinduan langit malam pada purnama.

Yogyakarta, 27 Januari 1997

Versi awal esai ini pernah dimuat pada majalah MATRA, Juli 1997 dengan judul "Makna dalam Kepungan Rasio, Kapital dan Model". Ini adalah esai terakhir saya yang dimuat di majalah tersebut sebelum segalanya dilimbungkan oleh krisis finansial yang dimulai pada 1997 dan merobohkan kekuasaan Suharto pada 1998. Dimuat kembali di sini dengan sejumlah revisi penting di beberapa bagiannya.



ANDA MUNGKIN TERTARIK JUGA

Multikulturalisme | Kewarganegaraan

Dr. Faust dan Dr. Fulan

Sosiologi | Multikulturalisme

Minoritas, Multikulturalisme, Modernitas

Sosiologi | Multikulturalisme

Komunalisme & Demokrasi