Web: Desa Global Kita

Sosiologi, Teknologi



Share


“Blog

Lambat tapi pasti masyarakat mulai bergeser pada satu bentuk yang bersandar pada informasi (information-based society). Dominannya informasi dalam dinamika dan relasi sosial masyarakat telah lama disebut-sebut oleh para teoritisi sosial sebagai salah satu ciri zaman pasca-industri. Kondisi seperti ini bukan tanpa resiko. Sebab zaman informasi berarti guncangnya beberapa batas lama, dan mengendurnya pelbagai tradisi. Pada level politik, misalnya, sebuah pemerintahan musti selalu siap merevisi kebijakan politiknya, kalau perlu dalam setiap 24 jam. Jika tidak, segala kebijakan yang diputuskannya akan menjadi tidak relevan lagi. Dengan demikian, serbuan arus informasi telah memperbarui tradisi politik.



Di sisi lain, penentangan terhadap sebuah kekuasaan saat ini juga makin sulit dilumpuhkan oleh kekuatan konvensional seperti militer. Ketika pasukan pemerintah Meksiko menyerbu persembunyian gerilyawan Zapatista di Guadalupe Tepeyac, negara bagian Chiapas, misalnya, mereka hanya mendapatkan truk-truk dan alat perang berat lainnya. Para gerilyawannya sendiri telah menghilang ke dalam hutan. Apa yang mereka bawa? Mesin fax dan komputer notebook. Dengan dua perkakas ini mereka meneruskan perlawanannya: membuat opini publik, menjatuhkan citra kekuasaan yang ditentangnya. Metode perjuangan berubah dari gerakan fisik menjadi aksi informasi melalui internet ke seluruh dunia.

Akibatnya, pemerintah Meksiko kemudian menghentikan serangan. Mereka mencoba taktik pemulihan citra, juga melalui saluran informasi. Tradisi dan medan peperangan telah berpindah ke wilayah tanpa darah. Perang informasi saat ini barangkali merupakan alternatif terbaik cara bertempur yang lebih beradab. Menang dan kalah tidak lagi ditentukan oleh berapa banyak orang yang mati, melainkan oleh sejauh mana akses pada dan kuasa atas pasar bebas informasi di dunia cyberspace visa terus ditingkatkan. Biaya yang dikeluarkan akan jauh berkurang untuk sebuah gengsi politik yang makin tinggi.

Hal yang sama juga berlaku bagi praktek bisnis mutakhir. Aset terpenting perusahaan kini bukan lagi melulu barang dan jasa, melainkan juga informasi. Orang tidak lagi hanya dirangsang untuk membeli barang, melainkan memborong gaya hidup. Karena itu iklan menjadi sebuah “mantra” yang di dalamnya dikemas dual hal paling pokok: informasi dan citra tentang gaya hidup. Problemnya kini bergeser ke arah kelangkaan informasi. Dan melaui internet mengalirlah berita, citra, data, hiburan, tawar-menawar dan modal dari setiap titik di bumi. Itu semua menunjukkan betapa beberapa batas lama terus bergetar oleh munculnya jaring-jaring rumit kerjasama antarkomputer sejagat.

Pada dekade 1960an, Marshal McLuhan membuat sebuah telaah tentang pudarnya batas-batas geografis lama, ketika telekomunikasi elektronik sanggup mengantarkan informasi dari dan ke segala tempat di bumi dalam waktu yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ketika dalam bukunya, The Medium is the Message, ia melontarkan ide tentang desa global (global village), di samping yang menyambutnya penuh kagum, beberapa kalangan lain ada yang mencibir. Mungkin karena ide tersebut prematur, lahir pada momen yang tidak tepat betul.

Bagi McLuhan perkembangan media elektronik telah mengembalikan manusia pada sentuhan emosi purbawi, sebuah kerukunan komunal suku-suku—yang dihempaskan oleh media cetak. Tradisi food gathering menemukan bentuk mutakhirnya menjadi information gathering. Ini, kata McLuhan, adalah sebuah proses retribalization of society. Kembalinya masyarakat modern pada peran dan kebiasaan nenek moyangnya di zaman Paleolitikum.

McLuhan menulis gagasannya ketika dunia belum lagi dihantam oleh ledakan internet. Saat itu ia baru terpesona oleh TV, radio, telegraf, dan telepon. Ia membayangkan jika sedunia orang bisa saling menghubungkan dirinya, berbagi berita secara cepat, maka bukan hanya jarak geografis yang akan menciut, melainkan juga kesadaran orang tentang dunia akan berubah. Orang Bantul akan menganggap Michaeil Jackson sebagai bagian dari obrolan hariannya. Masyarakat London akan menganggap warga Timor Timur sebagai tetangga sebelah rumah. Dunia yang begitu luas, telah tertekuk menjadi sebuah desa dengan beberapa kelompok suku yang saling berdekatan.

Sekarang apa yang terjadi? Melalui internet orang bukan hanya bisa melihat rekaman peristiwa yang sudah terjadi dalam siaran TV, melainkan benar-benar mengalami bermacam-macam peristiwa pergaulan global secara real time. Bukan sebatas pergaulan politik, melainkan bahkan sampai soal dapur dan keintiman di tempat tidur. Ini dihasilan oleh kombinasi antara pikiran bebas dan pasar bebas. Gagasan McLuhan mulai tampak makin mempesona.

Internet membuat banyak hal yang dulu mustahil sekarang benar-benar menjadi nyata. Sementara berada dalam pesawat terbang di atas Kaledonia Baru, Anda tetap bisa memimpin rapat in situ perusahaan Anda di Budapest, lalu memesan tiket opera di London. Web telah menjadi sebuah desa global, sebuah kelurahan digital tempat bertemu, berkomunikasi, dan pertukaran informasi semua orang, dan akhirnya membentuk sebuah komunitas yang baru, komunitas virtual warga internet. Situs-situsnya mungkin menyerupai kampung-kampung yang ramah menyapa setiap pendatang.

Hompage tidak lain adalah rumah hunian yang bebas dikunjungi siapa dan kapan pun. Mesin-mesin pencari seperti Yahoo! adalah jembatan penghubung manusia sedunia. Dengan IRC (internet relay chat) warga desa global bisa melakukan chatting, sekedar untuk ngerumpi atau bertukar gagasan-gagasan paling cerdas. Yang dimungkinkannya bukan hanya lalulilntas data dari dan ke segala penjuru dunia, melainkan juga pelbagai peristiwa sosial baru. Orang sekarang bisa melakukan perjalan panjang tanpa bergerak meninggalkan posisi fisiknya. Travelling without moving.

Tentu saja perubahan-perubahan tadi belum berpengaruh pada seluruh umat manusia. Tapi memang tidak pernah ada perubahan yang berlangsung total dan tuntas. Selalu ada celah yang tak tertembus. Dan sekarang, semakin banyak rumah yang terhubung ke internet. Ini berarti semakin banyak pertimbangan yang dasarnya telah bergeser. Lingkungan pergaulan keluarga bergerak makin melebar, menjangkau segala tempat di dunia. Mereka bisa bercengkerama sore hari dengan sahabatnya dari benua yang berbeda. Ketika informasi begitu melimpah, persoalannya tidak terletak pada sikap menolak atau menerima, melainkan lebih pada proses seleksi dan standar kualitas informasi. Agar internet tidak berhenti sekedar sebagai gelanggang gosip yang baru.

Kita tak harus mencemooh isu tentang era information super-highway, hanya karena sebagian besar masyarakat kita masih sulit mengakses sumber-sumber informasi sejagat. Argumennya sederhana saja: untuk memiliki mobil sedan toh setiap orang tidak harus membeli sepeda motor terlebih dahulu. Atau bahwa pemakaian handphone tidak berarti bahwa setiap rumah lebih dahulu harus sudah dipasangi telepon diam. Orang yang membeli sebuah notebook tidak otomatis telah memiliki komputer desktop di rumahnya. Artinya, tidak pernah ada perubahan yang benar-benar secara total telah dipersiapkan kemunculannya. Sejarah tidaklah berjalan dalam garis lintas linear. Niscaya ada kejutan. Selalu ada yang lepas dari rencana. Pertanyaannya justru bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapi segala kejutan, segala hal yang terus berubah dalam sebuah desa global digital yang akan kita diami bersama.

INFO KOMPUTER Internet. Vol. I. No. 10. Edisi 15 November – 15 Desember 1997.