Marx tentang Manusia, Kerja dan Alienasi

Belajar Sosiologi


“Blog

Dalam pandangan Marxis, basis material masyarakat menentukan bentuk kebudayaannya, bukan sebaliknya. Prognosis Marx tentang masyarakat komunis berangkat dari pemahamannya tentang sejarah yang, berbeda dari Hegel atau Feuerbach, kemudian lebih dikenal sebagai the materialist conception of history (Mises, 1951: 352-53). Telaah Marx difokuskan pada basis-basis material masyarakat manusia, terutama tentang mode produksi (mode of production), yakni pelbagai proses melalui apa masyarakat-masyarakat manusia memenuhi kebutuhan materialnya. Bagi Marx, sejarah bisa dikategorikan menjadi beberapa zaman yang masing-masing dicirikan oleh satu mode produksi utama. Mode-mode produksi inilah yang menentukan bentuk-bentuk institusi, kebudayaan, hukum, agama, dan ideologi pada masing-masing masyarakat pada masing-masing zamannya.

Secara umum Marx membedakan tahapan perkembangan sejarah masyarakat manusia menjadi lima bentuk mode produksi: mode produksi masyarakat kuno (ancient society), mode produksi komunisme primitif (primitive communism), mode produksi masyarakat feodal, mode produksi masyarakat kapitalis, dan mode produksi masyarakat komunis ilmiah (scientific communism). Sampai di sini, Marx kembali merujuk Hegel dengan menyatakan bahwa setiap mode produksi yang muncul kemudian merupakan antithesa dari mode produksi sebelumnya dalam rangkaian dialektika sejarah. Masyarakat komunis ilmiah yang diimpikan Marx bukan lain adalah sebuah masyarakat yang merupakan perpaduan terbaik antara firdaus masa silam yang telah disempurnakan oleh hasil-hasil inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat kapitalis.

Setiap mode produksi dicirikan oleh hubungan produksi yang pada dasarnya bersifat eksploitatif, yakni antara produsen surplus ekonomi di satu pihak, dan kelompok non-produsen yang memiliki alat-alat produksi di pihak lain. Para produsen menghasilkan surplus ekonomi yang justru menjadi sumber kemakmuran kelompok non-produsen. Hubungan produksi semacam ini, menurut Marx, telah membentuk basis struktural bagi munculnya konflik dan perjuangan kelas yang berujung pada penghancuran mode produksi yang berlaku dominan. Inilah dasar yang dipercaya Marx sebagai penggerak perubahan sosietal. Sejarah manusia, dengan demikian, bagi Marx bukan lain adalah riwayat panjang pertentangan dan perjuangan kelas terus-menerus sebelum sampai pada syurga masyarakat komunis.

Konsepsi Marx tentang Manusia

Konsepsi materialis tentang sejarah yang diajukan Marx sepenuhnya memberikan penekanan pada faktor manusia sebagai pembentuk sejarah. Bagi Marx, sejarah manusia berbeda dengan sejarah alam dalam ari bahwa kita membuat yang pertama tapi tidak yang terakhir. Marx melihat manusialah yang akan menentukan nasib sejarahnya sendiri. Kalau tradisi filsafat Jerman, seperti tampak pada gagasan Hegel, diibaratkan Marx sebagai konsep yang turun dari surga ke bumi, metode dialektik Marx justru naik dari bumi ke surga. Dalam Theses on Feuerbah, misalnya, Marx, berbeda dari Hegel, mempelajari manusia dan sejarah dimulai dengan manusia yang real berikut kondisi sosial dan ekonomisnya yang konkret, dan bukan terutama dengan ide-idenya.

Kritik Marx terhadap filsafat Hegel juga bisa ditemukan dalam karyanya yang ia tulis bersama Engels, The Holly Family. Menurut Marx, filsafat Hegel tentang sejarah tidak lain merupakan ekspresi filosofis dari dogma Jerman-Kristiani tentang kontradiksi antara jiwa atau ruh (spirit) dengan benda (matter), antara Tuhan dan dunia. Filsafat Hegel tentang sejarah, dengan demikian, mengandaikan sebuah ruh absolut dan abstrak yang berkembang sedemikian rupa, dan umat manusia tidak lebih dari gerombolan massa yang, sadar atau tidak, mengemban jiwa tersebut. Hegel berasumsi bahwa sebuah ide spekulatif dan esoteris tentang sejarah mendahului dan menjadi dasar bagi sejarah empiris (Fromm, 1961: 10).

Sambil mengkritik Hegel, Marx kemudian menjelaskan bahwa sifat-sifat individual manusia sepenuhnya bergantung pada kondisi-kondisi material yang menentukan produksi mereka. Materialisme historisnya Marx, dengan demikian, sama sekali bukanlah teori psikologis tentang dorongan atau nafsu manusia untuk mengejar kebutuhan material, melainkan sebuah tesis bahwa cara manusia berproduksi menentukan cara berpikirnya. Filsafat Marx pada dasarnya bukanlah idealisme dan bukan materialisme melainkan, seperti ditunjukkan secara cukup meyakinkan oleh Erich Fromm, sebuah sintesa antara humanisme dan naturalisme. Secara singkat bisa dikatakan bahwa interpretasi Marx tentang sejarah mengandung sebuah pemahaman bahwa manusia adalah pembuat sekaligus pelaku sejarahnya sendiri (From, 1961: 10-13).

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Marx mempunyai gambaran yang ideal tentang manusia sebagai mahluk yang bebas untuk berkreasi, menciptakan sejarah. Kebebasan seperti inilah yang, menurut Marx, sudah tidak bisa lagi ditemukan dalam masyarakat kapitalis. Karena sistem sistem produksi kapitalis telah menempatkan manusia hanya sebagai tenaga kerja yang bisa diperjualbelikan. Dalam kalimat lain manusia, seperti halnya benda-benda lain, telah mengalami komodifikasi dalam sistem kapitalisme.

Konsepsi Marx tentang Kerja

Di muka telah disinggung bahwa konsepsi materialis Marx memberi penekanan pada peran manusia dalam membuat sejarah. Proses penciptaan sejarah tersebut dimungkinkan melalui pelbagai bentuk hubungan antara manusia dengan alam. Bentuk hubungan inilah yang menjadi basis konsepsi Marx tentang kerja (labor). Karena itu, bagi Marx manusia pada dasarnya adalah homo faber, makhluk yang bekerja. Pada awal sejarahnya, demikian Marx, manusia terikat secara buta terhadap alam. Dengan meminjam konsep Darwin tentang evolusi makhluk hidup, Marx menyatakan bahwa dalam proses evolusinya manusia kemudian mentransformasikan hubungannya dengan alam sambil sekaligus mentransformasikan dirinya sendiri (Davis dan Scase, 1985). Dalam pandangan Marx, manusia menciptakan sejarahnya sendiri dengan mengolah alam semesta melalui kerja. Dengan demikian, kerja adalah medium yang secara langsung menghubungkan manusia dengan alam dan jadi penentu esensi kemanusiaan manusia. Melalui kerja terjadi proses partisipasi antara alam dan manusia, dan dengan mengubah alam itulah menusia mengubah dirinya, menjadi dirinya sendiri (Fromm, 1961: 40-41).

Marx melihat kerja sebagai bentuk ekspresi-diri manusia, sebuah ekspresi dari kekuatan fisik dan mental individual. Kerja bukan hanya cara untuk mencapai tujuan (yakni produk), melainkan sebuah tujuan dalam dirinya sendiri. Di samping itu, Marx juga mengandaikan bahwa kerja hanya dapat dilakukan dalam kebersamaan dengan yang lainnya dan di dalam kebersamaan ini hakekat kemanusiaan kita terpelihara. Proses ini hanya dapat dicapai jika pekerjaan itu dilakukan dengan bebas tanpa belenggu obligasi dari kekuasaan di luar dirinya. Jadi menurut Marx ada dua nilai kerja manusia, yakni untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sebagai ekspresi diri. Kedua nilai ini tidak terpisah satu sama lain: pada saat manusia memenuhi kebutuhannya dengan bekerja ketika itulah ia mengekspresikan potensi dirinya, dan ketika ia mengespresikan dirinya pada saat itu pulalah ia mempertahankan dan melakukan proses pemenuhan eksistensi hidupnya (Perdue, 1986: 321).

Kelas Sosial dalam Masyarakat Kapitalis

Secara sederhana, masyarakat kapitalis adalah satu bentuk masyarakat yang didasarkan pada ekonomi kapitalis, atau sebuah masyarakat dalam apa kepemilikan atas alat-alat produksi memainkan peranan penting. Dalam sejarah beberapa mode produksi yang pernah ada di dunia, kaum kapitalis tentu saja hanya merupakan satu kelompok kelas sosial di antara kelompok kelas lain seperti para pekerja upahan, bangsawan, dan tuan tanah atau pemilik tanah pada konteks mode-mode produksi yang lain. Tapi tentu saja kaum kapitalis adalah ciri pembeda mode produksi kapitalis dari periode sejarah yang lain.

Pada dasarnya Marx tidak pernah memberikan satu definisi yang jelas tentang apa yang ia maksud dengan kelas. Sebuah rekonstruksi yang dilakukan oleh John Elster (1985: 319-331) mungkin akan membantu menjelaskan hal itu. Dalam masyarakat pre-kapitalis, misalnya, Marx cenderung melihat orang-orang bebas dan para budak, bangsawan dan rakyat jelata, atau tuan dan hamba sebagai kelas-kelas utama masyarakat tersebut. Sementara dalam kapitalisme, buruh upahan, para kapitalis dan tuan-tuan tanah membentuk tiga kelas utama dalam masyarakatnya. Di samping tiga kelas utama tersebut di atas Marx juga mengidentifikasi kelas lain yang tidak berhubungan dengan proses produksi. Mereka itu adalah para intelektual. Menurut Marx meskipun tidak secara eksplisit berada di antara salah satu kelas di atas, mereka pada dasarnya merupakan juru bicara yang mewakili kelas borjuis. Dengan demikian, Marx menggunakan kata “kelas” tidak hanya untuk menunjuk tiga kelas dominan dalam masyarakat kapitalis, melainkan juga untuk menunjuk kelompok masyarakat lain seperti para petani, dan kaum intelektual.

Akan tetapi sejalan dengan perkembangan industri di pabrik-pabrik kapitalisme, masyarakat kemudian menjadi terkonsentrasi pada dua kelas utama yaitu kelas pemilik modal atau borjuis dan proletar. Kelas-kelas sosial lain dianggap Marx melebur ke dalam dua kelas utama tersebut. Relasi produksi antara dua kelas utama inilah yang dianggap Marx sebagai basis material konflik antar kelas dalam masyarakat kapitalis. Dan inilah yang dianggap Marx sebagai lokomotif sejarah umat manusia.

Marx juga memperkenalkan satu konsep penting yang ia sebut kesadaran kelas (class consciousness), yakni sebentuk kesadaran yang muncul di antara anggota-anggota sebuah kelas sosial, terutama kaum proletar, tentang kepentingan mereka bersama yang didasarkan pada situasi kelas mereka sendiri, dan bertentangan dengan kepentingan kelas yang lain, kelas borjuis. Dalam konteks ini, Marx banyak disibukkan dengan telaah tentang proses yang bisa melahirkan kesadaran kelas kaum proletar, atau tentang mengapa kesadaran semacam itu tidak berkembang.

Maka Marx kemudian membuat distingsi dasar antara suatu “kelas-pada-dirinya-sendiri” (a class-in-itself), yakni basis objektif dari kepentingan-kepentingan kelas, dan suatu “kelas-untuk-dirinya-sendiri” (a class-for-itself), yakni kesadaran akan kepentingan-kepentingan tersebut. Suatu “kelas-pada-dirinya-sendiri” akan menjadi kekuatan bagi perjuangan kelas hanya jika anggota-anggotanya telah mengembangkan satu kesadaran kolektif yang memadai untuk menjadi “kelas-untuk-dirinya-sendiri”. Pembentukan kesadaran kelas semacam ini secara sistematis dihambat oleh efektivitas institusi-institusi ideologi borjuis yang, misalnya melalui iming-imingnya tentang nilai individualisme dalam kapitalisme liberal, berusaha menegasikan kesadaran kelas dan, pada gilirannya, membentuk apa yang lebih sering disebut kesadaran palsu (false consciousness) kaum buruh. Persis inilah yang kemudian digunakan oleh kaum kapitalis untuk memelihara posisi mereka sebagai the ruling class, kelas yang berkuasa.

Relasi Produksi Borjuis dan Proletar

Dari hasil studi komparasi historisnya Marx sampai pada kesimpulan bahwa setiap mode produksi di dalam dirinya membawa benih-benih kehancurannya sendiri. Contoh terbaik tentang tesis Marx ini tentu saja adalah telaahnya tentang masyarakat kapitalis. Seperti telah diuraikan sebelumnya, Marx melihat bahwa dalam masyarakat kapitalis ada dua kelas sosial utama, yakni kaum proletariat yang tidak memiliki alat-alat produksi di satu pihak, dan para borjuis kapitalis yang memiliki seluruh alat produksi. Relasi di antara kedua kelas ini ditandai oleh permusuhan tapi sekaligus juga kesalingtergantungan.

Kedua kelas tersebut di bedakan dalam hal kepemilikan kekayaan (ownership of property). Kaum borjuis memiliki sebagian besar kekuatan produksi (forces of production), yakni tanah, alat (teknologi), dan kapital, sedangkan buruh proletar hanya mempunyai tenaga kerja untuk mejalankan produksi. Padahal, menurut Marx, suatu kelas sosial hanya bisa eksis melalui perampasan jika kelas sosial lainnya bisa menghasilkan surplus ekonomi. Ketidakstabilan relasi kelas seperti itulah yang melahirkan dominasi kelas perampas—yakni para bangsawan dalam feodalisme dan para borjuis dalam kapitalisme—atas kelas yang dikuasainya.

Konkretnya, upaya dominasi tersebut dimulai dalam relasi produksi antara para kapitalis dengan para buruh. Di satu pihak, kaum kapitalis berusaha untuk mendapatkan laba atau keuntungan yang sebesar-besarnya dari produksi yang dioperasikan oleh para pekerja. Sementara di lain pihak para pekerja menginginkan pendapatan yang setinggi-tingginya sebagai upah dari pekerjaan mereka. Baik harapan untuk mendapatkan upah yang tinggi oleh para pekerja maupun pendapatan yang tinggi oleh para kapitalis, kedua-duanya--upah dan pendapatan -- berasal dari sumber ekonomi yang sama.

Dalam proses produksi kapitalisme, antara buruh dan kapitalis diikat oleh sebuah kontrak (capitalist labour contract), yakni satu bentuk pertukaran antara upah dan buruh, antara tenaga buruh atau waktu kerja (labour power atau labour-time) dengan para kapitalis. Telaah Marx memperlihatkan bahwa meskipun kelihatannya secara formal bebas dan cukup adil, relasi seperti itu pada prinsipnya jauh lebih bersifat eksploitatif. Alasannya adalah apa yang oleh Marx disebut surplus value, yakni nilai lebih yang terus-menerus didapatkan dalam jumlah besar oleh para kapitalis dari hasil kerja para buruh upahan. Nilai lebih adalah selisih sangat besar antara biaya yang dikeluarkan untuk upah buruh dengan nilai jual hasil produksi. Kaum kapitalis meyebut nilai lebih itu sebagai keuntungan, tetapi Marx melihatnya sebagai satu bentuk pencurian (Perdue, 1986: 320-321).

Untuk mendapatkan keuntungan yang besar itu, kaum kapitalis mengembangkan teknologi yang diaplikasikan dalam industri dan berusaha membayar upah buruh serendah mungkin. Menurut Marx hubungan antara satu kapitalis dengan kapitalis yang lainnya bersifat kompetitif. Dampak dari kompetisi ini menyebabkan para kapitalis terus berusaha melipatgandakan modal yang mereka miliki dan membayar para pekerja dengan upah yang rendah. Desakan kebutuhan hidup telah menempatkan para pekerja dalam posisi tidak memiliki pilihan selain menerima upah rendah yang ditawarkan oleh kapitalis. Hubungan kompetitif antar kaum proletar ikut berperan dalam melemahkan posisi tawar mereka di hadapan para majikannya (Macionis, 1989: 100-06).

Dalam analisa Marx tentang relasi produksi antara para kapitalis dengan para buruh memperlihatkan kenyataan bagaimana kaum buruh menjadi semakin miskin karena terus-menerus dieksploitasi. Berlakunya sistem pekerjaan upahan dalam kapitalisme, menurut Marx, telah mengubah esensi kerja bagi manusia. Dalam sistem kontrak kapitalistis, orang bekerja bukan lagi untuk mencurahkan atau mengekspresikan diri, melainkan untuk menghasilkan barang yang akan diperjualbelikan di dalam pasar. Akibatnya, buruh sudah tidak lagi memiliki hubungan subjektif dengan produk yang dihasilkannya. Mereka jadi terasing dari hasil pekerjannya sendiri. Gagasan ini menghantar Marx pada telaahnya tentang alienasi.

Alienasi

Di muka telah disinggung bahwa kerja bagi Marx adalah proses penyempurnaan manusia, sehingga pada dasarnya kerja adalah ekspresi penuh makna dari energi kemanusiaan. Kerja, dalam kalimat lain, adalah aktivitas yang bisa dinikmati oleh manusia. Akan tetapi, dalam rentang sejarah manusia, terutama melalui tahap mode produksi kapitalis, Marx menemukan kontradiksi yang sangat menarik: yakni bahwa ternyata sejarah umat manusia adalah sejarah tentang perkembangan manusia yang terus meningkat, tapi yang pada saat yang sama juga merupakan sejarah tentang proses alienasi yang makin akut (Fromm, 1961: 43).

Sebenarnya, kritik utama Marx terhadap kapitalisme bukanlah ditujukan pada ketidakadilan dalam distribusi kemakmuran, melainkan pada proses pergeseran kerja menjadi buruh yang tertekan, kehilangan makna, dan sekedar menjadi salah satu faktor dalam proses produksi. Proses yang menopang keberhasilan kapitalisme, menurut Marx, tidak lain adalah proses perampasan kepemilikan kaum buruh atas alat-alat produksi oleh kaum kapitalis. Ketika kepemilikan pribadi dan pembagian kerja berkembang, kerja kehilangan substansinya sebagai ekspresi dari kekuatan manusia. Ini adalah proses yang, di satu pihak, mentransformasikan alat sosial produksi dan subsistensi menjadi kapital dan, di lain pihak, mentransformasikan produsen menjadi buruh upahan. Hubungan antara manusia dan proses produksi menjadi terbalik, bukan proses produksi dilakukan untuk kebutuhan manusia, melainkan manusia eksis hanya untuk kebutuhan kelangsungan proses produksi.

Hasilnya, kontribusi produsen dalam proses kerja produksi kapitalis hanya sebatas sebagai penyedia tenaga kerja berupah rendah. Tenaga mereka dijual kepada para kapitalis untuk mendapatkan upah, dan upah ini kemudian dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan hidup subsisten mereka. Dalam kalimat lain, tenaga buruh telah mengalami komodifikasi, sehingga mereka menjadi buruh yang terasing (teralienasi) baik dari alat-alat maupun dari hasil produksi yang dibuatnya. Ini adalah proses separasi atau pemisahan kekuatan subjektif kaum buruh dari kondisi objektifnya sendiri. Buruh tidak lagi mengerjakan apa yang ingin mereka kerjakan, melainkan hanya bekerja berdasarkan obligasi dari si pembeli tenaganya (majikan borjuis). Hasil kerjanya bukan lagi ekspresi-diri tapi semata barang yang dibuat untuk mendapatkan upah. Ketika itulah kaum buruh mengalami apa yang oleh Marx disebut sebagai alienasi atau keterasingan-diri.

Bagi Marx, alienasi intinya adalah orang mengalami dunia dan dirinya sendiri secara pasif, pasrah, karena sang subjek telah terpisah dari objeknya. Produk yang dihasilkan dari kerja telah melekat pada objek dan berubah menjadi benda-benda fisik yang memisahkan diri dari produsennya, menjadi sebuah kekuatan asing yang tidak lagi memiliki keterkaitan dengan pembuatnya. Konsekwensinya, sang produsen tidak bisa melakukan pemenuhan atau penyempurnaan diri melalui pekerjaannya, dan karena itu ia justru telah mengingkari dirinya sendiri, tidak sanggup mengembangkan daya-daya mental dan fisiknya secara bebas. Ketika orang menjadi terasing dari dirinya sendiri, produk hasil kerjanya menurut Marx berubah menjadi objek-objek yang kemudian mendominasinya. Marx menuliskan kritiknya dengan tajam dalam Capital bahwa seperti dalam agama manusia diatur oleh produk dari pikirannya sendiri, maka dalam produksi kapitalis ia diatur oleh produk dari tangannya sendiri (Fromm, 1961: 51).

Dalam konteks kajian Marx tentang bagaimana manusia merupakan makhluk produktif yang bisa mengolah alam melalui kerja, maka alienasi pada dasarnya bisa dipahami sebagai sebuah konsep negasi dari produktivitas. Konsep alienasi sendiri pertama kali dirumuskan tidak oleh Marx melainkan oleh Hegel. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa Marx memiliki persamaan perspektif dengan Hegel dalam menunjuk basis dari konsep alienasi: yakni terdapatnya jarak atau distingsi antara eksistensi (existence) atau apa yang ada dengan esensi (essence) atau apa yang seharusnya ada. Sampai di sini bisa dilihat bagaimana Marx kembali memutar pada idealisme Hegelian. Alienasi, menurut Marx, terjadi ketika eksistensi seseorang tidak menjadi apa yang seharusnya (he is not he potentially is).

Marx mengidentifikasikan empat jenis alenasi yang dialami oleh para pekerja sebagai akibat dari sistem produksi kapitalis.

Pertama. Alienasi dari pekerjaan. Karena kerja bersifat esensial bagi hidup manusia, maka seseorang yang mengalami keterasingan dari pekerjaan otomatis berarti mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Seharusnya pekerjaan memuaskan manusia sebagai sarana pemenuhan kebutuhan dan pengembangan potensi serta ekspresi-diri manusia. Namun, dalam praktiknya pekerjaan telah menjadi aktivitas yang kemudian mentransformasikan manusia hanya menjadi buruh upahan. Para pekerja melakukan pekerjaannya tanpa imaginasi dan kreatifitas, karena mereka hanya mengharapkan upah untuk hidup subsisten dari tenaga kerja yang dijualnya kepada majikan.

Kedua. Alienasi dari hasil kerja. Produk-produk yang dihasilkan para pekerja tidak diperuntukkan bagi mereka sendiri, melainkan semata-mata untuk sebagai komoditi yang tidak lagi memiliki keterkaitan dengan diri mereka. Seorang pekerja pabrik sepatu Nike di Tangerang, misalnya, tidak pernah sanggup membeli dan memakai sepatu yang dibuatnya sendiri setiap hari. Mereka semata-mata hanya menghasilkan komoditi untuk ditukar dengan upah.

Ketiga. Alienasi dari para pekerja yang lain. Menurut Marx aktivitas produksi harus bersifat kooperatif, memperkokoh ikatan kesatuan orang-orang ke dalam suatu masyarakat. Dalam industri kapitalis, kenyataannya para pekerja tidak dapat bertindak secara kooperatif. Mereka terpaksa berkompetisi dengan yang lainnya untuk mendapatkan pekerjaan.

Keempat. Alienasi dari kemanusiaan. Industri kapitalis mengasingkan para pekerja dari potensi kemanusiaan mereka. Marx menganalisa bahwa dalam industri kapitalis para pekerja lebih mengingkari potensi yang mereka miliki. Mereka tidak mengembangkan kekuatan-kekuatan mental dan fisiknya secara penuh sebagai suatu ekspresi yang menyenangkan tetapi lebih sebagai hal yang melelahkan dan menurunkan martabatnya sendiri. Para pekerja menjadi tidak betah saat mereka melaksanakan pekerjaan mereka. Dengan kata lain aktivitas produksi yang seharusnya merupakan suatu ekspresi kualitas terbaik manusia, dalam industri kapitalis justru telah berbalik mengespresikan aspek-aspek terburuk manusia.

Pertanyaannya kemudian adalah: apa jalan ke luar yang diusulkan Marx, dan bagaiamana nasib eksistensial kita hari ini bisa dijelaskan? Selamat berdiskusi.

Jakarta, Desember 2004

Acuan

Cassirer, Ernst . Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia. Terjemahan oleh Alois A. Nugroho. (Jakarta: Gramedia, 1990)

Cassirer, Ernst. The Logic of The Humanities. terjemahan Slarence Smith Howe (New Haven and London: Yale University Press), Cetakan keempat, 1971.

Coser, Lewis A. Master of Sociological of Thought, Ideas in Historical and Social Context, Second Edition (New York, Chicago, San Francisco: Atlanta Harcourt Brace Jovanovich), 1971.

Elster, Jon, Making Sense of Marx, Studies in Marxism and Social Theory (New York, Melbourne, Sydney, dan Edition de la Maison des Sciences de l’Home, Paris: Cambridge University Press), 1985.

Fromm, Erich, Marx’s Concept of Man (New York: Frederick Ungar), 1961.

Kamenka, Eugene (ed). The Portable Karl Marx (New York: Penguin Books), 1983.

Macionis, John J. Sociology. Second Edition (New York: Prencitce-Hall), 1989.

McLellan, David. The Thought Of Karl Marx (London dan Basingstoke: The Macmillan Press), 1982.

Münch, Ricahrd and Neil J. Smelser (eds). Theory of Culture. (Los Angeles, Oxford: University of California Press), 1992.

Muir, Jane. Of Man and Numbers (New York: Dell Publishing), 1961.

Mises, Ludwig von. Socialism, An Economic and Sociological Analysis (London: Jonathan Cape), 1951.

Perdue, William D. Sociological Theory. Explanation, Paradigm and Ideology (Palo Alto: Mayfield Publishing), 1986.

Russell, James W. Modes of Production in World History. Routledge, London dan New York, 1989.