Pembohong Publik

Mini-Kata, Koran Cepat Detik

“Blog

Bagi Gus Dur tuduhan berbohong kepada publik yang dilontarkan oleh musuh-musuh politiknya jelas akan membuat hidupnya kurang nyaman sepanjang umur. Puluhan tahun ia membangun citra sebagai seorang humanis, demokrat, dan salah satu tokoh muslim paling toleran di dunia. Tiba-tiba ia harus melewatkan sisa hidupnya dengan beban dosa politik begitu besar. Itu pun kalau dia peduli. Kalau dia hanya menyambutnya dengan “gitu saja kok repot!”, maka mentahlah sudah semua tuduhan itu.

Moralnya: jika tidak dikelola secara bersahaja, kekuasaan akan berbalik menikam bahkan kepada seorang humanis sejati sekali pun. Tapi tuduhan tersebut sekaligus juga memperlihatkan satu kebusukan lain: tokoh-tokoh politik kita saat ini telah begitu jauh merusak akal sehat rakyat.

Memang selalu ada risiko menjadi seorang nostalgis setiap kita dipaksa melihat masa lalu. Ketika kekuasaan Soeharto bankrut, kita melihat bagaimana Akbar Tanjung dkk. selamat tanpa pernah merasa perlu meminta maaf pada publik yang beramai-ramai dijustainya puluhan tahun.

Soeharto pergi meninggalkan sebuah lobang hitam sentripetal kekuasaan. Ke sanalah semua orang terhisap masuk tanpa bisa ke luar. Kini kita makin bisa merasakan bagaimana kekuasaan begitu agung, dan semua orang menatapnya penuh takjub. Dalam setiap bualan Amien Rais, Gus Dur atau Akbar Tanjung kita bisa menangkap obsesi yang begitu kuat sekaligus sikap takzim pada kekuasaan. MPR lantas berubah jadi gelanggang tempat keagungan itu diperebutkan, dan orang boleh merasa yakin bahwa drama besar kekuasaan akan segera lahir.

Dua tahun yang lalu Wahid adalah sebuah energi besar. Ia bukan hanya disanjung sebagai demokrat dan humanis, tapi juga penyelamat bangsa. Hanya dalam satu tahun ia rontok oleh mulut-mulut busuk yang sama.

Soalnya kemudian bukan seberapa besar daya tahan Gus Dur meriskir hidupnya dengan beban politik seperti itu, melainkan bagaimana kita bisa mengembalikan akal sehat: bahwa Amien dkk. pada dasarnya adalah pembohong-pembohong publik yang sama.

Sanksi politik dan sosial selayaknya juga diberikan pada mereka agar sejarah tidak hanya jadi cerita bersambung para pendusta. Mencampakkan Gus Dur sambil membiarkan Amien, Akbar dkk. bukan hanya tidak adil secara historis, tapi juga memperlihatkan bagaimana secara beramai-ramai kita telah terperosok ke jurang kebohongan yang sama berulang-ulang.

Jakarta, 28 Maret 2001

Versi awal artikel pendek ini pernah dimuat di salah satu edisi Koran Cepat Detik. Dimuat kembali di sini dengan beberapa perbaikan dan sedikit tambahan di sana-sini.





BACA JUGA